"Mas Dion?" gumam Shafa lirih. Wanita itu sontak melepaskan telapak tangan El yang masih bertengger manis di tangan kanannya.
El pun tak kalah terkejutnya kala melihat siapa pria yang ada di belakangnya. Sial! Kenapa Dion harus datang disaat yang tidak tepat seperti sekarang ini. Tak ingin menimbulkan keributan El pun mengalah, ia lalu memundurkan beberapa langkahnya ke belakang.
"Anda siapa?" tanya Dion dengan nada yang begitu tegas, pria itu lalu menatap tajam lawan bicaranya.
"Saya El, rekan kerja Shafa di kantor," jawab El to the point. Tak ingin kalah bahkan El pun membalas tatapan tajam Dion.
Dion pun tampak melipat kedua tangan nya di d**a. "Ada perlu apa Anda ke rumah saya?" Selidik Dion lebih dalam. Pandangan mata Dion masih terus menelisik penampilan pria iti dari atas sampai bawah.
"Saya ada urusan dengan Shafa, ada beberapa pekerjaan yang harus diselesaikan saat ini juga." El tidak bohong perkara hal ini, memang ada beberapa berkas penting yang belum diselesaikan Shafa, sementara besok pagi berkas itu harus sudah diserahkan pada atasan mereka.
Shafa tampak terkesiap, ia pun melupakan hal itu. Wanita itu tampak membuang nafasnya berat. Ia tak jadi melanjutkan pekerjaanya semalam dan malah berakhir di atas ranjang yang panas bersama El. Saat itu juga Shafa merutuki kebodohannya. Bisa-bisanya lupa akan tanggung jawabnya dan malah asyik bercinta dengan El semalam. Bodoh Shafa benar-benar bodoh.
"Maaf Pak El, untuk tugas itu saya akan mengerjakannya di rumah. Saya janji besok pagi semua berkas yang Pak El butuhkan sudah siap." Shafa berucap panjang lebar, ia sengaja mengatakan hal itu agar El paham dan segera meninggalkan kediamannya.
El memicingkan matanya kala mendengar ucapan Shafa barusan. Sebagai seorang Jaksa tentu El tahu betul mimik muka Shafa kala melontarkan kalimat itu. Kemampuan membaca situasi dan gelagat lawan bicaranya tentu tidak perlu diragukan lagi. Mengusir secara halus ya? Dan entah mengapa El tidak suka akan hal itu. "Shafa, saya membutuhkan berkas itu malam ini."
"Baik Pak, kalau begitu saya akan kerjakan hari ini juga setelah selesai saya akan kirim ke email Pak." Putus Shafa cepat, sorot matanya menatap pria itu dengan tatapan memohon. Sebuah isyarat bahwa Shafa tak ingin El berlama-lama di kediamannya. Shafa lelah, ia ingin beristirahat. Hari ini banyak kejadian tak terkira yang membuat hati juga perasaan nya dibuat bimbang tak tentu arah.
"Baik kalau gitu saya pamit pulang." Final, akhirnya El mengalah. Sejujurnya El tak tega melihat wajah sendu wanita itu. Ingin menenangkan juga menjelaskan tentang semua kejadian semalam tapi El sadar saat ini bukan waktu yang tepat. Ia memilih mengalah toh besok pagi mereka masih bisa bertemu di kantor.
Shafa pun mengangguk, tak lama El pun pamit pria itu langsung pergi dari kediaman Shafa tanpa berpamitan lebih dulu pada Dion. Setelah memastikan El sudah pergi dari rumahnya Shafa lalu membuka tas dan mengambil kunci rumahnya, membuka benda berbentuk persegi panjang berwarna coklat itu lalu masuk ke dalam nya.
"Kamu selingkuh?" tanya Dion lalu mencengkram erat lengan tangan sang istri dengan nada penuh penekanan ia pun menatap tajam Shafa.
Shafa memekik terkejut, cengkraman Dion berhasil membuat tangan nya terasa nyeri. "Lepas Mas, sakit." Shafa lalu menepis kasar tangan kekar sang suami.
Bukan melepaskan Dion malah semakin mempererat cengkraman nya. "JAWAB AKU SHAFA!" Bentak pria itu cukup keras. Sebagai seorang pria Dion tahu, dia bisa merasakan bahwa ada sesuatu hal di antara keduanya. Apalagi saat melihat interaksi El juga tatapan mata pria itu pada istrinya. Dion marah, dia kesal. Tak boleh ada satupun pria yang menyukai istrinya. Shafa cantik ini hanya miliknya hanya milik Dion Pamungkas seorang.
Jantung Shafa berdegup kencang, selama menikah baru kali ini Dion berbicara kasar dan membentak dirinya. Rasanya sakit sampai ke ulu hati. Bagaimana bisa Dion menuduhnya selingkuh? Sementara dia lah pelaku sebenarnya. Dimana letak akal sehat dan hati nurani Dion selama ini? Dimana?
"Kamu lupa Mas? Kamu yang selingkuh dan menuduh hal itu padaku?" Shafa berdecak sinis, wanita itu lalu menggelengkan kepalanya heran. Bisa-bisanya Dion memutar balikkan fakta seperti ini.
"Lalu apa bedanya kamu dengan aku?" Dion mengangkat sebelah alis matanya. "Berpegangan tangan dengan tatapan seperti seorang kekasih?" Dion tersenyum sinis. "Bahkan kamu tidak pulang selama tiga hari?" Dion terus memojokkan Shafa, dadanya terbakar ia tak bisa membayangkan jika Shafa melakukan hal yang sama seperti dirinya. Menghabiskan malam-malam yang nikmat dengan orang lain. Tidak! Dion tak rela tubuh mulus dan cantik istrinya disentuh oleh pria lain. Memikirkan hal itu amarah dalam diri Dion membuncah seketika bagai kobaran api yang disiram bensin dan siap meledak sewaktu-waktu.
"CUKUP STOP MAS! KAMU MEMUTAR BALIKKAN FAKTA," teriak Shafa, dengan sekali hentakan wanita itu berhasil meloloskan lengan nya yang mulai terasa perih. "Aku menyesal pulang ke rumah," ucap Shafa dengan nafas yang mulai memburu menahan sesak di dadanya. "Harusnya memang aku pergi jauh dari sini." Sorot mata Shafa jelas memancarkan kekecewaan. Tanpa terasa setetes air mata pun jatuh membasahi pipinya.
Tak menyangka Dion akan mengatakan hal itu. Seharusnya Dion bersikap baik padanya, merayu dirinya dan menjelaskan masalah rumah tangga mereka saat ini. Tapi apa kenyataanya? Bahkan saat Shafa pergi dari rumah pun sepertinya Dion tak berniat mencari keberadaan dirinya dan saat ini suaminya itu malah menuduh Shafa berselingkuh. Hati istri mana yang tak sakit mendengarkan hal itu. Ya, Shafa tau ia salah bagaimana juga semalam ia pun telah merusak kesucian janji suci pernikahan mereka. Shafa menyesal ia menyesal melakukan hal itu semalam. Bukan ini yang Shafa mau, ia ingin Dion meminta maaf dan menjelaskan semuanya dan mengakui kesalahanya. Begitu pun dengan Shafa nantinya karena Shafa merasa ia pun pernah melakukan kekhilafan yang sama.
Dion diam mematung mendengar ucapan Shafa barusan. Tak seharusnya ia bersikap kasar seperti ini pada istrinya apalagi sampai menuduh Shafa melakukan hal yang tidak-tidak di belakangnya. Dion percaya penuh pada istrinya. "Maaf," lirih Dion. Kali ini pria itu menggenggam tangan sang istri dengan lembut. "Shafa, mari kita bicarakan masalah ini baik-baik." Sorot mata Dion memancarkan kesungguhan, ia ingin menjelaskan semuanya. Ingin memperbaiki keutuhan rumah tangganya.
Shafa memejamkan matanya sejenak, mencoba menetralkan amarah yang masih mengerubungi hatinya. Bahkan Shafa tak menolak saat Dion mengelus-elus punggung tangan nya dengan lembut. "Baiklah," jawab Shafa singkat, sepertinya ia memang harus menyelesaikan masalah ini secepatnya. Meski tak dapat dipungkiri Shafa pun masih sakit hati apalagi saat mengingat ada benih sang suami di dalam perut wanita lain. Kembali memejamkan matanya Shafa pun mencoba untuk sabar. Mungkin ini salah satu ujian rumah tangga yang harus mereka hadapi.