Sementara aku menelusuri kembali labirin yang sudah ini. Aku mendengar suara ledakan yang berasal dari tempat yang tidak jauh dariku. Bukan hanya sekali, melainkan berkali-kali. Yah dengan menebaknya saja aku sudah tahu siapa pelakunya. Tidak lain tidak bukan itu adalah Amelia. Memangnya siapa lagi yang suka menggunakan sihir bombardir selain dirinya?
Aku yakin pasti Amelia bisa mengatasi monster itu sendirian. Jadi lupakan dia dan terus lanjutkan perjalanan.
"Sebenarnya Tuan hanya takut jika Nona Amelia membunuhmu jika bertemu, bukan?"
"Diam Olivia. Aku menyerahkan monster itu padanya karena aku percaya bahwa Amelia pasti bisa mengalahkannya."
"Huff ... terserahlah."
***
Dilain sisi, Keylia juga mencari jalan keluar dari labirin. Dia gemetar ketakutan sambil mengamati setiap langkah kakinya. Setiap dia berbelok, Keylia pasti bertemu dengan monster mutasi. Oleh sebab itu agar tidak ketahuan, terkadang Keylia suka memanfaatkan tubuhnya yang kecil untuk bersembunyi dan melangkah dengan pelan agar tidak menimbulkan suara yang terlalu keras.
Meski begitu terkadang dia juga sempat ketahuan oleh mereka. Ketika ketahuan Keylia melarikan diri dengan cara berbelok-belok untuk membingungkan mereka. Karena insting Elf lebih peka daripada manusia. Keylia menjadi tidak mudah tersesat.
"A-Arga ... Amelia ... dimana kalian?"
***
"Tuan, sepertinya aku sudah menemukannya."
"Benarkah, dimana?!"
"Kurasa dari arah jam sembilan. Jaraknya 30 meter dari posisi kita. Kurasa dia sedang menangis, itu membuatku lebih mudah untuk menemukannya dengan mempertajam fungsi pendengaranku."
"Sungguh AI yang bisa diandalkan."
Sementara Olivia malu-malu saat aku memujinya. Aku bergerak ke arah jam sembilan dimana Keylia berada. Dengan bantuan Olivia sebagai penunjuk jalan, aku jadi tidak mudah tersesat seperti sebelumnya. Sungguh, kenapa aku tidak meminta bantuannya sedari awal? Aku ingin memukul diriku yang bodoh.
Setelah beberapa saat, aku akhirnya bisa melihat Keylia tepat di depanku. Seperti yang dikatakan oleh Olivia, dia sedang menangis. Namun, aku melihat beberapa monster mutasi yang datang kepadanya. Itu buruk.
Aku segera mengambil revolver laser dari balik pinggulku. Lalu menembakkannya ke arah monster-monster itu. Seketika mereka membeku, peluru yang kupakai adalah stun bullet. Sementara mereka membeku selama tiga detik. Aku segera menemui Keylia.
"Oi! Keylia! Keylia! Ssst!"
Keylia menghentikan tangisannya dan menoleh ke arahku. "Uwaaa!! Arga darimana saja kau?! Aku sudah mencari-carimu selama ini, huwaa!!"
"Tung—hentikan, nangisnya nanti saja. Sekarang kita pergi dahulu dari tempat ini."
Aku kemudian menarik tangan Keylia untuk menjauh dari monster mutasi itu. Untuk memastikannya lagi, aku melihat ke arah Keylia. Untung saja aku tidak salah tarik orang lagi seperti kejadian sebelumnya. Setelah merasa aman, aku melepaskan tangannya.
"Ohok! Meski aku sudah lulus dari masa pelatihan tapi tubuhku tetap saja tidak kuat untuk berlari dalam kurun waktu panjang." Nafasku terputus-putus.
"Arga, dimana Amelia?"
"Ah, dia ...." Tidak lama kemudian. Terdengar suara ledakan seperti yang tadi. "Aku yakin itu ledakan-ledakan tadi adalah perbuatannya. Dengan petunjuk itu seharusnya kita bisa menemukannya dengan mudah."
Kami berdua sekarang tinggal mencari keberadaan Amelia. Daripada mencari Keylia, sepertinya dia yang paling mudah untuk dicari karena sihirnya terlalu mencolok.
***
Sementara di tempat lainnya. Dampak dari virus itu semakin menyebar. Para penduduk yang telat menuju ke tempat evakuasi mulai bermutasi. Pahlawan-Pahlawan mulai kewalahan dalam menghadapi mereka semua. Meski sudah bekerja sama tim, namun jika jumlah orang yang bermutasi semakin bertambah itu sama sekali tidak terlalu berdampak.
"Commander ...."
"Aku tahu. Kita juga tidak bisa berbuat banyak disini. Satu-satunya yang bisa mengakhiri ini adalah Arga. Kita hanya perlu mengulur waktu disini."
"Tidak kusangka bahwa yang menyebabkan kekacauan seperti ini adalah seorang Elf. Kemunculannya sungguh tidak terduga. Tetapi Commander, ada yang membuatku penasaran. Kenapa kita tidak ikut terinfeksi seperti orang-orang itu?"
Louisa terkejut saat menyadari Hiro menyadarinya. "Itu dikarenakan kalian para Pahlawan memiliki berkah dari Dewi. Lihat tanda Pahlawan di tangan kalian, itu adalah bentuk perlindungan yang diberikan Dewi bulan untuk mengusir energi jahat. Ah, karena aku bukan Pahlawan jadi aku tidak memiliki berkah dari Dewi, aku hanya menggunakan kalung ini untuk berjaga-jaga."
Louisa mengeluarkan sebuah kalung dari balik pakaiannya. Kalung tersebut bermandala patung Dewi cahaya. Dari situ Hiro mengerti, bahwa monster takut dengan hal-hal yang berbau kesucian terutama pada para Dewa dan Dewi. Bukan hanya sihir suci dan berkah saja yang mampu menangkal energi jahat, melainkan benda suci sekalipun juga bisa digunakan.
***
Flora terus menggunakan skill Telekinesisnya untuk memukul mundur monster mutasi. Dengan skillnya tersebut. Dia bisa dengan mudah merobohkan beberapa dari mereka tanpa bersusah payah. Teruntuk Ren Zeran, dia tidak memiliki skill yang kuat seperti Flora.
Salah satu keahliannya adalah menggunakan benang mana. Dia mengikat monster mutasi dan kemudian menembakkan peluru pingsan pada mereka. Ngomong-ngomong, kemampuan menembak Ren Zeran adalah yang terbaik diantara para Pahlawan. Bakatnya dalam menembak sudah dapat dilihat saat pertama kali dia menembak saat masa pelatihan para Pahlawan di hari pertama.
Sedangkan Alex dan Eliza. Kerja sama tim mereka mulai terbentuk dengan baik. Bahkan tanpa aba-aba, keduanya sudah mengerti dengan tugas masing-masing. Kali ini Eliza tidak hanya diam begitu saja, dia juga ikut bertarung bersama dengan Alex.
Eliza menggunakan sihir Support Shield kepada dirinya sendiri dan juga Alex. Seperti biasa, cara Alex menyerang musuh adalah menggunakan pedangnya. Namun cara Eliza adalah yang paling mudah dan efisien. Dia hanya perlu menggunakan sihir penyembuh kepada monster mutasi untuk mengembalikan kesadaran orang yang terinfeksi.
Kenapa bisa? Caranya mudah. Pada dasarnya sihir penyembuh yang dimiliki oleh Pahlawan Penyembuh mengandung sihir suci yang lebih besar daripada Pahlawan Cahaya. Oleh sebab itu, Eliza mampu mengembalikan kesadaran orang yang terinfeksi tanpa bersusah payah.
Meskipun Eliza mampu, namun jumlah orang yang bermutasi semakin bertambah meski dia sudah mencoba mengurangi jumlahnya. Oleh sebab itulah, untuk membersihkan kekacauan ini. Kita harus membereskan masalah utamanya terlebih dahulu. Yaitu virusnya yang menyebar melalui udara.
***
Aku akhirnya bisa berkumpul kembali dengan Amelia dan Keylia. Seperti apa yang aku duga, Amelia langsung menghajarku habis-habisan setelah melihat bertemu denganku. Yah, lagipula aku sudah mulai terbiasa dengan pukulannya. Jadi tidak masalah karena tubuhku menjadi tahan banting.
Setelah kami melewati lantai empat. Kami berlanjut ke lantai lima, kemudian enam. Disana kami tidak menemukan kesulitan yang berarti karena disana hanya terdapat sedikit monster mutasi. Kemudian di lantai tujuh. Kami bertiga menemui monster mutasi berbentuk ular seperti sebelumnya.
Aku dan Keylia berlari untuk bersembunyi dah menyerahkan semuanya pada Amelia. Seperti biasa, setelah berhasil mengalahkan semua aku kembali dipukul olehnya. Disaat itu Keylia malah menertawaiku dengan keras saat melihat wajahku yang babak belur.
Sekarang, kami sedang dalam perjalanan menaiki tangga lantai terakhir. Yaitu lantai delapan.
"Hahaha! Arga wajahmu lucu sekali."
"Berisik! Bocah kecil. Lagian, kenapa hanya aku yang dipukul. Bukankah bocah ini juga ikut bersembunyi?" Protesku pada Amelia.
"Tentu saja bukan? Karena Keylia masih kecil jadi kau yang sebagai walinya harus menerima hukumannya."
"Sejak kapan aku jadi walinya?"
"Hei Olivia, apakah Tuanmu memang seperti itu?" tanya Silvia.
"Huff ... aku tidak bisa menyangkalnya. Tetapi ...." Olivia menatapku yang masih berdebat dengan Amelia, sambil tersenyum dengan tulus. "Meskipun dia seperti itu, dia adalah pria yang bisa diandalkan."
***
"Hahaha! Hahahaha!"
"Sampai kapan kau mau tertawa terus bocah kecil?!"
"M-maaf! Hahaha! Tapi wajahmu itu jelek sekali. Hahaha!"
Meskipun debat antara aku dan Amelia sudah berakhir. Namun Keylia tetap menertawai wajahku yang masih babak belur. Saat kau melihat ke arah Amelia, sepertinya dia juga ingin menertawaiku tapi dia mencoba untuk menahannya sebisa mungkin. Aku bisa membaca pikirannya bahwa dia merasa kasihan padaku, jadi sebagai permintaan maaf Amelia tidak ingin menertawaiku. Tapi itu semua sudah terlambat, kau tahu?
Beberapa menit kemudian. Akhirnya kami bertiga sampai di lantai teratas. Tepatnya kami berada di atap supermarket. Setelah sekian lama, akhirnya aku bisa kembali menghirup segarnya dan terpaan angin—tunggu ini bukan waktunya untuk bersantai. Kita harus cepat membersihkan kekacauan ini.
"Arga ... terimakasih."
"Hmm?"
Mendadak aku dibuat terkejut dengan perubahan sikap Keylia yang sangat tiba-tiba. Wajahnya tersenyum, aku bisa melihat genangan air di matanya meski itu belum menetes. Apa yang dia tangiskan? Dan untuk apa berterimakasih padaku?
"K-kenapa kau berterimakasih padaku?"
"Itu ... Karena aku bersyukur bisa bertemu denganmu."
Aku tidak mengerti, apa yang sebenarnya gadis Elf ini coba sampaikan.
"Karena dirimu, aku mendapat kenangan yang berharga setelah sekian lamanya. Pokoknya terimakasih, Amelia juga. Terimakasih karena sudah peduli denganku. Meski waktu yang kita habiskan selama ini sangat singkat, tapi aku mendapatkan kenangan yang indah. Kurasa ini sudah waktunya."
"Tunggu! Apa yang sebenarnya kau bicarakan? Aku sama sekali tidak mengerti."
Menghiraukan pertanyaan dan kebingunganku. Keylia berjalan maju, mengambil beberapa langkah ke depan lalu berbalik menatapku secara langsung. Dia mengangkat satu tangannya tinggi-tinggi dan kemudian. Entah apa, udara hitam yang selama ini menutupi distrik perbelanjaan berkumpul di tangannya. Disana aku langsung mengetahuinya, bahwa yang Keylia kumpulkan itu sebenarnya adalah virus yang menginfeksi penduduk selama ini.
"Bagaimana bisa? .... itu bukan sihir suci bukan?" gumam Amelia. Bahkan aku pun juga bingung bagaimana caranya Keylia melakukannya. Dia tidak menetralkan virus, tetapi mengumpulkannya.
"Maafkan aku teman-teman."
Air mata menetes diwajahnya. Kemudian virus yang dikumpulkan oleh Keylia menutupi seluruh tubuhnya. Setelah beberapa saat, penampilan Keylia telah berubah sepenuhnya. Di kepalanya terdapat dua tanduk merah yang mencuat ke atas, jubah coklatnya yang lusuh berubah menjadi hitam pekat dan mengeluarkan aura yang menakutkan.
Tubuhku dan juga Amelia gemetar. Aku merasakan tekanan intimidasi yang kuat hingga membuatku ingin pingsan.
"Namaku adalah Keylia Blackrose, Dewa Iblis yang baru."