PART 2

1817 Words
Skyla pulang dari butik bersama dengan Cherry dan seorang supir. Zach bahkan tak menghubungi Mommynya setelah kejadian itu. Ketika Cherry mencoba menelpon Zach, ponsel Zach tidak aktif. Pukul 16:00 James menghidangkan teh di teras belakang mansion. Skyla sudah selesai membersihkan diri. Dia hanya memakai celana pendek dengan sebuah t-shirt putih. Skyla terlihat manis dengan rambut yang di ikat asal. Beberapa helai rambutnya jatuh membingkai wajahnya. Cherry menyesap tehnya. Begitu juga dengan Skyla. Beberapa macam biskuit menemani obrolan mereka seputar keluarga. Tentang Brad dan Hailey yang memutuskan tinggal sementara di Banff, Canada karena kondisi Grandpa Jacob yang kurang sehat. Cherry berpesan agar Skyla betah di mansion ini. Skyla menghela napasnya pelan. Bagaimana mungkin dia akan betah berlama-lama disini kalau Zach begitu tidak ramah? Skyla menunduk. Dia suka di sini. Semua hangat padanya kecuali Zach. "Mommy.. " Sebuah suara terdengar dari pintu. Skyla dan Cherry menoleh. Terlihat Alex menggandeng seorang gadis cantik dan berjalan ke arah mereka. Cherry berdiri, begitu juga Skyla. Gadis yang di gandeng oleh Alex tersenyum ramah. Cherry memeluk gadis itu. "Skyla, sayang...kenalkan ini Mikaela kekasih Alex." Skyla tersenyum. Mikaela sangat cantik. Ramah dan terlihat sangat serasi dengan Alex. Skyla menyambut uluran tangan Mikaela dan memeluknya. Mikaela sangat cantik. Pantas Alex terlihat memujanya. "Ayo duduklah...Aku akan ke dalam memanggil James. Skyla...habiskan tehmu sayang." Cherry menatap Skyla sambil melangkah ke dalam mansion. Skyla mempersilahkan Mika duduk. Mereka bertiga akhirnya duduk dan larut dalam obrolan. Alex terlihat sangat memuja Mika, terlihat dari caranya menatap Mika. Skyla menatap mereka. Andai saja Zach bisa seperti itu padanya. Skyla buru-buru menepis angannya. Mana mungkin Zach akan bersikap seperti Alex pada Mika? Cinta saja tidak. Mereka berbincang hingga senja menjelang. Alex mengajak Mika dan Skyla untuk masuk dan berpindah ke ruang keluarga. Alex menyalakan televisi. Mengganti chanel berkali-kali dan berhenti pada chenel pertandingan basket. Mika tersenyum pada Skyla. Mereka akhirnya lebih memilih berbincang dengan suara pelan. Mika terus mengelus rambut Alex yang sudah merebahkan kepala di pangkuannya. Sofa yang mereka duduki tiba-tiba bergerak. Skyla menoleh dan menegakkan badannya.  Zach duduk di sampingnya setelah melemparkan jasnya ke meja. "Hai, Zach..." Mika menyapa Zach ramah "Hai... sudah lama?" Mika mengangguk dan membangunkan Alex yang sudah terlelap. Mika menyuruh Alex pindah ke kamar sementara Mika menuju perpustakaan. Suasana hening. Skyla bahkan bernapas sepelan mungkin. Tidak bisa! Skyla tidak bisa mengacuhkan kehadiran Zach yang tiba-tiba sudah duduk di sampingnya. Skyla menghela napas pelan. Mencoba fokus pada televisi. Skyla merasakan punggungnya begitu merinding seakan mata Zach menatapnya tajam. Aroma mint bercampur keringat menyeruak hebat. Aroma memabukkan yang tak akan bisa di jangkau oleh Skyla. Berdekatan dengan Zach seperti ini membuat Skyla ingin menangis. Diamnya Zach seakan acuh dan tak menginginkan kehadirannya. "Banyak tempat untukmu belajar. Kenapa harus di sini? Apa tidak lebih baik kau kembali ke Kanada?" Zach bertanya pelan. Suara itu merdu terdengar. Tapi bagai kilat yang menyayat hati Skyla. Kilat indah yang seharusnya menemani sang hujan yang begitu disukai Skyla, ternyata mampu membuatnya hancur. Cukup! Sudah berakhir. Zach bagai kilat itu, indah membelah langit. Tapi nyata sudah...kilat itu tak mau menunggu pelangi yang hadir setelah sang hujan mereda. Skyla menyadari satu hal, hujan selalu saja turun dengan deras, tapi satu hal yang pasti, sederas apapun hujan turun, hujan itu akan reda. Begitu juga dengan sebuah rasa, rasa itu akan begitu deras terasa tapi juga akan mereda seperti halnya sang hujan. Zach bukan untuknya, seperti janji yang terpatri di masa kecil mereka. Skyla mengangguk. Berdiri cepat dan melangkah keluar mansion. Mengabaikan James yang membawa teh untuk Zach. Zach mendongak. "Biarkan James. Dia sudah besar. Dia akan pulang kalau dia sudah mau." Zach berkata sarkas saat melihat James begitu bingung dan khawatir. Anak muda...kenapa begitu menjunjung gengsi? James membatin kata-kata itu berulang-ulang. Zach menyesap tehnya dan membawanya melangkah menuju kamarnya. Terselip rasa khawatir pada Skyla tapi ditepisnya dengan gusar. Zach menuju kamar mandi dan membenamkan diri dalam bathtub berisi air hangat. Zach mengusap mukanya kasar. Bayangan Skyla memenuhi pikirannya. Tak bisa ditepisnya lagi. Begitu selesai mandi Zach terduduk di ranjangnya. Menghela napasnya kasar. Berkata pada dirinya sendiri bahwa Skyla akan kembali nanti. Nyatanya... Skyla bahkan tak kembali saat semua berkumpul untuk makan malam. Raut cemas jelas terlihat di wajah Cherry dan Ethan. Alex terlihat gusar dan Mika duduk sambil menundukkan kepalanya. Semua menoleh pada Zach yang baru saja duduk di kursinya. Zach mengangkat sebelah alisnya. "Zachary William Leandro!" Cherry memperingatkan anaknya sambil menahan geram. Zach menatap Mommynya. Marah! Itu yang terlihat di wajahnya. Ethan menatapnya tajam. "Aku akan mencarinya",  Zach berdiri dan melangkah keluar. Menyambar jaket dan kunci mobil di nakas dekat pintu masuk. "Aku akan mengantar Mika pulang, Mom, Dad...sambil mencari Skyla." Alex yang sedari diam beranjak keluar. Ethan mengangguk. Semua sudah tak berselera lagi untuk makan. Mika memeluk Cherry erat sebelum berjalan keluar menyusul Alex. Cherry terlihat gusar. "Aku pernah melakukan kesalahan yang sama padamu. Aku yakin Zach bisa mengatasinya." Ethan memeluk Cherry erat. Cherry menghela napasnya kasar. "Aaah ya...tentu saja! Dia itu anakmu."  Cherry melepaskan pelukan Ethan dan melangkah menuju dapur dan memanggil James untuk membantunya membereskan meja makan. "Setidaknya makanlah sedikit sayang." Ethan mencoba membujuk. Cherry keluar dari dapur diikuti James dan seorang maid. "Tidak sebelum Skyla kembali!", Cherry menjawab cepat. Dia melangkah menuju kamarnya. Ethan hanya termangu. Cherry butuh sendiri. Seperti biasa saat dia gundah. ----------------------------------- Zach menjalankan mobilnya pelan. Menyusuri jalanan New York yang tak pernah tertidur. Sudah tengah malam dan dia belum juga menemukan Skyla. Skyla bahkan tidak pulang ke rumah Papanya. Itu kata Edna maid di sana. Zach meminta Edna untuk tidak menelpon kedua orangtua Skyla, agar mereka tidak khawatir. Gerimis dan kilat tiba-tiba mengguyur New York membuat para pejalan kaki menepi. Berteduh di depan pertokoan atau masuk menghangatkan diri dengan secangkir kopi di kedai terdekat. Zach menepikan mobilnya. Sebuah pasar malam sedang di gelar di sebuah lapangan. Pengunjung banyak yang berteduh walaupun gerimis tak lagi deras. Banyak dari mereka sedang memegang gelas kopi yang masih mengepulkan asap. Juga memakan makanan yang hangat. Tapi tidak untuk gadis yang terlihat sedang menaiki sebuah komidi putar yang tengah berputar pelan. Lampu yang lumayan terang mampu memberitahukan pada Zach betapa gadis itu menangis. Bahunya sesekali berguncang. Isakannya jelas membuat sesak napasnya. Terlihat sekali gadis itu tersengal. Skyla ada di sana. Membiarkan sebuah komidi putar membawanya berputar. Zach melangkah mendekat. Nyata sekali luka yang digoreskan oleh Zach di wajah Skyla. Gadis itu menunduk. Mengabaikan sekelilingnya. Juga Zach yang melompat menaiki komidi putar. Hujan tiba-tiba saja turun dengan deras. Kilat menyambar bergantian dengan guruh di kejauhan. Skyla terlihat mengeratkan pegangannya. Skyla menyukai hujan bahkan beserta kilat dan guruhnya. Tapi tidak sekarang. Tidak setelah kilat indah itu menggores jiwanya. "Kau memang sangat menyusahkan", teriak sebuah suara yang tak ingin di dengar oleh Skyla sekarang ini. Zach. Cukup. Skyla menoleh. Berdiri sambil menyeimbangkan tubuhnya agar tak terjatuh. Skyla menatap Zach. Cukup. Cukuplah diam kalau memang Zach tak menginginkannya berada dekat dengannya. Kenapa harus Zach berkata kasar padanya? "Aku akan segera pergi Zach...kalau itu yang kau mau. Aku akan pergi sejauh mungkin. Kelak kalau kita tak sengaja bertemu...aku akan bersikap tak mengenalmu. Aku akan berada sejauh mungkin agar tak terlihat olehmu Zach...apakah itu cukup untukmu?" Zach terpaku. Ini kalimat terpanjang yang Skyla ucapkan padanya setelah kedatangannya. Air mata itu. Kenapa rasanya sangat menusuk. Kenapa sangat sakit melihat air mata itu luruh dari mata Skyla? Bukankah dia menginginkan Skyla menjauh? Lalu kenapa harus se merana ini hatinya. Bukan seperti ini yang Zach mau. Hatinya tidak menginginkan Skyla menjauh darinya. Zach mendekat. Membawa tubuhnya yang terasa tak bertulang lagi setelah mendengar ucapan Skyla. Tidak. Bukan...bukan seperti ini hatinya. Skyla melangkah mundur dan hendak turun dari komidi putar, ketika tangan besar Zach meraih pinggangnya. Membawanya dalam dekapannya. Zach menatap Skyla dalam. Manik mata berbeda warna itu memberinya cinta yang begitu dalam. Zach merasa bodoh. Terkalahkan oleh amarahnya pada Skyla. Nyatanya... Hatinya tak mampu berpaling. Terpenjara pada sosok Skyla sepanjang hidupnya. Mata Skyla mengerjap. Tangannya bergerak melepaskan tangan Zach. Sia-sia. Zach semakin mengeratkan pelukannya. Napas Zach menerpa wajah Skyla. Hangat. "Aku akan membencimu, Zachary. As you wish!" Tangannya masih berusaha melepaskan tangan Zach. Zach menggeleng. Sangat tahu Skyla tak kan pernah bisa membencinya. Tatapan itu penuh cinta. Bahkan setelah rasa sakit yang Zach torehkan. "Lepaskan aku, Zach." Suara Skyla terdengar putus asa karena cengkeraman Zach terlalu kuat. "Tidak." Bening kembali luruh dari mata Skyla. Mudah sekali rasanya menangis untuk seorang Zachary. "Pulanglah." Skyla menggeleng. "Untuk Mommy, dia khawatir." Suara Zach lirih. Mengalun membuai. Skyla kembali menggeleng. "Untukku." Suara Zach terdengar lagi. Kali ini membuat Skyla tersentak. Skyla menggeleng tak mempercayai pendengarannya. Zach mengeratkan pelukannya membuat Skyla mencengkeram kerah baju Zach. Mencoba memberi jarak tubuhnya dari tubuh Zach. "Untukmu? Kau bahkan tidak menginginkanku." Zach menatapnya dalam. Manik indah dua warna itu mengerjap. Bibir mungil itu begitu putus asa. "Aku bahkan tidak indah, berdada rata, bibir yang tidak menarik...aku...", suara Skyla tenggelam terbawa guruh yang menggelegar. Bulir bening luruh kembali. Sesuatu yang terdengar konyol baru saja diucapkannya. Konyol tapi adalah sebuah kenyataan yang didapatnya dari sikap Zachary sejauh ini. Zach menatap Skyla lembut. Mudah sekali Skyla menangis untuknya. Mudah sekali gadis itu menangisi hal yang sejatinya tak pernah Zach rasakan. Zach tak pernah memandang Skyla seperti apa yang gadis itu sebutkan barusan. Zach mengagumi Skyla sama seperti dulu. Tapi dia memilih cara yang salah untuk menunjukkannya. Lalu apa lagi yang membuat hatinya menahan? Skyla...Zach mencintainya. Terpenjara selamanya pada gadis itu tanpa bisa menoleh kepada yang lain lagi. Lalu apa yang ditunggunya? Zach mendaratkan bibirnya pada bibir Skyla. Memagutnya lembut. Merasakan desiran lega menyebar dalam tubuhnya. Skyla tetap menangis. Terisak. Bahkan hingga bahunya terguncang. Zach tetap mencium bibirnya. Rasa manis yang sudah pernah dicecapnya saat Skyla tertidur bercampur dengan asin air mata yang berderai menganak sungai di pipi Skyla. Tubuh mungil itu memberontak. Kepalanya menggeleng berulang kali. "Maafkan aku...sungguh aku minta maaf." Lirih suara Zach kembali mengalun disela ciuman nya. Skyla terdiam. Zach meraih leher Skyla. Memperdalam ciumannya. "Aku minta maaf."  Zach merasa tak akan pernah cukup kalau hanya sekali saja kata maaf itu terucap dari mulutnya. Dia mengucapkannya lagi. Menatap Skyla dalam dan mendaratkan ciuman nya lagi. "That was really hurt, Zach." Zach mengangguk. Menempelkan keningnya di kening Skyla. Hujan masih turun dengan deras. "Maaf...maaf...maaf." Zach berbisik berulangkali dengan nada putus asa. Dia sekarang merasa dirinya adalah pria paling jahat dengan harga diri tinggi yang tak pantas dicintai. Sebuah aib besar sudah dia lalukan. Melukai perasaan seorang wanita. Hal yang tabu dilakukan oleh seorang pria sejati. Dan sekarang...he need to swallow his pride for Skyla. Skyla begitu gemetar. Ya Tuhan...dia mencintai laki-laki yang memeluknya ini. Laki-laki yang menyakiti lehernya karena cengkeramannya terlalu kuat. Dia jatuh cinta pada laki-laki ini lagi. Sekarang...ya...sekarang. Skyla mencium bibir Zach dalam. Bibirnya bergerak malu-malu karena mendahului sebuah ciuman. Zach tersentak. Bibir mungil itu menyunggingkan senyum malu-malu. Menggemaskan. "I love you Skyla Elizabeth Caldwell ", bisik Zach di sela ciuman mereka. Bening itu luruh lagi. Menciptakan sensasi indah dalam ciuman mereka. "I love you", bisik Skyla. Wajahnya memerah. Malu. Zach mengangkat tubuh Skyla. Membawanya berputar di tempat sempit itu. Dan membuat mereka berdua terjatuh. Tersungkur menabrak tiang komidi putar. Derai tawa keluar dari bibir mungil Skyla saat Zach meringis kesakitan karena terantuk tiang komidi putar itu. Zach menarik tubuh Skyla. Merengkuh pinggang mungil itu hingga mendekat padanya. "You are beautiful. Semuanya...dan aku tergila-gila padamu." Zach berbisik di telinga Skyla sambil mencium bahunya lembut. Skyla menunduk. Tersipu malu. Zach tersenyum. "Masih malu padaku, Girlfriend? Girlfriend? Manis sekali. Zach mencium Skyla. Lagi...lagi...dan lagi. Menunggu hujan yang nyatanya enggan reda hingga menjelang pagi...   ----------------------------------  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD