Waktu itu pasti...merayap dengan jejak tak nyata.
Skyla menoleh...
Entahlah...
Bulu kuduknya berdiri seakan memberi tanda ada yang sedang memperhatikannya dengan intens.
Tidak ada siapa-siapa.
Skyla memang meminta ijin pada Cherry dan Lucy untuk pergi sejenak. Berjalan-jalan sepanjang blok Fifth Avenue.
Skyla berjalan pelan. Menikmati hangatnya suasana deretan kedai kopi dan galeri sepanjang jalan. Lalu lalang orang tidak terlalu hiruk pikuk, karena masih jam kerja. Lain hal kalau sudah memasuki jam makan siang.
Mata Skyla tertuju pada sebuah kedai kopi dengan nuansa perpustakaan di sudut jalan yang memisahkan blok. Skyla mendorong pintu kedai dan disambut dentingan lonceng di atas kepalanya. Penanda bahwa ada orang yang masuk. Skyla berjalan pelan menuju bar dan memesan secangkir machiato coffee. Tatapan mata indahnya membuat seorang waiter yang berjaga di meja panjang bar begitu terpesona.
Skyla tersenyum. Dia berbalik dan melangkahkan kakinya pelan menyusuri labirin buku dengan rak yang menjulang tinggi bahkan hingga ke atap kedai.
Skyla mengambil sebuah novel romance dan membawanya ke meja di ujung ruangan. Ada beberapa pengunjung juga tengah sibuk membaca sambil menyesap kopi mereka. Di sudut ruangan tampak seorang wanita begitu serius menatap layar laptopnya.
Pesanan Skyla datang dengan diiringi senyum ramah seorang waiter. Skyla menyesap kopi nya pelan lalu segera terhanyut membaca novel di tangannya. Obsesi dan kegilaan. Penulis begitu pintar membawa Skyla hanyut dan menghayati isi novel itu. Bulu kuduk nya bahkan seringkali meremang membaca beberapa kalimatnya.
Obsesi seorang pria pada seorang wanita yang sanggup membuat si pria melakukan hal-hal gila dan di luar nalar. Penyekapan, pemerkosaan mewarnai obsesi itu.
Skyla beberapa kali mengusap lengannya. Bergidik untuk suatu peristiwa yang tak diharapkan hadir dalam hidupnya. Dia mempunyai Zach dan itu sudah lebih dari cukup.
Skyla menatap layar ponsel nya yang menyala. Zach menelpon.
"Sayang, kau ada dimana...? Kenapa tidak ada di butik? Jangan sembarangan pergi sendiri. Di mana kau...sekarang?" Teriakan Zach membuat Skyla menjauhkan sedikit ponsel nya dari telinga.
"Aku ada di kedai kopi Nathan's..."
Telepon di putus begitu saja oleh Zach. Skyla menghela napasnya pelan. Meniupkan udara dari mulutnya hingga surainya melayang dan jatuh kembali membingkai wajahnya.
Zach...
Agak sedikit...berlebihan menjaga Skyla. Skyla merasa bagai putri yang harus di kawal dan di awasi oleh para pengawal. Sesuatu yang tidak pernah terjadi selama dia Banff.
Skyla merindukan Banff. Merindukan sunyi walaupun dia belum lama berada di New York.
Lima menit kemudian denting lonceng di atas pintu kedai membuat Skyla mendongak. Skyla menutup novel yang di bacanya. Wajah tampan Zach menyapanya tanpa senyum. Aaah...Zach marah untuk hal sekecil ini.
Zach melangkah dengan kedua tangan di masukkan dalam saku celananya. Tatapan matanya tajam.
"Zach...aku..." Skyla sambil menunduk.
"Jangan pergi sendiri...", Nada suara Zach menuntut.
"Aku baik-baik saja Zach...", Skyla mendongak menatap Zach yang masih berdiri di sampingnya.
"Tapi aku tidak, Sky."
"Baiklah..."
Zach menyentuh pipi Skyla. Mengusap sepanjang rahang nya pelan.
"Aku minta maaf, Zach." Skyla mengalah pada akhirnya.
"Aku khawatir, Sky."
"Kau berlebihan sekali..", bisik Skyla sambil berdiri dan memeluk Zach erat.
Zach tertawa. Mungkin dia memang berlebihan tapi dia tak ingin terjadi apa-apa dengan Skyla.
"Aku harus kembali ke butik."
"Tidak! Aku sudah bilang Mommy akan langsung mengajakmu ke kantorku."
Skyla mengernyit, tapi Zach segera menggandengnya keluar setelah meletakkan beberapa lembar dollar di meja. Zach mencium leher Skyla. Membaui wangi khas gadis itu. Wangi yang membuat Zach mabuk kepayang. Skyla tertawa. Mengusap rahang Zach yang tersuruk di bahunya.
Mereka melangkah keluar dan menuju mobil Lamborghini Anventador milik Zach yang terparkir di jalan delat kedai.
Angin menerbangkan daun-daunan yang luruh meninggalkan dahannya. Melayang terbawa angin musim yang tidak menentu. Melayang seperti sekumpulan manusia yang berdansa di tengah sebuah hall. Berputar, melayang dan luruh dalam kepayang.
Tongkat itu tergenggam erat oleh sang empunya. Saking kuatnya tangan itu menggengam seakan dapat mematahkan tongkat itu menjadi beberapa bagian.
Nyalang mata membawa duka dan kemarahan..
Luke Lukas...
Berdiri di balik salah satu pohon besar dan rindang yang berdiri kokoh di pinggir jalan. Sejuk udara yang berhembus di sekelilingnya nyata tak mampu meredam gejolak hatinya.
Luke nanar menatap kepergian pujaan hatinya dengan seorang pria. Saling memeluk, mencumbu kecil dengan tatapan penuh cinta. Secepat itukah?
Pemandangan indah di dalam kedai yang sudah diperhatikan oleh Luke sejak setengah jam lalu, berganti dengan pemandangan menyesakkan dadanya. Layaknya cerita dalam sebuah novel maka ini adalah bagian di mana sebuah hidup yang tenang berganti porak poranda oleh badai.
"Kalau aku tidak bisa memilikimu Skyla...maka tidak akan ada pria lain manapun yang boleh memilikimu!" Luke menggeram. Giginya gemerutuk menahan amarah.
Luke berpaling. Melangkahkan kakinya timpang menyusuri pedestrian sepanjang Fifth Avenue. Tak di hiraukannya tatapan mata yang menatapnya penuh rasa heran....atau iba?
Luke menyusuri tangga apartemennya. Memilih terseok menapak ratusan tangga yang mengular daripada menggunakan lift. Pikirannya melayang. Kejadian demi kejadian yang baru saja di saksikannya membuatnya marah dan patah hati.
Hatinya...malang nian...
Terpatahkan bahkan sebelum sempat melakukan apapun.
Luke menekan password apartemen nya dan bergegas masuk. Geramannya luruh bersama dengan bening airmata yang mengalir. Luke menangis...lalu tertawa...bingung...
Matanya nyalang menatap ratusan foto Skyla yang begitu menawan.
"Skyla...sayang...kita lihat apa yang bisa kulakukan."
"Aku mencintaimu sayang...dan kau pun harus mencintai ku juga."
"Andai tidak jawabanmu...maka aku akan membuatmu merasakan sebuah akhir."
Tangannya mengusap foto Skyla dengan sayang. Tangisan nya kembali luruh. Mengisi siang yang hangat namun nyata sanggup membakar seluruh jiwa dan harga dirinya...
Luke tersenyum.
Iblis!
-----------------------------------
"Zaaach..."
Skyla berusaha sekuat tenaga tak terhanyut dalam buaian Zach yang memabukkan.
Bagaimana tidak?
Zach tak berhenti mencium Skyla sejak Zach membawanya masuk ke ruangan kantornya. Zach membawanya duduk di sofa sambil tak henti mencium bibirnya.
"Hmm...Aku menginginkanmu Sky...sekarang." Zach berbisik sambil menyusur leher Skyla. Memberinya kecupan dan jilatan basah yang membuat Skyla harus mencengkeram pinggang kemeja Zach.
"Berhenti Zach...ahh...ini di kantor."
Zach menatap Skyla. Matanya sudah berkabut gairah. Menatap manik mata cantik dan bibir yang sudah membuatnya tergila - gila.
"Kamu milikku, Sky..." Zach mengusap sudut bibir Skyla lembut.
Skyla menggigit jari Zach pelan membuat Zach tersentak.
"Jangan nakal Skyla...atau kamu akan berakhir di ranjang siang hari begini."
Skyla tersenyum dan mencium bibir Zach hangat.
"Aku mau segalanya indah, Zachary. Kamu tahu apa maksudku bukan?" Skyla bertanya pelan.
Zach tercenung. Dia sangat tahu apa maunya Skyla.
Pernikahan...
Zach menghela napasnya pelan. Terselip rasa ragu di dalam hatinya...secuil ketakutan yang tertanam kuat di sudut hatinya.
Pernikahan...
Zach takut tak bisa sebahagia kedua orangtuanya. Zach takut tak bisa membuat Skyla bahagia dan memujanya. Seperti Ibunya yang memuja Ayahnya.
Skyla menatap Zach tajam.
"Baiklah...aku tidak akan pernah memaksa. Kau berhak melakukan apapun yang kau mau Zach. Apapun. Dan tidak apa-apa bila itu tidak denganku." Skyla berdiri.
Melangkahkan kakinya keluar ruangan Zach tanpa menoleh lagi.
Skyla takut. Takut melihat sorot ragu dari manik mata Zach.
Skyla selalu tahu. Akan seperti ini jadinya. Keraguan. Zach mencintainya, Skyla yakin dengan hal itu. Tapi sebuah pernikahan? Nyata menghentikan langkah Zach.
Keraguan memupus semua harapan Skyla. Mereka saling mengenal hampir seumur hidup. Tapi pernikahan? Akan selalu menjadi terlalu cepat untuk seorang Zachary.
Skyla melangkah pelan. Membiarkan kakinya berderap begitu berat. Menyusur jalanan yang penuh dengan lalu lalang manusia yang sudah kembali dari makan siang mereka.
Di suatu sudut hati Skyla...di sana..di tempat yang terdalam dan tersembunyi bahkan dari tatapan jiwanya sendiri...
Skyla merasa bersalah. Seharusnya tak memaksakan sesuatu yang tak ingin Zach lakukan.
Tapi...
Skyla menyimpan segala yang terbaik dari dirinya hanya untuk Zach. Menjaganya dengan sepenuh hati demi Zach. Mempersiapkannya hanya untuk dipersembahkan pada pria yang sudah menjeratnya dalam jeratan simpul mati cinta.
Simpul yang kelak hanya Zach yang bisa melepasnya.
Salahkah?
Bila Skyla menginginkan semuanya indah? Bukan bercinta sebagai pemuas gairah. Tapi bercinta dengan cinta dan kelembutan.
Tempat indah itu mungkin sebuah bonus. Tapi...bagaimanapun juga...melepas keperawanan di sebuah sofa kantor terdengar sangat menakutkan. Setelah semua perjuangannya menjaga semua milik Zach. Hatinya, jiwanya, kegadisannya, apakah Skyla tidak berhak memperoleh perlakuan yang indah dari seorang Zachary?
"Katakan aku berlebihan dan kuno, Zach...tapi...semua adalah bagian dari diriku. Terima dan aku akan menyerah dan bertekuk lutut padamu", bisik Skyla lirih.
Pada siang terik yang berangin. Pada gundah hati yang mendesirkan rasa takut akan marahnya Zach akan penolakannya.
Skyla mengayun langkah menghampiri sebuah taksi. Masuk dan menyebutkan kediaman Daddynya pada sang supir.
Hening sejenak akan membuatnya lebih baik. Cinta tak mudah membuatnya kalap. Tapi sungguh...Skyla takut...takut Zach melepasnya karena sikap kunonya.
Skyla termangu di dalam mobil. Menatap trotoar jalanan yang sepi. Taksi membawanya melaju membelah angin. Menuju kediaman Bradley Caldwell di pinggiran Manhattan.
-----------------------------------
Skyla tak pulang dan Mommynya terlihat tenang saja. Semuanya baik ketika Mommynya tak menampakkan raut wajah panik."Skyla pulang ke kediaman Daddynya, Zach, apa Skyla memberitahumu?" Mommynya bertanya sambil membantu James mempersiapkan makan malam.
Zach tak menjawab dan memilih menaiki tangga dan masuk ke kamarnya. Sunyi. Hatinya enggan membuang kelebat bayang Skyla walau sejenak. Wajah terluka Skyla begitu menampar nuraninya. Keraguan laknat itu harusnya tak terpelihara hingga berakar seperti sekarang ini.
Skyla terluka. Berpikir bahwa Zach tak sepenuhnya mencintanya."Maafkan aku Sky...aku hanya merasa ini terlalu cepat."
Diusapnya rambut dengan kasar. Jelas dia merasa bersalah. Belum tahu bagaimana cara memperbaikinya.
Zach tidur terlentang. Bayangan Skyla memenuhi pikirannya...Skyla...
Sanggupkah menahan perih saat nanti bertemu Skyla? Melihat tatapan terlukanya?
----------------------------------------
"Aku sedang ada urusan di New York untuk beberapa hari Nona Skyla." Pria yang duduk di depan Skyla terlihat memberikan senyuman terbaiknya.
"Aaah...baiklah Luke...kenapa tidak tinggal di sini saja daripada menyewa apartemen?"
Luke Lukas datang dari Kanada dan bertamu ke rumah keluarga Caldwell. Skyla begitu menghargai jasa pria pendiam yang sudah menyelamatkan nyawa kakeknya. Bahkan hingga kenangan tersemat berwujud luka di kaki yang membuat jalan pria di depannya ini timpang.
Luke tersenyum. Senyum kemenangan terbit samar dari sudut bibirnya. Dia membatinkan beberapa kalimat kemenangan.
"Jarak yang dekat mengalahkan segalanya Zachary William Leandro."
Dia akan tinggal di sini. Dekat dengan Skyla. Menang dengan jarak.
Senyum samar kemenangan itu berpura-pura menolak.
"Tidak Nona, saya tak ingin merepotkan."
"Ada banyak kamar disini Luke...kau bisa menggunakan salah satunya." Skyla berdiri.
"Tapi, Nona..." Luke ikut berdiri.
"Sudahlah Luke...kita tak perlu berdebat masalah seperti ini bukan?Aku akan meminta maid mempersiapkan kamar untukmu."
Luke mengangguk.
"Ah ya Luke...jangan memanggilku Nona, panggil saja Skyla."
Sekali lagi Luke mengangguk. Skyla meminta seorang maid mempersiapkan kamar untuk Luke dan mempersilahkan Luke untuk beristirahat.
Akhir minggu yang cerah. Secerah senyuman licik kemenangan yang tersemat di sudut bibir Luke Lukas. Dia berdiri di balik tirai jendela kamarnya, menatap pada tubuh indah Skyla yang sedang berenang di di belakang rumah megah Bradley Caldwell.
Luke sudah mengetahui tentang Zachary Leandro dari perbincangan tak sengajanya dengan waiter kedai kopi yang didatangi Skyla siang itu.
Siapapun dia...
Tak kan di biarkannya menghacurkan obsesinya.
Bahkan untuk seorang dari klan Leandro sekalipun.
Skyla adalah miliknya.
Obsesi jiwanya.
Apapun akan dilakukan...termasuk membunuh dirinya...dan...
Skyla.
----------------------------------