“Mereka sudah keluar, Nyonya.”
Paumy mengembuskan asap rokok dari mulutnya. Ia terus memandangi kesibukan parkiran perusahaan GB Corp dengan sorot menahan amarah. “Baru keluar?”
“Benar, Nyonya.”
“Wanita itu masih hidup?”
“Masih, Nyonya. Bahkan dia keluar dari kamar Tuan Gabino dengan kondisi sangat baik, tidak terlihat ada bekas pukulan atau kekerasan,” terang Vram—asisten alias orang kepercayaan Paumy.
Tangan Paumy terkepal. Ia bahkan meremas rokok yang masih hidup di tangannya. Rasa sakit akibat luka bakar dari api rokok itu seakan tak bisa terasa akibat gejolak amarah di hatinya. “Jadi tadi malam mereka benar-benar melakukan itu?” desisnya.
Vram pun menunduk, ia tak berani menyahut pertanyaan itu. “Wanita itu adalah pelayan baru dari Klub SpoonX dan dia tinggal di kamar level bawah klub tersebut, karena masih anak baru. Sepertinya sebentar lagi dia akan dipindahkan pihak klub ke kamar level tertinggi karena sudah berhasil bermalam di kamar Tuan Gabino dan keluar dalam keadaan hidup. Kami sudah mempersiapkan semuanya, Nyonya. Rencanya saya akan menunggu wanita itu pindah kamar dulu, lalu mulai beraksi di sana. Jika nanti dia mati di kamar itu, kita tidak akan terseret, karena pasti pihak klub yang akan dicurigai.”
Paumy menyeringai. “Rencana yang bagus, jalannya sesuai rencanamu.”
“Lalu, Anda kapan ingin menemuinya, Nyonya? Apakah setelah kami membekapnya dalam kamar itu, atau—”
“Iya, atur saja semuanya supaya mulus tanpa meninggalkan jejak. Buat agar tidak mencolok sampai dunia luar. Tapi jadikan itu sebagai peringatan untuk seluruh wanita mura-han di klub itu, supaya mereka mengerti apa yang akan terjadi jika berani menggoda suamiku,” desis Paumy.
“Saya mengerti, Nyonya.”
“Seperti biasa, kita hanya perlu menjaga nama baik GB Corp, jadi tidak boleh menyeret namaku ke luar. Tapi buat kematiannya menjadi peringatan keras untuk seluruh pelac*ur dalam klub breng-sek itu,” sambung Paumy.
“Siap, Nyonya. Akan segera saya lakukan.” Vram menunduk sopan. “Saya izin undur diri, Nyonya.”
“Sebentar.”
Pergerakan pria itu terhenti. “Ada yang perlu saya lakukan lagi, Nyonya?”
“Kau punya fotonya?”
“Foto wanita itu, Nyonya?”
“Hem.”
“Ada, Nyonya. Saya mendapatkannya dari biodata yang dicari oleh tim kita. Anda ingin melihatnya, Nyonya?”
Mata Paumy memicing. “Berikan.”
Vram dengan segera mengambil tabletnya, lalu mencari foto Elaina. Ia bergerak mendekat ke arha Paumy, lalu mengulurkan tablet itu kepada sang atasan. “Ini, Nyonya. Namanya Elaina Natulame.”
Paumy menatap wajah cantik Elaina di layar tablet bawahannya itu. Ia menggeram, merasa kesal saat menyadari wajah cantik wanita yang berhasil menaiki ranjang sang suami. “Cih, dari foto sih cukup cantik. Biasanya kalau di foto dibuat berlebihan, jadi terlihat lebih cantik. Mungkin karena ini dia jadi bertingkah gatal menggoda Dalen. Hanya bermodal wajah yang cukup cantik? Cuih.”
Vram melirik sang atasan yang sedang memandang tajam wajah cantik Elaina di layar tablet. “Dia bahkan jauh lebih cantik aslinya dibandingkan di foto. Dari segi apa pun, dia memang lebih cantik dibanding Nyonya Jolneo. Jika aku di posisi Tuan Gabino, pasti aku juga akan lebih memilih Elaina ini, selain cantik—dia punya pesona yang tidak dimiliki oleh wanita lain, terutama Nyonya Jolneo. Saat aku melihatnya secara langsung, aku baru merasa wajar jika Tuan Gabino menyeret wanita itu ke ranjangnya, padahal selama ini Nyonya Jolneo saja tak mendapatkan hal berharga ini. Sayangnya aku tidak bisa mengungkapkan ini secara langsung kepada Nyonya Jolneo, karena aku masih sayang nyawa,” batinnya.
“Saat kalian menangkapnya nanti, jangan sentuh wajahnya. Karena saya sendiri yang akan menghancurkan wajah menjijikkan ini,” desis Paumy.
“Baik, Nyonya.” Vram menunduk patuh. “Sayang sekali wajah secantik itu harus hancur dan berakhir dengan kematian. Apakah ada baiknya aku mainkan dulu sebelum berikan dia kepada Nyonya Jolneo?” sambungnya dalam hati.
Paumy memicing melihat mobil Dalen datang dari arah gerbang gedung perusahaan. “Dalen datang. Aku harus bersih-bersih dan berdandan segera.”
Wanita itu memperbaiki dandanannya, ia juga mencuci tangan dan mulut, memberi mulunya wangi-wangian karena Dalen tak suka wanita bau rokok. Saat mencuci tangan, Paumy baru menyadari perih di telapak tangannya akibat luka bakar api rokok miliknya tadi.
“Biar saya bantu, Nyonya.” Vram mendekat sembari membawa kotak obat.
“Tidak usah, buang waktu. Dalen keburu tiba di lantai atas. Beri aku plester luka saja.” Paumy mengulurkan telapak tangannya yang terluka, ia masih sibuk bercermin.
“Baik, Nyonya.” Vram pun mulai memasangkan plester luka di telapak tangan sang atasan. “Meski tidak secantik dan semenarik Elaina itu, tapi Nyonya Jolneo tetap ‘lah cantik dan masuk sebagai kategori wanita hot yang menggoda. Jari-jari tangannya saja terlihat begitu menggetarkan. Hanya saja, sepertinya tidak mampu menarik minat Tuan Gabino, agak mengherankan. Rupanya sekelas Tuan Gabino punya level kriteria yang terlalu tinggi, tidak banyak wanita seperti Elaina, dan sejauh ini aku hanya melihat dia satu-satunya,” batin Vram.
“Kau urus tugasmu, sesuai dengan rencanamu itu. Nanti setelah siap, kau beritahu aku secepatnya.” Paumy menatap Vram yang baru saja selesai memasankan plester luka di telapak tangannya.
“Saya mengerti, Nyonya. Kemungkinan kita akan bergerak senja hari, sebelum klub benar-benar ramai, Nyonya.”
“Terserah, kau harusnya lebih tahu waktu yang tepat untuk eksekusi.” Paumy meraih ponselnya, lalu segera bergerak ke arah pintu untuk menyusul Dalen.
Ruangan kerja Paumy dan Dalen berbeda, tetapi masih ada di satu lantai yang sama. Karena sudah resmi menjadi istri Dalen, Paumy pun bisa menduduki kursi CEO di perusahaan milik Dalen. Meski hingga detik ini, Dalen tak mengizinkan Paumy menyandang gelar sebagai Nyonya Gabino. Ia juga tak membolehkan siapa pun memanggil Paumy sebagai Nyonya Gabino. Itu ‘lah kenapa, hingga saat ini semua orang tak memanggil Paumy sebagai Nyonya Gabino, melainkan nama belakang Paumy sendiri—Jolneo. Padahal semua orang juga sudah tahu jika Paumy adalah istri sah Dalen. Dan, tersebar gosip dunia klub malam, jika Dalen bahkan tak pernah menyentuh Paumy, dalam artian meni-duri istri sah-nya itu.
“Dalen!” Paumy tersenyum manis ke arah Dalen yang baru saja keluar dari lift.
Dalen bahkan tak melirik Paumy sama sekali, ia terus melangkah ke arah ruangannya berada.
Paumy sudah biasa mendapatkan perlakuan seperti ini. Ia terus mengejar langkah Dalen. “Dalen, kamu tidak lupa kalau besok adalah hari ulang tahunku, bukan?” tanyanya di sela langkah cepatnya menyesuaikan dengan pergerakan Dalen.
Dalen tak menyahut, ia tentu saja lupa, atau lebih tepatnya tak peduli.
“Besok malam, kita makan malam bersama, seperti tahun-tahun sebelumnya, ‘kan? Sehari-hari kamu sudah begitu sibuk, jadi kita tidak punya banyak waktu untuk makan malam bersama. Tapi setiap ulang tahunku, kamu biasanya bisa meluangkan waktu. Tahun ini juga sama ‘kan? Aku akan menyiapkan semuanya untuk makan malam kita besok. Bagaimana?” celoteh Paumy panjang lebar.
“Hem.” Dalen hanya menanggapi dengan dehaman singkat.
“Berarti besok kamu bisa menemaniku makan malam, ‘kan? Kita makan malam di hotel, seperti biasa. Bagaimana?” tanya Paumy lagi.
“Terserah.”
Paumy tersenyum. “Baik ‘lah, kalau begitu aku akan atur semuanya. Nanti aku beritahu lagi waktu dan tempat pastinya, ya.”
Dalen tak menyahut, ia langsung masuk ke ruangannya ketika sang bawahan membukakan pintu ruangan kerja itu.
“Maaf, Nyonya, silakan kembali ke ruangan Anda.” Toris menghalangi pergerakan Paumy yang ingin ikut masuk ke dalam ruangan Presdir—ruangan Dalen.
Paumy melirik tajam ke arah Toris, tetapi ia tak bisa protes karena sedari dulu Dalen memang tak membiarkan orang lain masuk ruangan kerjanya jika tidak ada keperluan. Dan, hal ini juga tidak boleh dilanggar oleh Paumy, meski ia adalah istri Dalen. Tampaknya sebutan istri sah ini hanya sekadar gelar saja. Selain diangkat sebagai CEO dan mendapatkan kekuasaan di bawah nama sang suami, Paumy tak mendapatkan hal spesial lain dalam hubungannya dengan Dalen.
Lalu, apa alasan mereka berdua menikah? Perjodohan keluarga? Sepertinya tidak, karena Dalen sendiri yatim piatu dan berasal dari keluarga miskin dari kecil, tak ada kerabat. Keluarga Paumy pun tak jelas, karena kabarnya wanita itu berasal dari panti asuhan. Entah apa penyebab mereka berdua bisa menikah.
Paumy memandangi pintu ruangan Dalen dengan sorot penuh makna. “Pokoknya ulang tahun kali ini aku harus bisa manfaatkan dengan baik. Aku harus bisa tidur dengan Dalen, aku akan atur semua hal dengan baik. Aku harus bisa menguatkan posisiku sebagai istri sah Dalen, tidak ada yang boleh merebutnya,” desis Paumy dalam hati.