Milo

1614 Words
Nicolin memandu, berjalan paling depan sementara keempat pelayan Gilbert yang lain menyeret-nyeret tubuh-tubuh babak belur para penyusup yang mereka hajar habis-habisan. Untuk ukuran manusia, apa yang mereka lakukan lumayan sadis. Nicolin bahkan ragu para penyusup itu sebagian besar masih hidup. Kalau pun mereka masih hidup, jika Gilbert tidak memerintahkan apapun dan hanya menyuruh mereka untuk meninggalkannya di penjara bawah tanah, maka Nicolin dan yang lain juga tidak akan melakukan apapun. Membiarkan mereka mati dan membusuk adalah hal yang paling benar. Milo, Charly, Darius, dan Mila bekerja sama untuk mengikat tubuh-tubuh mereka pada tiang-tiang di salah satu ruangan besar yang ada di bawah tanah. Ketika mereka menuju ke sana, dokter Albert tidak sengaja bertemu karena ia sedang membereskan catatan-catatannya. Milo bersumpah ia melihat raut ketakutan hebat di wajah dokter itu saat melihat dirinya dan juga ketiga temannya menyeret banyak tubuh-tubuh babak belur yang tampak mengerikan. “Kita apakan mereka?” Tanya Milo. Nicolin mengangkat bahu. “Tuan Muda belum memberikan perintah apapun mengenai mereka. Jika tidak ada perintah dari Tuan Muda, maka biarkan saja tubuhnya mati dan membusuk.” Bibir Milo menarik seringai menyeramkan. “Kenapa tidak kita siksa saja sampai mati? Sekalian kita paksa mereka untuk mengatakan siapa dalang di balik semua ini. Seperti katamu, mereka tidak mungkin secara random mendatangi rumah seorang bangsawan jika tidak ada tujuan pastinya. Tuan Muda pasti juga tidak akan keberatan jika kita lakukan itu. Informasi dari mereka pasti berguna untuk Tuan Muda ‘kan.” Nicolin menggeleng. “Tidak. Tidak boleh ada yang menyentuh mereka sebelum Tuan Muda secara resmi memberikan perintah.” Milo mendengus. “Iya… iya…” Milo tidak berniat untuk melawan sama sekali. Di antara Milo, Charly, Darius, dan Miya, hanya Milo saja yang selalu berinisiatif untuk berbagai macam hal. Ia memiliki kontur wajah yang manis, dengan mata yang lebar dan selalu tampak berkilauan seperti anak kecil. Kemudian  tubuhnya lebih kecil dari pemuda seumurannya, ia sangat kuat meski tubuhnya terlihat kurus dan rapuh. Secara visual, tampilan Milo adalah kebalikan dari sifat dan kemampuannya. Ia lebih seperti seorang adik kecil yang harus dilindungi daripada seorang pelayan berkemampuan fisik mumpuni. Milo yang pertama direkrut Gilbert untuk menjadi pelayannya. Gilbert menemukannya pada sebuah bangunan tua yang penuh dengan ramuan-ramuan aneh, boneka-boneka sihir, dan juga buku-buku mantra berbahaya. Ia terikat kuat pada sebuah tiang panjang dan hanya mengenakan pakaian tipis yang koyak. Hampir seluruh tubuhnya penuh sayatan, beberapa bagian meninggalkan sisa darah yang mengering. Ia adalah subjek percobaan penyihir, yang menggunakannya sebagai tumbal untuk ambisinya. Gilbert datang sebelum terlambat, ia menyuruh Nicolin untuk menghancurkan seluruhnya, kemudian mereka membawa Milo pulang ke mansion Grey. Milo bukanlah nama aslinya, Gilbert yang memberikan nama itu. Gilbert memintanya untuk melupakan masa lalunya, dan menganggap dirinya yang dahulu telah mati. Ia tidak perlu lagi mengingat-ingat rangkaian tragedinya di masa lalu, dan hiduplah kembali dengan nama baru dan juga kehidupan yang baru. Sebagai Milo; pelayan Gilbert Grey. “Kau adalah Milo, kau pelayanku. Pelayan Gilbert Grey.” Kalimat itulah yang dikatakan Gilbert pertama kali ketika Milo membuka matanya usai sembuh dari seluruh luka yang ditinggalkan penyihir itu. Milo menganggu, tidak berniat melawan sama sekali. Sebagian karena ia bahkan masih belum beradaptasi dengan di mana dirinya, siapa yang berada di hadapannya, dan mengapa ia bisa berada di sana. Gilbert memberikan kain kecil seperti handuk, dan membuat bordiran dengan nama Milo di ujung sisi kanannya. Milo menerima itu, menjaganya seolah harta itu berharga. Lagipula, memang itu adalah hadiah pertama yang diterima Milo selama dia hidup. Selama Milo berada di mansion Grey, Gilbert menempatkannya untuk mengurus taman. Sebelumnya taman itu adalah kesukaan Nyonya Inona Grey yang merupakan ibu Gilbert. Meski tentu saja Milo jauh lebih banyak merusaknya daripada merawatnya dengan baik karena ia tidak mengerti. Selama itu pulalah Nicolin sebagai pelayan utama Gilbert mencari informasi-informasi mengenai Milo dan mengapa dia bisa berada bersama penyihir yang menggunakannya untuk pratik sihir di bangunan tua itu. Belakangan diketahui bahwa Milo dibesarkan oleh penyihir itu sejak bayi. Ia diculik dari sebuah keluarga sederhana di pedesaan. Ia adalah anak satu-satunya, yang dilahirkan setelah bertahun-tahun keluarga itu kesulitan memiliki anak. Sayangnya, kemudian kehilangan Milo membuat sang ibu frustrasi dan memutuskan untuk mengakhiri hidupnya sendiri. Tidak lama setelah itu, sang ayah yang depresi karena ditinggalkan oleh putera dan istri tercintanya menyusul dengan menenggak racun. Berbagai kepercayaan tentang ilmu sihir berkembang pesat di zaman ini. Gilbert sudah berkali-kali menyaksikan banyak wanita-wanita yang dibakar hidup-hidup oleh pihak Kerajaan karena dicurigai sebagai penyihir. Entah faktanya mereka itu benar-benar penyihir atau sekadar ketakutan pihak Kerajaan yang berlebihan hingga mereka langsung mengeksekusi yang bersangkutan tanpa penyelidikan lebih lanjut. Memang kejam, tetapi seperti inilah realita zaman. Sebagai akibat dari subjek percobaan ilmu sihir yang dilakukan wanita penyihir yang menculik Milo sejak bayi, tubuh Milo menjadi beradaptasi dengan berbagai macam ramuan, dan juga mantra-mantra tidak logis yang dibebankan kepada tubuhnya sejak kecil. Tubuhnya menjadi berkali-kali lebih kuat dari manusia biasa, penciumannya menajam, membuatnya bisa mengenali aroma manusia-manusia yang pernah ditemuinya dan mengingatnya secara otomatis. Milo hidup dengan kemampuan itu tidak serta-merta membuatnya senang. Ketika Nicolin pertama kali membawanya ke mansion Grey, ia merasakan berbagai aroma yang asing di indera penciumannya, padahal ia yakin sekali mansion itu hanya berisi Gilbert Grey dan Nicolin. Gilbert Grey memiliki aroma yang sangat khas, membuat Milo benar-benar tidak bisa melupakannya, membuatnya menjadi aroma yang paling keras untuk indera penciumannya. Lalu Nicolin, pelayan itu memiliki aroma yang aneh, tidak biasa, dan Milo sulit mendeskripsikan bagaimana sebenarnya bau Nicolin. Seharusnya Milo hanya mencium bau mereka berdua, tetapi tidak. Ia mencium banyak bau lain, yang sebagian besar tercampur dengan bau darah dan bau terbakar. Ia penasaran, ingin sekali menanyakannya. Namun, bahkan hingga sekarang ia tidak pernah berani untuk menanyakan hal itu meski hanya kepada Nicolin. “Milo! Milo! MILO!” “Uh oh?” Milo mengerjapkan mata. Miya menatapnya lekat, dengan kening berkerut dalam. Darius dan Charly tidak kalah bingung menatapnya. “Eh, sorry. Aku hanya sedang melamun.” Miya mencebik. “Jangan berani-berani berpikir untuk mengabaikan perintah Nicolin. Tuan Muda pasti akan memarahimu, lho.” Milo mengibas-ngibaskan telapak tangannya. “Tidak kok. Lagipula Tuan Muda tidak pernah marah.” Kalimat terakhir dikatakan Milo dengan pelan. Sebagian karena sejak pertama Gilbert membawanya kemari sampai detik ini, dia tidak pernah memarahinya, namun sebagian lagi karena Milo tidak yakin jika Gilbert benar-benar tidak marah. Bisa jadi selama ini Gilbert sebenarnya marah, hanya saja dia memiliki kontrol diri yang kuat sehingga tetap tampak tenang. Charly menarik tangannya, membuat Milo terhuyung-huyung dan memaki-maki tingkahnya yang seenaknya. Milo masih menyempatkan diri untuk menoleh, menatap para penyusup itu dalam raut kebencian mendalam. Sungguh, ingin sekali ia menyiksa mereka hingga mati. --- Nicolin meninggalkan mereka berempat usai sekali lagi memberikan peringatan untuk tidak mencoba-coba menyelinap masuk ke ruang bawah tanah. Milo yang paling dicurigai dan membuatnya mendapat peringatan paling keras dari Nicolin. Milo memang ingin sekali membobol ruang bawah tanah dan menghabisi seluruh tawanan itu. Tetapi ia tidak sebodoh itu astaga. “Dengar itu, Milo.” Seru Miya. Milo memutar bola matanya bosan. “Aku dengar, Miya. Tidak perlu mengulangi apa yang dikatakan Nicolin.” Charly bersidekap. “Tapi kau memang kadang-kadang suka mengabaikan perintah Nicolin, lho.” Darius mengangguki sebagai dukungan. Milo memalingkan wajah, mendecih kesal. “Tapi Nicolin bukan Tuanku, Tuanku itu Tuan Muda Gilbert.” “Nicolin itu kepercayaan Tuan Muda. Lagipula tidak mungkin Nicolin memerintahkan kita sesuai keinginan dia saja, pasti semua perintah itu datang dari Tuan Muda. Kau pikir Tuan Muda akan repot-repot mendatangi kita dan mengatakan perintahnya secara langsung? Jangan bercanda.” Jelas Miya. Iya. Milo sudah tahu semua itu. Lagipula yang membawanya ke mansion Grey adalah Nicolin. Ia tidak bisa mempercayai Nicolin karena sejak awal Milo mencium bau aneh darinya. Bau yang tidak bisa ia jelaskan dan jelas-jelas bukan bau manusia pada umumnya. Milo tidak tahu berapa lama tepatnya Nicolin menjadi pelayan Gilbert Grey, ia juga tidak tahu latar belakang Nicolin, ia tidak tahu mengapa mansion semegah ini hanya ditinggali orang seorang Tuan dan pelayan, ia tidak tahu mengapa Gilbert merekrut orang-orang sepertinya alih-alih pelayan yang sebenarnya. Ia tidak tahu banyak hal, sementara hidungnya terus mencium bebauan yang mengganggu, yang membuatnya penasaran dan ingin menyelidiki segalanya demi memenuhi hasrat di hatinya. Milo baru tahu bahwa seluruh keluarga Grey meninggal karena kebakaran karena tidak sengaja membaca surat kabar yang sudah kusut dan tertinggal di dekat perapian. Tidak ada keterangan yang menarik selain berita bahwa bangsawan terkenal Grey meninggal dalam kebakaran. Tidak ada sama sekali informasi mengapa terjadi kebakaran, seolah si penulis berita memang tidak tahu apa-apa. Ada banyak misteri di sekitar Gilbert Grey, termasuk misteri siapa Nicolin dan mengapa ia menjadi pelayan Gilbert Grey. “Kalian benar-benar mempercayai Nicolin ya.” Ujar Milo sembari terkekeh. “Kami mempercayai Nicolin karena Tuan Muda melakukannya. Jangan meributkan hal-hal yang  tidak penting dan fokus saja melayani Tuan Muda.” Seru Darius sedikit meninggikan suaranya. Milo menatap ketiga temannya dalam diam. Sama sekali tidak ada keraguan di mata mereka saat mendukung Nicolin terlepas dari fakta mereka benar-benar mempercayai Nicolin atau sekadar menghormatinya karena ia yang paling dekat dengan Gilbert. Mungkin akan lebih baik jika ia bisa bersikap seperti Charly, Miya, dan Darius. Mempercayai Nicolin sebagai bentuk menghormati Gilbert adalah jalan yang benar, dan seharusnya memang begitu. Tapi Milo tidak bisa mengabaikan apa yang ia rasakan, termasuk bagaimana ia masih mencium bau yang sangat aneh dari Nicolin sejak pertama kali bertemu hingga sekarang. Milo mengangkat bahu, memasang wajah konyolnya yang biasa. “Akan kuusahakan.” Katanya. Ya, akan ia usahakan meski Milo tetap tidak yakin dengan hal itu. Pada kenyataannya, Milo lebih condong yakin terhadap kata hatinya ketimbang rasa tanggung jawab untuk mempercayai Nicolin sebagai cara menghormati Gilbert. Apapun itu, satu hal yang pasti hanya bahwa ia akan tetap mempercayai Gilbert, dengan atau tanpa harus memaksakan diri untuk percaya kepada Nicolin juga. -----
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD