Skyla menatap sarapan yang di bawakan oleh Mommynya dengan tatapan dingin. Ini sudah hari ke tujuh sejak kejadian itu dan mereka masih memproses kejahatan Luke pada Skyla. Skyla sangat ingin mengetahui bagaimana keadaan Luke namun ayah dan kakeknya bungkam. Skyla masih dengan pendiriannya bahwa Luke membutuhkan seseorang yang bisa di ajak bicara. Bukan jeruji besi seperti yang dipikirkan oleh banyak orang.
"Makanlah, Skyla..."
"Thanks, Mom. Aku akan memakannya nanti."
"Apakah masih tak ingin bicara? Bagaimana perasaanmu sekarang?" Mommynya bertanya lembut sambil mengusap kepala Skyla yang menyandarkan dagu nya ke sandaran sofa. Matanya menatap ke arah kebun belakang rumah.
Skyla menghela napas panjang.
"Perasaanku tidak lagi penting, Mom...yang terpenting adalah kalian bahagia. Itu sudah cukup."
"Aaah, sayang...jangan bilang seperti itu, Nak...kau adalah yang terpenting bagi kami." Suaranya Ibunya terdengar putus asa. Sudah berhari-hari dan Skyla masih tak mau berbicara pada mereka. Juga pada Zach yang masih berada di rumah ini. Meninggalkan setumpuk pekerjaannya di New York.
Skyla tahu Zach masih berada disini walaupun aunty Cherry dan uncle Ethan sudah kembali ke New York dua hari lalu. Masih dirasakan nya kehadiran Zach di dalam rumah itu. Getaran hatinya begitu kuat. Merasai hadir nya Zach dalam rumah.
"Aunty...bisa minta waktu? Aku ingin bicara dengan Skyla sebelum kembali nanti." Sebuah suara bariton membuat Skyla menoleh. Mendapati Zach yang berdiri di tengah pintu kamarnya.
Skyla menatap Mommynya yang segera berdiri.
"Tentu, Zach." Hailey berdiri dan melangkah keluar.
Zach menutup pintu, menghampiri Skyla yang kembali menekuri pemandangan di kebun belakang. Zach duduk di depan Skyla. Menatap Skyla tajam. Jelas sekali gadis ini menghindarinya. Bahkan menghindari bertatapan dengannya.
Skyla nampak sedikit pucat, membuat Zach bertanya dalam hati. Sebegitu dahsyatnya pengaruh Luke pada Skyla hingga membuat Skyla mengacuhkan semuanya.
"Aku akan pulang besok sore." Zach membuka percakapan.
Skyla masih terdiam. Suasana begitu canggung.
"Aku mengakui kekalahanku. Aku bahkan tidak bisa menjanjikan apapun untukmu, Sky."
Skyla bergeming. Hangat menyeruak dalam hatinya. Betapa dia merindukan panggilan sayang itu. Hanya Zach dan Alex yang memanggilnya dengan panggilan "Sky".
"Katakan sesuatu, Sky. Jangan seperti ini." Zach beringsut mendekat pada Skyla.
Skyla akhirnya menoleh. Menatap manik mata sehitam malam yang begitu di kaguminya.
"Baiklah. Pulanglah."
Skyla berkata lirih. Suaranya tercekat ketidakpastian yang berkecamuk di dalam dadanya. Seberapa kuat Skyla mencoba, tetap tak bisa menepis betapa kuat cintanya pada sosok di depannya yang terlihat putus asa ini. Ingin sekali Skyla mengusap rahang keras Zach yang mulai ditumbuhi rambut halus. Zach mungkin tak bercukur selama di sini. Itu...membuatnya semakin...hmm...menawan.
Skyla menepis pikiran konyol nya. Kepalanya menggeleng pelan. Perang batin membuat hatinya tersiksa.
"Sky..." Zach berbisik putus asa. Sikap dingin Skyla membuatnya tersiksa. Sangat. Mungkin seperti ini perasaan Skyla saat dulu Zach memendam amarah dan mengacuhkan Skyla. Dan...ini pembalasannya.
Skyla kembali melayangkan pandangannya ke arah kebun belakang.
"Sky..." bisik Zach sekali lagi.
Skyla menoleh.
"Kau ingin pulang. Apalagi? Aku tidak punya hak untuk menahanmu di sini, Zachary. Pulanglah! Apalagi yang kau tunggu? Lakukan apa yang kau mau." Skyla tiba-tiba berkata keras. Tangis Skyla pecah. Bahunya bergetar dan bening mengalir dari kedua matanya. Itu semua membuat Zach hancur! Dia tak pernah ingin Skyla menangis seperti ini. Apalagi karena dirinya.
"Sky..." Tangan Zach berusaha meraih Skyla, namun Skyla menepisnya. "Skyla...jangan seperti ini. Jangan menangis. Jangan..." Zach putus asa.
"Cukup, Zach...pergilah. Pulanglah." Kali ini nada suara Skyla terdengar sangat tajam. Bening masih setia bergulir di kedua mata indah yang kehilangan cahayanya itu.
"Kau jatuh cinta pada pria itu." Suara lirih Zach dan tebakan nya menyentak batin Skyla.
Jatuh cinta? Pada Luke?
Berhari-hari Skyla meyakinkan dirinya. Menanyakan pada dirinya sendiri apakah dia jatuh cinta pada Luke? Namun kelebat bayang Zach selalu hadir sebagai jawaban. Perasaannya pada Luke tidaklah sama dengan perasaannya pada Zach. Yang ada di hati Skyla adalah rasa iba pada Luke. Rasa berterimakasih karena dicintai begitu dalam. Rasa bersalah karena tak akan bisa membalas cinta Luke padanya.
Iya. Iba pada pria yang begitu sakit hatinya itu.
Skyla menghela napasnya putus asa. Tak ada yang akan berubah. Cintanya pada Zach...dan ketakutan Zach pada...pernikahan. Itu tidak akan mudah berubah seperti mudahnya membalik telapak tangan.
"Pulanglah, Zach." Suara Skyla lirih begitu putus asa.
Zach menggeleng. Zach beringsut semakin mendekat. Zach merengkuh pinggang Skyla dengan kedua tangan besarnya. Kurus sekali. Lebih kurus dari terakhir kali Zach memeluknya.
Ya Tuhan.
Zach menyurukkan kepalanya ke leher Skyla. Aroma kekayuan lembut memanjakan hidung Zach. Skyla masih terisak. Tapi terdiam. Tak menepis Zach lagi. Zach menghela napasnya panjang dan menghembuskannya pelan.
"Jangan menyuruhku pergi, Sky."
"Aku tidak...menyuruhmu. Kau yang ingin pergi, Zach." Napas hangat Zach yang menerpa lehernya begitu menyiksa. Rasanya begitu nyaman berada dalam rengkuhan tangan besar Zach seperti ini. Bulu di rahang Zach tajam menusuk lehernya, membuat Skyla merinding.
"I love you so much, Sky..."
Skyla terdiam. Terdengar nada kesungguhan dari suara Zach.
"Aku akan lakukan apapun untukmu. Apapun! Termasuk pernikahan."
"Jangan melakukan apapun karena terpaksa, Zach."
"Tidak! Aku sudah memikirkan nya. Aku tidak akan bisa kehilanganmu untuk ketiga kalinya, Sky. Tidak bisa. Aku...aku akan mati."
Skyla tersentak. Mati? Tidak! Dia yang akan mati kalau sampai terjadi apa-apa dengan Zach. Skyla menggeleng pelan. Menepis pikiran buruknya.
Menghindari Zach beberapa hari ini saja sudah membuatnya tersiksa. Apalagi....
Skyla menggeleng lagi...tangan mungilnya tanpa sadar meremas pinggang Zach keras. Berusaha menepis pikiran buruknya. Napasnya tersengal. Tak terbayang terjadi sesuatu yang buruk pada Zach. Zach mendongak. Menatap khawatir pada Skyla yang memucat.
Skyla menatap tajam manik hitam Zach. Tangan mungilnya semakin mencengkeram pinggang Zach, membuat Zach menahan perih. Bibir hangat Skyla mencium bibir Zach dengan tak sabaran, bersamaan dengan isakan.
"Hmmphh..Sky...are you okay?"
Skyla menggeleng pelan. Memagut bibir Zach meminta balasan. Zach mengeratkan pelukannya. Tangannya bergerak ke atas. Meraih leher Skyla untuk memperdalam ciuman.
Ciuman itu seakan tak berujung hingga keduanya kesusahan menghirup udara. Zach menyusur pinggang Skyla. Menyelusupkan tangannya ke dalam t- shirt yang di pakai Skyla. Mengusap lembut kulit punggung Skyla, membuat bibir mungil Skyla mengeluarkan erangan.
"Zach..." Di telinga Zach Akyla mendendangkan sebuah bisikan.
"Hmmm..." Zach bergumam. Bibirnya cekatan menyusur leher Skyla. Memberikan kecupan-kecupan basah yang memabukkan.
"Love me!" Skyla berteriak tertahan.
Zach tersentak. Menarik wajahnya. Menatap wajah pucat Skyla yang sekarang terlihat memerah. Zach menggeleng.
"No." Zach menggeleng berulang kali. Sebuah gelengan yang menggambarkan kebimbangan nya. Skyla menghela napasnya putus asa.
"Aku mau sekarang Zachary!" geram Skyla. Sebuah ciuman menuntut membuat Zach tersentak.
"Tidak, Sky." Zach tetap menggeleng. Matanya terpejam. Dia tidak akan sanggup menatap Skyla dengan permohonannya.
"Please...ini menyiksa, Zachary. Don't you understand?" Mata Skyla berkilat marah dan putus asa.
"Aku tahu. Tapi...tidak sekarang, Sky." Tawanya akan meledak saat menatap Skyla yang begitu putus asa. Ada apa dengan Skyla kali ini? Sikapnya sungguh aneh dan dia seperti bukan dirinya.
"Aku mau sekarang, Zachary!" Geraman Skyla tertahan. Bibirnya menyusur leher Zach membuat Zach mengeluarkan erangan. Skyla seakan mengajukan sebuah oermintaan sepele dan menjadi marah karena Zach tak memenuhinya.
God!
Zach mencium bibir Skyla dalam. Melumatnya dengan kasar membuat Skyla memekik. Zach melepaskan pagutannya dan berdiri.
"I love you so much, Sky. Aku akan memintamu pada uncle dan aunty." Zach bergerak menjauh dari Skyla dan melangkah.
Skyla mengerjap membuat Zach tertawa. See...Skyla tak kan pernah bisa melepaskannya, batin Zach.
"Makanlah. Aku akan berkeliling sebentar. Aku butuh itu" Zach menjangkau pintu lalu melangkah keluar.
"Zaaaach...I hate you!", Geraman Skyla tertahan. Zach tertawa.
Tidak Sky...you love me so much, batin Zach sambil menutup pintu pelan.
Rasanya bisa gila kalau harus berlama-lama dalam satu ruangan dengan Skyla. Bisa-bisa mereka berakhir di ranjang. Bukan Zach tak menginginkannya. Bukan! Zach sangat menginginkan Skyla melebihi apapun. Tapi Zach berjanji akan membuat semuanya indah untuk Skyla. Sesuai mimpi Skyla yang juga menjadi mimpinya saat ini.
"Terimakasih Sky...for all that you've done...Just for showing me the truth. Aku menantang diriku sendiri untuk membahagiakanmu." Zach berbisik pada dirinya sendiri.
Dan sekarang...
Zach mengambil napas dalam. Berlari pagi adalah hal yang harus dilakukan untuk meredam gairahnya. Sungguh menyiksa. Tapi untuk sebuah janji? Apapun akan di lakukan oleh Zach.
Zach keluar rumah dan mulai berlari kecil menyusuri jalanan. Zach memutuskan untuk berlari mengelilingi danau kecil yang ada di belakang rumah Jacob Castain. Cukup jauh dari rumah dan tak seluas danau Louise tapi banyak pelancong menyempatkan singgah di sini.
Tatapan mata penuh kekaguman dari para wanita yang sedang berlari pagi tak menghetikan langkah Zach. Dia terus berlari berkeliling hingga peluh meredam gairahnya.
Zach akan meminta Skyla secepatnya pada Uncle Brad dan Aunty Hailey. Sudah berhari-hari Zach memikirkan semuanya. Persetan dengan ketakutannya. Ketakutan laknat itu tak lebih besar dari ketakutan nya kehilangan Skyla.
Awan tiba-tiba menjadi sedikit gelap ketika Zach berhenti di pinggir danau yang sepi. Ilalang berbunga cantik tumbuh di pinggir danau. Awan hitam berarak menjauh ketika rasa perih yang menyengat tiba-tiba mendera punggungnya. Belum sempat Zach berpikir, tiba-tiba gelap menerpa pandangannya. Zach tersungkur ke tanah.
"Sky..." Zach lirih seiring gelap yang segera menyapanya. Membawanya lelap pada masa yang tak berujung. Dengan seberkas sinar menyilaukan di kejauhan sana.
--------------------------------
"Sebar seluruh anak buah untuk menemukannya!", Jacob Castain mengeluarkan perintah dengan tegas sekaligus geram. Pagi buta dia sudah disibukkan dan dibuat geram dengan kabur nya Luke.
Luke bahkan melukai penjaga yang sedang berjaga di kantor polisi dengan sebuah tembakan di kakinya.
Jacob segera menghubungi Brad agar bersiaga dan melarang semua anggota keluarga keluar rumah.
Brad segera memberitahukan hal itu pada Hailey istrinya. Memastikan bahwa Skyla tetap berada di kamarnya. Juga ibu mertuanya dan dua orang maid. Brad juga segera menghubungi anak buahnya untuk meminta tambahan orang untuk berjaga di rumahnya.
Tapi...
Brad tak berhasil menemukan Zach. Menurut Skyla, Zach keluar untuk berolahraga. Hailey memeluk Skyla yang begitu pucat begitu mendengar Luke melarikan diri dari penjara distrik. Seharusnya hari ini Luke akan di bawa ke penjara wilayah tapi tengah malam Luke berhasil mengecoh dan melukai beberapa petugas penjaga di kantor kepolisian hutan.
"Dad...bagaimana dengan Zach? Ya Tuhan..." Skyla terlihat sangat khawatir dan putus asa. Dia menumpukan tangan di dadanya seakan mencoba membuat hatinya sedikit tenang.
"Tenanglah...Dad akan keluar bersama beberapa orang untuk mencarinya. Pastikan kalian tidak keluar rumah. Kalian mengerti?", ujar Brad tegas. Skyla mengangguk begitu juga dengan Mommynya.
Di depan rumah sekumpulan orang mulai menyebar di setiap sudut rumah dan Brad segera pergi dengan beberapa orang. Menyusur jalanan.
Sementara itu...
Awan menghitam seakan sudah tidak kuasa menahan volume air yang ingin luruh ke bumi. Rintik mulai turun membasahi tubuh Zach yang tak sadarkan diri. Darah segar terus mengucur dari punggungnya. Tubuh gagah Zach terhempas di rerumputan di pinggir danau yang sangat sepi. Apalagi saat hujan mulai turun seperti ini, air dingin mengusik orang-orang dan mereka memilih kembali ke rumah untuk menghangatkan diri.
Angin dari pegunungan di kejauhan turun ke danau, menciptakan gelombang kecil yang terhempas ke tepi danau.
Seorang pria melangkah meninggalkan pohon besar yang berada di sisi lain danau. Wajah tampannya menyeringai mengerikan. Sesungging senyum kemarahan terpatri di wajahnya.
Luke Lukas.
Akan terbang seperti burung gagak berwarna pekat yang menebar kematian. Hatinya yang terluka melagukan nyanyian semarak luka dan darah.
Langkahnya berbelok. Menuju rumah Jacob Castain.
Luke berdiri dalam lindungan pepohonan rimbun di seberang jalan rumah khas Banff milik Jacob Castain. Kekayaan Ayah Skyla...membuatnya mampu membayar puluhan orang untuk menjaga putrinya dari sentuhan berbahaya dunia luar.
Mata Luke memerah. Amarah menggelegak dalam benaknya. Geraman tertahan berubah menjadi tangisan lirih memilukan ketika di lihat nya Skyla begitu cantik dan rapuh. Berdiri di dekat jendela kamarnya. Tirai tertiup angin semilir bercampur hujan rintik. Menghadirkan sosok Skyla yang begitu ingin digapainya.
Luke menghela napasnya pelan. Mengusap air matanya dengan gerakan putus asa.
"Kita akan lihat, Skyla...apa yang bisa dilakukan seorang pria yang sedang patah hati."
Dilangkahkannya kakinya menuju ke kedalaman hutan. Membawa lara dan segunung sakit hati.
Membawa seluas samudera dendam yang membutuhkan muara nya...
Luke Lukas
Jiwanya tergadai oleh cinta. Raganya tercabik sakit hati yang mendalam...
Banyak yang akan dilakukan seiring hilangnya cecap rasa manis cinta berganti dengan kebencian.
-----------------------------------