PART 6

1649 Words
Skyla menunduk, dan melirik Zach yang berjalan melewatinya. Diam. Tak menyapa. Skyla menghela napasnya pelan. Wangi mint menyeruak membuat Skyla ingin memeluk Zach. Namun Zach terlihat...marah? Apa karena Skyla tidak kembali ke mansion atau apa? Skyla menggeleng pelan. Terdengar pintu ruangan Mommy Zach tertutup. Skyla kembali menekuri desain gaun di depannya. Konsentrasinya hilang sudah. Berbagai macam pikiran berkecamuk di benaknya. Skyla memutuskan untuk keluar dari butik untuk sejenak. Berjalan di sepanjang trotoar. Pikirannya melayang. Hingga tak sengaja dia menabrak seseorang. "Aaah...maaf." "Skyla, are you okay?" Orang yang ditabrak oleh Skyla bertanya. Skyla mendongak. Luke... "Oh my God, Luke...I am sorry." Skyla sedikit tertawa sambil memegang lengan Luke. "Apa kamu sakit, Skyla?" Luke memapah Skyla yang terhuyung. "Tidak, Luke...aku baik-baik saja." Luke memapah Skyla menuju sebuah cafe yang ada di blok itu. Membawa Skyla duduk di sudut ruangan. Skyla masih menunduk. Luke terlihat menuju mini bar dan memesan sesuatu. Luke kembali dan duduk di samping Skyla. "Maaf..." Luke sambil meraih leher Skyla. Memijit tengkuk Skyla pelan. Sejenak Skyla terkesiap pada perlakuan Luke. Namun akhirnya terdiam, merasakan pening di kepalanya sedikit berkurang. Luke menarik tangannya. "Maaf...aku tidak bermaksud lancang. Aku..." Luke terdengar terbata. "It's okay, Luke. Terimakasih." Skyla  memegang lengan Luke sekilas. Luke mengangguk bersamaan dengan seorang waiter yang datang mengantarkan sebotol air mineral berukuran sedang. "Kau harus banyak minum, Skyla. Maksudku...agar tidak sering mengalami pusing." Skyla mengangguk dan meraih botol air mineral dari tangan Luke. Luke menahan botol itu. Membuka cepat penutup botol dan menyerahkannya pada Skyla. Skyla tersenyum. Luke tetap pria Banff yang mempesona. Begitu perhatian dan hangat. "Apakah kamu sakit?" Luke bertanya tiba-tiba. Nada suaranya terdengar khawatir. "Tidak, Luke. Aku hanya merasa pusing...sedikit saja." "Kau tidak sedang baik-baik saja, Skyla. Apakah ada yang mengganggu pikiranmu?" Skyla tersenyum. Menggeleng pelan. "Baiklah kalau tidak mau bercerita. Mungkin lain kali." Skyla tersenyum lagi. Luke begitu perhatian. Hangat dan peduli. Zach juga seperti itu. Tapi tidak sekarang. Zach kembali menjadi dingin. Hal yang sangat tak ingin Skyla lihat dari Zach. Ada apa ini? Sebegitu mengerikannyakah sebuah pernikahan bagi Zach? Apa Skyla terlalu berlebihan memintanya? Skyla menggeleng. "Kau mau kembali ke tempat kerjamu atau pulang, Skyla?" Skyla menoleh. Menatap Luke yang masih setia menemaninya. "Aku harus kembali, Luke. Aunty Cherry pasti menungguku." Skyla  berdiri. Luke berdiri dan mempersilahkan Skyla keluar dari duduknya. "Baiklah, aku akan mengantarmu." "Hmm...apa kau tidak sibuk?" "Aku akan pergi ke suatu tempat setelah mengantarmu Skyla." "Baiklah." Skyla berjalan keluar kedai dan Luke mengikuti. Mereka berjalan bersama dengan pikiran yang menerawang. Skyla dengan kebingungan dan kesedihannya. Luke dengan kekhawatirannya akan keadaan Skyla yang terlihat sedih. Luke melirik Skyla yang berjalan pelan di sepanjang trotoar. Wajah Skyla terlihat murung dan...terluka. "Aku akan menghapus dukamu, Skyla." Luke berbisim lirih. Nyaris tak terdengar. Skyla menoleh. "Apa kau mengatakan sesuatu, Luke?" Luke menggeleng. "Tidak ada, Skyla. Baiklah...sudah sampai. Masuklah. Aku harus pergi." Skyla tertegun. Matanya menatap bangunan butik di depannya. Pikirannya benar-benar kalut hingga tak menyadari dia sudah sampai lagi di butik Aunty Cherry. Skyla mengangguk. "Sampai jumpa nanti malam, Luke. Makanlah di rumah. Aku akan meminta Edna menyiapkan semuanya." "Tentu, Skyla. Sampai jumpa",  Luke  berbalik dan mulai melangkah menyusuri trotoar. Skyla berjalan, melangkah masuk ke dalam butik dan mendapati Aunty Cherry yang duduk di dekat meja kerjanya. "Aah...sayang. Apa kau baik-baik saja?" Cherry bertanya pada Skyla dengan nada yang sangat khawatir. "Aku baik-baik saja, Aunty." "Kau bisa pulang jika kau merasa kurang sehat sayang...jangan memaksakan diri." "Tidak Aunty. Aku baik-baik saja. Aku akan melanjutkan pekerjaanku." Skyla  duduk di kursinya. Meraih pensil dan mulai menekuri kertas desain di hadapannya. "Pasti baik-baik saja karena ada yang menjaganya, Mommy." Zach yang tiba-tiba sudah berdiri di samping meja Skyla mengeluarkan kali amat yang terdengar seperti sebuah nada sarkasme. "Zachary... " Cherry memberi peringatan. Matanya menatap nanar pada putranya itu. Skyla menunduk. "Aku pergi, Mom." Zach melangkah keluar tanpa menoleh lagi. Cherry menghela napas. "Aunty tahu kalian sedang ada masalah. Pulanglah ke mansion dan selesaikan semua." "Tidak Aunty, aku akan tinggal di rumah Dad sementara ini. Zach tak benar-benar menginginkan aku. Aku tidak akan memaksanya" Skyla berkata lirih. Dia bahkan merasa tak meyakini kata-katanya barusan. "Dia mencintaimu...sangat." "Aku tahu...tapi Aunty...terkadang cinta saja tidak cukup bukan?" "Aunty akan bicara dengan Zach nanti. Bersabarlah...Zach memang agak keras...kau tahu?" Skyla mengangguk. Kembali menekuri kertas di hadapannya. "Aunty harus bertemu seseorang di luar. Apakah tidak apa-apa kau Aunty tinggal?" "Tidak apa-apa Aunty. Pergilah." "Skyla..." Cherry memanggil Skyla putus asa. Tangannya terentang. Skyla berdiri dan langsung menghambur dalam pelukan Cherry. Tangisnya pecah. Sangat sulit menghadapi Zach yang begitu ketus. "Kami semua menyayangimu, Skyla...kau tahu itu." Cherry mengusap punggung Skyla lembut. Skyla mengangguk. "Bersabarlah...Aunty akan memukul Zach kalau sampai menyakitimu." Skyla tertawa pelan. "Baiklah...Aunty pergi dulu. Baik-baiklah di sini. Aunty Lucy dalam perjalanan kemari, okay" Cherry  menangkup pipi Skyla dan mengusapnya lembut. Dia merasa Zach sudah sangat keterlaluan kali ini. Skyla mengangguk. Cherry melangkah keluar setelah seorang karyawan menyerahkan tas tangannya. Skyla menatap Cherry yang melangkah keluar butik. Skyla duduk lagi di kursinya dan kembali menekuri kertas sketsa di depannya. Berusaha menepis bayang Zach dari pikirannya. Skyla merindukan Zach. Sangat. Merindukan aroma Zach. Merindukan hangatnya pelukan Zach. Merindukan kemanjaaan Zach. Semuanya. "Ada apa denganmu, Zachary." Skyla  mengusap wajahnya pelan. --------------------------------- Zach menatap lalu lalang kendaraan di jalanan. Dari ruangannya di lantai paling atas kantornya, terlihat lalu lintas cukup padat. Pikirannya menerawang. Memikirkan perkataan Mommynya, agar tidak menghakimi Skyla secara sepihak hanya berdasarkan foto yang diterima Zach. Bahkan kiriman itu tak jelas pengirimnya. Bisa jadi itu hanya orang iseng yang tak ingin melihat mereka bersama. Tapi... Siapa laki-laki yang begitu akrab dengan Skyla di kedai kopi beberapa waktu lalu? Apakah laki-laki itu yang ada di tempat tidur Skyla? Zach menghela napas kasar. Tak mungkin menanyakan hal itu pada Skyla. Zach sadar dia bukan pria yang pandai menahan amarah. Zach akan bertanya. Nanti. Tidak sekarang. Tak adil rasanya mengabaikan Skyla seperti sekarang. Tapi Zach sadar...semua karena sikap pengecutnya. Pengecut? Mungkin. Hanya Zach yang tahu, dia ingin Skyla mendapatkan dirinya yang sudah yakin. Bukan Zach yang masih kebingungan. Bukan Zach yang pengecut. Pergi ke butik adalah keputusan yang di sesali Zach. Melihat Skyla begitu terluka membuat harinya kian buruk. Zach sangat ingin merengkuh tubuh mungil Skyla. Ingin mengatakan bahwa semua baik-baik saja. Tapi tidak...tidak sebelum semua jelas. Tidak sebelum Zach menyelidiki semuanya. Pintu di ketuk dan sekertaris Zach, Mr Cillian masuk. "Tuan Collin Anderson ingin bertemu, Sir." "Persilahkan dia masuk." Sekretaris Zach segera keluar dan tak lama masuklah Collin Anderson. Laki-laki yang masih nampak gagah di usianya yang tidak muda lagi. Seperti grandpa Edward. Begitulah... Collin Anderson memang sosok yang loyal terhadap keluarga Leandro. Dia mengabdi hingga hari ini. Sungguh mengagumkan karena Collin Anderson bahkan mulai mengabdi saat usianya masih duapuluh tahun. Saat bisnis Edward baru dimulai di New York. Collin tumbuh bersama Ethan. Kesetiaannya tak diragukan lagi. Collin sudah bersama keluarga Leandro saat masih dalam masa sulit. Usianya yang hanya lebih tua beberapa tahun dari Ethan membuat Collin layaknya kakak yang bisa di andalkan. Hingga kini...saat Zach sudah dewasa dan rambut Collin mulai memutih. Dia masih Collin yang dulu...yang setia dan bisa diandalkan. "Hi, son...how are you?" "Baik, Uncle...bagaimana denganmu?"  Zach membalas pelukan Collin. "Aku? Selalu baik...haha..." Collin menjawab diiringi tawa ramahnya. "Silahkan duduk, Uncle." Zach melangkah menuju sofa abu-abu di sudut ruangan kerjanya. Merekapun duduk. "Aku mau minta tolong untuk menyelidiki seseorang, Uncle."  "Apakah pria yang mendekati Nona Skyla akhir-akhir ini?" Collin Anderson mengajukan pertanyaan yang membuat Zach terhenyak. "Uncle sudah tahu?" Zach balik bertanya. Tentu saja dia merasa heran. "Kau anak Ethan Leandro, aku tahu kau tak kan membiarkan seseorang mengusik propertimu. Ayahmu juga begitu" Collin berdiri dari duduknya. "Uncle memang terbaik." Ketulusan terdengar dari pujian Zach untuk pria di depannya itu. "Aaaah...tidak. Aku hanya seorang laki-laki di penghujung senja. Aku permisi, son...have a nice day." Collin melangkah keluar dan Zach mrmgantarkannya hingga ke pintu. "You too, Uncle. "Zach berdiri tegak sambil terus menatap punggung Collin yang melangkah menjauh. Wait a minute? Properti? Collin bahkan menyamakan Skyla adalah propertinya? Zach tersedak ludahnya sendiri. Seperti yang selalu Daddynya bilang, Collin Anderson adalah pribadi yang humoris dan kadang keterlaluan. Tapi...kinerjanya tidak bisa di ragukan. Zach tersenyum. Menutup pintu dan mulai mengerjakan pekerjaan yang sudah menumpuk di mejanya. ---------------------------------- Luke tersenyum sambil menatap foto Skyla yang sedang tertidur lelap. "Aku harus memilikimu secepatnya, Skyla. Sebelum laki-laki itu bergerak, aku sudah harus membawamu kembali ke Banff." Luke membatin kata-katanya. Dalam benaknya telah tersusun rencana busuk yang sudah jauh hari terpikir olehnya. Menyembunyikan Skyla untuk sementara dan membawanya ke Banff dengan cara apapun. Sekalipun dengan cara kekerasan. Luke beranjak dari duduknya. Menyimpan foto Skyla di dompetnya dan melangkah keluar. Di dengarnya deru mobil Skyla telah memasuki garasi. Luke segera beranjak, melangkah keluar kamar dan menuju ruang keluarga. Sepi... Luke kembali tersenyum sinis. Menatap ke arah ruang makan yang telah rapi. Hidangan makan malam telah tersaji. Kemana perginya para maid? Luke tertawa dalam hati. Sedikit obat tidur akan melenakan mereka semua hingga pagi hari. Dengan kelicikan yang terbungkus keramahan, Luke mengajak mereka semua mengobrol dan memberikan mereka semua teh yang telah tercampur dengan obat tidur. Skyla terlihat memasuki ruang utama rumah dan melangkah cepat melintasi ruang keluarga. "Selamat malam Skyla..." Luke menyapa Skyla. "Oh Luke...selamat malam. Sepi sekali?" Skyla mengeryitkan dahi. "Para maid mungkin sedang beristirahat. Tapi Edna sudah menyiapkan makan malam untukmu." Luke menunjuk ke arah ruang makan. "Baiklah. Kau tidak keberatan bukan sedikit menunggu? Aku butuh mandi." "Tentu saja, Skyla. Aku akan menunggu. Mandilah." Luke sambil beranjak menuju ruang makan. Skyla mengangguk lalu melangkah menuju kamarnya. Luke duduk di kursi di sebelah kanan. Tempat biasa dia duduk. Matanya awas melihat sekeliling. Sunyi yang begitu menggembirakan hatinya. Pandangan mata Luke beralih pada hidangan istimewa yang ada di hadapannya. Terlihat sangat lezat. Dua porsi steak dengan lelehan saus jeruk dan potongan sayuran rebus. Dua gelas orange juice istimewa buatan sendiri. Buatannya! Luke terkekeh kecil. Rasanya ingin sekali menari berputar penuh kegembiraan. Tapi...tidakkah itu terlalu berlebihan?, batin Luke. Karenanya dia hanya diam. Menunggu. Kemenangannya. --------------------------------- Pukul 23:30. Zach tersentak dari duduknya. Meraih iPhone nya yang berdering. Uncle Collin? Nama itu tertera dalam ID Caller. "Ya Uncle...ap..." Ucapan Zach terpotong suara Collin Anderson yang terlihat terburu-buru. "Cepatlah keluarkan mobilmu, Zachary dan pergilah ke kediaman Bradley Caldwell. Seseorang di sana aku pastikan adalah orang yang sangat berbahaya. Aku sedang dalam perjalanan ke sana. Cepat!" Collin berteriak keras. Panggilan diakhiri. Zach terhenyak. Bahaya? Skyla? "Ya Tuhan, Skyla." Zach menggeram sambil melangkah cepat. Menyambar jaket dan melangkah keluar menuju garasi. Mengeluarkan mobil dan melajukannya keluar mansion. Membelah jalanan dengan kencang. Ribuan kupu-kupu menguar dari dalam perutnya. Bukan karena cinta. Tapi karena kekhawatiran yang menyeruak hebat dalam d**a Zach. "Skyla..." Teriakan Zach membahana. Memecah deru mobil yang melaju membelah jalanan New York yang tak pernah terlelap. ------------------------------
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD