PART 7

2383 Words
Skyla menggeliat. Matanya enggan terbuka walaupun pikirannya ingin sekali terbangun dari tidur lelap nya. Samar terdengar bunyi pendingin ruangan yang berderap agak kencang. Mungkin sudah mulai rusak. Tapi... Skyla tersentak. Terbangun dengan tiba-tiba saat tahu ada yang aneh dengan keadaan sekelilingnya. Skyla memicingkan mata. Ini sama sekali bukan kamarnya. Skyla mengerjap. Berusaha untuk bangun dari posisinya. Tapi...Skyla terkejut. Tangannya terikat rantai yang terpancang pada tiang tempat tidur. Apa-apaan ini? Di mana dia sekarang? Kamar pengap ini bukan kamarnya yang nyaman. Lalu kenapa dia dirantai? Siapa yang melakukannya? Di mana Luke? Luke? Iya! Di mana dia? Skyla berusaha keras menyandarkan tubuhnya di sandaran tempat tidur. Matanya berusaha menyesuaikan dengan remang nya penerangan kamar. Matahari menyeruak masuk dari celah tirai jendela menandakan pagi mulai menjelang. Skyla menatap sekeliling ruangan dan terhenyak dengan banyaknya foto dirinya di tempel di sekeliling dinding kamar. Skyla mencermati foto itu secara acak. Banyak dari foto itu diambil saat dirinya berada di Banff. Siapa yang melakukan semua ini? Ini...seperti sebuah obsesi. Sebuah kegilaan yang pernah Skyla lihat dalam sebuah film. Seperti kegilaan yang dibacanya dalam novel. Ya Tuhan... Apakah dia diculik oleh seseorang yang terobsesi dengannya? Seorang yang mempunyai jiwa psikopat? Skyla mencoba menarik tangannya. Bukan terlepas tapi malah semakin tertarik dan membuat perih di pergelangan tangan Skyla. Rantai itu mengikat begitu erat. Deru pendingin ruangan sekarang bukan lagi samar namun cukup mengganggu. Skyla masih menatap nanar fotonya yang begitu dominan menghiasi dinding kamar ini. Siapa yang tega melakukan ini semua padanya? Apakah salahnya? Pintu terbuka dan menampilkan sosok Luke yang tersenyum manis. Skyla menatap Luke keheranan. Luke terlihat menenteng kantong plastik, entah berisi apa. "Good morning, darling." Luke berbicara dengan begitu santai. "Luke? Apa maksud semua ini!? Jadi...jadi kau yang membawa dan mengikatku di sini? Apa tujuanmu? Apa salahku padamu, Luke?" Skyla mengajukan pertanyaan beruntun. Luke duduk di kursi yang yang ada di samping nakas. "Kau tidak bersalah, Skyla sayang. Aku hanya ingin kau bahagia."  Luke tersenyum sambil menatap Skyla intens. Skyla merasa bulu kuduk nya meremang saat menatap Luke. Tatapan Luke tak lagi hangat...tapi berubah menjadi aura menguasai yang begitu kental. "Apa maksudmu semua ini demi kebahagiaanku, Luke? Kau menyakitiku! Lepaskan aku sekarang juga." Skyla memberontak. Tangis mulai merebak dari kedua matanya. Menyesali kebodohannya, membiarkan seorang penjahat hidup dalam satu rumah dengannya. "Sssttt...jangan menangis. Dan...jangan mengguruiku Skyla. Aku ingin kau bahagia. Itu saja...aku harap kau mengerti." Luke berbisik lirih. Namun nyata geraman keluar dari mulutnya. "Bahagia? Bahagia yang seperti apa?" "Aku akan membahagiakanmu, Skyla. Bukan laki-laki itu...yang hanya bisa menyakitimu." Skyla menatap Luke yang mengusap wajahnya kasar. "Zach..." Skyla tanpa sadar berbisik lirih menggumamkan nama Zach. Braaaak! "Jangan sebut namanya di hadapanku, Skyla!" Luke berteriak begitu keras. Tangan Luke menggebrak nakas di samping ranjang membuat Skyla terlonjak kaget. Luke terlihat sangat marah dan itu membuat hati Skyla bergidik ngeri. Luke gila. Dia lebih berbahaya dari orang gila yang sebenarnya, batin Skyla. "Makanlah. Aku harus pergi keluar. Jangan berteriak atau mencoba kabur...atau aku akan membunuh laki-laki itu!" Luke berbisik mengintimidasi sambil meletakkan kantong plastik ke dekat Skyla. "Aku tergila-gila padamu, Skyla...sangat. Aku mencintaimu. Tidak cukupkah ini semua menjadi bukti?" Luke menyeringai sambil merentangkan tangannya menunjuk segala penjuru kamar yang penuh dengan foto Skyla. "Kau sakit Luke...kau butuh pertolongan." "Aku hanya butuh kau, Skyla. Hanya butuh kau." Luke menggelengkan kepalanya kencang sambil berjalan mendekat pada Skyla. Luke melepaskan rantai yang melingkar di tangan Skyla dengan sebuah kunci yang di ambil dari sakunya. "Bersikap baiklah." Tangan Skyla terayun menampar Luke, membuat Luke menggeram. Tamparan yang membuatnya sakit. "Aku membencimu, Luke. Semoga siapapun di luar sana segera menemukanku dan menyeretmu ke penjara!" Skyla berteriak keras. "Kau menyakitiku, Skyla."  Luke balas berteriak sambil membuka laci nakas. Sebuah jarum dan botol mungil berisi cairan...entah apa, membuat Skyla beringsut menjauh. "Lebih baik kau tidur, Skyla." "Luke menangkap tangan Skyla yang mulai memberontak. "Jangan sentuh aku, Luke. Kau sakit jiwa. Aku membencimu...aku sangat mem...ben..ci..mu, Lu..ke..." Lirih suara Skyla menghilang ditelan gelap yang menyapa sesaat setelah Luke berhasil melesakkan jarum suntik ke lengannya. Luke tersenyum tipis. Diciumnya puncak kepala Skyla yang terkulai, dan direbahkannya badan mungil Skyla beralas bantal. "Kau milikku, Skyla...hanya milikku." Tangisnya pecah mengingat betapa Skyla berkata dia membenci nya. "Kita akan pulang, Skyla...ke Banff. Tempat di mana seharusnya kau dan aku tinggal", bisik Luke lirih. Luke turun dari ranjang dan melangkah keluar dari apartemen sewaan nya. Mengunci pintunya pelan dan dia mulai melangkah menuju lift. Sebuah topi dia sematkan di atas kepalanya. Juga sebuah kacamata hitam. Menyamarkan jati dirinya... ---------------------------------- Zach menggeram. Polisi mulai berdatangan ke kediaman Bradley Caldwell. Collin Anderson juga sudah menemani Zach sejak malam tadi. Semalam, Zach tak menemukan Skyla di seluruh penjuru rumahnya. Tidak ada di manapun. Juga laki-laki yang nyata tinggal bersama Skyla. Zach sudah membaca laporan penyelidikan yang cepat di lakukan oleh Collin Anderson. Luke Lucas. Seorang pria berbahaya yang nyatanya adalah pria yang tinggal satu kota dengan Skyla di Banff. Pria yang begitu dekat dengan Jacob Castain, kakek Skyla. Apapun itu dan siapapun dia di masa lalu Skyla, pria itu juga nyata - nyata berbahaya. Dia telah ter obsesi dengan Skyla sedari beberapa tahun lalu. Obsesi yang membuatnya gila dan bisa saja melakukan hal yang tak di terima akal sehat. Para maid bahkan sudah menjadi bukti bahwa Luke mampu berbuat begitu jahat. Membius semua maid hingga lelap sampai pagi. Memudahkan Luke membawa Skyla keluar dari kediaman Bradley Caldwell. Membawa sebuah mobil Audy berwarna hitam milik Skyla. Mematikan semua penunjuk lokasi yang terhubung dengan mobil itu. "Kita akan menemukannya, son. Secepatnya. Aku sudah menyebarkan seluruh anak buahku untuk turun tangan langsung." Collin berusaha menenangkan. "Polisi juga akan segera bergerak. Pulanglah dan kabari seluruh keluarga. Aku sudah berbicara dengan Ayahmu. Mereka butuh kau untuk tetap kuat." Collin Anderson menepuk bahu Zach dan bersuara tegas. Zach mengangguk dan melangkah gontai menuju mobilnya. Zach mengacak rambutnya kasar. Sesal yang benar-benar disesalinya. Mengabaikan Skyla dan sekarang pria berpenyakit jiwa membawanya entah ke mana. "Skyla...maafkan aku." Zach berbisik pelan. Zach melajukan mobilnya kencang menuju mansion Leandro. Pikirannya menerawang. Benar-benar kebodohannyalah yang sudah membuat Skyla hilang. Nyatanya di mansion semua sudah berkumpul di ruang keluarga. Mommynya tak henti menangis dalam pelukan Daddynya. Zach melangkah gontai dan mendapatkan rengkuhan dari Alex. James sigap mengambil jas Zach dan membawanya ke kamar Zach. "Kita akan menemukan Skyla, Zach ", ujar Alex. Zach mengangguk. Tatapan matanya tertuju pada Mommynya yang masih menangis di pelukan Daddynya. "Maafkan aku, Mommy." Zach berkata lirih. "Temukan Skyla, Zach. Bawa dia pulang...ya Tuhan...ini...ini...berbahaya sayang." Cherry terlihat kalut sambil menatap Ethan. "Tenanglah, sayang. Kita akan bergerak cepat." Ethan terus menenangkan Cherry yang masih menangis. "Mandilah Zach." Dean membuka suara. "Aku akan meminta James menyiapkan sarapan, sayang." Aunty Lucy menatap Zach prihatin sambil beranjak dari duduknya dan melangkah menuju dapur. Zach melangkah menuju kamarnya. Menaiki tangga pelan. Pikirannya tak bisa lepas dari Skyla. Merutuki egonya yang begitu kuat bercokol. Lalu...apa yang akan terjadi pada dirinya bila sampai sesuatu yang buruk menimpa Skyla? Cukupkah hanya penyesalan? Tidak! Zach juga akan hancur berkeping-keping. Sudah pasti.Zach masuk ke kamarnya dan segera mandi dengan cepat. Begitu keluar kamar mandi, James dengan sigap menata sarapan nya di meja yang ada di kamar Zach. "Terimakasih, uncle." James mengangguk prihatin, lalu melangkah dan menutup pintu pelan. Meninggalkan Zach yang diam menatap makanan di atas meja. "Apakah Skyla sudah makan?" Zach berbisik pada dirinya sendiri. Rasanya akan sulit tertelan makanan se lezat apapun di mulut Zach. Zach melangkah dan duduk di kursi yang menghadap meja. Makanan di atas meja sangat menggugah selera. Kelihatan Lezat. Namun tidak untuknya. Mulutnya terasa kelu. Zach akhirnya hanya termenung. Menatap makanan di atas meja tanpa menyentuhnya. Pikirannya benar- benar kacau. Menunggu kabar dari Uncle Collin sungguh menyiksa. "Sky..." Zach membisikkan nama Skyla lirih seakan hal itu bisa membuatnya sedikit tenang. ----------------------------------- "Makanlah...see...tidak ada yang mencarimu sejauh ini." Luke berkata pada Skyla yang beringsut menjauhinya. Wajah Skyla terlihat sangat pucat karena sama sekali tak menyentuh makanan yang di bawakan Luke dari kemarin. "Bersikap manislah, Skyla. Atau kau ingin terjadi sesuatu yang buruk pada...pria itu?" Luke geram. "Jangan pernah mengusik Zach. Jangan pernah berani melukainya!" Skyla berteriak kalap. "Aaah...kau sungguh tidak adil. Kenapa kau begitu peduli pada pria yang tidak memperdulikanmu? Aku Skyla...hanya aku yang bisa mencintaimu sepenuh hati." "Kau sakit, Luke." Skyla merasa putus asa. "Semua karena kau, Skyla. Kau yang tidak peka pada perasaanku." "Aku tidak mencintaimu! Tidak akan! Kau gila!" "Akan aku buat kau mencintaiku, Skyla. Kita lihat nanti." "Aku membencimu, Luke", Skyla meringkuk dan memegang dua kakinya. "Kita akan terbang ke Banff sore ini. Mau tidak mau..." Luke berbicara cepat sambil melangkah keluar. Terdengar pintu di kunci. Skyla menangis. Sungguh tidak menyangka Luke yang begitu lemah lembut adalah seseorang yang sedang sakit secara mental, dan menjadikan dirinya sebagai obyek obsesi nya. Apa yang akan dilakukan Luke selanjutnya? Luke dapat berbuat lebih dari sekedar...menyekap nya. Bisa saja dia mengancam keselamatan Zach. Hati Skyla terasa membeku. Bila terjadi sesuatu yang buruk pada Zach...niscaya itu akan membuat hancur hati Slyla. Skyla menerawang. Matanya buram karena airmata. Tak henti dia berdoa, seseorang sedang berusaha mencarinya di luar sana. Zach... Apakah Zach mencarinya? Pertanyaan itu melintas berulang kali di benaknya. Berkumpul dengan se gunung penyesalan mengapa memilih kembali ke rumah Ayahnya daripada tinggal di mansion Leandro. Menyesali kebodohannya. Terbuai kenangan masa lalu di Banff, hingga dengan mudah mempersilahkan seorang penjahat hidup dekat dengannya. Skyla merasa tertipu. Terperangkap oleh tindakan bodohnya sendiri. Skyla merasakan lelah dan sakit di sekujur tubuhnya. Lelap membawanya pada mimpi buruk di siang dan malam hari. Hingga sore nya ketika Luke kembali dan mengajak  nya pergi dengan sebuah ancaman yang membuat Skyla terdiam. Nyawa Zach...Luke akan menghabisi Zach jika Skyla tidak menurut dan berlaku sewajarnya. Luke menggandeng Skyla keluar dari apartemen. Bersikap seolah mereka adalah pasangan muda yang hendak meninggalkan apartemen sewaan Luke dan kembali ke kota asal. Tak ada celah untuk Skyla agar bisa melarikan diri. Bayangan Zach berkelebat. Apapun bisa terjadi pada Zach bila dia melakukan hal yang mencurigakan. Apapun akan dilakukan oleh seorang psikopat untuk mencapai tujuannya, termasuk melukai hingga membunuh. Mereka tiba di bandar udara JFK dan penerbangan ke Canada tak bisa di cegah lagi. Apapun itu. Sekecil apapun kesempatan untuk kabur, selalu terbentur kekhawatiran Skyla akan nyawa Zach dan juga nyawanya. Skyla hanya bisa pasrah...kemana pun takdir akan membawanya pergi. Cukup baginya bila takdir nya adalah Zach tetap bernyawa. Tanpa dirinya... ---------------------------------- Di sebuah pondok kayu. Di sinilah semua bermuara. Setiba di Canada, Luke membawa Skyla menuju sisi barat Banff. Dengan mobil yang sengaja di tinggalkan Luke di bandara, mereka tiba di Banff menjelang tengah hari di hari berikutnya. Perjalanan panjang dengan mobil yang seharusnya menyenangkan terasa mencekam. Apalagi Luke dan Skyla harus berhenti di beberapa tempat untuk menginap dan beristirahat. Pondok kayu di tengah hutan sisi barat danau Louise. Walau Skyla mengenal daerah ini, merindukan tempat ini melebihi apapun...kondisi tersudut dan ketakutan seperti sekarang ini melumpuhkan semua rasanya. Luke tak lagi mengikatnya. Tapi melarikan diri adalah hal konyol yang akan mengancam nyawanya. Hutan sungguh tak terduga. Skyla ingat sekali...bagaimana seorang polisi hutan berpengalaman seperti kakek nya Jacob Castain harus tumbang melawan ganas nya beruang yang kalap menyerang. Apa yang bisa di lakukan tubuh ringkihnya? Lalu...setelah berhasil melarikan diri, apakah Luke akan berdiam diri saja? Dia pasti akan bergerak, mengintai...dan membinasakan dengan amarah orang-orang tersayang nya. Setidaknya Skyla masih bisa berpikir untuk membuat badannya agar lebih kuat dan bersikap pura-pura menurut di hadapan Luke. Skyla memakan makan siangnya dengan lahap dan itu membuat Luke terlihat gembira. Di pondok ini pun sama. Semua dinding kayu penuh dengan foto Skyla. Memenuhi ruangan. Membuat Skyla bergidik ngeri. Betapa berbahayanya sebuah obsesi yang sudah ter blender sempurna dalam pikiran Luke. Skyla hanya bisa memandang indahnya danau Louise di kejauhan dari balik tirai jendela yang terkunci mati. Luke sedang pergi. Entah kemana. Berpuluh kilometer jauhnya dari pondok kayu, ada keluarga yang begitu dia rindu. Ada rumah hangat yang begitu dekat tapi terasa sangat jauh karena keadaan. Daddy dan Mommynya. Kakek nya. Bukankah mereka sangat dekat dari pondok ini? Tidak. Mereka dekat tapi terasa jauh. Terpisah kekhawatiran Skyla andaikan sampai Luke mengusik mereka. Orang-orang yang paling berharga untuknya. Bulir bening mengalir dari sudut mata Skyla. Apakah memang tertulis dalam suratan bahwa Luke adalah takdir nya? Entahlah... ---------------------------------- "Hai, Luke, apa kabar? Kapan kau kembali?" Dena Carson, pemilik kedai kopi yang selalu ramai di singgahi pelancong yang akan melakukan hiking di Taman Nasional Banff terlihat sedikit kaget dengan kedatangan Luke  ke kedainya. "Aku baik Dena...bisakah aku meminta sesuatu untuk makan malam?" "Tentu saja. Tunggulah. Aku akan membuatkan menu istimewa untuk menyambutmu." Dena menyahut ramah. "Bisakah kau membuatkanku dua porsi makan malam?" Luke bertanya pelan. "Tentu...aaah...kau sangat kelaparan setelah bepergian jauh rupanya" Dena sambil menebak sambil tertawa. "Begitulah. Terlebih...aku juga merindukan masakanmu, Dena." Luke memuji ramah. "Aaah...kau selalu bisa menyenangkan hati orang, Luke. Tunggulah sebentar, aku akan membuatkan makan malam untukmu." Dena melangkah memasuki dapur kedai. Luke menatap sekeliling. Ini sudah habis waktunya istirahat makan siang bagi petugas kepolisian hutan. Jadi kedai kopi hanya di penuhi pelancong saja. Dari berbagai sudut ruangan terdengar keluhan yang beragam. Cuaca yang tak menentu, track hiking yang kian sulit dan sebagainya. Tapi yang banyak dikeluhkan adalah buruknya sinyal telepon di Banff akhir-akhir ini. Sangat buruk hingga menyulitkan mereka terhubung dengan dunia luar. Luke tertawa dalam hati. Sungguh ini lebih membahagiakan dari apapun. Luke terdiam dan menyesap teh nya pelan. Kabut senja mulai menuruni bukit di kejauhan ketika Luke sampai di pondok kayu di tengah hutan. Cahaya lampu menyeruak ketika pintu di buka oleh Luke setelah memarkirkan mobilnya di belakang pondok. Skyla terlihat duduk di sebelah jendela. Memandang keluar dan menoleh saat pintu terbuka. "Hai Skyla...makan malam sudah tiba." "Biar aku yang menyiapkan piring nya Luke." Skyla berdiri dan melangkah ke dapur. Luke terdiam. Heran dengan sikap Skyla yang melunak. Apakah Skyla sudah berubah pikiran? "Bawa kemari, Luke." Skyla menatap Luke yang masih berdiri di depan pintu. Luke tersenyum dan berjalan ke arah meja makan. Skyla sudah menyiapkan peralatan makan, juga sebotol orange juice berukuran sedang yang di ambil dari lemari pendingin. Mereka makan dalam diam. Menyelami pikiran masing-masing yang entah akan bermuara kemana. Semua masih abu-abu. Seperti deretan pegunungan di kejauhan...abu-abu yang berkabut. ---------------------------------- "Pria itu membawa Skyla ke Kanada. Aku sudah memastikan penerbangan mereka. Dan...tentu saja dia sangat berbahaya. Kau bisa lihat dari semua foto yang terpampang di dinding ruangan ini Zach." Collin Anderson menatap Zach yang masih menahan geram. Laki-laki bernama Luke Lukas itu memang seorang psikopat yang ter obsesi dengan Skyla. Foto-foto pada dinding apartemen yang sudah di tinggalkan penghuninya ini membuktikan, betapa pria itu sangat ter obsesi pada Skyla. "Kita sedang terus berusaha menghubungi pihak-pihak terkait di sana. Juga kedua orangtua Skyla. Tapi seperti yang sudah kau dan ayahmu coba...signal sedang sangat buruk di sana. Bersabarlah Zach...aku akan berusaha mencari celah sekecil apapun agar kita bisa ke sana. Tentu saja tanpa menimbulkan kecurigaan", ujar Collin tegas. "Baik, uncle. Aku akan ikut ke sana. Pergunakan fasilitas yang ada, uncle. Secepatnya!" Zach melangkah keluar dari ruangan itu. Beberapa polisi sedang melakukan penyidikan di dalam ruangan itu. Menelisik jejak dan barang bukti yang ditinggalkan oleh sang penjahat. Zach melajukan mobilnya meninggalkan gedung apartemen itu. "Skyla...bersabarlah. Aku akan datang secepatnya." "Mengusikku berarti siap dengan kehancuranmu Mr Luke Lukas." ----------------------------
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD