Prolog
Ada sebuah legenda yang mengatakan. Bahwa dimasa lalu terjadi pertempuran yang hebat antara Dewa Iblis dan tujuh Pahlawan yang terpilih. Para Pahlawan, artinya mereka yang memiliki kekuatan yang diatas rata-rata kebanyakan manusia dan memiliki berkah seorang Dewi.
Mereka berdiri di medan perang mewakili seluruh umat manusia. Bertarung melawan ras Iblis dengan mati-matian agar dapat pulang dengan membawa kedamaian. Diantara tujuh Pahlawan itu. Terdapat seorang Pahlawan yang lebih hebat daripada Pahlawan lainnya. Dia memiliki banyak berkah dari beragam Dewi. Mulai dari Dewi perang, Dewi kesucian, bahkan Dewi keberuntungan sekalipun.
Dengan kekuatannya yang luar biasa. Pahlawan Cahaya menjadi pemimpin diantara para Pahlawan. Meraih banyak prestasi dengan memenangkan banyak pertempuran dan menaklukkan Dewa Iblis. Dia adalah sosok yang di hormati, bahkan dimana-mana aku bisa melihat patungnya. Entah itu di kota besar ataupun desa kecil sekalipun. Semuanya terdapat patung Pahlawan Cahaya tersebut.
Tetapi, tolong jangan salah paham dulu. Ini bukanlah kisah yang akan berfokus kepada Pahlawan Cahaya itu. Melainkan cerita ini akan berpusat pada salah satu Pahlawan yang paling tidak mencolok dan yang paling tidak dapat diandalkan dalam bertarung.
Gelarnya adalah, Pahlawan Tipu Muslihat.
Dia sama sekali tidak memiliki satu pun berkah dari seorang Dewi—berbeda dengan Pahlawan lainnya yang minimal memiliki satu berkah Dewi—Pahlawan Tipu Muslihat itu tidak memiliki kekuatan hebat seperti Pahlawan lainnya. Lagipula, dia juga terlihat seperti orang biasa.
Oleh sebab itu, karena keberadaannya yang tidak diperlukan. Keberadaannya kurang dikenal dan bahkan dia tidak dianggap Pahlawan oleh semua umat manusia di seluruh dunia. Bukankah itu terlalu jahat? Yah, tapi memang itulah faktanya. Fakta bahwa Pahlawan itu tidak memiliki kontribusi besar dalam penaklukan Dewa Iblis. Dia hanya bisa bermalas-malasan dan menikmati kehidupan sehari-harinya dengan tenang. Hingga secara tidak sadar, dia telah mendapat julukan baru.
Yaitu, Pahlawan Sampah.
Sangat keren bukan? Tentu saja tidak. Semenjak saat itu. Pahlawan Tipu Muslihat dihapuskan dari sejarah dan dilupakan oleh seluruh dunia. Hingga hanya tercatat enam Pahlawan yang terpilih.
****
Sekarang adalah beribu-ribu tahun kemudian setelah ke tujuh Pahlawan itu telah berhasil mengalahkan Dewa Iblis. Lalu tepat kemarin hari, tiba-tiba seluruh kerajaan di dunia ini mengumumkan bahwa Dewa Iblis telah terlahir kembali dan dia sedang menyiapkan rencana untuk menghancurkan dunia untuk kedua kalinya.
Maka dari itu. Tujuh Pahlawan juga akan terlahir kembali. Mereka yang terpilih akan memiliki sebuah tanda bulan sabit di punggung tangan kanan mereka. Ada seorang remaja yang sedang berlatih pedang, tiba-tiba saja muncul tanda itu di tangannya. Ada juga seorang remaja wanita yang sedang menyirami tanaman di kebunnya tiba-tiba saja juga mendapatkan tanda itu. Ada juga seorang pria kantoran yang sedang membaca koran tiba-tiba muncul tanda itu di tangannya.
Lalu, ada juga seorang remaja berumur 17 tahun yang sedang tertidur di dalam kamar di gedung apartemen lantai tiga—yang mendapatkan tanda itu hingga membuatnya terkejut sampai terjatuh di lantai. Pemuda itu adalah aku. Ya, itu aku. Pemuda yang bernama Arga Mahendra. Seorang mahasiswa pemalas dan tidak memiliki motivasi apapun, bertindak sesuai dengan hati nurani dan mengatakan tidak dengan lantang kepada hal-hal yang tidak kusukai.
Lagipula dunia ini sudah moderen. Dimana gedung-gedung pencakar langit berdiri dengan kokohnya, begitupun dengan alat-alat canggih seperti gadget dan televisi. Perang Dewa Iblis dan Pahlawan sudah berakhir pada ribuan tahun yang lalu. Namun, sekarang sejarah itu akan terulang kembali.
Aku terbangun dan mendapati langit-langit kamarku yang gelap. Merasa gatal pada punggung tangan kananku. Aku bangkit untuk melihatnya, dan yang benar saja. Ini bukanlah mimpi. Tanda Pahlawan itu benar-benar muncul di tanganku.
Dengan setengah sadar aku terkejut sekaligus bingung. Kenapa orang sepertiku ini terpilih menjadi seorang Pahlawan. Bukannya senang, aku malah berpikir bahwa tugas itu sangat merepotkan dan cukup melelahkan. Rasanya seperti, kerja tanpa digaji.
Jadi, tanda Pahlawan ini bukanlah keberuntungan bagiku. Melainkan kesialan mutlak.
"Sialan, apakah para Dewi terlalu membenciku? Padahal aku tidak berbuat apapun selain membuang waktuku dengan berbaring."
Pada akhirnya. Mau tidak mau aku harus menerima fakta bahwa aku ini seorang Pahlawan. Sungguh merepotkan. Setelah merapikan rambut dan mandi. Aku keluar dari kamarku yang gelap dan berantakan hanya untuk menyiapkan sarapan di dapur.
Sambil memasak nasi goreng aku menyalakan televisi yang berada di ruang tamu. Karena dapur dan ruang tamu saling terhubung jadi aku masih bisa menonton televisi dari kejauhan. Tujuanku adalah melihat berita yang sedang tayang sekaligus mencari informasi mengenai Pahlawan lainnya.
"Dunia dihebohkan dengan berita dari tujuh kerajaan yang mengumumkan bahwa Dewa Iblis telah kembali di dunia ini. Seperti yang terjadi pada sejarah, diperkirakan dengan lahirnya Dewa Iblis maka ke-enam Pahlawan legendaris juga akan muncul—"
Aku langsung mengganti Chanel karena berita itu sudah terlalu biasa. Dan yang benar saja, rata-rata semua Chanel televisi menampilkan berita yang sama. Apakah standar mereka sudah menurun hingga tidak ada laporan tentang berita lainnya lagi yang memuat informasi para Pahlawan lainnya?
Pada akhirnya, aku mematikan televisi. Kebetulan nasi gorengku sudah siap. Setelah menyajikannya di piring aku duduk di meja makan dan memakannya dengan lahap. Hhm, sangat enak. Masakanku memang tidak sempurna tapi setidaknya masih bisa dimakan dengan layak.
Setelah membereskannya, aku bersiap untuk pergi ke sekolah. Memakai sepatu, menggendong tas. Lalu membuka pintu depan rumah.
"Eh?"
"Apakah Anda yang bernama, Arga Mahendra?"
Tepat setelah membuka pintu. Sudah terdapat seorang wanita yang memakai setelan jas rapi dengan gaya rambut kuda poni. Ditemani oleh dua orang pria bertubuh kekar di belakangnya. Hanya dengan melihatnya saja, aku sudah merasakan firasat buruk.
"Y-ya ... saya sendiri. Ngomong-ngomong, siapa kalian dan ada perlu apa denganku?"
Wanita itu melirik sedikit ke arah punggung tangan kananku yang terdapat simbol Pahlawan yang terpilih. "Mohon maafkan saya atas keterlambatan saya memperkenalkan diri. Saya Helena Smith, saya adalah agen khusus yang diutus oleh Kerajaan untuk menjemput Anda."
"Eh, apa? Tunggu. Aku masih tidak paham dengan apa yang terjadi disini?"
"Maafkan saya. Tapi untuk sekarang ini Anda diwajibkan untuk ikut bersama kami. Yang Mulia akan menjelaskannya saat kita sampai disana nanti."
"L-lalu bagaimana dengan sekolahku? Meski aku seorang pemalas tapi setidaknya aku adalah murid yang rajin masuk. Aku tidak ingin membuat uang orang tuaku terbuang dengan sia-sia." Aku mencoba mengelak dengan alasan yang cukup logis. Berharap bahwa mereka melepaskan ku.
"Saya sudah mengurusnya dengan meminta izin kepada pihak sekolah bahwa Anda telah keluar dari sana. Selain itu, para Pahlawan juga mendapat jaminan karier yang bagus setelah tugas mereka selesai nanti."
Sayang sekali alasanku dipatahkan dengan mudahnya menggunakan alasan yang cukup menggiurkan. Dengan begini, mungkin masa depanku sudah terjamin cerah setelah mendapat jaminan karier yang bagus. Tapi tetap saja, tugas seorang Pahlawan itu terlalu berat bagi seorang yang hemat energi sepertiku ini.
Ketika aku ingin menolak, aku melirik ke arah dua orang berotot yang berdiri di belakang Helena. Mereka berdua memasang wajah mengerikan jadi aku segera menelan ludah.
"B-baiklah, aku hanya harus ikut bukan?"
"Terimakasih atas kerjasamanya. Kalau begitu, mari."
Helena memanduku untuk keluar dari Apartemen. Lalu di tempat parkir sudah terdapat banyak orang yang menunggu sambil membawa kamera masing-masing. Mereka memotret sambil mengatakan, "itu Pahlawan!" dengan cukup lantang dan jujur saja hal itu cukup menggangguku.
Kemudian kami masuk di sebuah Limosin yang sudah terparkir disana. Duduk di bagian belakang aku diapit oleh dua pria kekar sehingga menjadi sedikit sempit. Helena duduk di kursi depan samping kursi supir dan tidak lama kemudian Limosin pun mulai berangkat.
Kerumunan yang masih padat tentu saja menghalangi jalan. Tapi setelah beberapa kali membunyikan klakson akhirnya orang-orang bodoh itu segera menyingkir. Aku menghela nafas, sepertinya mulai dari sekarang kehidupanku akan berubah secara drastis.