“Elaina.”
Elaina sedikit terkejut melihat keberadaan Rom di kamar kecil itu. Ia segera menutup pintu, lalu mendekat ke arah Rom. “Kak Rom kenapa bisa ada di sini? Kalau ada yang lihat Kakak masuk kamar ini bagaimana? Aku tebak, sekarang Dalen pasti mulai mengirim orang untuk memata-mataiku. Kakak bisa dalam bahaya.”
Rom mendengkus. “Lalu kalau dalam bahaya kenapa? Kamu saja langsung berurusan dengan Dalen, dan sedari awal sudah mempertaruhkan keamanan untuk mendekati manusia berbahaya itu, membuatku sangat tidak tenang. Kalau kamu saja berani menghadang bahaya seperti itu, kenapa aku tidak? Aku tidak tenang sedari tadi malam, makanya menunggu di sini, aku ingin pastikan kamu baik-baik saja. Bahkan tadi aku sudah tidak sabar, karena kamu tak kunjung kembali, aku kira dia sudah ... sudah menyakitimu.”
Elaina tersenyum. “Kak Rom tenang saja, aku baik-baik saja, kok. Lihat, sekarang aku kembali dengan kondisi masih sehat, ‘kan? Dia tidak menyakitiku, tenang saja.”
Rom mengembuskan napas panjang. “Sekarang orang-orang di klub sudah tahu kamu berhasil bermalam di kamar Dalen. Sebentar lagi kamu pasti akan didatangi pihak klub dan akan disanjung. Kamu juga harusnya akan segera dipindahkan ke kamar dengan level terbaik di klub ini.”
Elaina mengangguk. “Aku tahu ini. Aku juga tahu, kalau Paumy sekarang sedang marah besar. Dia pasti sedang menyuruh bawahannya untuk menangkapku dan ingin membunuhku.”
Rom pun mengangguk. “Makanya aku sudah menambah anggota untuk mengikutimu dan menjagamu. Paumy tak jauh berbeda dari Dalen, mereka berdua sama-sama kejam tidak punya hati. Membunuh orang seperti membunuh semut.”
“Tapi jangan terlalu dekat, ya, Kak. Suruh tim Kakak bergerak dari jauh. Karena aksi Paumy ini bisa aku manfaatkan.” Elaina tersenyum penuh arti.
Kening Rom berkerut. “Apa maksud kamu? Jangan bilang, kamu sedang memikirkan hal aneh yang membahayakan diri kamu sendiri, El? Aku tidak akan setuju.”
Elaina mengembuskan napas pelan. “Kakak tenang saja, ini pasti akan berhasil, kok. Lagi pula, tim Kakak ‘kan sudah banyak, jika nanti kondisinya memang sudah genting, mereka bisa langsung turun tangan. Tapi, sebelum kondisinya benar-benar genting, Kakak harus tahan dulu. Entah kenapa, aku yakin jika Dalen tidak akan membiarkan aku mati. Yah, setidaknya untuk sekarang, karena dia masih merasa penasaran denganku.”
Mata Rom memicing. “Maksudnya?”
“Dalen masih menginginkan aku menemaninya malam ini. Menurut Kakak, kalau ada orang yang mengusik sesuatu yang masih dia inginkan, apakah Dalen akan diam saja?” Elaina tersenyum miring.
Rom diam sesaat, lalu menggeleng. “Harusnya Dalen akan marah besar.”
Elaina menjentikkan jarinya. “Makanya itu, aku harus memanfaatkan ini.”
“Tapi ini tetap saja bahaya, El.”
“Aku tahu, Kak. Tapi aku yakin, semuanya akan baik-baik saja, percaya ‘lah. Dalen sudah mengirim orang untuk mengikutiku, karena dia tidak ingin aku kabur atau melakukan hal bodoh lainnya.”
“Hal bodoh lainnya?”
Elaina tersenyum. “Aku sudah lebih dulu menerka Paumy akan melakukan sesuatu padaku jika tahu aku masih hidup setelah keluar dari kamar Dalen. Makanya, tadi aku sudah memancing Dalen dengan sebuah ketakutanku—ketakutan akan dibunuh oleh istrinya sendiri. Dengan begitu, Dalen pasti berpikir aku akan kabur demi menyelamatkan diri dari Paumy, atau bahkan mengakhiri hidup supaya tak ditangkap atau disiksa. Intinya, sekarang aku sudah dalam pantauan Dalen. Saat orang suruhan Paumy bergerak, Dalen pasti akan langsung tahu,” terangnya.
Rom menarik napas dalam, lalu diembuskan perlahan. “Aku takut jika Dalen tidak akan melakukan apa pun saat tahu kamu dalam bahaya, El. Dia itu manusia tidak berperasaan. Bahkan selama ini harusnya dia tahu kalau istrinya itu membunuh para wanita yang mendekatinya. Tapi apa? Bahkan Dalen seakan tidak mau tahu, dia tidak memikirkan nyawa-nyawa wanita itu. Dan, aku kira Dalen juga akan bersikap seperti itu. Saat dia tahu kamu dalam bahaya karena istrinya, dia mungkin akan diam saja dan tidak akan peduli, meski kamu akan dibunuh sekali pun.”
“Aku tahu ini, Kak. Tapi, sekarang kondisinya sedikit berbeda. Wanita-wanita yang ma-ti selama ini tidak berhasil menarik perhatian Dalen. Bahkan Dalen tidak menganggap mereka sebagai miliknya. Jadi saat orang lain mengusik wanita-wanita itu apalagi membunuhnya, maka Dalen tidak akan peduli. Sedangkan aku? Aku sedikit lebih spesial, aku berhasil bermalam di kamarnya, dan yang paling penting, Dalen masih menginginkan aku, Kak. Seperti yang aku katakan tadi, Dalen menganggap aku ini sebagai barang miliknya yang masih belum puas dia gunakan. Jadi jika ada orang lain yang ingin merebutku atau merusakku, saat Dalen saja belum puas memakaiku, tidak mungkin Dalen akan diam saja, bukan?”
Rom mengusap wajahnya, meski penjelasan Elaina ada benarnya, tetapi tetap saja ia merasa tak tenang karena ini menyangkut keselamatan Elaina. “Baik ‘lah. Aku memang tidak bisa melawan rencanamu jika kamu sudah keras kepala seperti ini. Aku hanya takut, jika nanti orang suruhan Dalen tidak sempat menyelamatkan kamu karena bawahan Paumy bergerak cepat, dan aku yang juga sengaja menunggu sesuai rencanamu ini, tentu juga tidak akan sempat bertindak karena kalah cepat.”
“Sudah, Kak Rom tenang saja. Tidak usah cemas begitu. Aku sudah memikirkan rencana ini dengan matang. Aku yakin ini akan baik-baik saja,” tutur Elaina menenangkan dan meyakinkan Rom. “Yaah, jika pun terluka sedikit tidak masalah. Harusnya dengan begitu, Dalen akan semakin murka, bukan? Bagi Dalen, aku ini adalah barang yang masih diklaim sebagai miliknya. Seorang Dalen tidak akan tinggal diam jika miliknya terluka. Tidak masalah mengorbankan diri, menyakiti diri sendiri demi bisa menghancurkan Paumy secara perlahan,” desisnya dalam hati.
***
“Bagaimana?”
“Sampai detik ini tidak ada yang aneh, Tuan. Elaina sudah diminta pindah oleh pihak klub ke kamar karyawan yang paling istimewa. Pergerakannya memang agak berhati-hati, dia sepertinya begitu ketakutan.”
Pergerakan tangan Dalen yang tengah mengecek dokumen terhenti. “Dia benar-benar begitu ketakutan ditangkap dan dibunuh?” gumamnya.
“Saya rasa hal ini wajar, Tuan. Semua orang di klub malam mana pun sudah tahu hal ini. Karena selama ini wanita-wanita yang berani mendekati Anda, pasti mati dibunuh oleh Nyonya Jolneo.”
Dalen kembali melanjutkan aktivitasnnya mengecek dokumen. “Tapi sekarang tidak ada pergerakan darinya, bukan? Berarti Paumy pun paham jika sesuatu milik saya tidak boleh disentuh sebelum saya buang,” ucapnya dingin.
Toris diam. “Aku juga tidak tahu hal ini, entah Nyonya Jolneo benar-benar tidak akan melakukan apa pun kepada Elaina karena paham dengan situasi sekarang, atau sebenarnya dia sedang menyusun rencana menyakiti Elaina? Kalau sampai Nyonya Jolneo menyakiti Elaina sekarang, sepertinya Tuan Gabino akan marah, karena Tuan Gabino masih menginginkan Elaina menemaninya malam ini. Secara tidak langsung, Elaina itu masih milik Tuan Gabino dan belum dibuang. Jika mood Tuan Gabino rusak karena kematian Elaina, bisa kacau dan gawat. Apa perlu aku peringatkan Nyonya Jolneo supaya tidak bertindak sekarang? Dia harus tunggu Tuan Gabino benar-benar tidak menginginkan Elaina lagi, baru melakukan apa pun yang dia mau. Kalau Tuan Gabino bad mood, aku pun akan terkena dampaknya,” batinnya sedikit waswas.
Ting!
Denting notifikasi dari ponsel Toris menarik perhatian. Toris segera mengecek isi pesan dari salah satu tim-nya.
+6289048xxxx
Elaina dalam bahaya. Apakah harus dibantu, Tuan?
Deg!
Mata Toris membulat, ia sangat terkejut membaca pesan itu. “Saya izin menelepon seseorang, Tuan.”
“Hem.” Dalen berdeham tanpa mengalihkan pandangan dari dokumen di atas meja.
Toris menjauh dari meja kerja Dalen, lalu ia segera menghubungi anggota tim-nya itu. “Jelaskan!” ujarnya langsung.
“Ada beberapa pria ingin melecehkan Elaina di kamar barunya. Kami melihat Tuan Vram di sana, berarti orang-orang itu suruhan Nyonya Jolneo. Makanya tidak berani langsung bergerak tanpa titah, Tuan.”
“APA?”
Dalen menoleh ketika mendengar suara Toris sedikit meninggi. Ia menyorot dingin asistennya itu. “Ada apa?”
Toris menoleh cepat, lalu menunduk sembari mendekat ke meja kerja Dalen. “Tuan, Vram dan anggotanya sedang beraksi. Mereka sepertinya ingin memper-kosa Elaina terlebih dulu sebelum dibunuh.”
Dalen menyeringai.
Ctak!
Toris menatap pena di tangan Dalen sudah patah karena kekuatan sang atasan. “Benar, bukan? Seperti dugaanku, Tuan Gabino pasti tidak akan tinggal diam. Ck, aku telat memperingati Nyonya Jolneo,” batinnya.
“Berani sekali mereka ingin menyentuh wanita milikku,” desis Dalen.
“Tim kita hanya menunggu titah dari Anda, Tuan,” ujar Toris.
Dalen mengangkat pandangannya. Sorot matanya begitu tajam. “Patahkan apa pun anggota tubuh mereka yang berani menyentuh Elaina, bahkan meski itu hanya sehelai rambut!”
Toris mengangkat ponselnya ke telinga. “Kalian dengar itu? Laksanakan sekarang!”
“Baik, Tuan!” sahut anggota Punox di seberang telepon.
Dalen memejamkan mata dengan rahang tampak mengeras. Sesuai prediksi Toris, mood Dalen langsung memburuk.
“Hah, mereka mungkin tidak akan selamat, karena sudah berhasil memancing ketenangan Tuan Gabino. Mengusik Tuan Gabino, hanya ada satu akhir yang akan mereka dapatkan—yaitu kematian. Untuk Vram ... entah akan seperti apa nasibnya setelah ini. Begitu juga dengan Nyonya Jolneo yang tidak penuh perhitungan sebelum bertindak. Dia terlalu mendahulukan amarah dan kecemburuan. Sungguh bodoh,” batin Toris sembari menggeleng-geleng.
Dalen tiba-tiba berdiri, lalu keluar dari meja kerjanya. “Siapkan mobil!”