Chapter 6

1205 Words
Keesokan harinya pelatihan dimulai kembali. Aku yang pada waktu itu tidak berdaya hanya menjadi sebuah kegagalan dan kegagalan lagi. Bahkan saat aku berlatih tinju lagi-lagi aku dijadikan samsak tinju oleh Alexander. Namun karena aku sudah mulai sedikit terbiasa dengan rasa sakit aku masih bisa menahannya. Dan seperti biasa pula Om Ren akan datang dengan membawakanku sapu tangan saat hidungku berdarah. Pelatihan kali ini ada yang berbeda dari yang sebelumnya. Kali ini ada lagi pelatihan baru, yaitu pelatihan pedang. Pedang yang digunakan bukan pedang pada umumnya melainkan sebuah pedang laser. Kali ini lawanku adalah Amelia. Seorang gadis cantik yang hobinya adalah mempermainkan hati pria. Aku sempat meremehkannya karena dia adalah seorang gadis namun nyatanya aku kalah telak karena perbedaan kemampuan yang jauh. Amelia berkata bahwa dirinya sering berlatih ilmu beladiri Judo sedari kecil. Justru dialah orang yang tidak ingin kulawan sama sekali. "Hahhh ...." "Lagi-lagi hari ini adalah hari kesialanmu, Tuan." "Berisik, seharusnya kau menyemangatiku disaat-saat seperti ini." "Mengingat pribadi Tuan yang gampang puas. Setelah aku menyemangati Tuan dengan pujian nanti Tuan pasti akan langsung terlena dengan kesenangan dan mengatakan, "Yah, setidaknya cukup dengan hari ini. Besok aku tidak akan ikut latihan lagi." Seperti itu." "Jangan bicara seolah kau bisa membaca pikiranku." "Jadi, apa keputusanmu untuk kedepannya, Tuan?" Bangkit dari ranjang setelah berbincang sedikit dengan Olivia. Aku menatap langit-langit kamar yang kosong. Terdapat lampu yang menyala dengan redup disana. Sendirian dan tetap menyinari ruangan hampa ini agar tetap terang benderang. Sebenarnya aku sangat malas untuk melakukan ini tapi aku mau tidak mau harus tetap melakukannya agar tidak tertinggal dengan Pahlawan lainnya. "Sudah kuputuskan, aku akan latihan sendiri saat malam hari." "Hee?! Kata-kata tidak terduga yang keluar dari mulut seorang pemalas." "Berisik, aku juga tidak mau sebenarnya tapi mau bagaimana lagi bukan?" Aku berdiri sambil sedikit melakukan peregangan kecil lalu keluar dari kamarku. Berjalan di koridor yang sepi karena sekarang hari sudah memasuki tengah malam. Biasanya aku jarang begadang dan mungkin ini adalah pertama kalinya aku bergadang sampai larut seperti ini. Aku membuka pintu ruang pelatihan dan menekan saklar untuk menyalakan lampunya. "Disini sepi sekali." "Ya, karena memang sudah larut malam. Semua orang di PBB diharuskan untuk tidur sebelum pukul 12 malam karena jadwal kerja mereka yang sangat padat." Lagipula mereka adalah organisasi yang bertugas sebagai penjaga kedamaian dunia. Di masa depan nanti, aku tidak ingin menjadi salah satu dari mereka. Soalnya merepotkan sih, selain jadwal libur yang sedikit jadwal kerja juga sangat padat. Para anggotanya diharuskan untuk bekerja dari pagi sampai hari menjelang malam. Aku membuka ruang penyimpanan di mini-chip lalu menekan tombol untuk memakai pakaian suit yang diberikan oleh Professor Paul kemarin. Seketika pakaianku yang sebelumnya hanya memakai kaos putih polos langsung berubah menjadi baju hitam ketat. Baiklah, pertama-tama apa yang harus dilakukan? Apa aku harus memulai dari latihan menembak terlebih dahulu? Tidak, sepertinya aku akan langsung terpental lagi dan mimisan. Jadi lebih baik menghadapi yang lebih mudah kulakukan dulu. Karena masih bingung, aku melakukan senam terlebih dahulu sambil berpikir. Tapi tidak lama kemudian aku mendengar suara pintu terbuka tepat di belakangku. "Eh?! Ada orang di jam sekarang ini? Sungguh mengejutkan." Aku yang terkejut secara spontan berbalik sambil mengambil sikap bertarung. Yah meski aku tidak bisa benar-benar bertarung tapi setidaknya aku masih bisa melakukan perlawanan diri. "Hahaha! Reflek yang bagus. Jadi kau disini mau latihan malam juga?" Orang itu menghampiriku. Karena wajahnya masih tertutupi oleh kegelapan aku jadi tidak bisa melihatnya dengan jelas. Tapi beberapa saat kemudian aku langsung terpana. Dia ternyata adalah seorang gadis cantik yang memiliki rambut pirang pendek sebahu, dan memakai suit yang sama denganku. Dilihat dari penampilannya, sepertinya dia beberapa tahun lebih tua diatasku. "Jadi?" "Eh? Ya, aku sedang ingin melakukan latihan." "Hee ... ternyata anak muda zaman sekarang ini sangat bersemangat, ya. Kalau begitu ingin latihan bersama?" "Apakah tidak apa-apa? Maksudku, aku sama sekali tidak mahir dalam bidang apapun. Jadi aku takut jika aku hanya akan menjadi hambatan dalam pelatihanmu." "Tidak apa-apa, tidak apa-apa. Manusia memang pada dasarnya adalah makhluk yang lemah. Oleh sebab itu kita berlatih, bukan?" kata gadis itu. Dia kemudian menyodorkan tangannya kepadaku. "Namaku adalah Lousia, dan namamu?" Aku menjabat tangannya. "Arga ... Arga Mahendra." "Arga? Hmm ... sepertinya aku pernah mendengarnya di suatu tempat. Oh, aku ingat. Jadi itu benar-benar kau, ya? Pahlawan yang dirumorkan yang jadi topik hangat perbincangan saat ini. Hahaha!" Louisa menepuk-nepuk punggungku dengan keras sampai-sampai membuatku kesakitan. Gadis ini, dia terlalu bersemangat. "Yah, aku masih tidak menduga akan bertemu dengan salah satu Pahlawan secepat ini. Tapi aku sendiri juga terkejut karena ada Pahlawan yang sangat giat berlatih sepertimu." "Sudah kubilang bukan, aku berbeda dengan Pahlawan lainnya. Aku tidak memiliki bakat apapun." "Jangan berkata seperti itu ...." Lousia berjalan ke tempat pelatihan menembak. Lalu mengambil revolver laser, mengarahkannya pada target, dan kemudian menarik pelatuknya. Pada waktu itu, kedua mataku dibuat melebar, karena peluru yang melesat benar-benar mengenai sasaran dalam sekali coba. "Kau bukan tidak berbakat, tapi hanya belum menemukan bakatmu." Aku terdiam sejenak. Mungkin itu benar. Tapi sekarang aku telah menemukannya. Yah, aku ragu menyebut kelicikan dan tipu muslihatku sebagai bakat tapi hanya itu satu-satunya kelebihan yang kumiliki saat ini. "Sekarang giliranmu." Louisa menyodorkan revolvernya padaku. Aku menerimanya. Pada akhirnya aku tetap memilih pelatihan menembak terlebih dahulu. Aku menyuruh Olivia untuk menganalisis seperti biasanya dan mencoba memfokuskan antara moncong revolver dengan target. Hanya saja, saat memegang revolver entah kenapa kegugupanku muncul kembali hingga membuatku gemetaran. "Bukan begitu." "A-anu ...." Aku terkejut, karena tiba-tiba Louisa mendekatkan tubuhnya ke tubuhku sambil memegang tanganku dengan seksama. Bahkan aku bisa merasakan kehangatan tubuh kami berdua melalui suit yang kami kenakan. "Saat memegang revolver kau tidak boleh gemetaran. Lihat, seharusnya kau meletakkan tangan kananmu sedikit lebih keatas gagangnya dan tangan kirimu menopang tangan kanan agar saat terjadi recoil kau dapat menahannya. Lalu, untuk mencapai target. Luruskan matamu selaras dengan tubuh revolver, jika sudah merasa pas maka langsung tarik pelatuknya." "S-seperti ini?" "Ya, bagus seperti itu." Aku menarik nafas dalam-dalam lalu membuangnya. Sekarang seperti yang Louisa katakan sebelumnya bahwa aku harus menyelaraskan pandanganku dengan tubuh revolver. Kemudian, saat aku merasa bahwa memang sudah pas. Aku dengan gugup segera menarik pelatuknya. "Wahh! Itu bagus. Meski tidak mencapai target tapi kau hampir mengenainya. Aku yakin jika kau terus berlatih maka tidak butuh waktu lama bagimu untuk dapat mengenai sasaran." "Kak Louisa, apakah kau juga sering berlatih malam hari seperti ini?" "Tentu. Berlatih saat malam hari membuatku lebih rileks karena tidak terganggu dengan kebisingan orang lain. Selain itu aku juga bisa semakin fokus. Ah, tapi jangan berpikir bahwa keberadaanmu itu pengganggu, lo. Justru karena terus sendirian aku merasa kesepian, jadi saat mengetahui bahwa ada orang lain yang berlatih malam hari sama sepertiku aku sangat senang dan terbantu." "Apakah itu berarti aku boleh berlatih dengan Kak Louisa lagi?" "Tentu saja boleh." Aku tidak sengaja memasang wajah senang karena mendapatkan mentor yang sangat baik hati. Kak Louisa, sepertinya dia adalah cinta pertamaku. Sungguh, dia adalah gadis terbaik dari semua gadis yang pernah kutemui dalam hidupku. Dulu waktu di sekolah, para gadis menghindariku hanya karena aku terlalu pendiam. Jadi keberadaan Kak Louisa dalam hidupku yang menyedihkan ini bagaikan malaikat tak bersayap. Bahkan, saat aku mencoba membaca pikirannya. Dia benar-benar jujur dengan apa yang dikatakannya tadi. Hal itu sudah cukup untuk membuktikan bahwa Kak Louisa benar-benar orang yang murni dengan kebaikan hatinya. "Tuan, mukamu sangat menjijikkan."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD