Chapter 9

1084 Words
Sementara itu, dilain sisi. Tepatnya berada jauh dibagian barat laut dari lokasiku berada. Hiro dan Flora saling berhadapan satu sama lainnya. Hiro dengan dua Gauntlet ditangannya sedangkan Flora hanya berbekal tangan kosong. Gauntlet Hiro menyerupai sarung tangan merah dengan api bewarna putih kecil yang menyelimutinya. Seperti yang diharapkan dari penerus dari seorang Pahlawan Cahaya dimasa lampau. Dia juga bisa menggunakan sihir suci. Namun, meski begitu sihir sucinya masih belum begitu sempurna. Masih terdapat banyak kekurangan didalamnya. Tetapi itu adalah hal yang wajar. Karena sihir cahaya berbeda dengan sihir lainnya yang menggunakan empat elemen dasar sebagai pondasinya. Sihir cahaya berdiri sendiri dan memiliki pengaruh yang lebih besar daripada sihir lain pada umumnya. Meski belum sempurna, sihir cahaya masih memiliki kemampuan yang lebih unggul daripada sihir lainnya. Tentu saja selain terdapat keuntungan sihir cahaya juga memiliki kelemahan, karena harus menggunakan konsentrasi yang tinggi saat memakainya. Orang yang menggunakan sihir tersebut akan lebih cepat kelelahan, terutama bagi yang belum terbiasa. "Nyonya Flora, tidak kusangka kita akan bertemu disini." "Begitupun denganku, aku tidak menyangka bahwa dari sekian banyaknya Pahlawan lain. Aku akan bertemu dengan penerus dari Pahlawan Cahaya yang legendaris." "Hahaha! Nyonya terlalu memujiku, bahkan aku juga tidak menyangka akan bertemu dengan penerus dari Pahlawan Perusak yang pernah mengalahkan 10.000 pasukan Dewa Iblis sendirian waktu p*********n pertama dalam sejarah kita." "Bagaimanapun juga, aku masih jauh daripada Pahlawan Perusak terdahulu. Jadi maafkan aku karena mungkin saja aku tidak bisa memenuhi ekspektasi mu." "Jangan khawatir, aku juga tidak sekuat Pahlawan Cahaya terdahulu. Jadi bukankah kita ini cocok satu sama lain, Nyonya Flora?" "Yah, mungkin saja." Keduanya saling menatap dengan senyuman. Hingga tidak lama kemudian Hiro dan Flora menerjang secara bersamaan dan saling membenturkan siku. Menciptakan tekanan angin yang kuat yang berhembus merobohkan beberapa pohon yang berada di sekeliling mereka. Lagipula, mereka adalah tipe petarung jarak dekat. Profesor Paul sendiri sudah mengkonfirmasi bakat Hiro dalam pertarungan tangan kosong dikarenakan dia lebih ahli tanpa menggunakan senjata sehingga menggunakan Gauntlet sebagai perantara untuk mengaktifkan sihirnya. Namun yang membuat perbedaan diantara mereka adalah Flora itu sendiri, dia adalah seorang misterius yang bakatnya membuat bingung Professor Paul. Bahkan anggota PBB lainnya. Kenapa? Hal itu dikarenakan dia bisa menguasai segala bidang. Kemudian, salah satu skill yang dimilikinya adalah; "Telekinesis." Aku mengucapkan kata tersebut saat bersembunyi di balik semak tidak jauh dari mereka berada. Aku terkejut, bahwa pertarungan mereka berdua lebih mengerikan daripada pertarungan antara Amelia dan Alexander. Telekinesis, itulah hasil yang kudapatkan setelah membaca pikiran dari Flora Angelina. Yang mengejutkan adalah, dia juga memiliki beragam skill seperti Eliza. Diantaranya adalah Telekinesis, Magic Sense, dan Compression. Dengan skill yang bernama Magic Sense tersebut, seharusnya Flora menyadari bahwa aku sedang menggunakan sihir [Mind Reading] padanya. Tapi sepertinya dia tidak terlalu waspada denganku. "Tuan, apa kau akan menyerang mereka berdua dengan cara yang sama seperti kau menyerang Pahlawan Amelia dan Pahlawan Alexander?" "Kau bodoh, ya? Tentu saja tidak. Lihat saja pertarungan mereka berdua yang mengerikan itu. Bahkan aku tidak memiliki kesempatan untuk mendekat." "Jika itu Tuan, pasti bisa mengakalinya dengan cara licik bukan? Karena hanya itu satu-satunya kemampuan yang Tuan miliki." "Dengar ya, Olivia. Selicik-liciknya aku. Aku masih bisa membedakan yang mana yang baik untuk ragaku dan mana yang tidak. Aku tidak ingin bertarung dengan peluang kemenangan dibawah nol persen. Selain itu aku juga masih belum melamar Commander Louisa." "Semoga kau ditolak." "Jahat!!" *** Pertarungan antara keduanya terlihat seimbang. Keduanya saling menyerang dan menangkis. Flora melapisi seluruh tubuhnya dengan mana dan memadatkannya menggunakan sihir Compression sehingga menciptakan armor keras yang tidak terlihat. Sedangkan Hiro menggunakan sihir cahaya untuk menyelimuti tubuhnya, meski tipis tapi sihir cahaya cukup ampuh untuk meningkatkan kemampuan fisik penggunanya. Mereka berdua bertarung dengan intens, hingga menimbulkan getaran dan tekanan angin yang kuat seperti sebelumnya. Bahkan aku yang bersembunyi pun harus berpindah-pindah tempat agar tidak ikut terkena dampaknya. Meskipun aku seperti ini, aku cukup percaya diri dengan kemampuanku untuk bersembunyi. Itu adalah kemampuan yang sengaja aku kembangkan untuk menghadapi situasi bahaya seperti sekarang ini. Hiro terus menyerang dan berhasil memojokkan Flora. Situasinya cukup diuntungkan karena gerakan Hiro semakin cepat dan akurat setelah perlindungan dari sihir cahaya. Tidak jarang Flora terkena beberapa serangan, tapi masih bisa dikurangi dampaknya dengan armor tidak terlihat. "Nyonya Flora, menyerahlah! Kau tidak bisa menang dariku. Jika ini terus berlanjut, bisa saja Nyonya akan terluka nanti." "Fufufu! Nak Hiro kau terlalu naif. Bahkan di situasi seperti ini pun kau khawatir dengan musuhmu. Tapi aku tidak membenci sifatmu itu Nak Hiro, karena memang seperti itulah kebaikan dari seorang yang menyandang gelar sebagai Pahlawan Cahaya. Hanya saja ...." Flora menjaga jarak dari Hiro beberapa meter ke belakang. Lalu rambut panjangnya mulai melayang, bukan hanya itu saja. Bahkan kerikil yang ada disekitarnya juga sedikit terangkat ke udara. Menyadari kejanggalan yang ada, Hiro menjadi waspada. Lalu tidak lama kemudian, batu-batu dan pepohonan disekitar terangkat. Hiro melebarkan kedua matanya tidak percaya dengan apa yang dia lihat sekarang ini. Semua benda yang sepertinya berat itu melayang-layang dan berputar mengelilingi Flora. "Jika kau seperti itu, kau bisa cepat mati, Nak Hiro." Pepohonan, bebatuan. Benda-benda itu Melesat dan mengarah pada Hiro. Hiro segera mengantisipasinya, dengan cara menghindar, kadang menghancurkan dan kadang menghindar lagi secara acak agar sampai tidak terkena benda-benda tersebut. Namun, seberapa keras Hiro mencoba. Dia tetap terkena beberapa pukulan dari benda-benda tersebut. Membuatnya terbatuk darah, atau bahkan terpental hingga menabrak batang pohon maupun bebatuan. "Ini sudah berakhir." Flora melesatkan semua benda melayang tersebut mengarah ke Hiro, dan membuatnya tertimpa oleh reruntuhan. Debu-debu halus berserakan dan area pertarungan menjadi rusak parah akibat perkelahian yang brutal itu. Aku yang berada disekitaran lima puluh meter dari mereka pun masih merasakan kengerian dari pertarungan kedua Pahlawan tersebut. Pertarungan sudah berakhir. Pemenangnya adalah Flora Angelina, sang Pahlawan Perusak. Begitulah yang ingin kukatakan, tapi ternyata Hiro tidak menyerah begitu saja. "?!" Tiba-tiba saja reruntuhan tersebut bergetar. Aku menahan nafasku, dadaku terasa sesak saat mengetahui pertarungan ini sudah diluar kendaliku. Dalam lubuk hatiku yang terdalam, aku benar-benar bersyukur karena telah memilih untuk tidak ikut campur dalam pertarungan mereka berdua sebelumnya. Tidak lama kemudian, dari reruntuhan tersebut keluar cahaya yang sangat terang, yang tidak lama kemudian meledak menghempaskan batu-batu dan pepohonan. Di mataku, aku bisa melihat Hiro yang penampilannya telah berubah 180° Rambutnya putih bercahaya, begitupun dengan matanya. Selain itu cahaya yang menyelimuti tubuhnya juga semakin terang. Darah yang menetes di dahinya karena tertimpa reruntuhan sebelumnya perlahan mulai berhenti. Pertanda bahwa lukanya tidak lama lagi telah tertutup. Tidak salah lagi, aku masih mengingat dengan jelas kemampuan itu dari pelajaran sejarah yang pernah dijelaskan oleh guru di sekolah. Hiro telah memasuki bentuk kebangkitannya. Tapi, bukankah itu terlalu cepat?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD