PART 3

1626 Words
Zach membawa pulang Skyla yang tertidur pulas. Membopongnya dengan bridal style menuju kamarnya. Tak di hiraukannya tatapan sang Mommy yang penasaran. Matahari pagi sudah mulai muncul di kejauhan. Mommynya sigap berjalan di belakang Zach. Mengikutinya hingga masuk kamar Skyla. "Apa Skyla baik-baik saja?"  Mommynya bertanya sambil menggeram marah. Zach menatap Mommynya. "Skyla baik-baik saja Mom." Zach menjawab pelan sambil merebahkan tubuh Skyla di ranjangnya. Zach menarik selimut hingga sebatas pinggang Skyla. "Jangan membuatnya menangis lagi Zach." Zach mengaduh saat Mommynya mengomel sambil menjitak kepalanya. "Ya Tuhan Mommy! Aku sudah dewasa. Hentikan Mom." Zach mencoba menghindar sambil mengaduh. Dia mengusap kepalanya yang cukup sakit. Cherry menarik tangan Zach keluar dari kamar Skyla. Menutup pintu pelan. "Berhenti mengoloknya Zach! Kau sudah membuatnya sakit hati...ya Tuhan...apa yang ada di pikiranmu?" "Aku tahu Mom...aku tahu...please berhentilah marah-marah. Tidak baik untuk kesehatan jantungmu Mommy." Zach menenangkan sambil memeluk bahu sang Mommy. Mommynya menghela napas panjang. Mengusap kepala Zach dengan lembut. Menatap tajam wajah putranya itu. "Lalu kapan kau akan menikahinya sayang...?"  Mommynya mengajukan pertanyaan tak terduga sambil mengusap rahang Zach. "Oh noooo...mulai lagi dengan pertanyaan itu...God save me please!" Teriakan Zach bergema dan menadahkan tangannya. Zach melangkah meninggalkan ibunya yang terlihat tersenyum lebar. Masuk ke kamar dan merebahkan badannya ke ranjang. Zach menyentuh bibirnya. Rasa manis itu masih ada. Skyla begitu manis, seperti gula kapas yang akan menagih untuk dimakan lagi dan lagi. Zach meraba dadanya. Rasa bersalah menyeruak hingga membuatnya berdesir. Betapa dia sudah membuat Skyla begitu tersiksa dengan sikapnya. Tapi rasa cinta setelah kemarahan bertahun-tahun ini rasanya berjuta kali lipat lebih nikmat. Zach tertawa pelan. Skylanya tumbuh menjadi gadis yang pemalu. Bahkan pada dirinya. Zach ingat betapa sedikit saja sentuhan kulitnya ke tubuh Skyla mampu membuat Skyla tersentak dan merona malu. Ciuman indah mereka...Zach tak mengerti sebuah ciuman bisa membuat gadis itu gemetar. Zach merasakan hal yang sama. Sama dahsyat dengan perasaan Skyla. Tapi sungguh! Sikap malu - malu Skyla itu membuatnya ingin menerkamnya. "Aaargggh..." Zach menahan geramannya. Zach memutuskan untuk mandi. Merendam badannya dengan air hangat. Atau lebih tepatnya...meredam gairahnya yang selalu tersulut saat berdekatan dengan Skyla. --------------------------------- "Hai...sudah bangun...hmm...kamu sudah mandi rupanya." Zach menyapa ramah sambil meletakkan nampan berisi sarapan yang tertunda di atas meja di kamar Skyla. "Sepi sekali." Skyla bertanya sambil menyurukkan tubuhnya ke tubuh Zach. Merasai aroma mint Zach yang begitu kuat. Zach terpaku. Skyla terlihat lain. "Kenapa? Apa aku tidak boleh memelukmu?" Skyla bertanya sambil memundurkan badannya. Zach menarik pinggang Skyla mendekat. Mengangkat tubuh Skyla dan membawanya berputar beberapa kali. Skyla menjerit. Zach membungkam mulut Skyla dengan ciumannya. "Tentu saja boleh..." "Aku lapar Zach." Skyla berbisik sambil menunduk malu. "Astaga, tentu saja. Duduklah." Zach  mengambil nampan berisi sarapan di meja. Teringat bahwa Skyla bahkan belum makan dari semalam. Skyla melangkah ke balkon dan duduk di kursi menghadap hamparan padang golf. Zach menghampiri Skyla dan mulai mengulurkan irisan daging ke mulut Skyla. Skyla tersipu malu. "Aku bisa sendiri, Zach." "Buka mulutmu Sky." Skyla menggeleng. Malu rasanya harus disuapi oleh Zach. Zach mencium sudut bibir Skyla gemas membuat Skyla berjenggit. "Buka, sayang." Skyla membuka mulutnya. Zach mencium Skyla tiba-tiba. Menyesap rasanya dalam membuat Skyla memberontak. "Zachary!" Skyla berteriak kesal. "Iya Sky...hmm..." Zach tertawa pelan sambil menaikkan satu alisnya menggoda. Rasanya senang sekali melihat Skyla merona seperti ini. "Aku makan sendiri." Skyla meraih piring dari tangan yang terkekeh menggoda. Skyla menyuapkan potongan daging ke mulutnya. Bergantian dengan kentang tumbuk dan sayuran rebus. Zach menyurukkan wajahnya ke bahu Skyla. Menghisap bau kayu-kayuan bercampur vanila yang memabukkan. Tak dihiraukannya Skyla yang berjenggit geli. Zach mulai menyusur leher jenjang Skyla. "Zach....please. Skyla berkata pelan. Bagaimana dia tidak terpengaruh saat Zach seperti ini? "Please what?" Zach bertanya dengan bibirnya masih menyusur leher Skyla lembut. "Aku sedang makan Zachary". "Makanlah." "Aku tidak bisa kalau kamu tak berhenti mengendusku Zachary." Skyla menggeram kesal. Zach menegakkan tubuhnya. Dia mengakhiri kegiatannya, tapi tangannya tak berhenti. Tangannya meraih rambut Skyla yang terurai. Memilin-milinnya lembut dan mencium baunya. Skyla menghela napas putus asa. Laki-lakinya ini benar-benar manja. Skyla merona. Apa barusan yang dia pikirkan. Laki-lakinya? Zach? Itu manis sekali. "Aku sudah selesai..."  Skyla berdeham sambil berdiri laku melangkah meninggalkan Zach yang menghela napasnya putus asa. Zach menatap punggung kekasihnya. Skyla mungil sekali. Zach bergidik ngeri memikirkan sesuatu yang berkelebat begitu saja di otaknya. Tubuh Skyla akan hancur bila dia sedikit saja mengasarinya. Zach mengacak rambutnya frustrasi. Dia begitu menginginkan gadis itu. Skyla nya. Gadis yang membuatnya membentengi diri dari wanita lain. Hanya Skyla yang akan menerima dirinya yang utuh. Kalian percaya? Zach bahkan tidak mempercayai dirinya sendiri. Zach melangkah keluar dari kamar Skyla. Masuk kamarnya dan mengganti bajunya dengan kemeja putih. Menyambar sebuah jas dan dasi dari dalam lemari pakaiannya. Zach turun ke ruang keluarga dan mendapati Mommynya sedang memeluk Skyla. "Mom..." Zach menghampiri Ibunya sambil menunjukkan dasinya. Mommynya menghela napas. Menatap Skyla dan tersenyum. "Itu bukan lagi tugas Mommy, Zachary." Mommynya menggeleng sambil melangkah menuju dapur. Skyla mendekati Zach. Menarik sebuah kursi pendek dan naik ke atasnya. Kursi yang biasa dipakai aunty Cherry untuk memasangkan dasi Uncle Ethan dan...Zach. Zach mendekat. Berdiri menjulang bahkan setelah Skyla berdiri di depannya dengan bantuan sebuah kursi pendek. Skyla meraih dasi dari tangan Zach. Mulai bergerak memakaikan dasi itu pelan. Zach meraih pinggang Skyla. Membawa tubuhnya lebih mendekat pada Skyla. "Aku terlihat bodoh." Zach berbisik lirih. Skyla terdiam. Tangannya bergerak lincah membuat simpul dasi Zach. Merapikannya. Gerakan tangan Skyla mengusap d**a Zach membuat Zach menggeram pelan. Mata hitam itu meredup. Membuat Skyla menunduk. "Apa aku terlihat bodoh di matamu Sky?" "Kalau begitu kamu adalah orang bodoh tertampan yang pernah aku lihat." Skyla menjawab lirih dan menatap Zach sambil terkekeh pelan melihat Zach yang terlihat heran. "Sudah rapi, berangkatlah. Aku dan Aunty akan bekerja di rumah. Ada beberapa desain yang bisa kami buat di rumah." Skyla memberitahu dia akan melakukan apa hari itu sambil merapikan sekali lagi dasi Zach. "Aku menginginkanmu Sky...sangat...sangat." Zach mengatakan sesuatu yang menggelitik nurani Skyla sambil menghempaskan kepalanya ke bahunya. Putus asa. Skyla terdiam. "Aku tahu." Skyla balas berbisik lirih. Skyla mencengkeram lengan Zach saat Zach mulai menyusur lehernya. Memberikan kecupan-kecupan yang terasa hangat di bahu dan lehernya. "Pergilah Zach...aaah kau ini." Skyla terpekik kecil saat perih merambat di lehernya. Menyebar ke seluruh tubuhnya. Zach terkekeh. Mengusap pelan leher memerah Skyla. "Kau milikku, Sky." Zach menegaskan kepemilikannya sambil mencium kening Skyla dalam. Deheman James menghentikan gerakan Zach. James melangkah melewati mereka sambil membawa beberapa map yang dipesan oleh Zach tadi. Skyla menunduk. Merasakan getaran yang lebih hebat dari sebelumnya. Zach menginginkannya. Apa yang akan dilakukannya? Skyla menatap punggung Zach yang menghilang di balik mobil. Skyla memutar tubuhnya dan melangkah ke atas menuju kamarnya. Masih ada waktu untuk menelpon Mommynya, sebelum memulai pekerjaannya dengan aunty Cherry. Skyla tersenyum...hanya dengan membayangkan Zach kenapa hatinya menjadi hangat? Itu karena cinta Sky... ---------------------------------- Pria tampan itu tampak gagah. Masih muda. Postur tubuhnya atletis. Sangat terjaga. Mendekati mempesona. Mata hijau gelapnya tampak misterius. Potongan rambutnya rapi. Terlihat menarik hati para wanita. Tapi tidak ketika dia mulai berjalan. Kakinya yang terluka membuatnya harus menggunakan bantuan tongkat. Luka dari masa lalunya. Pria itu berjalan timpang menuju jendela. Agak mengganggu kalau dilihat. Namun sepertinya sang empunya langkah...pria itu nampak lihai dan terbiasa dengan keadaannya. Tatapan mata pria itu meredup. Memicing sejenak. Sudut bibirnya tertarik ke atas membentuk senyuman kecil. Lalu mata itu terbuka sempurna. Apa yang terlihat tentulah bukan pemandangan yang wajar terlihat dari mata seorang pria. Bulir bening nan tipis mengalir dari sudut matanya. Pria itu berbalik. Melangkah menuju ranjangnya. Pria itu mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan. Matanya mengerjap. Bibirnya menyunggingkan senyum menawan saat mengamati inci demi inci ruangan yang sudah sebulan lebih dia sewa. Napas pria itu mengalun teratur. Matanya menatap penuh cinta pada dinding di sekelilingnya. Menatap mesra pada penghiburan hatinya. Pada kegilaannya. Pada ribuan foto seorang perempuan cantik yang sangat menawan. "Ooh...Skyla...sayang..." Laki-laki itu mengerang sambil bergerak gelisah menyalurkan hasratnya. Tangannya melakukan gerakan menjijikkan pada bagian bawah tubuhnya. Menyalurkan gairahnya sambil terus memandang ribuan foto Skyla yang menempel di dinding kamarnya. Laki-laki itu mengerang puas saat gairahnya keluar membasahi tangan dan berakhir di lantai kamarnya. "Aku tersiksa, sayang...bahkan hanya dengan memandang fotomu saja kau bisa membuatku sangat puas. Pasti kau begitu nikmat sayang...andai kau nyata di sini." Serak laki-laki itu berbisik pada angin yang menerobos masuk dari jendela kamarnya. Kata-katanya membentur sepi. Bergumul dengan pahit kenyataan. Skyla...pujaannya pergi hingga ke kota yang tak pernah tertidur ini. New York City Kegilaan dan obsesi membawanya terbang melintas negara. Meninggalkan sepi yang begitu di pujanya. Meninggalkan semerbak kayu hutan yang begitu mengakar dalam nadinya. Kalap membulatkan tekad hatinya. Sejak masa itu...saat Skyla tak terlihat berjalan melewati kantor polisi tempatnya bekerja...bahkan hingga berhari hari. Kegalauan menyergap. Meledakkan perih yang merobek relung jiwanya. Matanya terasa lapar akan rupawan Skyla. Jiwanya terasa kering akan Skyla. Lalu hatinya...seakan hilang sebagian karena Skyla tak lagi terlihat. Dia gagah. Cukup tampan. Dan jasanya akan selalu di kenang oleh siapapun di Banff. Seorang polisi hutan yang menyelamatkan atasannya dari serangan beruang lapar. Menyelamatkan nyawa seorang kepala polisi hutan bernama Jacob Castain. Semua kejadian membawanya mengenal dalam diam gadis pemalu bernama Skyla Elizabeth Caldwell. Gadis pemalu dengan bentuk tubuh aduhai dan wajah nan rupawan. Dia jatuh dalam kubangan cinta yang ditingkahi sepi dan obsesi. Dia mempesona. Banyak wanita menggodanya. Namun hatinya begitu mudah tertambat pada seorang Skyla yang cemerlang bagai awan. Dia punya segalanya untuk menaklukkan banyak wanita. Namun tak dilakukannya. Dia...Luke Lukas. Tak punya keberanian secuilpun bila itu menyangkut Skyla. Tak punya nyali sebulirpun bila itu tentang Skyla. Luke...pria berjasa bagi kakek Skyla itu meresapi hadirnya Skyla dalam diam. Dalam hening Banff. Dalam keheningan hutan sunyi perawan. Dalam riak lembut Danau Louise. Luke... Merasai getaran hatinya saat menatap Skyla yang berjalan menuju halte bus yang hampir pasti melintas di depan kantor kepolisian. Menatap Skyla dari sudut matanya saat Skyla mengantarkan makan siang untuk Jacob di suatu masa. Aaah... Obsesi membuatnya hilang akal. Mencuri sosok Skyla dalam jepretan lensa kamera. Mengoleksinya. Menjadikannya obyek fantasi liarnya. Skyla... Mengejarnya adalah keharusan. Pemuas dahaga jiwanya. Seketika bertanya dalam bahasa samar tentang keadaan Skyla. Jacob menjawab Skyla telah kembali ke New York. Dunianya runtuh. Dunia kecil dan sunyinya hancur berkeping. Semua membuatnya ada disini. New York... Kota yang tak pernah tertidur. Seperti hatinya yang yang tak pernah tertidur. Terjaga untuk seorang Skyla Elizabeth Caldwell. Obsesi yang membawanya menjalani hidup dengan jiwa yang sakit...   ----------------------------------
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD