“Jihan, ada apa?” tanya Yola di tengah-tengah rutinitas makan malam mereka. Beberapa hari belakangan, Jihan tapam murung. Entah apa yang wanita itu pikirkan dan malam ini Yola tidak bisa menyembunyikan lagi rasa penasarannya itu. “A—aku … Aku nggak kenapa-kenapa kok, Ma,” Jihan agak tergagap. “Jangan bohong, Nak … Apa yang kamu sembunyikan dari mama, Jihan? Mama mohon terbukalah pada mama. Mama tidak mau ada apa pun yang kamu sembunyikan dari mama. Mama tidak mau kamu memendam masalahmu sendiri.” “A—aku ….” “Nak … Mama kamu benar. Papa perhatikan, kamu juga tampak aneh belakangan ini kamu sering murung. Ada apa sebenarnya, Nak?” Jihan menghela napas. Ia letakkan kembali sendoknya di atas piring lalu ia pun menatap wajah ke dua orang tuanya. “Ada apa, Nak? Katakan saja,” paksa Yola.

