Meri tidak kuasa menahan tangisnya saat ini. Ia peluk Aldo—anak semata wayangnya—yang masih duduk membeku di kursi pesakitan itu. Aldo sama sekali tidak bergeming, bahkan ia sama sekali tidak membalas pelukan sang ibu. “Aldo, maafkan mama, Nak … Semua ini salah mama,” isak Meri. Aldo hanya diam. Tetesan demi tetesan air mata jatuh ke lantai ruang sidang. Sekuat tenaga, Aldo menahan air matanya karena ia tidak mau terlihat lemah di depan semua orang. Namun Aldo tidak sanggup. Sebenarnya bukan Keputusan hakim yang membuatnya menangis seperti itu, akan tetapi penyesalan dan rasa bersalah kepada Marwa dan Jihan’lah yang membuat Aldo sangat terpuruk. Andai saja waktu bisa diputar kembali, maka mungkin Aldo akan menjadi pribadi yang lebih baik dari sekarang dan tidak akan menyia-nyiakan Marwa

