Sentuhan El Yang Memabukkan

1242 Words
Pagi harinya kepala Shafa masih terasa sakit, mungkin akibat terlalu lama menangis semalam. Ingin rasanya Shafa menghabiskan waktu seharian untuk berdiam diri di kamar, namun karena tuntutan kebutuhan hidup ia pun terpaksa harus tetap bekerja. Beringsut dari tidurnya Shafa lalu menatap sekeliling tak ada sang suami disana. Wanita itu lalu menarik nafasnya berat ia kembali meneteskan air mata ternyata kejadian semalam benar adanya, mengelus dadanya dengan cukup kasar Shafa pun mencoba menguatkan dirinya sendiri. Ya, setidaknya ia sebagai seorang wanita harus punya pertahanan tak akan Shafa biarkan orang lain menginjak-injak harga dirinya termasuk Dion, suaminya sendiri. Setelah membersihkan diri dan sudah rapi dengan pakaian kerjanya Shafa pun melangkahkan kakinya menuju dapur, hendak mengambil segelas air putih hangat. Netra bulatnya menangkap satu buah kertas yang ada di atas meja, Shafa yang penasaran pun langsung mengambil kertas tersebut dan membacanya. "Selamat pagi istri cantikku, maafkan Mas pergi kerja nggak pamit kamu dulu, ini sudah Mas siapkan sarapan pagi untukmu. See you, my beautiful wife." Isi memo yang Dion tulis untuk sang istri. Shafa meremas erat-erat kertas itu lalu membuangnya begitu saja ke lantai, wanita itu lalu menggerakkan kepalanya lemah, lihatlah bahkan tanpa rasa bersalah pun Dion pergi begitu saja meninggalkan dirinya tanpa pamit, seolah tak terjadi apa-apa semalam dengan hubungan mereka. Shafa memilih menumpahkan tangisnya di atas meja makan, ia lalu menelungkupkan wajahnya di sana. Sungguh tragis kisah hidup Shafa selama ini, kedua orangtuanya sudah meninggal sejak dia duduk di bangku sekolah menengah atas dan kini pria yang begitu ia cintai, pria yang ia harapkan bisa menjadi tempatnya bersandar dan berkeluh kesah telah mengkhianati cintanya, bahkan perlakuan Dion akhir-akhir tidak mencerminkan bahwa ia mencintai Shafa. Apa kurangnya Shafa selama ini? Sebagai seorang istri Shafa selalu berusaha memberikan yang terbaik tapi lihatlah balasan pria itu mempermainkan hatinya hingga sesakit ini. Bahkan dengan entengnya Dion meminta Shafa untuk mengurus anaknya kelak. Ya, anak dari selingkuhan Dion. Tanpa menyentuh makanan yang Dion siapkan untuknya Shafa pun langsung berangkat menuju tempat kerjanya. Tiba di kantor Kejaksaan Shafa pun langsung melangkahkan kakinya menuju kantin karena jam belum memasuki jam masuk kantor Shafa pun memutuskan untuk mengisi perutnya dulu. Ya, meski tengah kesal dan bersedih setidaknya Shafa harus mengisi tenaga untuk menghadapi kenyataan hidup nya ini. "Shafa," panggil seorang wanita lalu menepuk pelan pundak Shafa, wanita itu lalu mendudukan dirinya tepat di samping Shafa. Shafa yang tengah mengaduk-aduk nasi uduknya pun menoleh. "Apa Vin?" tanyanya kemudian dengan tatapan mata yang amat kosong. Raganya memang disini tapi entah pikiran nya melalang buana kemana-mana. "Suami lo gimana?" Bisik Vina pelan. Ya, sahabatnya itu pun sedikit banyak sudah mengetahui tentang masalah rumah tangga Shafa. "Semalem gue pulang kerumah." Shafa terlihat menghela nafasnya berat. "Gue minta cerai, dia tetap nggak mau. Dan sialnya dia nyuruh gue buat terima anak itu, suruh ngurusin bayi itu kalau udah lahir." Pandangan Shafa menwarang ke depan, tanpa terasa air mata pun kembali mengalir deras di pelupuk matanya. Shafa merasa suaminya itu sudah tak punya hati sampai tega memiliki niat seperti itu. Semua wanita bahkan tak rela di madu, apalagi sampai harus mengurus anak yang lahir dari rahim madunya? Benar-benar memuakkan. Vina tampak membulatkan matanya seketika. "Yang benar?" tanya wanita itu tidak percaya. "Lha gila bener ya laki lo, bukan tobat malah semakin menjadi." Vina hanya mampu menggelengkan kepalanya heran, tak tahu harus berbuat apa dan memberi saran bagaimana akhirnya Vina pun memilih mengusap punggung sahabatnya dengan lembut seraya berkata. "Sabar ya Fa, semoga masalah rumah tangga lo cepat selesai." Shafa pun mengangguk. "Aamiin, makasih Vin doanya." Wanita berusia dua puluh lima tahun itu pun lalu beringsut dari duduknya. "Gue ke ruangan Pak El dulu, mau kasih berkas buat diserahkan ke Bu Kajari." ucapnya lalu berjalan masuk ke dalam kantor Kejaksaan. Jika bukan karena tuntutan pekerjaan Shafa enggan bertemu dengan El lagi apalagi saat mengingat kejadian malam itu. Dengan berat hati Shafa pun terus mengetuk daun pintu berwarna coklat itu. Sekali, dua kali bahkan sampai ketiga kali Shafa tak juga menemukan jawaban sampai akhirnya ia pun memutuskan untuk kembali ke ruangannya, namun di saat yang bersamaan terdengarlah suara pintu terbuka hingga membuat Shafa kembali menoleh ke belakang. Sosok pria dengan tinggi dengan bentuk tubuh atletis itu pun muncul tepat di hadapan Shafa. "Masuk Fa," ucap pria itu lalu tersenyum tipis, tak lama ia pun membuka lebar pintu ruangan nya. Melihat El tersenyum padanya, Shafa pun refleks menundukan kepalanya. "Baik Pak," ucap Shafa lirih lalu berjalan perlahan masuk ke ruangan jaksa muda tersebut. Setelah dipersilahkan Shafa lalu mendudukan dirinya di atas kursi. "Ada apa?" tanya El lalu melipat kedua tangan kanan dan menaruh nya di atas meja. Shafa mengulurkan sebuah file dokumen yang ia bawa lalu menaruhnya di atas meja. "Maaf Pak semalam saya ketiduran, tidak sempat mengirim email pada Bapak jadi saya putuskan untuk langsung mencetak file ini dan menyerahkan nya langsung pada Bapak," jelas Shafa panjang lebar tanpa mau menatap lawan bicaranya. El menerima dokumen itu, namun tidak membacanya melainkan menyingkirkan nya tepat di atas laptopnya yang masih tertutup. "Bagaimana keadaanmu Shafa?" Tanya El mengalihkan pembicaraan, ia enggan membahas masalah pekerjaan untuk saat ini. Mata elang nya sibuk menatap Shafa sedari tadi, El yakin wanita itu kembali menangis terlihat jelas dari kedua mata Shafa yang terlibat begitu sembab. "Baik Pak," sahut Shafa singkat. "Kalau gitu saya permisi Pak." Merasa tidak ada lagi yang perlu dibahas Shafa pun berinisiatif untuk pergi dari ruangan ini secepatnya. "Kamu membohongi saya?" ucap El lalu mengangkat sebelah alis matanya. Sepertinya Shafa lupa kalau El ini adalah seorang Jaksa, tentu dengan mudah nya membaca ekspresi lawan bicaranya bahkan jika orang itu berbohong El dapat dengan cepat menebak nya. "Tatap saya Shafa!" Titah El dengan tegas. Mengumpulkan sisa-sisa keberanian nya Shafa pun mulai mendongakkan kepala nya lalu perlahan mulai menatap lawan bicaranya. "Saya nggak bohong Pak." Shafa mencoba mengatakan dengan tegas meski sedikit tergugup karena kenyataanya memang ia tengah berbohong saat ini. El masih belum membuka suara, pria tampan itu malah asyik memandangi wajah cantik Shafa yang tengah menatap dirinya. Seketika bayangan malam panas itu pun kembali menari-nari di atas kepala nya hingga akhirnya membuat El mengulas senyuman manis di bibirnya. "Shafa," panggilnya dengan nada begitu lembut. "Saya mau minta maaf atas kejadian kemarin." "Lupakan Pak," sahut Shafa cepat. "Anggap saja kita tidak pernah melakukan hal itu." Tukas wanita itu kemudian, ia kembali menundukkan kepalanya menahan malu apalagi saat mengingat tindakan bodohnya yang terlihat begitu menikmati permainan panas yang membara yang dilakukan oleh pria itu. "Kalau saya tidak mau melupakan bagaimana?" Perkataan El barusan berhasil membuat Shafa mendongakkan kepalanya lagi, bola matanya bahkan ikut membulat seketika. "Maaf Pak saya harus segera kembali keruangan." Tak ingin berbasa-basi lagi Shafa lalu beringsut dari duduknya dan hendak berjalan ke arah pintu. Persetan dengan sopan santun pada atasan nya, yang jelas saat ini Shafa malas membahas kejadian waktu itu. Bagi Shafa keduanya sama khilaf saat melakukan nya. "Tunggu." Dengan cepat El pun berhasil membuat Shafa menghentikan langkahnya dengan memegang erat pergelangan tangan wanita itu. "Jangan menangis lagi, saya benci liat air mata di pipimu," ucap El lalu mengusap air mata yang mulai menetes di kedua sudut mata wanita itu dengan lembut. Shafa terkesiap melihat perlakuan El barusan nyatanya membuat sudut hati Shafa berdetak kencang seketika, entah kesal ataupun senang. Senang karena merasa diperhatikan dan kesal karena mengingat malam laknat itu hingga kini tanpa sadar telah membuat kedua pipinya bersemu semerah tomat. Gila Shafa sepertinya sudah benar-benar gila, bagaimana bisa di saat seperti ini ia malah membayangkan adegan itu lagi, adegan dimana El menyentuh dirinya dengan begitu lembut dan memabukkan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD