“Tuan.” Dalen menunduk menatap wajah takut Elaina. “Sepertinya Nyonya Jolneo sangat marah. Saya—saya takut. Kalau seandainya nanti dia mencari saya dan memarahi saya, bagaimana? Saya tidak bisa melawan, Tuan.” “Selagi kau tidak keluar dari apartemen, dia tidak akan bisa menemuimu,” jawab Dalen datar. “Ja-di saya benar-benar harus selalu di apartemen? Apa tidak boleh keluar sekadar untuk main saja, Tuan?” Dalen menyorot Elaina dengan tajam. “Kau tidak boleh keluar dari apartemen itu tanpa persetujuanku.” “Saya akan minta izin, kok. Saya tidak akan keluar sebelum Anda beri izin. Jadi kalau saya minta izin untuk keluar main, boleh ‘kan? Saya lihat taman di gedung apartemen itu sangat indah. Saya hanya ingin bermain di sana, tidak lama juga. Saya juga tidak akan kabur, kok, Tuan.” Elaina

