Aku Mau Cerai

1386 Words
Tiba di dalam kamar Dion langsung memeluk tubuh belakang Shafa dengan erat. Perasaan bersalah itu kembali menguap ke permukaan, menyesali akan semua perbuatannya. Tapi menyelesaikan masalah rumah tangga nya ini tak semudah membalikkan telapak tangan. Ya, Dion sendiri bingung harus bagaimana dalam bersikap. Di satu sisi ia tak mungkin meninggalkan Shafa, seorang istri yang begitu amat ia cintai. Sedangkan di sisi lain Dion juga tak mungkin membiarkan wanita yang tengah mengandung buah hatinya begitu saja tanpa kejelasan status hubungan mereka. "Maafkan aku Shafa, aku khilaf." gumam Dion lirih, ia lalu menaruh dagunya tepat di atas bahu sang istri lalu memejamkan matanya perlahan. "Apa salahku Mas?" tanya Shafa lirih dengan butiran air mata yang kembali menggenang di pelupuk matanya. "Kamu tega Mas!" Tangan kanan nya ia gunakan untuk memukul pelan dadanya, menetralkan rasa sakit yang kian menjalar menusuk jantung hingga menyebabkan dirinya seolah kesulitan bernafas. Mencoba tegar dan melupakan segalanya ternyata tak bisa Shafa lakukan. Bayang-bayang pengkhianatan suaminya masih terekam jelas di otaknya. Sedetik kemudian Dion pun memutar tubuh sang istri agar menghadap ke arah nya. "Dengarkan Shafa, aku akan menjelaskan semuanya." Dion menyentuh kedua bahu sang istri, menekannya sedikit lembut. Mengisyaratkan wanita itu untuk menatap ke wajahnya. "Apa lagi Mas? Semuanya sudah jelas." Meski berat Shafa pun mencoba mengangkat wajahnya dan menatap sang suami. "Kamu selingkuh dan menghasilkan anak." Wanita itu lalu menarik nafasnya dalam. "Apa lagi yang mau di jelaskan, hah apa?" Seolah kesetanan Shafa pun langsung mendorong kasar d**a Dion dengan kencang. "Setelah anak itu lahir kita urus sama-sama." Tak tahu malu Dion pun berucap demikian, ia yakin Shafa akan menyetujui hal ini. Dion tahu istrinya itu teramat menyukai anak kecil, sayang sudah dua tahun rumah tangga mereka berjalan keduanya belum juga diberi kepercayaan. Shafa membulatkan matanya seketika kala mendengar ucapan Dion barusan. "Kamu gila Mas." Tuding Shafa lalu menunjuk wajah Dion dengan jari telunjuknya. "Sampai kapanpun aku nggak sudi mengurus anak itu, anak selingkuhanmu." Shafa membuang pandangannya, mengusap air matanya dengan kasar masih dengan nafas yang memburu Shafa pun kembali menepuk kasar dadanya. Sakit hati, Shafa seolah tak punya harga diri. Apa karena selama ini Shafa belum juga hamil? Apa hal itu juga yang membuat Dion selingkuh? "Kita urus bayi itu sama-sama Fa. Aku ayah nya dan kamu akan tetap menjadi ibunya." Dion tak gentar merayu Shafa. Ya, ia tak mau kehilangan Shafa juga bayi itu, satu-satunya cara Dion harus memisahkan bayi itu dari ibu kandung nya lalu merawat dan membesarkan nya bersama Shafa. Shafa pun tersenyum getir. Pikiran konyol apalagi ini. Sudah selingkuh dan tidak tahu malunya meminta Shafa mengurus anak itu. Tidak sudi! Shafa benar-benar tidak sudi. "CERAI! AKU MAU KITA CERAI." teriak Shafa dengan kencang, butiran air mata itu kini kembali mengalir deras di pelupuk matanya. Ya, memang Shafa tak akan merubah niat awalnya yang ingin bercerai dengan Dion. Perkataan yang tadi ia katakan pada El nyatanya hanya kebohongan belaka. Ia terpaksa melakukan itu, Shafa berharap El tidak perlu merasa bersalah atas pergulatan panas yang mereka lalui kemarin malam. Dengan atau tanpa bantuan El, Shafa akan tetap menggugat cerai suaminya. Dion pun terlihat menggelengkan kepalanya cepat. "Nggak Sayang, sampai kapanpun aku nggak akan menceraikanmu!" pilu dan sedih hati Dion mendengarkan kata-kata keramat itu keluar begitu saja dari bibir wanita yang begitu sangat ia cintai. Tidak! Dion tidak akan sanggup jika harus berpisah dengan Shafa. "b******k, b******n KAMU MAS. AKU BENCI KAMU." Shafa kembali berteriak saat mendengar ucapan Dion yang tak juga mau menceraikannya. Ia menggelengkan kepalanya heran, kini wanita itu terlihat tengah mengusap butiran air mata yang mengalir deras di pipinya dengan kasar. "Sampai kapanpun aku tidak akan pernah menerima bayi itu," Lirih Shafa seketika itu juga tenaganya seperti terkuras habis. Ia tidak mempunyai kekuatan untuk berteriak ataupun melawan Dion lagi. Terduduk lemas di lantai Shafa kembali merenungi nasibnya yang terlihat begitu mengenaskan saat ini. Dion menghela nafasnya kasar. "Maafkan aku Shafa, mungkin kamu butuh waktu untuk menerima rencanaku ini, sekarang istirahatlah. Satu hal yang harus kamu ketahui sampai kapanpun aku tidak akan pernah menceraikanmu Shafa, istriku tersayang." Dion mengecup puncak kepala Shafa dengan sayang, tak lama pria itu memilih keluar dari kamar membiarkan Shafa seorang diri menangis di sana. *** Sementara itu pukul sepuluh malam El pun memutuskan untuk menginap di kediaman orang tuanya, bukan tanpa alasan hal itu ia lakukan lantaran sudah tiga malam ini mama Diyah memintanya untuk menginap disana. Mematikan mobilnya perlahan El pun nampak langsung melangkahkan kakinya menuju pintu depan, dan betapa terkejutnya ia saat melihat sang mama yang membukakan pintu untuknya. Tak biasanya mama Diyah masih terjaga seperti ini. "Mama belum tidur?" sapa El lalu mengecup punggung tangannya mama nya itu dengan takzim. Mama Diyah pun terlihat menggelengkan kepalanya pelan. "Belum, mama sengaja nunggu kamu pulang," wanita paruh baya kembali mendudukkan dirinya di atas sofa, kini El pun mengikutinya dari belakang. "Ada apa Ma? Mama nyuruh aku buat nginep di sini?" tanya El to the point, ia terlihat begitu penasaran, pria itu lalu menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa. Hari ini ia benar-benar lelah. Banyak pekerjaan yang harus ia kerjakan hari ditambah tadi ia harus mengejar Shafa sampai rumah dan harus mendengar wanita itu yang ingin kembali ke pelukan suaminya. Saat ini El bukan hanya kelelahan fisiknya tapi hatinya juga. "Mau sampai kapan kamu seperti ini?" Mama Diyah menatap anak bungsunya lalu menggelengkan kepalanya heran, usianya sudah menginjak hampir tiga puluh satu tahun tapi sampai detik ini El tak pernah sekalipun membawa seorang wanita yang akan kenalkan sebagai seorang kekasih. Mama Diyah sempat berpikir apakah anak laki-laki satu-satunya itu tidak normal? mama Retno berharap semoga ini hanya prasangka buruknya saja, dan jangan sampai menjadi kenyataan. "Seperti ini?" EL pun mengerutkan keningnya bingung, mendengar ucapan mamanya barusan. "Maksud Mama?" sambung pria itu kemudian. Mama Diyah berdecak kesal, dari segi akademik El ini memang unggul dan pintar tapi untuk urusan wanita, pria itu terlihat nol tidak peka sama sekali. "Besok mama mau ajak kamu temui Nayla, kita bahas masalah perjodohan kalian," jelas mama Diyah, kali ini beliau tak ingin mendapat penolakan. Secepatnya mama Diyah ingin El segera menikah. "Nggak bisa Ma, besok pagi aku ada tugas dadakan keluar kota lagi," tolak El dengan tegas, kali ini pria itu terpaksa berbohong pada sang mama. bertemu dengan Nayla? Kemarin saja dengan tegas El mengusir wanita itu saat menemuinya di restoran. Oh demi apapun El lebih memilih memandang wajah cantik Shafa daripada harus berbicara dengan wanita cerewet seperti Nayla. "Bisa." Tegas mama Diyah tak ingin perintahnya di bantah. "Setelah selesai pekerjaan kamu bisa pulang sebentar," mama Diyah yang keras kepala pun tetap memaksakan kehendaknya. Luar kota tidaklah jauh, dibanding dengan luar negeri. Begitu pikir mama Diyah. El pun menghela nafasnya berat lalu menggelengkan kepalanya heran, mama nya ini selalu seperti itu memaksakan kehendak sendiri, tidak pernah memikirkan bagaimana anak-anak nya bisa menerima atau tidak. "Aku ngantuk Ma, besok harus berangkat pagi-pagi," El beringsut dari duduknya, ia memilih menghentikan pembicaraan ini daripada berujung perdebatan dengan sang anak. "Shaquille, mama belum selesai bicara sama kamu," ucap mama Diyah sedikit berteriak, saat melihat punggung anak bungsunya itu semakin menjauh, masuk ke dalam kamarnya. Perasaan kesal mama Diyah sirna seketika saat melihat satu panggilan di ponsel pintarnya, tanpa menunggu lama wanita paruh baya itu lalu mengangkat panggilan telepon tersebut. "Ada apa Sayang?" sapa nya ramah pada wanita di seberang sana. "Baik, Tante gimana? oh iya besok jadi kan Tan? jam berapa?" Nayla tak kalah senangnya saat mendengar kabar ini, dimana pria yang ia suka akhirnya akan dijodohkan dengan nya. Ia sudah tidak sabar menunggu esok bertemu dengan El lagi. "Jadi dong, besok Tante kabarin lagi ya, kamu tenang aja." "Iya Tante, kalau gitu aku tutup dulu ya teleponnya. Tante jangan lupa istirahat sudah malam," Nayla terlihat begitu perhatian pada calon mertuanya itu. "Iya Sayang, terima kasih ya," panggilan telepon pun terputus, mama Diyah lalu masuk ke dalam kamarnya menyusul sang suami yang sudah terlelap lebih dulu. Wanita berusia lima puluh lima tahun itu sudah tidak sabar menunggu esok, ia pastikan semua akan berjalan dengan mulus. Setelah itu mama Diyah akan memaksa El untuk bertunangan dengan Nayla. Ya, mama Diyah sudah terlanjur cocok dengan wanita yang berprofesi sebagai dokter kandungan itu. Cantik, santun, berpendidikan, dan yang jelas Nayla terlahir dari keluarga yang kaya. Menurut mama Diyah anak-anak nya harus mendapatkan pasangan yang setara dengan kondisi keluarga mereka, yang jelas mama Diyah si ibu perfeksionis selalu mementingkan bibit, bebet dan bobot untuk masa depan anaknya kelak.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD