Kini EL pun terlihat tengah melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, pria itu merasa tidak enak hati membiarkan Shafa pergi kembali ke hotel seorang diri. Ya, dua puluh menit yang lalu Nayla, anak dari sahabat mama nya datang menemuinya. Wanita yang berprofesi sebagai dokter kandungan itu bersikukuh ingin ikut menginap di hotel bersamanya, namun, dengan tegas El pun menolak. Tanpa menunggu lama El pun langsung meninggalkan Nayla di sana sendiri, yang ingin El lakukan saat ini adalah menyusul Shafa ke hotel tempat mereka menginap malam ini. Beruntung jarak dari alun-alun Karawang dengan hotel tidak terlalu jauh, hanya perlu waktu dua puluh menit saja untuk El tiba di penginapan itu.
"Fa, Shafa." El mengetuk-ngetuk dengan kencang daun pintu berwarna coklat itu. Pikirannya cemas, perasaannya tampak was-was memikirkan kondisi Shafa saat ini.
Tak lama pintu pun terbuka. Kini terlihat jelas wajah Shafa dengan kedua mata yang terlihat begitu sembab. "Pak El? ada apa Pak?" tanya Shafa mengerutkan keningnya bingung, melihat rekan kerjanya ini sudah berada di depannya. Bukanya tadi pria itu masih berada di alun-alun bersama kekasihnya, gumam Shafa bermonolog dalam hati.
Tak perlu meminta izin El pun langsung berjalan masuk ke dalam kamar Shafa, setelah memastikan Shafa mengikuti nya dari belakang pria itu pun langsung menutup pintu kamar tersebut dan menguncinya. "Fa, kamu nangis lagi?" tanya El penuh perhatian. Kini pria itu pun terlihat tengah mengusap puncak kepala Shafa dengan lembut.
Shafa terkesiap, dirinya begitu terkejut mendapatkan sentuhan seperti ini. "Nggak Pak, Saya nggak nangis," ucap Salma tergugup, ia lalu membuang muka ke arah samping enggan menatap lawan bicaranya.
"Hidungmu merah, mata mu sembab," ujar El lalu menarik pelan dagu Shafa agar menghadap lagi ke arahnya. Pria itu lalu menatap dalam manik mata meneduhkan milik Shafa.
"Saya flu Pak," jawab Shafa berkata bohong. Ia tidak mungkin melibatkan El terlalu jauh dalam masalah rumah tangga yang tengah dihadapinya saat ini.
El terlihat menghela nafasnya berat, dengan satu kali hentakan pria itu berhasil membawa tubuh ramping Shafa pada dekapan hangat miliknya. "Saya tau kamu sedang banyak masalah," ucap El lalu mengusap punggung Shafa dengan lembut. "Ceritakan semuanya pada saya Fa, saya akan membantumu." El tak bohong dengan ucapannya kali ini, pria itu tulus ingin membantu Shafa menyelesaikan masalah rumah tangganya.
Shafa terdiam, tubuhnya kaku seperti patung. Apalagi saat merasakan usapan lembut di kepala juga punggungnya. Entah mengapa ia pun seperti merasakan kenyamanan saat berada dalam dekapan pria itu. Rasa sesak di dalam dadanya semakin kuat ingin segera dikeluarkan, alhasil Shafa pun kembali menangis tersedu-sedu, merasa sedih atas pahitnya hidup yang ia jalani selama ini. Tuhan, jika Shafa bisa memilih bolehkah ia ikut bersama kedua orangtuanya di surga. Shafa benar-benar lelah menjalani semua ini.
"Menangislah sepuasmu hari ini, setelahnya saya pastikan kamu tidak akan bersedih lagi," ucap El lalu menarik pelan kepala Shafa agar bersandar dalam d**a bidangnya. Sejak tadi tangan pria itu tak pernah lelah mengusap-usap punggung Shafa dengan lembut, apalagi saat merasa tubuh wanita itu bergetar hebat menahan tangisnya yang kembali pecah.
Sesaat suasana pun tampak hening, bahkan Shafa belum mau membuka suara. Keduanya masih sibuk dengan pikiran mereka masing-masing Shafa dengan kesedihannya sedangkan El dengan perasaan khawatir nya. Kini yang terdengar hanya suara detak jantung keduanya, hingga di menit berikutnya Shafa yang tersadar langsung menjauh, melepaskan diri dari pelukan pria itu.
"Maaf Pak, saya benar-benar minta maaf," ucap Shafa lalu menundukkan kepalanya, ia merasa malu juga takut dinilai kurang ajar. Bagaimana bisa ia tadi begitu terlena dan merasa nyaman berada di pelukan pria lain. Padahal jelas-jelas statusnya masih sah menjadi istri orang. Bukankah sama saja Shafa dengan Dion, bermesraan dengan orang lain yang bukan pasangan halalnya. Oh sungguh saat ini Shafa benar-benar merasa malu.
"No problem," sahut El cepat. "Saya yang harusnya minta maaf," ujar El lalu memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya. Sedikit menyesal akan tindakan gegabah tadi yang langsung memeluk tubuh Shafa. Sumpah El tidak ada maksud melecehkan atau apapun itu. Semua itu ia lakukan murni atas dasar rasa kepeduliannya pada wanita itu.
"Maaf, Pak El bisa tinggalkan saya sendiri sekarang?" Shafa memberanikan diri mendongakkan kepalanya menatap El. Mengusir pria itu secara tidak langsung.
"Hmm." El bergumam lalu memilih mendudukkan dirinya di atas ranjang milik Shafa. "Kamu ingin tahu bagaimana cara mengajukan gugatan cerai di pengadilan?" tanya El lalu menepuk sisi kosong di sebelah kirinya, meminta Shafa untuk segera duduk.
Awalnya Shafa ragu untuk melangkah, namun, sedetik kemudian ia pun ingat akan rencananya yang ingin mengajukan gugatan cerainya di pengadilan. Alhasil wanita itu pun menurut mendudukkan dirinya di samping El. "Iya Pak," jawab Shafa lirih lalu menundukkan kepalanya, tanpa berniat menatap lawan bicaranya.
"Sebelumnya saya mau tanya, apa kamu sudah yakin mau menggugat cerai suami mu?" tanya El memastikan sekali lagi, dengan pelan pria itu menarik bahu Shafa agar menghadap ke arahnya.
Menganggukkan kepalanya ragu-ragu Shafa pun menjawab. "Saya nggak tau Pak," ujarnya begitu lirih. Ingin berpisah tapi masih masih cinta, mencoba mempertahankan tapi terlalu sakit rasanya. Shafa sendiri bingung langkah apa yang harus diambil saat ini.
El menghela nafasnya dalam, pria itu lalu menaikkan kedua kakinya di atas ranjang dan duduk bersila. "Ceritakan semuanya dari awal, agar saya tau masalah yang sebenarnya." El meminta Shafa untuk duduk menghadapnya.
Shafa mengangguk samar, wanita itu lagi-lagi menuruti semua hal yang El perintahkan padanya. Memejamkan matanya perlahan, Shafa lalu menarik nafasnya dalam sebelum menceritakan hal menyakitkan itu pada El. Setiap mengingat kejadian itu membuat sudut hati Shafa kembali berdenyut nyeri, pengkhianatan yang Dion lakukan benar-benar keterlaluan. Berselingkuh selama dua tahun usia pernikahan mereka. Wanita mana yang tak sakit hatinya saat tahu suaminya menikahi wanita lain tepat sehari setelah pernikahan mereka berlangsung.
"Suami saya menikahi wanita lain, tepat satu hari setelah kami selesai melangsungkan pernikahan," ungkap Shafa dengan air mata yang sudah mengalir deras di pelupuk matanya. Selama dua tahun Dion membohonginya, dan selama dua tahun pula ternyata Dion telah membagi kasih sayangnya pada wanita lain. Betapa bodohnya Shafa selama ini sampai tidak mengetahui dan menyadari hal itu. Kini kedua tangan Shafa pun ia gunakan untuk menutup wajahnya, mencoba meredakan suara tangisannya yang begitu kencang.
El sedikit terkejut dengan ucapan Shafa barusan, di selingkuhi selama dua tahun usia pernikahannya? El tidak menyangka pria itu tega berbuat jahat pada istrinya sendiri. Ya, meski El pun tahu bagi seorang pria menikah tanpa izin pertamanya memang diperbolehkan, tapi bukankah lebih baik jika tetap meminta izin pada istri pertama. Agar tidak terjadi masalah di kemudian hari seperti yang Shafa alami saat ini. Begitu pikir El dalam hati.
"Kamu masih mencintai suamimu?" tanya El lalu mengusap pelan butiran air mata yang mengalir di kedua pipi Shafa dengan lembut.
Shafa terkesiap dengan perlakuan El barusan, entah mengapa setiap sentuhan yang pria itu berikan membuat sudut hatinya berdentum hebat. Kini Shafa pun mendongakkan kepala menatap lawan bicaranya. "Saya nggak tau Pak," ucap Shafa lirih. Ia sendiri masih bingung akan perasaanya saat ini. Tidak cinta? Itu tidak mungkin, jelas sampai saat ini di hati Shafa masih menyimpan rasa sayang yang besar untuk suaminya itu.
"Tidakkah kamu mencoba mengikuti permainan suamimu?" ucap El lalu mengusap bibir se merah cherry milik wanita itu dengan lembut. Tatapan mata pria itu mengunci pergerakan Shafa hingga membuat wanita itu hanya mampu diam terpaku di tempatnya.
"Maksud Bapak gimana?" tanya Shafa tergugup, wanita itu tampak bingung. Shafa masih tidak tahu kemana arah pembicaraan El sebenarnya.
El pun mengangguk yakin, perlahan pria itu mulai memajukan kepalanya hingga di menit berikutnya bibir merah kehitaman itu sudah mendarat sempurna di kening Shafa. Cukup lama El melakukan hal itu hingga pria itu akhirnya menarik diri dan kembali menatap lawan bicaranya dengan lembut. "Kamu tidak ingin membalas semua perbuatan suamimu? Hmm," ucap El lalu menangkup wajah Shafa dengan kedua telapak tangannya itu.
"Maksudnya? Balas dendam?" Shafa tampak semakin bingung, tubuhnya semakin kaku apalagi saat El mulai memajukan kepalanya hingga benda kenyal itu menempel sempurna tepat di bibirnya.
Entah dorongan dari mana Shafa pun memilih memejamkan matanya, mengeratkan pegangannya pada d**a bidang pria itu. Sesaat setelah merasakan sapuan lembut di bibirnya yang terlihat semakin dalam dan begitu menuntut. Shafa bisa merasakan bagaimana benda kenyal itu memperlakukan dirinya dengan begitu lembut seolah bibir Shafa adalah sebuah benda berharga yang mudah pecah. Gila! Ini benar-benar gila mengapa Shafa terlihat begitu menikmati permainan lidah yang El persembahan padanya. Ada apa dengan nya? Tidak! Ini tidak bisa dibiarkan. Jika seperti ini Shafa tidak ada bedanya dengan Dion yang sama-sama b******n dan tega mengkhianati janji suci pernikahan mereka. Di menit berikutnya Shafa yang tersadar pun langsung melepaskan tautan bibir keduanya.
"Pak," desah Shafa penuh penyesalan. Ia lalu memundurkan kepalanya menghindari tatapan mata El yang terus menatap dalam dirinya. Salah, Shafa tau yang mereka lakukan ini adalah sebuah kesalahan, tak seharusnya mereka berduaan di dalam kamar seperti ini.
"Kenapa?" El tampak tidak senang saat Shafa terlihat ingin menghindarinya. Pria itu lalu mendaratkan kedua tangannya memegang kedua pundak Shafa dengan lembut seraya berkata. "Balaslah perbuatan suami mu dengan caramu sendiri. Shafa," bisik El seduktif tepat di telinga wanita itu, dengan penuh kelembutan tangan kekar pria itu mulai merebahkan tubuh Shafa hingga berbaring di atas ranjang.