2006
Glo menopang dagunya di kusen jendela kamar di lantai dua, menatap kosong pemandangan kebun pisang tak berbuah yang ada di belakang gedung kos milik sang ayah. Sudah empat hari terkurung di kamar, ia menerka-nerka. Mungkin hari ini seharusnya ia sudah menggunakan seragam baru dengan warna yang lebih gelap.
Rasa kram di perutnya seharusnya sudah perlahan menghilang. Namun, ketika ditanya sang ayah apakah ia merasa lebih baik, Glo menjawab dengan jawaban konsisten, “Masih kram, Yah. Darahnya masih deras.”
Tak ada wanita di sekitar keluarga minimalisnya. Sang ayah tak mengerti apa yang dirasakan dan dihadapi wanita ketika kedatangan tamu di tanggal tertentu di setiap bulannya. Ia punya dua kakak dan satu adik. Tapi semuanya laki-laki. Ibu dan mantan istrinya juga tak pernah menjelaskan bagaimana alur proses dan apa yang harus dihadapi ketika mengalami menstruasi yang pertama kalinya dalam hidup. Pelajaran IPA ketika sekolah tak membantunya. Karena tetap saja jika ia mencari informasi di buku maupun bertanya dengan orang di sekitar, ia tak tahu bagaimana rasanya. Jadi, jalan satu-satunya ia hanya bisa bertanya kepada Glo yang tak mau tidur di kamarnya sendiri. Ia percaya dan menatap Glo khawatir, walau sebenarnya Glo sedang berbohong.
Ia hanya bereaksi berlebihan. Glo pingsan saat melihat darah keluar dari tubuhnya. Pagi itu Glo terpaksa ke tolitet yang bau pesing di sekolahnya. Walau toilet siswa dibedakan sesuai gender, tetap saja tak ada yang peduli. Asal kosong, mereka akan masuk ke toilet manapun. Ia merasa ingin buang air besar. Namun, yang ia dapat adalah bercak darah di celana dalamnya. Tak ada yang memperingati Glo ketika darah sudah merembes sampai ke rok. Itu karena warna darah dan warna rok yang sama. Ia berlari, meminta bantuan. Tapi, tubuhnya terlanjur lemas. Ia tak ingat apa-apa lagi ketika ia berada di depan kelasnya.
Glo berbohong karena dua alasan. Alasan pertama, ia malu. Walau sudah lewat beberapa hari, teman-temannya pasti akan bertanya apa yang terjadi dengannya ketika ia masuk sekolah.
Tok! Tok!
“Glo. Teman kamu datang,” ucap Martono dari balik pintu berbahan triplek.
Glo menoleh dengan semangat. “Siapa, Yah?”
“Sama seperti yang kemarin. Keen namanya,” sahut Martono.
Pundak Glo layu. Terdapat penuh kekecewaan di wajahnya.
“Bilang aja Glo lagi tidur, Yah.” Glo kembali menopang dagunya, melamun lagi.
“Ish! Dia kemana, sih. Dulu waktu dia sakit aku jenguk setiap hari.” Glo menonjok-nonjok angin.
Tok! Tok!
“Yah, bilang aja aku lagi tidur.” Wajah Glo merengut, kesal.
“Oke. Kalau begitu aku datang lagi besok,” sahut suara gugup pria yang bukan milik sang ayah.
Mata Glo terbelalak. Dengan cepat ia melompat turun dari meja berbahan kayu yang ia jadikan tempat duduk, membanting diri ke kasur sampai besi peyangganya berdecit.
“Uhuk! Masuk,” ucap Glo sambil terbatuk yang dipaksa.
Pintu terbuka. Glo cepat-cepat menarik selimut sampai menutupi seluruh tubuhnya kecuali bagian kepala. Matanya ia sipitkan agar memberi kesan sayu, berat karena melawan kantuk. Glo meringkuk, kedua tangannya bertumpuk di atas perutnya. Ia mengulum bibir, menyembunyikan bibir merahnya karena tak pucat.
Suara langkah kaki masuk mendekat. Tak langsung duduk, mata khawatir menatap Glo lekat. Kedua tangannya ia genggam, menahan rasa ingin menyentuh kening Glo, ingin memastikan apakah ia demam atau tidak.
“Hai, Glo. Apa kabar?” tanyanya tiba-tiba.
Glo balas menatapnya, kesal. Ia bangkit dan duduk dengan punggung bersandar di papan kayu, salah satu bagian ranjang.
“Telat tahu nggak kalau kamu tanya kabar sekarang,” ucap Glo ketus.
Tian membuang pandangan, merasa bersalah. Menggigit bibir, tak ingin mengatakan alasan sebenarnya.
“Seharusnya belum jam pulang sekolah?” tanya Glo setelah melihat jarum jam di dinding yang sama-sama menunjuk angka satu.
Tian hanya mengangguk. Perlahan ia duduk di pinggir ranjang.
“Kamu dicari anak-anak, tuh.” Giliran Glo yang mengangguk. “Kamu udah baikan?” Glo mengangguk lagi. “Tadi Keen datang jenguk kamu.”
“Kak! Pakai ‘Kak’. Nggak sopan!”
“Oke. Aku panggil Kak karena dia udah gendong kamu dari kelas sampai ke UKS.”
“Kalau kamu, apa yang kamu lakukan?”
“Kamu pikir aku diam aja? But i can do nothing, sorry.”
“Tapi setidaknya kamu bisa jenguk, kan?”
Tian mengangguk. Menerima hasil dari sifat pengecutnya.
“Maaf, karena buru-buru aku nggak bawa apa-apa.”
“Oke.” Glo mengedikkan bahu sekali. “Jadi, kamu nggak calonkan diri jadi ketua kelas?”
“Memangnya harus aku jadi ketua kelas?”
Glo mengangguk semangat. “Jadi pemimpin itu keren. Lihat Ayah kamu. Aku nge-fans banget.” Glo menengadah ke langit-langit sambil menautkan jemarinya.
Tian hanya menatap bingung sambil tersenyum paksa.
“Kak Keen juga. Dia itu ketua OSIS, kapten basket dan ketua regu Pramuka.”
Tian menggaruk kepala yang tak gatal. Keen lagi, batinnya.
“Gilbert? Dia jadi ketua kelas. Menurut kamu dia keren?”
Glo mengangguk semangat. “Keren banget. Banyak anak cewek di kelas aku yang suka sama dia.”
Tian menatap Glo dengan penuh selidik. Kesal, ia rela membolos hanya untuk mendengarkan omong kosong Glo. Rasanya ia juga ingin tak masuk sekolah karena hatinya yang sakit.
“Kamu cepat masuk sekolah, deh. Biar bisa lihat cowok kerenmu itu,” sindir Tian dengan nada ketus.
“Ide bagus,” balas Glo setuju.
Tian mengusap wajahnya dengan kasar, melampiaskan amarahnya yang hanya ditertawakan oleh Glo.
Sore itu, Tian pulang setelah lama membicarakan apapun yang Glo lewatkan selama ia sakit. Sebenarnya Glo yang lebih dominan berbicara. Sedangkan Tian, ia memang benar-benar pendengar yang baik.
Glo melambaikan tangan di balkon kos, mengantarkan Tian yang mulai menjauh dari pandangannya.
“Sudah sehat? Buktinya udah mau keluar kamar,” goda Martono menyenggol lengan Glo. Ia membawa alat pel, waktunya membersihkan kos yang sepi.
Glo mengangguk dengan penuh semangat. “Besok Glo mau pakai seragam baru. Ah, sayang banget Glo nggak masuk kemarin. Padahal Glo terpilih jadi kandidat ketua kelas—“ dan seterusnya. Glo mengulang lagi apa yang ia bicarakan dengan Tian.
Apa yang ditunggu Glo sudah tiba. Hari dimana hari terakhir Glo berkata bohong kepada ayahnya. Besok, ia kembali ke sekolah. Ia sudah menyiapkan jawaban ketika teman-temannya bertanya. Sekaligus, alasan kedua Glo mogok sekolah sudah terpenuhi.
---
2022
Glo menggigit ujung kuku jempol kirinya. Kakinya tak bisa berhenti bergerak naik turun hingga sebuah tangan besar dengan permukaan kasar menyentuh lututnya untuk menghentikan gerakan kaki Glo yang membuat meja kayu persegi empat bergetar. Bahkan kuah ramen panas yang belum di sentuh Glo menciprati kotak tisu di sampingnya.
“Kenapa? Kamu gelisah banget?” tanya Fajar yang kehilangan selera makannya melihat Glo yang tak seperti biasanya. Ia berpikir ia melakukan kesalahan hingga membuat mood Glo hilang.
Glo tersenyum sambil menggeleng. Menutupi kecurigaan Fajar yang benar. Mencoba mengalihkan, Glo menyisir rambut dengan jemarinya lalu membuat benjolat bulat. Wajah mungilnya tampak semakin manis, membuat lawan bicaranya tak bisa mengalihkan pandangannya. Trik Glo berhasil. Tak ada lagi percakapan yang menyinggung tentang apa yang dirasakan Glo.
“Aku ke toilet sebentar,” ucap Fajar berpamitan setelah menepuk pucuk kepala Glo pelan.
Dengan cepat Glo menyambar tas miliknya yang tergantung di kursi. Tak sulit menemukan benda pipih di tas mininya. Lalu ia mengecek agenda di ponsel yang sudah ia tulis di setiap awal tahun. Glo mencatat apa-apa saja hari penting yang harus di prioritaskan setiap tahun. Salah satunya, tanggal 14 Februari. Glo tidak bisa menjelaskan bagaimana rasa kecewa yang ia rasakan. Jika ibaratkan makanan, rasanya seperti rasa cokelat dicampur dengan kuah ramen pedas yang ada di hadapannya. Benar-benar tidak enak bahkan untuk dibayangkan.
Ujung jari telunjuk ramping kanannya mengetuk lama salah satu agenda bertuliskan ‘Branwyn’s Sucks Day’ lalu menekan tulisan ‘Hapus’.
Lalu, Glo membuka aplikasi w******p. Banyak notifikasi yang masuk daritadi, namun tak ada satupun dari Tian, pesan yang sudah lamaia tunggu. Terdapat nama Keen yang mengiriminya pesan dua jam lalu.
‘Gimana hasilnya?’
“Tidak berjalan dengan lancar.”
Lalu Glo mencari kontak atas nama Yosia yang jauh tenggelam di ruang chatt terbawah. Memang sudah beberapa minggu ini tak ada komunikasi antara Glo dan sahabat kembarnya.
“Yo, ada yang mau aku bicarakan.”
Tak lama, dengan gerakan cepat Glo mencari nama ‘Terduga ODGJ’ lalu mengiriminya pesan.
“Tian, tunggu aja. Langkah pertama lo pijakkan kaki di kota ini, bakal gue pastikan itu juga langkah terakhir lo!!!”
Glo menekan setiap papan huruf dengan keras, melampiaskan amarahnya seolah-olah ponselnya adalah perut kotak-kotak milik Tian yang ia bayangkan tubuhnya ia jadikan sasak tinju.
Glo sudah tidak bisa menahannya. Ia pikir Tian memang sengaja membuat Glo menunggu, sengaja membuat Glo bertindak lebih dulu. Jika memang benar dugaan Glo, itu artinya Tian berhasil membuatnya mencari Tian lebih dulu, seperti yang biasa Tian lakukan setiap mereka bertengkar.
Glo memang harus bertindak lebih dulu kali ini. Sebelum Tian tahu banyak tentang apa yang tak boleh Tian tahu. Glo tidak bisa membayangkan bagaimana raut wajah benci yang akan Tian tampakkan jika ia tahu kalau Glo sedang berkencan dengan pria yang baru saja kembali dari toilet.