PART 8

2252 Words
"Morning Luke...apakah kau menikmati cutimu?" Jacob Castain menyapa Luke saat mereka bertemu untuk sarapan di kedai kopi Nyonya Dena Carson. Seperti biasa, Luke memesan porsi dobel untuk sarapan. Dia berdalih, dia sangat merindukan masakan Dena dan akhir-akhir ini selalu merasa kelaparan sebelum waktunya makan siang. Luke begitu pandai bermanis kata di depan semua orang. Bahkan tanpa gentar sedikitpun berhadapan dengan Jacob Castain yang adalah kakek Skyla. Gadis yang di sekapnya. "Aku sangat menikmati hari liburku, Sir. Terimakasih banyak. Anda baik sekali." Keduanya mengobrol tentang keadaan Banff selama Luke tidak ada hingga Dena selesai menyiapkan pesanan Luke.Luke berpamitan untuk pulang dan semua meneruskan kegiatan masing - masing. Di perempatan jalan antara menuju pusat kota dan pinggiran Taman Nasional, Luke berpapasan dengan mobil Bradley Caldwell yang akan menuju kedai kopi. "Hai, Luke...kau sudah kembali. Mampirlah ke rumah kalau ada waktu. Kita mengobrol." Bradley menyapa Luke ramah. "Tentu, Sir...saya pasti akan datang. Saya akan mengabari secepatnya.""Baiklah...kami tunggu. See you later."  Brad melambai sambil menjalankan mobilnya pelan. Luke menatap mobil Brad yang menjauh dari kaca spion mobilnya. Seringaian penuh kelicikan terukir dari bibirnya. Luke melajukan mobilnya pelan. Menyusuri jalan raya dan berbelok mengarah ke arah sisi barat danau Louise yang membentang. Jarang sekali orang yang masuk ke wilayah ini karena track hiking kebanyakan terdapat di telah timur Banff. Hanya sesekali polisi hutan berpatroli, itupun tak sampai masuk ke dalam hutan di mana pondok Luke berada. Luke...seperti biasa memarkirkan mobil di belakang pondok nya dan memasuki pondok yang lumayan besar itu dari pintu samping. Skyla terlihat sedang membaca sebuah novel di sofa di dekat jendela. Angin yang masuk dari celah kayu pondok sesekali menerpa tirai jendela. Juga rambut Skyla. Luke melangkah dan duduk di samping Skyla. "Mereka sehat." "Oooh...siapa yang kau maksud?" "Ayah dan kakekmu...mereka baik-baik saja." "Hmm...syukurlah." "Dan kau ingin mereka selalu baik-baik saja kan?" Luke bertanya penuh makna. Tatapannya lurus ke depan. Ke arah jendela yang tirainya tersibak karena angin. "Apa maksudmu Luke? Apa sebenarnya yang kau inginkan?" "Kau tahu apa yang aku inginkan, Skyla." "Tapi aku tidak mencintaimu Luke...please... jangan memaksaku." "Belajarlah Skyla. Belajarlah mencintaiku, dan aku akan menunggu." Skyla menggeleng. Sangat sulit mengubah pendirian Luke. "Akan butuh waktu seumur hidup untuk itu, Luke. Kau tahu aku mencintai siapa. Akan selalu ada dia di hatiku Luke dan itu akan menyakitimu." "Aku tidak peduli. Aku akan mengenyahkan dia dari hidupmu",  Luke berkata dengan keras. Matanya beralih menatap Skyla dengan tajam. "Apa yang akan kau lakukan?" Skyla bertanya dengan suara bergetar. "Apa saja! Aku bisa melakukan apa saja, Skyla. Percayalah...a..pa..sa...ja!"  Luke mencondongkan wajahnya ke arah wajah Skyla. Jarak antara mereka hanya se hembusan napas. Skyla menatap Luke dengan takut. Skyla yakin, apapun bisa di lakukan oleh Luke, termasuk membunuh. Bibir hangat penuh getaran dari Luke memagut bibir Skyla hangat. Tiba-tiba dan hanya sekilas. Sekilas yang menghancurkan hati keduanya. Skyla yang hancur karena milik Zach terjamah oleh yang lain dan Luke yang hancur mendapati Skyla tak membalasnya. "Aku pastikan suatu saat kau akan membalas ciumanku, Skyla." Luke  berdiri dan berjalan ke arah kamar mandi. Melupakan sarapan yang tergeletak begitu saja di meja makan. Skyla terhenyak. Meraba bibirnya kasar. Ciuman Luke begitu lembut. Penuh keputus asaan dan rasa sakit. Bening luruh dari sudut mata Skyla. Merutuki dirinya sendiri karena begitu perasa. Tapi Luke pasti sangat sakit hati karena cintanya tak kan pernah berbalas. Skyla menunduk dalam. Hanya bisa meratapi jalan hidup yang tidak dia inginkan. Luke keluar dari kamar mandi hanya berbalut handuk. Skyla mendongak. Luke cukup tampan...tunggu...sangat tampan. Tak perlu berusaha keras pasti akan banyak wanita yang mendekatinya. Tapi bukan Skyla. Hatinya hanya untuk Zach. Pria yang bahkan mencarinya atau tidak. Pria yang bahkan mengacuhkannya saat terakhir mereka bertemu. "Apakah mau menungguku hingga waktu yang lama, Luke?" Luke yang sedang memakai kemeja kepolisian nya di ambang pintu berhenti bergerak dan menoleh pada Skyla. Luke berjalan ke arah Skyla yang sedang berdiri di dekat meja makan. Dua piring telah di siapkan Skyla beserta sarapannya. Luke meraih pinggang Skyla. Memenjarakan manik mata berbeda warna itu dalam tatapan nya. "Tentu saja. Aku akan menunggu." Luke tersenyum dan mendaratkan ciuman nya di bibir Skyla. Skyla terdiam. Tak membalas hingga Luke menarik wajahnya. Mata Luke...sorot mata yang begitu terluka. "Maaf..." "Aku tahu..." Luke melepaskan rengkuhannya. Berjalan ke arah nakas di dekat pintu kamarnya. Meraih topi dan membawanya ke sofa di ruang depan pondok. Luke terlihat memakai sepatu nya cepat. "Aku pergi dulu. Aku akan pulang membawa makan siang." "Luke...sarapanmu." Skyla sambil menyerahkan kantong plastik kepada Luke. "Aku akan memakannya di kantor. Makanlah sarapanmu juga. Aku tidak ingin kau sakit." Luke melangkah keluar. Deru mobil Luke terdengar menjauh. Meninggalkan kesunyian yang ditingkahi gesekan dedaunan yang tertiup angin. Skyla menyibak tirai. "Kau menyakitiku, Luke...sangat." Skyla duduk di sofa. Rindu pada Daddy dan Mommy nya menyeruak hebat. Mereka sangat dekat tapi Skyla tak bisa meraih nya. Sangat menyesakkan d**a. Skyla memandang novel yang tengah dibacanya tadi. Tergeletak pasrah di meja. Novel tentang seorang gadis yang jatuh cinta pada penculik nya. Penculik nya yang tampan dengan usia yang berbeda jauh. Skyla menghela napas. Andai semua semudah itu. Tapi tak akan bisa. Hatinya hanya untuk Zach. Seberapa besar pun pria itu menyakitinya, di dalam hatinya Zach menempati ruang paling indah dan istimewa. Zach selalu menjadi yang terindah bagi Skyla. Bahkan cara Zach marah dan membuat Skyla menangis tetap menjadi bagian keindahan itu. Katakanlah Skyla adalah gadis melankolis. Tapi...sensasi keindahan yang tercipta setelah kemarahan itu berjuta kali lebih dahsyat menghantam hati Skyla. Mungkin dulu Tuhan sudah menuliskannya seperti ini? Takdirnya bersama Zach hanya akan tertulis di bintang-bintang. Hanya begitu... Dan takdir sesungguhnya, Skyla harus bersama Luke. Semua akan sakit hati. Semua akan hancur...tapi...setidaknya banyak nyawa akan tetap berkelana di dunia bersama raganya bila Skyla bersama Luke. Sakit hati dan hancur itu kepastian di depan mata. Tapi...semua akan membaik seiring waktu. Tapi kalau nyawa hingga terbuang sia-sia, bagaimana memperbaiki semua nya? Skyla menghela napasnya lagi. Kepalanya terasa berdenyut memikirkan hal ini. Kalau boleh berkhayal...dia ingin Zach datang menyelamatkannya. Tapi, Skyla saja tidak yakin Zach peduli padanya. Seandainya semua semudah dalam novel...Tapi tidak... *** Jacob Castain terdiam. Bradley dan Cherry menenangkan Hailey yang menangis panik. Collin Anderson duduk sigap di sofa ruang keluarga. Sedang Zach berdiri di depan jendela dengan tangan di saku celana. Matanya menerawang. Ethan terlihat tepekur memandang ke arah Zach. "Bahkan anak muda itu sangat santun. Rasanya tidak bisa di percaya dia melakukan ini semua. Tak ada tanda-tanda dia terobsesi pada Skyla selama ini. Dia...aaargh..." Jacob terdengar geram. Dia begitu terbuai dengan sikap manis Luke dan hutang budinya pada pemuda itu hingga melewatkan begitu banyak hal tentang Luke. Brad duduk di sofa setelah berhasil menenangkan Hailey. Ethan menepuk bahunya pelan. "Pria ini sangat berbahaya. Melebihi siapapun. Semua tindakan yang akan kita ambil nantinya harus dengan hati-hati dan penuh perhitungan." Collin Anderson membuka beberapa file di meja. "Dia...sanggup melakukan hal di luar pemikiran kita. Membunuh Skyla sekalipun. Maaf Tuan Brad...tapi kita harus memikirkan kemungkinan terburuk nya." Collin Anderson mengusap dagu nya. Kerutan di dahinya menjadi semakin dalam. "Langkah apa yang bisa di ambil sekarang, Collin?" Ethan yang sedari tadi terdiam akhirnya bersuara. "Karena kita tidak bisa melakukan penyergapan dengan gegabah, maka pengawasan dalam diam akan lebih baik. Setelah kita tahu di mana persis nya posisi Skyla disekap, dan kita tahu persis bagaimana ritme keseharian Luke maka kita baru bisa mengambil tindakan." Collin mulai menjelaskan rencananya. "Baiklah Collin. Sebar anak buahmu sebagai pelancong. Sebisa mungkin jangan mencurigakan. Dan Zach...berdiamlah di rumah ini. Mau tidak mau, agar Luke tidak mengambil tindakan yang membahayakan Skyla." Ethan menatap Zach yang terlihat gusar. Mereka akhirnya membicarakan tentang keluarga Jacob Castain yang seluruhnya harus bersikap biasa dan seakan tidak tahu kejadian yang sedang terjadi. Jacob terlihat memberitahu Sarah, istrinya untuk mengikuti rencana mereka dan terlihat Sarah mengangguk. Wajahnya terlihat serius. Dia berusaha tetap tegar menopang Hailey yang begitu terpuruk. Collin Anderson terlihat menginstruksikan beberapa perintah kepada anak buahnya yang sudah tersebar di sekitar Banff. Semua berjalan dalam diam. Percakapan berbisik tanpa ekspresi wajah yang mencurigakan. Kegiatan pengintaian berjalan hingga seminggu lebih dan itu menyiksa Jacob Castain yang hampir setiap saat bertemu dengan Luke. Perang batin selalu berkecamuk di dalam hati Jacob. Betapa dia ingin menghajar dan memenjarakan Luke dengan tangannya sendiri dan membawa Skyla kembali dalam rengkuhan keluarga. Tak ada pergerakan berarti selain Jacob dan Collin mengetahui bahwa Luke kembali menempati pondok kayunya di sisi barat hutan Taman Nasional. Pergerakan yang merayap dalam kesunyian. Hingga berhari-hari kemudian... -------------------------------- "Aku akan mengantar kau pulang, Skyla." Skyla terkejut. "Apa...mak..." Ucapan Skyla terpotong tatapan mata tajam Luke. "Mintalah ijin untuk menikahiku...itu syaratnya. Jangan berpaling dariku apapun yang terjadi, siapapun yang kau temukan di rumahmu...dan...jangan pernah berlari dariku." Skyla terdiam. "Itulah yang harus kau lakukan Skyla. Hanya itu dan semua akan selamat. Aku janji." Luke  menatap tajam Skyla. Skyla berpikir...apa sesungguhnya yang terjadi. Pernikahan? Luke meminta sebuah pernikahan? Luke akan memberinya sebuah pernikahan? Hal yang bahkan dihindari mati-matian oleh Zach. Hati Skyla merasa miris. Mengapa dunianya begitu jungkir balik sekarang? "Mereka terlalu bodoh menganggapku tak mengetahui apa yang mereka lakukan berhari-hari ini." Luke berkata sinis. "Apa yang mereka lakukan padamu Luke? Mereka siapa?" "Kau akan tahu. Bersiaplah. Bertindaklah sesuai apa yang kita bicarakan Skyla. Aku tahu kau menyayangi kedua orang tuamu dan kakek nenekmu. Dan...satu hal...aku mencintaimu...sangat. Kau pasti juga tahu...apa yang bisa di lakukan pria yang sedang jatuh cinta bukan? Aku bahkan sanggup membunuh orang lain dan diriku sendiri untukmu Skyla." Luke  berdiri. Skyla memandang Luke yang melangkah menuju lemari pendingin. Mengeluarkan sekaleng bir dan meminumnya. "Ganti bajumu Skyla. Kita akan pergi dalam 30 menit." Skyla berjalan menuju kamar. Menganti kaos dan celana yang dipakainya dengan sebuah dres motif bunga yang di belikan oleh Luke dalam perjalanan menuju Banff. Skyla segera melangkah keluar. Luke memandang takjub pada Skyla yang telah siap dengan dres yang dibelikannya. Sosok gadis pinggiran kota yang benar-benar membuat Luke jatuh hati. Luke menghampiri Skyla dan merengkuh Skyla pelan. "Sangat cantik. Tahukah? Aku ingin menikah denganmu. Mempunyai banyak anak. Hidup di Banff. Membuatkanmu rumah yang cantik. Membahagiakanmu." Skyla yang tak membalas rengkuhan Luke hanya bisa tergugu. Impiannya. Semua ucapan Luke adalah impian terbesar nya. Menikah. Mempunyai banyak anak. Tinggal di Banff dengan segala kesederhaannya. Dan...Zach. Zach yang menjadi harapannya. Untuk mewujudkan semua itu. Tapi...Zach tak mau semua itu. Hidup Zach bukanlah sesuatu yang sederhana. Hidupnya adalah menaklukkan kota besar seperti New York. Bukan hidup sebagai lelaki yang cukup puas dengan istri yang berdiam diri di rumah. Membuatkan sarapan, membuatkan bekal makanan dan menunggunya pulang saat tiba waktu makan malam. Skyla mengangkat tangannya. Cukup! Skyla membalas rengkuhan Luke. Laki-laki yang begitu mencintainya hingga menyakiti dirinya sendiri. Luke tersenyum pilu. Satu keterpaksaan yang disematkan pada gadis dalam rengkuhannya membuatnya merasakan perih. Tapi...Luke mencintai Skyla melebihi apapun juga. Melebihi dia mencintai dirinya sendiri. "Kita pergi sekarang." Mereka keluar dari pondok menuju mobil yang ada di belakang pondok. Sebentar lagi waktunya minum teh bagi mereka yang menikmati hidup dalam dingin nya Banff. Luke membukakan pintu mobil untuk Skyla. Hal yang selalu ingin di lakukan oleh Luke bahkan hingga berhari-hari, hingga bertahun-tahun kemudian dalam hidupnya. Luke menjalankan mobilnya pelan. Rembang petang menyapa kemerahan di depan sana. Bersama turunnya kabut sore hari yang membuat sore tampak abu-abu. Senyap di kanan kiri ditingkahi gesekan dedaunan pohon pinus. Sesekali terdengar cicitan burung mencoba mengalahkan deru mobil. Skyla terdiam. Tak mengerti apa yang sebenarnya dirasakan nya. Semua masih samar. Semua masih membingungkan. Cintanya untuk Zach masihlah sangat besar dan mendalam. Namun Skyla tidak bisa membiarkan terjadi apa-apa dengan Zach karena Luke. Juga anggota keluarga yang lain. Skyla melirik Luke. Ada sesuatu dalam diri Luke yang begitu istimewa di mata Skyla. Tapi...untuk mencintai Luke? Mungkin akan butuh waktu seumur hidup Skyla berusaha. Hati Skyla hanya untuk Zach. Hanya Zach...dan akan selalu pria bernama Zachary William Leandro. Mobil Luke memasuki jalanan menuju rumah Jacob Castain. Jalanan yang selalu di rindukan oleh Skyla. Jalanan yang saat ini seakan turut menghitung detak jantung Skyla yang kian memacu. Semakin dekat dengan rumah sang Kakek, membuat Skyla membeku. Hatinya berdesir entah kenapa? Pintu pagar khas Banff telah terlihat. Lalu mobil Jeep yang biasa di pakai kakek Jacob terparkir di samping rumah. Dan...mata Skyla terpicing. Bukankah itu mobil Daddynya? Apakah Daddy dan Mommynya sedang berkunjung? Rumah kelihatan sepi. Atau mungkin mereka sedang ada di teras belakang? Tapi tunggu dulu...ini sepi yang sangat aneh. Skyla merasa sepi ini bagaikan sepi dengan banyak pasang mata mengawasinya dalam diam. Luke menghentikan mobil tepat di depan pagar dan turun untuk membuka pagar, lalu berbalik kembali dan menjalankan mobil pelan. Memasuki pekarangan dan memarkir mobilnya tepat di samping jeep Jacob Castain. Luke membukakan pintu dan Skyla pun turun. Melangkah pelan melewati samping rumah diikuti oleh Luke. Langkah Skyla terhenti tepat di teras belakang rumah. Semua terjadi begitu cepat ketika Collin Anderson dan tiga anak buahnya meringkus Luke yang seorang diri. Skyla menatap bingung. Bening luruh dari kedua matanya melihat Luke yang mencoba memberontak. Bergantian menatap bingung pada Luke dan keluarganya yang tengah berdiri di teras. Daddy, Mommy, Kakek, Nenek, Aunty Cherry, Uncle Ethan dan...Zachary. Tangisan Hailey pecah saat melihat Skyla. Di rengkuhnya Skyla yang masih tergugu dan berurai airmata. "Sayang...kau tak apa-apa?" Hailey bertanya dengan gugup di tengah kekagetannya. "Mom...lepaskan Luke...Mom...lepaskan dia." Skyla mulai berteriak. "Tidak sayang...dia...dia...terlalu berbahaya." Raut bingung jelas terlihat dari wajah Hailey. Bingung dengan sikap Skyla yang begitu menginginkan Luke di bebaskan. Brad, Ethan dan Zach turut mengantar Jacob Castain, Collin Anderson yang membawa Luke ke dalam mobil untuk di bawa ke kantor polisi. Mereka kembali ke teras belakang setelah mobil yang membawa Luke hilang dari pandangan. Hailey dan Cherry masih menenangkan Skyla yang terus menangis. Brad merengkuh putrinya dengan sayang. "Dad...bebaskan dia...aku mohon. Dia sakit. Dia butuh pertolongan bukan jeruji besi." Skyla berusaha membujuk Ayahnya. "Skyla..." Sebuah suara menyentak Skyla. Suara yang begitu dirindukannya sekaligus menyayat hatinya. Skyla mendongak. Zach melangkah pelan menuju ke arah Skyla. "Back off, Zachary! I hate you!" Skyla sambil berteriak sambil menyentak pelukan Daddynya. Skyla berlari masuk ke dalam rumah dan masuk ke dalam kamarnya. Membanting pintu keras dan menguncinya. Meninggalkan keterpanaan semua yang ada di teras belakang rumah. Meninggalkan tangisan Hailey dan kesedihan mendalam Bradley. Senja temaram mulai menuruni lembah perbukitan di kejauhan. Lembayung rembang petang mulai berganti gelap. Cicitan burung beterbangan ingin kembali ke peraduan nya. Senja berganti gelap. Segelap hati Zach yang menyesali semuanya... Sepekat hati yang terluka oleh ketidakpercayaan. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD