PART 5

1534 Words
"Hai, Luke..good morning. Silahkan duduk, ayo kita sarapan." Luke sudah terlihat rapi. Skyla pun begitu. Hari ini Minggu, Skyla memutuskan untuk berdiam diri saja di rumah. Skyla menatap Luke yang masih terdiam. Berdiri di depannya. "Duduklah, please..." "Apakah tidak apa-apa?...aku bisa sarapan di belakang Nona...maksudku...hmm...Skyla." "Kau tamuku Luke...sudah seharusnya aku memperlakukanmu dengan baik." "Hmm...ba...baiklah kalau begitu. Terimakasih banyak." Luke mengangguk sambil duduk di kursi meja makan, persis di depan Skyla. "My pleasure...Kau pahlawanku Luke...kau tahu, setelah kejadian itu. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi kalau sampai Grandpa...kau tahu..." Skyla menganggapku pahlawannya!, batin Luke bersorak. "Sudah kewajibanku Skyla...menolong sesama." Luke merendah sambil menatap Skyla yang terlihat sedih saat mengenang kejadian yang menimpa kakek nya, Jacob Castain. Oooh...jangan sedih Skyla sayang... "Terimakasih Luke..kau baik sekali. Tapi..kau menjadi terluka karena peristiwa itu." "Abaikan itu, Skyla...aku masih merasa aku cukup tampan walau jalanku timpang." Luke menepis kekhawatiran Skyla dengan memberikan senyum terbaiknya. Skyla tertawa. Luke menatap Skyla yang begitu cantik di saat tertawa. "Aaah...tentu saja. Kau bisa mendapatkan cinta wanita mana saja yang kau mau...hmm...kau ingat Kathleen? Dia tergila-gila padamu."  Skyla berbisik sambil membawa wajahnya mendekat ke arah Luke. Bicara nya yang berbisik dan matanya yang memicing terlihat indah sekali di mata Luke. Luke menghirup aroma Skyla. Aroma tanah leluhurnya. Aroma hutan pohon pinus Banff. Aroma hutan yang lembut dan memabukkan. Bersama Skyla seakan Luke berada di sunyi nya Banff. Sunyi yang menjadi kehidupannya. Luke tertawa. Tentu saja dia ingat Kathleen, sahabat Skyla yang terang-terangan sering menggoda Luke. Luke tahu Kathleen menyukai nya. Tapi itu bukan apa-apa, karena itu bukan Skyla. Andai kau yang menyukaiku, Skyla...batin Luke. Skyla mengambilkan sarapan Luke ke atas piring. Luke memperhatikan Skyla yang begitu luwes memberinya sarapan. "Makanlah Luke." Luke menyantap sarapan nya dalam diam. Begitu juga Skyla. Sesekali mata Luke tertuju pada bibir mungil Skyla. Bertanya-tanya dalam hati apakah yang sudah dilakukan laki-laki yang bernama Zachary itu pada Skyla nya. "Apa kau suka sarapanmu Luke?"  Skyla bertanya saat mereka sudah menyelesaikan sarapannya. "Ini lezat Skyla." "Aku pikir juga begitu." Edna muncul dari belakang bersama seorang maid. Membereskan semua. Luke tersenyum ramah pada Edna dan mengucapkan terimakasih dengan manis. "Apa rencanamu hari ini Luke? Apakah masih mau menyelesaikan urusanmu?"  Skyla bertanya sambil melangkah ke arah teras belakang. "Tidak ada Skyla. Aku akan pergi hari Senin nanti." Luke mengikuti Skyla yang duduk di sebuah sofa di teras. Merasakan hangatnya sinar matahari pagi. "Baiklah, mari bermalas-malasan saja kalau begitu." Skyla tertawa. Luke ikut tertawa. Keduanya lalu bercengkerama tentang Banff. Tentang danau Louise yang semakin ramai pengunjung. Tentang Taman Nasional Alberta yang selalu ramai di kunjungi para pelancong untuk hiking. "Aku mohon, jangan bilang siapapun di Banff kalau aku di sini, Skyla." Luke mengajukan permintaan tiba-tiba. Skyla menatap Luke. Wajahnya jelas bertanya-tanya. "Hanya sampai urusanku selesai dengan baik Skyla." "Aaah...baiklah" Skyla menyetujui sambil membuat gerakan mengunci mulutnya dan membuang kuncinya jauh-jauh. Luke tertawa. Skyla... Apapun yang dilakukannya...selalu terlihat indah di mata Luke. Skyla terlihat menyandarkan tubuhnya di sofa panjang. Memejamkan matanya. Menikmati hangat mentari yang merasuk dalam pori tubuhnya. Luke menatap Skyla. Skyla begitu berkilau. Cantik seperti bidadari. Mungil bagai peri. Skyla itu sempurna. Hari Minggu yang sempurna untuk Luke. Menyesap bahagia hanya dengan menatap sang pujaan hati yang sedang merebahkan diri bermandi sinar matahari. -------------------------------- Zach mendial lagi nomor ponsel Skyla. Ini sudah yang kesekian kali Zach melakukannya. Dan tidak ada jawaban dari Skyla. Pesannyapun tak ada yang di balas oleh Skyla. Zach mengacak rambutnya frustrasi. Zach yakin Skyla marah pada sikapnya yang...aaah...tidak siap untuk menikah. Zach menggeleng. Bukan! Zach bukan tidak siap. Tapi semua terlalu cepat. Tidak! Batin Zach berperang. Bukan terlalu cepat. Zach bahkan sudah mencintai Skyla sepanjang hidupnya. Jadi ini tidak bisa di bilang terlalu cepat. Zach membalik badannya. Berbaring menghadap sisi lain kamarnya. Dia gelisah. Tapi tak akan siap melihat wajah Skyla yang terluka. Zach merindukan Skyla. Sekarang hari libur. Tapi Skyla tak kembali ke mansion dan tidak bisa di hubungi. Zach merindukan aroma Skyla. Dan rasa manis Skyla yang menjadi candunya. Bunyi pintu kamarnya di buka membuat Zach mendongak. Alex masuk dan langsung merebahkan badannya di ranjang Zach. "Aku akan menikahi Mika akhir tahun ini Zach. Tentu saja dengan seijinmu." Zach membalik badannya. Matanya menatap langit-langit kamarnya. "Tentu saja. Menikah lah." "Bagaimana denganmu? Apakah Skyla menolak menikahimu?" Alex menggoda. Zach tertawa sumbang. Bukan Skyla yang menolak menikahinya. Tapi Zach yang meragu. Zach merasa iri pada Alex yang berani melamar Mika beberapa hari lalu. Mereka merencanakan menikah di akhir tahun. Berarti itu tinggal enam bulan lagi. Bahkan keluarga sudah mulai sibuk mempersiapkan pernikahan Alex dan Mika. Enam bulan... Apa yang akan terjadi selama enam bulan ke depan? Apakah waktu akan membawa Zach yakin akan sebuah pernikahan yang di pinta Skyla? "Skyla menginginkan pernikahan Lex..." Zach akhirnya meluapkan perasaannya pada adiknya itu. "Lalu...kau?" "Entahlah..." Suara Zach parau dan dia menggeleng. "Apa semua karena kau masih takut tak bisa sebahagia Mommy dan Daddy?" Alex mengeluarkan sindiran telak. Zach menghela napasnya kasar. Sindiran Alex telak menusuk relung hatinya. "Entahlah...aku iri padamu yang selalu yakin pada hal itu, maksudku...kau tahu...pernikahan." Alex tertawa. "Aku mencintai Mika. Dia baik untukku. Dan...bukankah Tuhan sudah mengatur semuanya? Sudah menuliskan akan seperti apa hidup kita? Jadi untuk apa ketidak yakinan itu Zach?" Alex bertanya sambil beranjak dari ranjang Zach dan melangkah keluar. Zach nanar menatap langit-langit kamarnya. Masih saja... Alex tak pernah merasakan sakitnya kehilangan. Tak pernah merasakan rasanya amarah karena peristiwa yang bernama patah hati. Menyesakkan. Selamanya Zach takkan siap dengan kehilangan. Juga tak kan siap dengan ketidakbahagiaan. Zach mendesah gusar. Tangannya meninju ninju udara kosong di atasnya. Dia takkan sanggup kehilangan Skyla. Tapi dia juga tak sanggup menikahi Skyla buru-buru. Semua akhirnya akan membuat Skyla tidak bahagia. Melihatnya selalu khawatir dan tak yakin selama pernikahan adalah hal terburuk yang mungkin terjadi. Jelas Zach tidak mau itu. Skyla harus mendapatkan diri Zach yang telah yakin dan siap membahagiakannya. Enam bulan... Cukupkah? --------------------------------- Suara erangan dalam kamar mandi meningkahi suara air shower yang mengalir deras. Kegiatan laknat itu membuat Luke begitu frustrasi. Memuaskan hasrat kelelakiannya! Sudah ke sekian kali. Hanya demi tak menerkam Skyla buru-buru saat Skyla di dekatnya. Luke menyambar handuk dan melilitkan handuk itu di pinggangnya. Melangkah keluar dari kamar mandi dengan muka memerah. Luke mengambil pakaian dari lemari dan memakainya. Setelah selesai, Luke melangkahkan kakinya menuju ruang keluarga. Skyla terlihat sedang menikmati acara televisi. "Duduklah Luke." Luke duduk dan menatap layar televisi di depannya. Hilang fokusnya saat melihat kaki jenjang dan indah Skyla di atas sofa. Skyla hanya memakai celana pendek yang...memperlihatkan paha mulusnya. Ini tidak benar! Gairah Luke terbakar. Sekuat tenaga dia menahan diri. Suasana terselamatkan dengan kedatangan maid yang membawa cemilan dan minuman. Skyla tersenyum pada maid yang segera melangkah ke belakang. "Silahkan Luke...nikmati camilannya." Mulut mungil Skyla mulai sibuk mengunyah biskuit yang di ambilnya dari dalam toples. Luke ikut mengambil sepotong biskuit dan mengunyahnya pelan. Luke menatap mulut Skyla yang bergerak menawan. Bibir Skyla pasti sangat manis, batin Luke. "Luke, kira-kira kapan kau akan kembali ke Banff." "Entahlah...urusanku masih banyak Skyla. Aku akan pindah andai kau tak nyaman dengan kehadiranku." "No way...tinggallah di sini selama kau mau Luke. Aku hanya bertanya saja." "Apa kau akan di sini seterusnya Skyla?" "Aku belum tahu Luke. Aku punya hidup yang sedikit rumit sebenarnya." Skyla tersenyum kecut. "Aah..apa ada hubungannya dengan seorang pria?" Skyla merona. "Mungkin...tapi...aah sudahlah. Ayo kita menonton video saja. Kau suka film drama romantis Luke?" "Tentu." "Okay." Skyla memasang sebuah DVD drama romantis berjudul Dear John. Mereka larut dalam alur cerita drama. Namun Luke tak henti mencuri tatap ke wajah Skyla. Ke tubuh Skyla yang membuatnya teramat b*******h. Adakah yang lebih rumit dari hidupnya? Mencintai dalam keheningan. Dalam diam yang menciptakan sepi dalam jiwanya? Mencintai dalam diam. Melakonkan sebuah cinta dalam diam? Adakah yang lebih rumit dari alur hidup yang dibuat Tuhan untuknya? Batin Luke mengembara... Sudut bibir Luke terangkat. Sungging senyum licik. Aku akan membuatnya tidak rumit lagi... Segera... Luke melirik Skyla yang sedang fokus menyimak alur film. Sangat cantik dan menawan. "Kita lihat aku bisa apa, Skyla sayang...batin Luke sambil menyeringai. Seakan Luke berganti kepribadian. Bukan lagi Luke yang ramah. Tapi Luke yang dingin dan kejam... --------------------------------- Dua minggu kemudian... Mr Cillian, sekretaris Zach membawa masuk sebuah amplop berwarna hitam dan menyerahkannya pada Zach. "Kurir yang mengantar, Sir..." Zach mengangguk dan menimang amplop hitam itu. Tak ada pengirimnya, hanya nama Zach sebagai penerima. Mr Cillian membungkuk hormat dan melangkah keluar dari ruangan Zach. Zach mengambil sebuah cutter dan menyobek ujung amplop. Zach menatap isi amplop hitam itu nanar. Zach tersedak salivanya sendiri. Pemandangan menyesakkan tertaut di matanya. Skyla... Beberapa lembar foto memperlihatkan Skyla yang sedang tidur...dengan seorang pria yang tidak terlihat wajahnya. Zach meremas foto-foto itu dan mengacak rambutnya kasar. Serendah itu Skyla bersikap? Zach termangu. Tak ingin percaya dengan apa yang dilihatnya...tapi... "Aaaaaarghh..." Zach menggeram gusar. Minggu lalu juga Zach melihat Skyla begitu akrab dengan seorang pria di sebuah kedai kopi. Membuat Zach urung menghampirinya. Mungkinkah? Secepat itu? Zach menyimpan foto-foto yang sudah di remasnya itu ke dalam laci. Mencoba menepis kecurigaan yang samar merayapi hatinya. Zach merasa terluka...  Zach menepis tangannya tentang Skyla yang beranjak pergi darinya. Berlalu karena tidak sabar menunggunya yakin. Kemana Tuhan akan membawa alur hidupnya? Bermuarakah kelak pada Skyla takdirnya? Zach ingin percaya pada Skyla. Tapi foto itu...meyakinkan! Mengapa hidupnya menjadi seperti drama di televisi? Siapa yang mengirimkan foto ini? Setelah termangu untuk beberapa saat akhirnya Zach memutuskan menelpon Colin Anderson untuk meminta bantuan. Zach harus mengetahui secepatnya kebenaran di balik foto itu. --------------------------------- Luke tertawa terbahak membayangkan Zach murka dengan kirimannya barusan. Semakin terbuka dan mudah jalanku menujumu Skyla, bisik Luke pada dirinya sendiri... Siapapun dia...tak berhak memiliki Skyla selain Luke. Skyla hanya untuk seorang Luke, batin Luke sambil menatap nanar gedung perkantoran Zachary Leandro. Indah sekali rasanya membayangkan Zachary marah dan murka pada Skyla. Meninggalkan Skyla adalah hal yang sangat mungkin. Maka saat itulah Luke akan mendekat. Merayap mendekati Skyla layaknya rubah berbulu domba. Merampas hati Skyla. Memilikinya utuh...tubuh dan hati wanita yang dipuja nya itu. --------------------------
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD