Ketukan pintu membangunkan Skyla yang nyatanya begitu terlelap karena lelah. Skyla melangkah dan membuka pintu. Alex tersenyum melihat Skyla yang berdiri termangu di depannya.
"Cuci muka dan turunlah untuk makan malam." Alex mengacak rambut Skyla pelan.
Alex berbalik dan melangkah menuruni tangga. Skyla juga ingin berbalik dan menutup pintu ketika dilihatnya Zach melintas di depan kamarnya. Skyla mencoba tersenyum pada Zach. Zach menatapnya sekilas. Tatapan yang dingin tanpa ekspresi apapun.
Datar.
Zach tetap melangkah, menuruni tangga tanpa menyapa Skyla sedikitpun. Skyla menelan ludahnya kelu. Skyla menutup pintu kamarnya. Berdiri bersandar pada pintu.
Skyla menunduk. Bulir bening luruh dari matanya. Turun menghantam ujung jemari kakinya.
Aaah...lemah sekali, Skyla membatin.
Tapi melihat Zach mengabaikannya mengapa sangat menyakitkan?
Skyla melangkah menuju wastafel, mencuci muka, sedikit merapikan wajah dan bajunya. Skyla melangkah keluar kamar. Menuruni tangga menuju ruang makan.
Skyla melongokkan kepala di pintu penghubung ruang keluarga dan ruang makan. Terlihat Uncle Ethan segera berdiri dari duduknya dan melangkah menghampiri Skyla.
"Aaah..cantik, bagaimana kabarmu?" Ethan bertanya ramah sambil memeluknya. Memutar tubuhnya sekali. Mengamati Skyla.
"Baik, Uncle...bagaimana denganmu?"
"Seperti yang kau lihat...Uncle sehat. Duduklah sayang." Ethan menggandeng tangan Skyla.
Alex berdiri dan menarik kursi untuk Skyla. Tepat di sebelahnya. Tepat pula di depan Zach yang duduk diam sambil memainkan sendok di tangannya.
"Nah Zach...pengantinmu sudah datang. Apa kau merasa gembira?" Ethan menggoda Zach, berusaha memecah suasana yang terasa sedikit canggung. Dan Zach tetap diam. Dan mendengus? Sudut bibirnya terangkat menyunggingkan senyum sinis.
"Waktu merubah segalanya, Dad." Zach menyuapkan makan malamnya sambil sedikit mendongak. Skyla menunduk cepat ketika manik mata hitam itu menatapnya. Berusaha sekuat tenaga menahan tangisnya.
Tidak boleh! Dia tidak boleh menangis.
Alex menggenggam erat tangan Skyla dan mengedipkan sebelah matanya. Skyla tersenyum. Alex sangat baik. Beruntung sekali gadis bernama Mikaela itu.
Skyla mendongak. Mendapati mata hitam segelap malam itu masih menatapnya sinis. Skyla mencoba tersenyum. Senyum yang mungkin terlihat sangat aneh. Suasana mencair ketika Cherry muncul bersama dengan James, yang membawa sebuah nampan berisi semangkuk besar salad.
"Ayo kita makan..." Cherry meletakkan satu picher air putih di depan Ethan. James segera berlalu meninggalkan ruang makan.
"Skyla, makan yang banyak sayang...kau terlihat sangat mungil."
Skyla mengangguk. Dia suka makan tapi badannya tetap seperti sekarang ini. Mungkin menurun dari Ibunya yang juga menyukai makanan apa saja yang dimasak Ayahnya, tapi tidak pernah bisa gemuk.
Cherry terlihat sibuk meletakkan makanan ke piring Ethan. Skyla menatap mereka. Persis sekali dengan sang Ibunya yang begitu memuja Ayahnya. Ethan terlihat bahagia dan mengecup lengan Cherry gemas. Pemandangan itu membuat Skyla tersipu. Dan sipuannya seketika hilang saat dia menatap Zach yang terlihat kesal.
Alex dengan baik hati meletakkan beberpa makanan ke piring Skyla. Menanyakan apakah Skyla menginginkan makanan lain atau apapun. Sangat hangat.
Zach makan dengan cepat. Dalam diam. Matanya terpaku pada piring makannya.
"Aku selesai, Mom... " Zach beranjak sambil meneguk segelas air putih hingga tandas.
"Zachary..." Cherry berujar lembut. Menatap putra sulungnya yang sudah berdiri hendak meninggalkan meja makan.
"Aku ada banyak pekerjaan, Mommy." Zach mengehela napas sambil melangkah menuju kamarnya.
"Zachary.." Cherry berteriak kesal.
Ethan mengusap punggung tangan Cherry lembut.
"Sudahlah...biarkan saja dulu." Ethan mengedipkan mata pada Cherry menyuruhnya tenang. Sementara itu Skyla menunduk. Menekuri makanannya tapi pikirannya tak bisa lepas dari Zach. Zach terlihat tidak suka dengan kehadirannya. Tatapan sinis, suara kasar, menghindar...membuat Skyla merasakan perih luar biasa.
Makan malam sesekali diselingi perbincangan yang ringan. Setelah selesai Cherry mengajak Skyla duduk di sofa dekat dengan perapian di ruang tengah. Sedangkan Ethan dan Alex terlihat memasuki ruang kerja Ethan. Cherry menatap Skyla yang menunduk. Gadis ini mengingatkannya pada Hailey, dulu Hailey juga seperti ini. Malu-malu. Mereka berbicara tentang rencana Skyla bekerja di butik keluarga Leandro.
Skyla melupakan segalanya jika sudah membicarakan berbagai jenis desain. Cherry terlihat kagum dengan Skyla. Mengingatkan dia pada masa mudanya dulu yang begitu tertarik dengan desain. Mereka berbincang hingga pukul 09:00.
"Jangan diambil hati sikap Zach ya sayang...dia hanya tidak bisa bersikap.
Aunty melihat banyak rindu di matanya untukmu." Cherry berusaha menenangkan sambil membawa Skyla dalam rengkuhan hangatnya.
Skyla menangis. Luruh sudah rasa yang di tahannya.
"Semua salahku. Seharusnya aku menghubungi Zach sebelum pergi. Seharusnya aku tetap berhubungan dengan Zach selama di Kanada...tapi Aunty..aku tidak bisa. Kalau terus mendengar suara Zach tiap hari maka aku tidak akan betah di sana. Pasti aku ingin cepat pulang. Aunty mengerti bukan?"
Cherry mengangguk. Tangannya mengusap lembut Skyla yang sudah seperti anaknya.
"Aunty mengerti. Aunty pikir juga begitu...tapi Zach tidak mengerti. Dia sedih kehilangan kamu sayang."
"Tidurlah, besok setelah sarapan...Aunty akan bawa kamu ke butik. Kita akan bertemu Aunty Lucy dan Grandma Hillary di sana."
Skyla tersenyum. Mengangkat badannya dan berdiri mengikuti Cherry.
"Jangan menangis. Zach akan mengerti suatu hari nanti." Cherry berkata lembut meyakinkan sambil mengusap pipi Skyla.
Skyla mengangguk. Dia melangkah menuju kamarnya. Skyla berhenti di depan pintu saat melihat Zach duduk di sebuah kursi dan menekuri laptopnya. Pintu kamar Zach masih terbuka.
Skyla masuk ke kamarnya dan berjalan pelan menuju balkon. Dari balkon dia menatap rumah pohon yang masih berdiri kokoh di samping mansion. Skyla tersenyum. Mengingat masa lalu saat Zach dan dirinya berbincang tentang apapun di rumah pohon itu.
Skyla menghela napasnya pelan. Bingung harus bersikap seperti apa pada Zach yang selalu sinis. Apakah Zach tidak tahu? Skyla merindukannya setengah mati.
Skyla menyilangkan kedua tangan di dadanya. Dia mendengus pelan. Bahkan Zach terang-terangan mengatakan tidak suka dengan...bentuk dadanya yang rata?
Skyla merasa tidak istimewa. Dia gadis biasa saja yang tidak mempunyai bentuk badan layaknya seorang model. Zach pasti tidak menyukainya. Tentu dia lebih menyukai wanita-wanita yang seksi, berdada besar, bentuk tubuh yang molek...tanpa sadar Skyla menggelengkan kepala dan memegang dadanya.
"Mau diapakan juga keduanya akan tetap seperti itu, rata." Sebuah suara berdengung di samping Skyla.
Skyla menoleh. Mendapati Zach yang berdiri di balkon kamarnya. Tepat di samping kamarnya. Mata Zach menatap rumah pohon di samping mansion.
Seketika Skyla menurunkan tangannya dan menunduk cepat. Bila Tuhan ijinkan Skyla memilih, dia ingin Tuhan membenamkannya di dasar lautan terdalam agar tidak mendengar cemooh Zach saat ini.
Zach berdeham. Skyla melirik Zach dengan ujung matanya. Apa-apaan itu? Cuaca cukup dingin dan Zach tak mengenakan baju?
Tapi dia indah...batin Skyla.
Bentuk tubuh Zach menawan. Seakan Tuhan memahatnya begitu sempurna. Perut six pack yang membuat Skyla menelan ludahnya susah payah. Lengan Zach terlihat sangat kekar, juga tangan besarnya.
He is damn hot!
Skyla semakin menunduk. Menatap dirinya sendiri. Pasti dia terlihat begitu mungil di depan Zach. Skyla bukan apa-apa dibanding Zach yang pasti banyak dikelilingi wanita cantik. Plus...pasti d**a mereka montok.
Skyla menghela napasnya pelan. Berbalik dan melangkah menuju ke dalam kamar.
"Gadis aneh." Zach berujar sanga lirih, namun masih bisa terdengar jelas oleh Skyla. Skyla menutup pintu pelan. Isakannya tak bisa di tahan lagi. Tubuhnya luruh di balik pintu. Terduduk di lantai. Memeluk dua kakinya. Setelah beberapa saat Skyla berdiri dan melangkah ke ranjang. Membaringkan tubuhnya dan berusaha keras untuk tidur. Besok adalah hari besar. Dia akan memulai sebuah pekerjaan. Belajar dari Aunty Cherry dan Aunty Lucy. Bukan saatnya menangis. Peduli apa dengan Zach yang sudah begitu berubah?
Skyla mengangguk yakin...lalu menggeleng pelan.
Nyatanya dia begitu peduli pada Zach...sangat. Dia rindu...
-------------------------------------
Pukul 01:10 dini hari. Zach belum juga bisa terlelap. Matanya masih memicing. Zach mengutuk dirinya sendiri. Mengumpat kekasarannya sendiri.
Apakah dia sudah sangat keterlaluan? Pertanyaan itu berputar-putar di benaknya. Membuatnya sulit memejamkan matanya. Skyla terisak karena ulahnya. Menangis di balik pintu karena sikap kasarnya.
Zach bangun dari ranjang. Berjalan menuju balkon. Zach menoleh. Menatap pintu balkon kamar Skyla yang sedikit terbuka. Gadis ini teledor atau apa?
Zach berbalik masuk dan melangkah pelan keluar dari kamarnya. Perlahan di bukanya pintu kamar Skyla. Gadis itu bahkan tidur hanya dengan satu lampu tidur yang menyala. Cukup gelap. Tirai pintu balkon terhempas angin. Melayang dan luruh kembali. Hawa lumayan dingin. Zach menutup pintu menuju balkon pelan.
Zach berbalik. Skyla terlihat tidur meringkuk. Selimut yang menutupi badannya sudah luruh hingga ke kaki. Zach memicing. Kaki Skyla begitu indah. Zach menyusuri tubuh Skyla dengan matanya. Mungil. Mungkin sedagunya bila berdiri di hadapannya. Sama seperti Mommynya saat berdiri di depan Daddynya.
Pandangan mata Zach bertumpu pada d**a Skyla. d**a yang menjadi bahan ejekannya pada gadis itu. Zach menggeram. Skyla mempunyai d**a yang indah. Zach yakin...milik Skyla itu pas di genggaman tangan besarnya.
Zach memang keterlaluan. Mengejek sesuatu yang bahkan dia mengaguminya. Zach mengejek hanya untuk mengingkari. Membohongi hatinya.
Skyla itu...sempurna.
Pandangan mata Zach jatuh pada bibir Skyla yang berwarna merah muda. Cantik. Begitu mungil. Seakan bibir itu akan hancur dalam sekali cium.
Zach mendekat. Menarik selimut dan menyelimuti Skyla hingga pundaknya. Deru napas halus Skyla terdengar. Zach menunduk. Entah apa yang dipikirkannya. Kegilaan apa yang merasukinya?
Zach mencium bibir Skyla lembut. Memagutnya pelan. Merasai rasa manis yang membuatnya gila. Aroma Skyla...wangi kayu hutan yang memabukkan. Lembut seakan wewangian para peri cantik penguasa hutan perawan.
Mata Skyla bergerak. Merasakan hangat menyentuh bibirnya. Mimpi membawanya...dijatuhi ciuman oleh pria yang begitu dirindunya. Skyla mengerang. Membalas ciuman Zach yang begitu di dambanya. Menggumankan nama Zach halus dengan mata yang masih terpejam.
Zach rasanya ingin berteriak. Membangunkan Skyla. Dadanya terasa sesak. Benarkah Skyla begitu merindukannya? Rasa bersalah menyeruak. Dia sudah sangat keterlaluan. Tapi...kemarahan itu masih tersisa. Dia bukan manusia yang pintar mengobati hatinya sendiri.
Zach mengangkat wajahnya. Mendapati Skyla yang semakin terlelap. Menyunggingkan senyum yang begitu cantik.
Mungkin Skyla bermimpi.
Zach berdiri. Menatap sekali lagi wajah Skyla. Cantik.
Zach melangkah keluar dan menutup pintu pelan. Masuk ke dalam kamarnya. Duduk termangu bersandar di kepala ranjang. Tangannya mengusap bibirnya pelan. Rasa itu masih tertinggal begitu kuat di bibirnya. Rasa manis bibir Skyla. Candu yang akan membuatnya berperang batin sepanjang hari.
Zach merebahkan badannya. Menarik selimut hingga ke lehernya. Mencoba terlelap menjelang dini hari.
-----------------------------------
Skyla duduk di kursi meja makan. Tepat di depan Zach yang sedang menekuri sarapannya. Tidak ada siapa-siapa. Hanya Zach.
"Anak gadis dan bangun begitu siang. Merepotkan. Cepat makan sarapanmu lalu aku antar k au butik." Zach berkata sambil membuka koran paginya.
Skyla menelan ludahnya kelu. Dia sangat lelap setelah mimpi itu. Mimpi pria di depannya ini menciumnya. Mimpi pria menyebalkan di hadapannya ini menciumnya dengan kelembutan luar biasa.
Skyla mengusap ujung bibirnya. Nyata sekali bibir hangat Zach di bibirnya. Walau cuma mimpi. Tapi terasa bagai kenyataan.
"Bibirmu juga tak menarik. Kecil begitu...apa rasanya?" Zach yang tiba-tiba saja sudah menatapnya tajam mencebik pelan.
"Aku sudah selesai." Skyla menghela napas sambil berdiri. Skyla melangkah keluar setelah mengucapkan terimakasih pada James atas sarapannya. James menatap tajam ke arah Zach.
Zach begitu menyanyangi James. Dia mengangkat alisnya.
"Oooh...Uncle. Kau sudah seperti Mommy saja." Zach memprotes tatapan James yang seakan menyalahkannya.
James terkekeh pelan.
"Aku berangkat, Uncle." Zach menepuk pundak James sambil melangkah keluar.
Sampai di teras tak ditemukannya Skyla. Zach melangkah ke arah mobilnya. Melajukan mobilnya pelan menuju pos penjaga.
"Kau melihat gadis...hmm...Nona Skyla, keluar dari sini Jeff?" Zach bertanya pada penjaga mansion.
"Nona Skyla baru saja pergi dengan taksi, Sir."
"s**t!" Zach berseru sambil memukul kemudi mobilnya. Jeff menekan sebuah tombol dan pintu gerbang mansion segera terbuka lebar.
Zach melajukan mobilnya kencang keluar kompleks Water Mills. Hatinya menjadi sangat khawatir dengan Skyla. Kenapa gadis itu tak menunggunya? Apakah Skyla marah dengan ucapannya tadi. Tentu saja!
Zach membelah hiruk pikuk kota New York. Sesekali Zach menoleh saat ada taksi melintas atau berhenti di pinggir jalan. Zach menggeram putus asa. Zach melajukan mobilnya menuju butik Mommynya.
Dua puluh menit kemudian Zach memasuki pelataran parkir sebuah butik yang cukup besar di pusat kota Manhattan. Autumn Rhapsody adalah nama yang disematkan Mommy dan Auntynya pada butik mereka. Butik itu meramaikan Fifth Avenue yang memang sudah begitu terkenal bagi penduduk lokal ataupun kalangan pelancong.
Zach keluar dari mobilnya. Perasaan khawatir yang berkecamuk di dadanya membuatnya membanting pintu mobilnya kencang. Zach melangkah ke arah butik dengan raut muka penuh kegusaran.
See?
Seorang gadis mungil yang mati-matian dicemoohnya berhasil membuat pikirannya berantakan. Ini bukan Zach yang biasa berpembawaan tenang.
Zach masuk ke dalam butik. Beberapa karyawan butik menoleh dan mulai berbisik-bisik. Apalagi? Mereka begitu mengagumi Zach dan saudara kembarnya Alex yang begitu mempesona. Zach melangkah cepat menuju ruangan Mommynya.
Pemandangan yang begitu melegakan dan sekaligus membuat kesal dalam waktu bersamaan segera terpampang di depannya begitu pintu terbuka sempurna.
Mommynya, Aunty Lucy dan...Skyla! Sedang tertawa gembira sambil menyesap orange juice mereka.
Apa-apaan itu?
Zach merasa konyol harus mengkhawatirkan gadis itu. Sedang Skyla tengah tertawa disaat Zach merasakan khawatir setengah mati.
Semua menoleh pada Zach yang berdiri di tengah pintu. Terdiam. Skyla menatap Zach dengan pias. Dilihatnya mata segelap malam itu menatapnya tajam. Kemarahan jelas terlihat dari wajah Zach yang sedikit memerah.
"Kau pikir apa yang sudah kau lakukan?",Zach berteriak sambil melangkah menghampiri Skyla yang cepet-cepat berdiri.
"Zachary... " Cherry berujar pada Zach penuh penekanan. Dia tahu Zach pasti marah karena Skyla pergi ke butik dengan menggunakan taksi. Cherry bisa melihat kecemasan luar biasa di wajah murka Zach. Lucy tersenyum. Menatap Cherry dan mengedipkan satu matanya. Lucy meraih lengan Cherry dan membimbingnya keluar. Lucy menutup pintu pelan. Menyisakan Skyla yang bingung dan berjinjit menatap kepergian Cherry dan Lucy dari balik pundak Zach yang berdiri tegak di depannya.
Zach menggeram, membuat Skyla melangkah mundur. Zach melangkah mendekati Skyla hingga langkah Skyla terhenti karena dinding di belakangnya. Skyla mengangkat wajahnya. Mendapati wajah Zach yang masih murka.
Skyla gelisah. Mata segelap malam itu terlihat mengerikan. Masih tampan...semakin tampan, tapi Skyla takut...
Zach mengurung tubuh Skyla dengan kedua tangan menempel pada tembok. Napasnya memburu. Kemarahannya siap meluap. Napas Zach membelai wajah Skyla. Memabukkan dan sekaligus panas menakutkan.
"Apa kau ingin aku mati muda karena jantungan, huuuh..?!" Zach menekankan setiap kata-katanya pelan. Suaranya terdengar tertahan karena kemarahan.
Skyla menggelengkan kepalanya berulang kali. Tidak! Dia akan mati juga kalau Zach mati! Skyla merinding. Dan dia menggeleng.
"Apa?! Kau membuatku khawatir setengah mati! Apa maksudmu pergi sendiri dengan taksi dan tidak menungguku huuuh...kau ingin aku mati khawatir?" Zach berteriak tertahan.
Skyla kembali menggeleng. Samudera bening sudah tercipta di matanya. Menunggu badai yang akan menyapunya luruh. Matanya menatap penuh cinta pada Zach. Aaah...laki-laki ini begitu manis. Mengkhawatirkan hal kecil tentangnya.
Zach menggeram.
"Gadis bodoh!" Zach mengepalkan kedua tangannya jengkel sambil berbalik. Melangkah menuju pintu. Membukanya kasar membuat Cherry dan Lucy yang berada di depan pintu menjadi kaget.
Zach menatap Mommy dan Auntynya yang segera melakukan hal yang tidak penting.
"Tidak bisakah kalian melakukan hal berguna saja selain menguping pembicaraan seseorang dari balik pintu?" Zach sambil melangkah cepat. dan berpapasan dengan Loly...karyawan ibunya. Loly menyapa Zach dengan genit, mengusap lengan Zach mesra membuat Zach geram dan menatapnya tajam.
"Back away...Loly...atau aku akan mengebirimu hidup-hidup." Zach berteriak kalap. Loly yang baru saja masuk ke dalam butik melonjak kaget dan segera berlari menuju Cherry dan Lucy. Zach menoleh sekali lagi.
"Dasar laki -laki setengah wanita...aaaarghh. Merepotkan saja." Zach menggeram lirih.
Cherry dan Lucy menahan tawa menyaksikan Zach yang meninggalkan butik diiringi bantingan pintu yang cukup keras. Beberapa karyawan bahkan menundukkan kepala ngeri. Tak biasanya anak bosnya begitu marah. Loly...bahkan sampai begitu pucat dan gemetar.
Cherry segera masuk kembali ke ruangannya sementara Lucy menyuruh semua karyawan kembali bekerja karena butik mulai ramai dikunjungi pelanggan.
Cherry segera memeluk Skyla yang terlihat menangis.
"Berhenti menangis. Kau lihat? Zach sangat mengkhawatirkan keselamatanmu. Itu cinta." Cherry berbisik lembut di telinga Skyla sambil mengusap pelan rambutnya.
Skyla mengeratkan pelukannya. Matanya menatap pintu seakan Zach masih berdiri di sana.
Cinta?
Cinta seperti apa itu? Mengapa cinta membuatnya sakit dan menangis. Bukan bahagia?
"Zach..." Skyla berbisik lirih. Dia benar-benar sulit memahami sikap Zach.
---------------------------------