Pigeon Blood

1116 Words
Gilbert membuka matanya. Napasnya terasa sesak sesaat. Ia memegangi dadanya, berusaha keras untuk menormalkan deru napas dan detak jantungnya yang begitu cepat. Ia menoleh kesana dan kemari. Yang tertangkap dalam pandangannya bukan lagi dimensi gelap, bukan pula Leander Grey. Sosok pria dewasa yang sangat mirip dengannya itu menghilang, pun dengan posisi Gilbert yang tak lagi berada di dimensi gelap yang sama. Ia memandangi langit-langit kamarnya, selimut tebal yang menutupi tubuh sampai dadanya, juga lilin beraroma tumbuh-tumbuhan yang berfungi untuk terapi. Gilbert sedikit terkekeh, ia jelas-jelas kembali ke dunia yang sebenarnya, membuatnya kembali berpikir bahwa dimensi gelap yang berkali-kali ia kunjungi hanyalah imajinasinya belaka. Beragam pertanyaan muncul di kepalanya, terutama karena pembicaraannya dengan Leander Grey sama sekali belum selesai. Sosok yang ditakdirkan? Representasi mawar merah berduri? Kelahiran yang ditandai? Ipsissimus? Dendam ratusan tahun? Ada banyak sekali informasi yang mendadak ia terima, dan semuanya membingungkannya. Jelas, Gilbert tidak bodoh untuk memahami semua yang ia dengar dari Leander Grey, namun masih ada banyak pertanyaan yang belum ia sampaikan dan belum terjawab. Rasanya, pembicaraannya dengan Leander Grey begitu singkat. Semuanya didominasi dengan kisah masa lalu Leander Grey dan mengapa ia masih berada di dimensi gelap yang menahan jiwanya dari kematian. Gilbert menghela napas. Ia bangun dari posisi rebahannya dan memegangi kepalanya yang terasa berdenyut sakit. Ia meraba tanda heksagonal yang ia terima setelah bertemu dengan Leander Grey. Bagian itu terasa perih dan panas seperti luka bakar yang baru saja terjadi. Gilbert meringis sakit ketika menyentuhnya. "Anda sudah bangun, Tuan Muda." Gilbert mendongak ketika pintu kamarnya dibuka. Nicolin berjalan masuk dengan baskom berisi air hangat dan handuk kecil. Pelayannya itu tak banyak bicara. Ia langsung menuju Gilbert, menarik selimut yang menutupi tubuh Gilbert dan memeriksa suhu tubuh di leher Gilbert. "Tuan Muda?" "Ya?" "Tuan Muda tidak baik-baik saja. Kurasa kita perlu memanggil dokter." Gilbert mengernyit. "Apa maksudmu? Dokter Albert sedang sibuk dengan mayat-mayat itu." "Saya tidak tahu apa yang anda pikirkan, tetapi saya merasakan kegelapan di hati anda membesar. Apakah bertemu dengan para penyusup sebelumnya membuat anda benar-benar terganggu?" Gilbert terkekeh kecil. "Apa hanya itu yang bisa kau rasakan dariku?" Nicolin mengangguk. "Pelayan iblís tidak bisa membaca pikiran Tuannya. Saya hanya bisa merasakan kegelapan di hati Tuan Muda." Gilbert mengangguk. "Baguslah, aku tidak suka isi pikiranku diketahui orang lain—ah, kau bukan manusia." Ada nada menyindir di akhir kalimat Gilbert, membuat Nicolin hanya tersenyum tipis sebagai tanggapan. "Apakah Tuan Muda ingin saya mengusap punggung dan dadà juga?" Gilbert langsung mengeratkan piyamanya. "Tidak perlu, aku merasa tidak enak badan untuk menyentuh air. Cukup bersihkan tangan dan kakiku." Nicolin mengangguk paham. Ia mulai menyeka lengan Gilbert perlahan-lahan, membersihkan sela-sela jemarinya, kuku, kemudian berganti membersihkan kaki Gilbert sampai ke pahanya. Gilbert hanya memandangi bagaimana pelayannya membersihkan tubuhnya. Gilbert teringat dengan Leander Grey, leluhurnya yang juga memiliki kontrak dengan iblís dan sampai sekarang belum selesai. Apakah kontrak dengan iblís bisa bertahan selama ratusan tahun? Gilbert benar-benar penasaran dengan hal itu. Lalu, iblís mana yang begitu sabar menunggu mangsanya sampai ratusan tahun? Bukankah selama terikat kontrak, iblís tersebut sama sekali tidak bisa memangsa jiwa orang lain? Lantas, bagaimana nasibnya yang tidak makan selama ratusan tahun? Jika Gilbert tidak berhasil menyelesaikan dendam masa lalu leluhur Grey, apakah Leander akan tetap berada di dimensi gelap itu meski keturunannya telah berakhir? Lantas, bagaimana dengan iblís yang membuat kontrak dengannya? Apakah ia tidak akan mendapatkan bayarannya sama sekali? "Nicolin, aku ingin bertanya padamu." "Apapun untuk anda, Tuan Muda." Gilbert memperbaiki posisi duduknya dan menarik Nicolin untuk mendekat. Ia melebarkan kelopak matanya, menunjukkan bola matanya yang berwarna ruby darah merpati di hadapan Nicolin. "Lihatlah, apa kau pernah melayani manusia lain yang memiliki iris mata sepertiku?" Nicolin sedikit terkejut ketika Gilbert menariknya untuk mendekat. Wajah mereka hanya berjarak sekian sentimeter. Nicolin menatap kedua iris milik Gilbert yang bergerak-gerak pelan. Mendadak, aroma yang begitu manis menguar, membuat Nicolin sadar bahwa ia begitu sabar menunggu mangsanya. Bahkan di saat seperti ini, jiwa Gilbert benar-benar menarik atensinya lebih dari apapun. Setiap inchi tubuh Gilbert adalah mahakarya yang begitu indah. Bahkan jiwanya. Jiwa yang begitu gelap nan pekat itu belum pernah Nicolin temui selama ia melayani manusia. Ini pertama kalinya, dan ia tidak tahu apakah setelahnya akan ada manusia yang begitu istimewa seperti Gilbert lagi. "Nicolin! Aku bertanya padamu!" Seru Gilbert marah. Nicolin berkedip pelan, menyadari kesalahannya. Segera ia memundurkan kepalanya. Nicolin selalu kesulitan mengendalikan dirinya ketika berada terlalu dekat dengan Tuannya. Gilbert Grey adalah definisi sempurna dari godaan yang sulit untuk ditolak oleh para iblís. "Ingat Nicolin, kau tidak bisa memakanku sebelum semuanya selesai." Peringat Gilbert. Nicolin mengangguk. "Saya mengerti Tuan Muda, mohon maafkan saya." "Jawab pertanyaanku!" Nicolin menggeleng. "Tidak sekalipun selama saya melayani manusia, ada seseorang dengan iris mata berwarna ruby darah merpati. Anda adalah orang pertama yang saya ketahui memiliki iris mata seperti itu." Gilbert terdiam. Apakah ramalan yang dikatakan oleh Leander Grey adalah kebenaran mutlak. Apakah ia benar-benar sosok yang ditakdirkan seperti yang ditafsirkan dari ramalan? Apakah kebakaran mansion Grey sebelumnya benar-benar karena ramalan itu? Gilbert tidak bisa menghentikan otaknya untuk terus berpikir. Mengapa? Bagaimana mereka tahu? Bagaimana mereka memastikan bahwa Gilbert Grey adalah sosok dalam ramalan itu? Bahkan Gilbert mendengar kalimat dalam ramalan yang dikatakan Leander Grey seperti sebuah puisi. Jika pun bait tersebut disebar kepada rakyat, mereka pasti hanya akan menganggapnya sebagai puisi dari seorang penyair acak. Gilbert menghela napas. Mengapa ia keluar dari dimensi gelap tersebut sebelum ia benar-benar menyelesaikan pembicaraannya dengan Leander Grey? Hingga saat ini, Gilbert masih bertanya-tanya mengenai pemicu dirinya bisa keluar dan masuk ke dalam dimensi gelap yang menahan Leander Grey. Karena hingga terakhir kali pun, bagaimana Gilbert masuk ke dimensi gelap tersebut terjadi tanpa benar-benar bisa ia rencanakan. "Tuan Muda?" "Aku baik-baik saja, bisakah kau keluar? Aku ingin tidur sebentar lagi. Kepalaku terasa pusing." Nicolin mengangguk. Segera ia membereskan peralatan yang ia gunakan untuk menyeka tubuh Gilbert. Ia memungkuk sekilas dan segera keluar dari ruangan Gilbert. Sepeninggal Nicolin, Gilbert kembali menyandarkan tubuhnya pada kepala ranjang. Ia kembali tenggelam dalam pikirannya, menerka-nerka bagaimana caranya untuk kembali masuk ke dalam dimensi gelap tersebut dan bertemu dengan Leander Grey. Gilbert kemudian mengubah lagi posisinya, berbaring lurus dan menatap langit-langit ruangannya. Kedua tangannya ia letakkan di perut, persis seperti mayat yang hendak dimakamkan. Gilbert memejamkan matanya, berusaha membayangkan rupa Leander Grey yang amat familiar karena dia adalah rupa Gilbert sendiri dalam versi dewasa. Hingga beberapa detik berlalu, Gilbert sama sekali tidak berhasil kembali ke dimensi gelap yang sama. Ia tetap sadar bahwa dirinya berada di dunia yang asli, di kamarnya sendiri. "Cih, sial." Gilbert menyisir rambutnya sendiri ke belakang menggunakan jemarinya. Ia harus segera menemukan pemicu bagaimana dirinya bisa masuk ke dimensi gelap itu dan berbicara dengan Leander Grey. Ada banyak pertanyaan yang belum selesai. Gilbert tidak akan bisa menyelesaikan apa-apa jika dia tidak mendapatkan jawabannya. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD