Shafa, I Want You Now

1038 Words
"Kamu cantik Shafa," bisik El tepat di telinga Shafa, sesaat setelah berhasil merebahkan tubuh wanita cantik itu di atas ranjang. "Maksud Bapak?" ucap Shafa begitu tergugup. Bagaimana tidak jarak di antara keduanya kini sangat dekat, bahkan dapat Shafa rasakan dengan nyata sapuan nafas beraromakan mint yang begitu menyegarkan itu. "Kamu cantik, saya nggak akan tega ngeliat kamu di sakiti meski pelakunya itu suami kamu sendiri." El menatap hangat manik mata wanita itu. Tangan kanan nya tak tinggal diam, terus mengusap-usap pipi Shafa dengan begitu lembutnya. Sesaat Shafa pun terpaku, dengan jarak yang dekat seperti ini Shafa bisa melihat dengan jelas betapa tampan nya pria ini. Rahang yang tegas, bola mata yang selalu menatap lawan bicaranya setajam elang, kedua bentuk alis yang datar dan tebal berwarna hitam yang sempurna, dan oh jangan lupakan bibir tebal berwarna merah kehitaman yang terlihat sangat sexy. Shafa yakin pria ini termasuk ke dalam golongan perokok aktif. "Shafa," panggil El dengan nada yang mendayu begitu lembut. "Iya Pak." Shafa mengerjap gugup, bahkan kedua tangannya refleks mencengkram kaos berwarna merah yang digunakan El dengan eratnya. Melihat wajah gugup Shafa, El pun tampak tersenyum simpul. "Rileks Fa," ucapnya kemudian mendaratkan satu kecupan sayang di kening Shafa, cukup lama hingga El pun yakin siempunya kini telah menutup sempurna kedua kelopak matanya yang indah itu. El melepaskan bibirnya dari kening wanita itu, kini pria itu pun tengah memandang wajah cantik Shafa dari bawah. Sangat cantik dan manis, El sendiri mengeram kesal saat ingat bahwa wanit cantik ini baru saja bersedih akibat di selingkuhi suaminya sendiri. Bodoh! El akui Dion benar-benar bodoh, menelantarkan wanita secantik Shafa. Andai El yang menjadi suaminya tak akan ia biarkan wajah cantik ini di pandang oleh sembarang pria. Bahkan El pun tak punya niatan untuk berpaling dari pesona wanita cantik ini. Di menit berikutnya sutas senyuman penuh arti pun terbit di bibir El. Ya, sepertinya El tak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang ada. Mau tidak mau, bisa tidak bisa, Shafa harus menjadi miliknya. "Pak, apa yang Bapak lakukan?" Ucap Shafa terbata, ia merasa takut juga kikuk saat melihat El yang sedari tadi terus menatap wajahnya. Shafa akui beberapa menit yang lalu ia memang bodoh dan mulai terlena dengan kehangatan yang El berikan sehingga dengan mudahnya Shafa menutup mata. El hanya tersenyum, tangan kanan pria itu lalu bergerak menyelipkan surai anak rambut yang menutupi sebagain wajah cantik Shafa. "Kamu gugup, Fa?" Tanya nya kemudian. Shafa tampak menganggukan kepalanya samar. "Maaf, bisakah Bapak menyingkir dari atas tubuh saya?" Mohon Shafa sedikit mengiba, tak bisa di pungkiri jantungnya pun mulai berdegup kencang dalam posisi ini. Shafa tak menapik ia pun mulai pesona pada seorang jaksa muda yang tengah berada di atasnya. Namun, sekali lagi Shafa tau apa yang mereka lakukan saat ini adalah kesalahan. Tak seharusnya Shafa berduaan bersama pria, terlebih ia pun sudah mempunyai suami saat ini. "Kalau saya bilang nggak mau gimana?" El mengangkat sebelah alis matanya, menggoda Shafa. "Pak, kita nggak bisa begini." Sekuat tenaga Shafa pun mencoba mendorong kuat d**a bidang milik El yang kini terus mencoba menekan tubuhnya. "Shafa," panggil El dengan hembusan nafas yang mulai memburu. "You look so beautifull." Kini El pun terlihat semakin mendekatkan bibirnya hingga berada tepat di hadapan bibir mungil berwarna semerah cherry yang tampak begitu alami itu. Merasa situasi semakin mencekam, Shafa pun mulai ketakutan. Ia hendak melayangkan protes atas tindakan El barusana. "Bapak, tolong." Ucapan Shafa mendadak terputus saat tiba-tiba bibir El mulai membungkam mulutnya. Awalnya El hanya menempelkan saja benda berbentuk kenyal itu, namun di menit berikutnya pria itu pun tidak tahan. Dengan gerakan lembut yang memuja, perlahan tapi pasti El pun mulai memagut bibir semerah cherry itu, memberikannya gigitan halus, lalu menyesapnya dengan begitu lembut. Gila! Ini benar-benar gila. Rasa manis dari bibir mungil itu membuatnya candu, rasanya El seperti seseorang yang tengah merasa kehausan yang berada di tengah padang pasir yang cukup gersang. Ingin terus dan terus mencicipi bibir manis Shafa, seolah benda kenyal itu adalah sumber mata air di tengah teriknya sinar matahari di siang hari yang mampu membuat rasa dahaga dalam diri El hilang seketika. Entah godaan dari mana Shafa yang awalnya tampak menolak pun kini wanita itu malah terlihat memejamkan matanya. Mulai menikmati permainan lidah yang El berikan padanya, bahkan dengan beraninya kedua tangan Shafa melingkar di leher pria itu. "Hmm," gumam Shafa saat merasa hembusan nafas pria itu mengenai kulit lehernya. Perlahan Shafa pun mulai membuka matanya dan menatap pria tampan itu dengan sorot mata yang begitu sayu. "Shafa, I want you now," bisik El tepat di telinga Shafa, pria itu lalu menggigit lembut cuping telinga wanita itu dengan gemasnya. Shafa sendiri tidak bisa berkata apa-apa. Nyatanya sentuhan El barusan membuatnya tidak berkutik. Serasa terbang melayang seolah tengah menari di atas gumpalan awan yang begitu cerah. Pria itu terlalu tampan dan mempesona, wanita mana yang mampu menolak pria dengan ketampanan tingkat tinggi bak dewa Yunani itu. Oh jangan lupakan juga tonjolan otot-otot di kedua lengan El yang membuatnya terlihat semakin gagah dan perkasa. Malam ini entah sadar ataupun tidak keduanya terlihat begitu menikmati malam yang penuh dengan kehangatan serta gelora panas yang terasa menggebu-gebu, sesuatu hal yang sangat Shafa rindukan dari Dion, sang suami. Ya, sudah hampir dua bulan lebih nyatanya suaminya itu tak mau menyentuh dirinya. *** Sinar matahari mulai menyapa, memancarkan bias cahaya dari balik gorden berwarna cream itu. Membuat seseorang yang tengah tertidur pulas itu pun merasa terganggu. Perlahan tapi pasti Shafa pun mulai mengerjapkan matanya, lalu membuka kelopak matanya dengan pelan. Wanita itu tampak mengedarkan pandangannya ke arah sekitar, mencoba mengingat apa yang tengah terjadi dengan dirinya semalam. "Pak El," pekik Shafa begitu terkejut, ia lalu menutup mulutnya pelan lalu menggelengkan kepalanya cepat. Menolak percaya dengan apa yang ada di hadapannya saat ini. Dimana keberadaan El yang tengah tertidur pulas di sampingnya. Shafa mengeratkan cengkramannya pada selimut berwarna putih itu. Perlahan tapi pasti wanita cantik itu pun mulai meneteskan air matanya menangis terisak. Sesaat memejamkan matanya Shafa dapat mengingat malam panas yang semalam ia lalui bersama dengan El, rekan kerjanya di kantor. "Mas Dion maafkan aku," gumam Shafa di tengah isakan tangisnya. Ia menyesal sebagai seorang istri nyatanya Shafa tak mampu menjaga kehormatannya saat suaminya tak ada. Wanita itu tampak merutuki kebodohannya saat mengingat ia tak menolak sedikitpun sentuhan lembut yang El berikan padanya semalam.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD