Black Swan

1993 Words
2022 Gegap gempita ruangan yang luas dengan kelap-kelip lampu warna-warni membuat Tian berjalan gontai. Fokusnya pecah saat melihat ratusan orang dimana-mana ditambah musik yang keras memekakan telinga. Ia mengutuk beberapa kali sambil menyebut nama Gilbert. Tian menemukan kursi kosong di bar dengan dua orang barista laki-laki yang sibuk bermain dengan gelas dan air keras. Tian menghela napas panjang. Menjunjung jari telunjuk kanan sambil berteriak, “Air mineral.” Tak menunggu lama, seseorang menepuk pundak Tian. Beruntung, bau parfum menyengat yang hanya dimiliki Gilbert tercium tepat sebelum seorang wanita dengan kaki jenjang telanjang berpakaian mini hendak mendekati pria yang tampan kesepian. “Gila lo, ya! Nggak ada tempat lain apa?” cecar Tian begitu Gilbert duduk di kursi sampingnya. “Sorry banget, Broder. Client gue pemilik club malam ini. Jadi mau nggak mau meeting point-nya disini,” jelas Gilbert yang menggunakan baju santai. Kaos hitam dengan celana jeans. “Bilang aja lo sekalian mau dugem, kan?” tuduh Tian yang tepat pada sasaran. “Memangnya ada kasus apa?” Gilbert tertawa seraya berkata, “Cuma orang dewasa aja yang boleh tahu.” “Maksud lo? Tahun ini gue jalan dua puluh sembilan.” “Hahaha. Orang dewasa nggak pesan air mineral kalau lagi di bar,” tunjuk Gilbert ke dua gelas beling mungil dengan cairan berwarna sama. Sama-sama bening. Tian memandang Gilbert dengan penuh selidik. Bagaimana ia bisa membedakan antara Vodka dengan air mineral biasa hanya dengan melihatnya. Itu artinya, dunia malam sudah menjadi bagian dari sahabat yang sudah lama tak ia jumpai. “Udah, lah. Ayo pergi dari sini. Cari tempat lain. Pusing gue lama-lama di sini tahu, nggak?” Tian meneguk isi gelas sekaligus, membuat mata Gilbert melotot. Mulut Gilbert menganga akibat terkejut. Gilbert sempat menghela napas lega melihat Tian yang biasa saja. Ia justru menatap Tian curiga, jika tak ada respon apapun, itu artinya ini bukan pertama kali Tian mengkonsumsi minuman beralkohol. “Wait,” Tian menngelus dadanya, merasakan sensasi terbakar di dalam tubuhnya. “Gue kayaknya demam, deh.” Tian mengecek suhu tubuh melalui kening, lalu menepuk dadanya sedikit kuat. Tak lama, ia memijat kening. Dengan panik Tian menatap sekelilingnya yang berputar-putar. Ia seperti berada di atas kapal yang terombang-ambing di ombak besar. Setelahnya, Tian tak sadarkan diri. --- 2007 Libur selama empat hari membuat tiga sekawan sibuk memikirkan rencana apa yang akan mereka lakukan untuk membunuh waktu. “Aku mau ke rumah ibuku di luar kota,” ucap Glo bicara lebih dulu. Gilbert menggaruk kepalanya yang tak gatal. “Gue mau ke Jakarta. Mumpung minggu depan libur karena kelas sembilan ujian. Gue mungkib berangkat dari hari Sabtu. Kalau lo gimana?” Gilbert menatap Tian. “Don’t worry, aku bakal liburan di tempat yang paling nyaman di dunia.” Gilbert menatap takjub. “Orang kaya memang beda.” Glo menyandarkan tubuhnya ke pinggir kasur Tian. “Apanya? Maksud Tian, dia bakal ada di sini. Di tempat ini selama liburan,” ucap Glo menunjuk langit-langit kamar Tian. “Ya ampun. Lo nggak liburan kemana gitu? Kenapa? Keluarga lo kurang harmonis, ya?” Tian melempar tubuh Gilbert dengan kertas yang ia gumpal. “Keluarga kurang harmonis kayak keluargaku aja liburan, lho,” tukas Glo membuat dua laki-laki yang menggaruk tengkuknya terdiam. “Bukan itu maksud gue. Nggak ngerti bercanda, nih orang.” “Kamu yang bercandanya nggak pada tempatnya,” tegur Tian setengah berbisik. “Lo nggak masalah kita tinggal, kan?” ucap Gilbert mengalihkan. Tian mengangguk. Baginya, justru hari itu adalah hari yang ia tunggu-tunggu. Bersantai, tidak mendengar kebisingan di rumah yang ditimbulkan kedua kawannya. Selama empat hari, Tian hanya bersantai. Membaringkan tubuhnya di atas kasur, membaca komik dan menonton TV yang ada di kamarnya. Ia juga tak mandi jika Mrs.Branwyn tidak menggedor pintu kamar dengan keras dan berteriak, “Mandi atau Mamah akan berhenti jadi ibu kamu?” ancamnya. Bersantai, mengkonsumsi junk food dan minum soda, membuat bobot tubuh Tian naik lima kilo. Total, beratnya nyaris mencapai delapan puluh kilo gram. Hal itu membuat pasangan Branwyn hanya bisa menggelengkan kepala. “Kamu baik-baik aja dengan berat badanmu?” tanya Mr.Branwyn khawatir ketika mereka sedang melangsungkan makan malam. “I’m good, Dad. I love myself,” jawab Tian sambil dengan lahap memasukkan dua ayam goreng tepung bagian paha ke dalam mulutnya. Pertanyaan yang sama dilontarkan ketika Tian sudah mulai masuk sekolah. Pipi Tian semakin gembul dan ia mulai malas menggerakkan tubuhnya. “Kamu nggak apa-apa?” tanya salah satu siswa laki-laki yang melihat Tian duduk sendiri di bangkunya ketika jam istirahat. Tian hanya melamun, melewati makan siang. Tian hanya mengangguk, mengatakan bahwa ia baik-baik saja. “Oh, iya. Gilbert nggak masuk?” tanya Tian yang tidak melihatnya sejak pagi. Tian pikir ada masalah dengan penerbangannya atau ada masalah yang membuat Gilbert tak bisa pulang. “Kamu nggak tahu? Bukannya kamu teman dekatnya, ya?” ucap siswa itu yang juga seorang wakil ketua kelas. Alis Tian bertaut, wajahnya menampakkan ekspresi penasaran dan meminta agar siswa itu menjelaskan maksud dari ucapannya. “Tadi pagi Tante dan Omnya Gilbert datang ke sekolah temui wali kelas kita. Mereka bilang, Gilbert nggak sekolah lagi di sini. Dia harus ikut Papahnya yang tentara itu dinas lagi di Jakarta. Makannya semua tugas Gilbert aku yang handle dulu.” Ekspresi Tian berubah menjadi kesal. Tak ada pemberitahuan atau kabar selama liburan dari Gilbert. Apalagi mereka tidak membicarakan apapun tentang kepindahan Gilbert. “Mendadak, ya?” tanya Tian berusaha berpikir positif. Siswa itu menggeleng. “Gilbert udah urus berkasnya dari bulan lalu. Kamu benar-benar nggak tahu?” Tak ada jawaban dari Tian. Ia hanya mendengus kesal dan mulai membenci sahabatnya sendiri. “Tian!” pekik suara gadis sambil mendobrak pintu kelas yang tadi tertutup setengah. Pikiran Tian yang penuh kini kosong kembali. Tian dan siswa itu menatap sumber suara. Mereka ingin marah awalnya. Namun, melihat gadis semampai bertubuh langsing dengan kulit sawo matang masuk dan bejalan mendekati mereka berdua yang masih melamun. “Tian. Kamu udah dengar? Gilbert pindah sekolah. Anak cewek di kelasku histeris, tuh.” “Kamu Glo?” ucap Tian yang linglung. Glo menatap Tian dan siswa bernama Burhan bergantian. “Siapa lagi?” tanya Glo kesal. Siapa yang akan pangling ketika melihat Glo yang tidak mengganti kulit gelapnya menjadi kecokelatan. Wajahnya tirus, tubuhnya menjulang dan rambut hitam lembutnya dipotong pendek. Tian mendapat dua kejutan sekaligus dari dua sahabatnya. “Burhan,” ucap siswa yang daritadi memegang buku tebal sambil menjulurkan tangan. “Apaan, sih.” Glo menepis tangannya. “Kita udah kenal Burhan. Kita, kan satu Ekstrakulikuler.” “Apa? Kalian satu Ekskul? Apa?” tanya Tian ketus. “Karate,” jawab Burhan dan Glo bersamaan karena mereka tak tahu pertanyaan itu ditujukan pada siapa. “Awas aja. Kalau sampai aku lihat Gilbert lagi, bakal aku patahin tulang belikatnya,” ucap Glo sambil memeragakan atlet karate yang sedang mematahkan papan kayu di depannya. “Kita kan baru pertemuan satu kali kemarin. Belum sampai ke materi itu,” ucap Burhan. “Aku bakal rajin masuk latihan supaya bisa hajar itu orang,” balas Glo percaya diri. “Udah dulu, ya. Di kelasku lebih ramai daripada di sini.” Glo membalikkan tubuhnya dan hendak pergi. Namun, ia urungkan niat lalu kembali menatap kedua siswa yang masih takjub dengan perubahan Glo. “Oh, iya. Kalau Gilbert pindah, yang jadi ketua kelas nanti siapa?” tanya Glo. Pertanyaan yang sama yang dilontarkan oleh wali kelas Tian setelah menjelaskan kalau Gilbert sudah non-aktif per hari ini. “Saya!” ucap Tian dengan cepat sambil mengangkat tangannya tinggi-tinggi. Kini ia tak lagi kesal dengan Gilbert. Justru ia harusnya berterima kasih karena sudah memberikan posisi menjadi siswa nomor satu di kelas. Tian tersenyum sambil menatap buku haram peninggalan Gilbert yang masih tertumpuk dengan buku paket milik Gilbert yang tak ia bawa di laci meja. --- 2022 Terpaan sinar matahari pagi membuat Tian terbangun karena merasakan hangat di wajahnya. Dengan kepala yang masih sakit, perlahan Tian bangkit dan duduk dengan benar di atas sofa empuk yang menjadi kasurnya tadi malam. Kepalanya menunduk, berat. Membuat kedua tangannya sibuk memijat keningnya. Ia melihat sekilas pakaian yang ia kenakan tadi malam, belum ia ganti. “Udah pagi? Perasaan tadi aku masih ngobrol sama Gilbert,” gumamnya dengan suara yang serak. “Percuma punya badan roti sobek kalau kalah sama alkohol?” suara yang bukan miliknya tiba-tiba menyambar, membuat jantung Tian memompa darah lebih cepat akibat terkejut. “Gilbert?” tanyanya kaget. “Kenapa? Lo kayak baru pertama kali liat gue aja.” Gilbert datang mendekat dari arah dapur dengan secangkir s**u hangat. Tia mengusap kepalanya. “Gue nggak ingat apa-apa? Semalam gue kenapa, sih?” Gilbert menghela napas panjang. “Sebelumnya gue mau minta maaf dulu. Gue nggak tahu kalau lo nggak kuat minum. Semalam lo mabuk parah padahal lo cuma minum satu gelas tahu nggak? Itu pun nggak sengaja gara-gara ketuker sama punya gue.” Tian membanting punggungnya ke sandaran sofa dengan kuat. “Gue nggak sengaja minum minuman lo, mabuk, terus lo langsung bawa gue pulang, kan? Udah, kan? Sesimpel itu, kan?” Gilbert meringis. Ia menatap Tian ngeri. Tubuhnya menggigil. “Gue bersumpah, gue nggak bakal ngajak lo mabuk lagi,” ucap Gilbert sambil mengangkat tangan bak Presiden yang dilantik. Malam sebelumnya... “Woi! Yang keras lagi musiknya! Gue nggak dengar, nih!” pinta Tian berteriak di tengah-tengah orang yang sedang menari. Gilbert yang berdiri di sampingnya beberapa kali hendak menutup mulut Tian yang berisik. Ia panik, melihat kawannya yang hiperaktif. “Hai, Mbak.” Kini Tian menyapa wanita yang tersenyum ke arahnya. “Kenapa? Muka gue ganteng, kan? Gue capek tahu nggak? Gue capek jadi orang ganteng,” racau Tian dengan nada khas orang mabuk. “Nih, lihat.” Tian memegang pipi Gilbert yang empuk. “Kalau bisa gue tukar sama muka dia. Hahaha.” Tubuh Tian yang mulai tak seimbang harus Gilbert papah. Gilbert beberapa kali mengajaknya pulang. Namun karena tubuh Tian lebih besar dan Tinggi, Tian bisa melawan dengan mudah. “Tapi percuma gue berubah jadi ganteng! Gue nggak bisa dapetin satu cewek yang gue suka lamaaaaa banget,” ucap Tian yang lengan kanannya sudah dilingkarkan ke leher Gilbert. “Kalau aja dulu dia nggak berubah jadi cantik, putih dan feminin, gue juga nggak bakalan berubah jadi ganteng. Saingan gue banyak! Banyak! Hahaha!” Kedua tangan Tian ia rentangkan lalu ia angkat bak seseorang yang sedang meminta hujan. “Mungkin karena dia bukan cewek murahan kayak cewek-cewek di sini dan di luar sana. Hahaha!” Tian semakin tak terkendali. Wanita dengan riasan tebal dan baju terbuka itu mendekati Tian, lalu menamparnya. “Maksud lo apa? Hah?” “Maaf... maaf, Mbak. Teman saya lagi mabok berat,” ucap Gilbert panik. Sedangkan Tian hanya memegangi pipi kanannya yang memerah sambil tertawa. “Teman Mas ini sudah melecehkan wanita tahu nggak!” ucap wanita asing itu yang juga berbau alkohol. “Maaf, banget. Sekali lagi saya minta maaf.” “Dia itu angsa hitam yang berubah jadi angsa putih,” lanjut Tian yang tak peduli. “Maaf,” ucap Gilbert sekali lagi. “Eh, ada Glo.” Tian menunjuk wanita di hadapannya yang menatapnya bingung. Tian mengerjapkan mata, baru sadar bahwa wanita di hadapannya bukan wanita yang ia kenal. “Bukan... bukan. Glo lebih cantik daripada dia, hahaha... huwek...” Isi perut Tian ia keluarkan di lantai membuat semua orang heboh dan menjauh. Hal itu memancing keributan karena banyak orang yang protes, membuat mereka diusir.   “Nggak lagi gue mabuk... nggak lagi gue mabuk... nggak lagi gue mabuk...” rapalnya berkali-kali sambil menjambak rambutnya sendiri. Drrrttt... Ponsel Tian bergetar. Pesan masuk memenuhi layar ponsel. ‘Perihal pembicaraan semalam, aku tunggu penjelasan kamu waktu aku jemput kamu di bandara.’ Mata Tian tak berhenti membaca pesan dari Glo berkali-kali. Dengan cepat ia melempar ponsel lalu menarik kerah baju Gilbert. “Lo pakai baju gue?” tanya Tian ketus. “Baju gue lo muntahin semalam. Lo kenapa, sih?” Gilbert berusaha melepaskan tangan besar Tian di kerah bajunya. Namun, Tian malah mempererat genggamannya. “Jelasin ke gue sekarang, gue bilang apa ke Glo semalam?”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD