Ibunda Jihan masih saja terdiam. Suasana kamar Jihan seketika berubah hening. Jihan menghela napas, “Aku tahu mama pasti kaget mendengarnya. Tapi kenyataannya memang seperti itu. Aldo menampar Marwa dengan kuat hingga tubuhnya terpental. Sayangnya, kepala Marwa mengenai sudut meja. Kepalanya mengeluarkan banyak darah dan Marwa pun pingsan.” “La—lalu apa yang terjadi se—selanjutnya?” Ibunda Jihan tiba-tiba saja jadi gugup. “Aku sudah membujuk Aldo untuk membawa Marwa ke rumah sakit. tapi Aldo menolak. Ia takut kalau nanti akan dikasuskan. Alhasil, ia memutuskan untuk membuang Marwa ke tengan jurang. Padahal saat ini Marwa masih hidup.” Ibunda Jihan terpaku. Ia seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Ia tutup mulutnya dengan telapak tangan kanannya dan ia benar-benar sa

