Bagian 15

2069 Words
Semenjak tahu cerita mengenai Saddam, Hana mulai tak bisa mengontrol keprihatinannya. Saddam tahu bila ada yang tidak beres dengan sekretarisnya itu. “Berhentilah menatapku seperti itu, Hana,” tegur pria tersebut. Hana langsung mengalihkan pandangannya. Saddam sedikit merasa kesal. Dia langsung beranjak dari duduknya dan menuju ke meja wanita tersebut. Hana mencoba terlihat sibuk dengan layar di depannya. Saddam mengetuk meja tiga kali. “Cepat katakan. Sebenarnya ada apa?” tanya Saddam dengan nada otoriter. Hana menggeleng pelan. Saddam berdecak kesal. Dengan gerakan yang tak terbaca, Saddam memutar kursi Hana, mengurung wanita itu dengan kedua lengannya. Hana terkejut, hanya bisa menelan ludahnya susah payah. “Jika memang tidak apa-apa, kenapa kau terus menatapku dengan pandangan aneh. Jika kau tidak mengatakan apa yang terjadi, aku tidak akan beranjak dari sini.” Ancam Saddam sepertinya membuat Hana tak bisa berkutik. “Saya akan katakan, tapi Bapak minggir dulu,” sahut Hana. Saddam pun melepaskan wanita itu, namun sama sekali tidak beranjak dari tempatnya. Hana mengembuskan napas berat, dia khawatir jika Harry akan terkena masalah jika Hana mengatakan ini. Maafkan aku, Harry. Hanya itu yang bisa Hana katakan. Saddam kembali mengetuk meja Hana sebanyak tiga kali, menyadarkan wanita tersebut dari lamunan. “Saya sudah tau mengenai kisah Pak Saddam dan mantan kekasih Anda,” ungkap Hana yang langsung mendapat tatapan penuh dari pria tersebut. “Siapa yang memberitahumu?” sembur Saddam. Hana terdiam, Saddam bisa menebak siapa orangnya. “Harry kan? Ck, dia memang tidak bisa tutup mulut,” keluh pria ini. Saddam berbalik untuk kembali ke meja kerjanya. “Pak Saddam,” panggil Hana membuat langkah pria itu terhenti dan kembali berbalik namun tak mendekati meja Hana lagi. “Itu hanya masa lalu. Aku tau, karena masalah tersebut akhirnya Pak Saddam membatasi diri sehingga enggan untuk menjalin hubungan lagi. Sebaiknya Pak Saddam buang dan lupakan saja apa yang lalu. Mulai menatap kehidupan baru dengan sosok yang baru juga,” tutur Hana. Saddam mendekati Hana dengan tatapan seriusnya. “Bagaimana denganmu? Setelah perceraian, apakah mudah bagimu membuka lembaran baru dengan sosok yang baru?” ujar Saddam yang berhasil membuat Hana terdiam. “Lihat. Bahkan kau tidak bisa menjawab pertanyaanku ini bukan? Sama sepertimu, aku juga tidak bisa lagi. Tidak akan lagi,” kata Saddam yang kemudian membalikkan badan untuk kembali ke tempatnya. “Saya sedang mencobanya, Pak,” balas Hana yang kembali membuat langkah pria itu terhenti, namun kali ini Saddam tak membalikkan tubuhnya. “Jika Allah memberikan saya kesempatan untuk bisa bertemu dengan pria baik yang bisa menjadi imam, maka saya akan siap untuk itu. Tidak ada hal yang tidak mungkin bagi-Nya. Kita sebagai manusia harus tetap berusaha dan jangan terpaku di satu tempat saja,” lanjut Hana. Saddam tak menanggapinya lagi, dia langsung menuju ke meja kerja. “Tidak mudah bagi orang lain untuk meyakinkan dia. Saddam memang keras kepala, Hana,” ungkap Harry di saat dia kembali makan siang bersama dengan temannya ini, namun tidak ada Fred. Sepertinya pria itu sedang makan di luar bersama teman-teman di divisinya. Hana mengembuskan napas berat. “Kamu benar, Harry. Bahkan responnya saja begitu.” Harry terkekeh melihat Hana yang berusaha menyadarkan Saddam. Padahal jelas-jelas wanita itu juga sedang terluka. “Tapi … apa yang Saddam tanyakan padamu ada benarnya. Aku belum pernah merasakan apa yang kalian berdua rasakan. Jadi … apakah perlahan kamu sudah bisa melupakan mantan suamimu itu?” Hana menggeleng. “Belum. Jika aku bilang sudah melupakan semuanya, maka aku adalah orang yang munafik. Tidak ada manusia yang bisa melupakan momen dalam hidup mereka, Harry. Kecuali jika dia amnesia.” Harry melahap makanannya sedikit. “Jadi … sekarang kamu belum amnesia?” tanyanya mencoba mencairkan suasana agar Hana tak bersedih lagi. Ternyata usahanya berhasil ketika melihat Hana yang tertawa kecil. “Kalau bisa, mungkin aku akan memilih opsi itu, Harry. Ketika aku mengingat momen bahagia kami, dan berakhir momen menyedihkan itu, semuanya terasa sesak. Aku tidak bisa menjelaskan bagaimana rasanya. Tapi, bagi wanita sepertiku, dunia terasa seperti tidak menginginkanku. Dan aku merasa menjadi manusia paling bodohh di sini.” Harry menggeleng. “Kamu tidak bodohh, Hana. Its oke. Semua butuh waktu,” balas pria ini. “Kenapa pembicaraan kita jadi semakin serius sekarang?” lanjutnya dengan suara kekehan di susul oleh Hana juga. “Aku senang bisa bertemu denganmu, Ava, Pak Saddam dan keluarganya. Aku tidak merasa sendirian di sini,” ungkap Hana. “Come on. Jangan sungkan kepada kami. Aku juga senang bisa memiliki teman baru sepertimu. Ya, setidaknya kamu cukup normal dibandingkan Saddam,” ucap Harry yang kembali menimbulkan tawa di meja mereka. “Tapi … aku ingin tahu bagaimana mantan kekasih Pak Saddam sekarang?” tanya Hana tiba-tiba yang berhasil membuat Harry tak jadi memasukkan makanan ke dalam mulutnya. Pria itu tersenyum. “Dia baik-baik saja. Aku selalu menjaganya semenjak hubungan mereka berhenti,” ungkap Harry. Hana mengernyit. “Menjaga?” tanyanya bingung. Harry mengangguk membenarkan. “Dia adalah temanku dan Saddam semenjak kuliah dulu. Setelah perpisahan itu, Saddam tak mau menemuinya, begitu juga dengan Karina. Oh iya, namanya Karina,” ungkap Harry. Hana mengangguk paham. “Lalu … aku sebagai teman akhirnya mengalah. Aku menggantikan tugas Saddam menjaga Karina karena dia hanya tinggal sendirian di sini. Semua aku lakukan semata-mata demi Saddam dan Karina sendiri.” “Kamu benar-benar teman yang baik, Harry,” puji Hana di sana. Harry tertawa pelan. “Jangan cepat menyimpulkan begitu, Hana. Kita belum saling mengenal dengan baik,” balas Harry. *** Hana baru saja sampai di apartemennya. Wanita itu bergegas membersihkan diri agar merasa segar. Setelahnya, Hana mulai menyiapkan makan malam, namun ia urungkan sejenak setelah mendapatkan sebuah notif dari ponselnya. Hana buru-buru mengambil dan mengecek. Ternyata sebuah file di akun emailnya. Tumben sekali ada yang mengirimnya email. Ketika dibuka nama si pengirim, Hana mengernyit. Itu nama Fahri, tapi kenapa dia tahu alamat email Hana? Lagi pula tumben sekali kirim dokumen. Tak ingin berpikir lebih jau lagi, Hana pun langsung membuka dokumen tersebut. Saat terbuka dan Hana baca dari atas, bola mata wanita ini membulat sempurna saking terkejutnya. Itu undangan pernikahan. Hana tidak terkejut sama sekali jika Fahri akan mengiriminya undangan pernikahan, namun Hana terkejut, marah, kesal, dan sakit hati ketika melihat nama sang mempelai wanita. JENA RATULANGI. Hana tidak mungkin lupa nama ini. Itu adalah naman sepupu Hana. Ketika melihat nama keluarga di dalam undangan itu Hana bisa memastikan jika ini adalah Jena sepupunya. Tubuh Hana merosot begitu saja di lantai. Jena. Fahri. Ras sakit di dadaa Hana kembali datang, disusul dengan air mata yang keluar begitu saja dan isak tangis di sana. “Jena. Kenapa harus Jena? Kenapa, Mas …” lirih Hana yang tak bisa menahan kesedihannya. Jena adalah orang yang mendukung hubungan Hana dan Fahri sejak awal. Jena juga yang meyakinkan Hana untuk menikah. Hana tidak tahu hubungan keduanya berjalan sebelum pernikahan Hana terjadi atau setelahnya. Yang pasti Hana belum bisa menerima jika alasan Fahri menceraikannya adalah karena sepupu Hana sendiri. Ini sungguh pengkhianatan yang besar. Kini Hana tak bisa membayangkan bagaimana keadaan keluarganya. Ayah dan ibunya mungkin akan sama kecewanya seperti Hana sekarang. Hana bangkit dari tempatnya. Dia mengapus air mata di pipi yang mengalir sejak tadi. Tidak, dia harus melakukan sesuatu. Inilah saat bagi Hana untuk bangkit. Dia tidak boleh terlihat menyedihkan di depan kedua orang yang akan menikah itu. Hana mendial nomor Saddam saat itu juga. Dia akan ijin seminggu ke depan tidak ke kantor. Dia harus kembali ke tanah air sekarang. Panggilan yang Hana lakukan ternyata tidak diangkat oleh Saddam. Saddam sendiri lupa jika ponselnya tertinggal di kantor. Layar ponsel itu terus menyala tanpa ada bunyi yang keluar, sedangkan Saddam sendiri sudah berada di rumah dan tak menyadari jika ponselnya lupa ia bawa. Hana kemudian memilih menghubungi Harry. Untungnya saja Harry langsung mengangkatnya. “Halo, Hana.” “Halo, Harry. Maafkan aku menghubungimu tiba-tiba. Kamu masih di jalan atau sudah sampai apartemen?” “Aku sudah dekat dengan apartemen kok. Ada apa?” “Bisakah kamu katakan kepada Pak Saddam jika aku akan ijin seminggu ke depan? Aku sudah mencoba menghubungi nomor beliau, tapi Pak Saddam tidak mengangkatnya.” “Wait. Seminggu? Kamu mau ke mana?” tanya Harry yang sudah sampai di parkiran apartemen. Pria ini tak langsung turun, dia memilih mengobrol di dalam mobil lebih dulu. “Aku harus pulang sekarang.” “Eh? Tiba-tiba begini?” tanya pria tersebut. “Aku … aku harus menghadiri pernikahan mantan suamiku.” “WHAT?” pekik Harry. “dia sudah mau menikah lagi?” tanyanya kemudian. Hana mengangguk. “Ya. Aku akan datang sebelum hari-H untuk membereskan permasalahan kami dulu,” ungkap Hana. “Baiklah, semoga semuanya cepat selesai. Dan aku doakan yang terbaik untukmu. Tapi, Hana. Apa kamu tidak butuh teman? Aku bisa menemanimu pulang, setidaknya kamu tidak sendirian.” “Tidak usah, Harry. Terima kasih banyak. Aku akan melakukan ini sendiri,” tolak Hana di sana. Harry tak bisa memaksa lagi. “Baiklah. Hati-hati di jalan.” “Terima kasih untuk bantuanmu, Harry. Aku akan berkemas dan langsung ke bandara sebentar lagi,” ungkap Hana yang diangguki oleh Harry. Panggilan diputus oleh Hana. Harry langsung mendial nomor Saddam saat itu juga. Benar kata Hana jika ponsel Saddam tak mengangkatnya. Harry mengetuk-ngetuk ponselnya sebentar, dia tidak mungkin membiarkan Hana pergi sendirian. Akan sangat terlihat menyedihkan jika wanita itu datang tanpa adanya teman. Harry memilih untuk menghidupkan mobilnya dan mulai melajukannya menuju ke rumah Saddam. Saddam yang baru saja selesai mandi pun terlihat mencari ponselnya, tapi dia lupa meletakkannya di mana. Saddam pun keluar dari kamar untuk mencari sang ibu. “Ibu.” “Ya?” teriak wanita paruh baya yang berada di area dapur. Saddam langsung menghampiri ibunya itu. “Ibu tidak melihat ponselku?” tanyanya. “Tidak. Saat baru pulang, kamu tadi langsung ke kamar. Coba ingat-ingat dulu kamu taruh di mana,” kata wanita tersebut. Saddam terdiam, mencoba mengingat-ngingat lagi. Seketika dia pun ingat bila ia letakkan di meja kantor. “Tertinggal di kantor, Bu. Aku akan ke kantor sebentar untuk ambil ponsel,” putus Saddam yang bergegas ke kamar untuk mengambil kunci mobil. Ketika Saddam pergi, Harry baru datang dan langsung bertemu dengan ibu dari temannya itu. “Eh, Harry?” “Sore, Tante. Tante, Saddamnya ada?” “Ada. Dia baru saja kembali ke kamar. Tapi sepertinya dia akan pergi ke kantor lagi untuk mengambil ponsel yang tertinggal.” Saddam yang baru turun pun mengernyit ketika melihat Harry di rumahnya. Harry yang melihat Saddam pun langsung menghampiri pria itu. “Ponselmu berkali-kali aku hubungi tidak diangkat, Hana pun juga mengatakan begitu,” sembuar pria ini. “Aku baru ingat ternyata ponselku tertinggal. Aku akan mengambilnya sebentar lagi. Memang ada apa?” tanya Saddam. “Hana akan kembali ke Indonesia,” ungkap Harry yang berhasil membuat langkah Saddam terhenti. Ibu dari Saddam yang mnedengar nama Hana disebutkan pun langsung menghampiri keduanya. “Hana kenapa?” tanya wanita tersebut. “Hana hari ini kembali ke tanah airnya, Tante. Dia tadi sudah menghubungi nomor Saddam, tapi ponsel Saddam tertinggal di kantor, jadi Hana menghubungiku untuk memberitahukan hal ini kepada Saddam,” jelas Harry. “Tapi kenapa tiba-tiba? Apa ada masalah di sana?” Harry menggeleng. “Dia akan menghadiri pernikahan mantan suaminya.” Saddam melotot. Ibu dari Saddam juga sama terkejutnya. “Aku ke sini meminta ijin juga kepadamu, Saddam. Aku memutuskan akan menyusul Hana ke bandara. Sebagai teman, aku tidak bisa membiarkan dia datang ke pernikahan itu sendirian. Itu akan terlihat sangat menyedihkan,” ungkap Harry. Saddam mengangguk paham. “Berapa hari kalian akan pergi?” “Seminggu. Sebenarnya Hana tak mengijinkan aku ikut, aku hanya nekat saja. lagi pula penerbangan terdekat masih 4 jam lagi. Aku sudah mengecek tadi,” jawab Harry. “Baiklah. Aku ijinkan kalian pergi,” putus Saddam. Harry bernapas lega. “Terima kasih, Saddam.” “Hei. Tunggu dulu,” sela ibu dari Saddam. “Kenapa kamu tidak ikut, Saddam?” Saddam mengernyit. “Tidak usah, Ibu. Harry lah yang akan pergi menemani Hana.” “Tidak. Tidak. Tidak. Kamu harus ikut pergi juga menemani Hana. Ini perintah dari Ibu.” Saddam memutar bola matanya malas. “Ibu, aku harus menjaga kantor. Jika—” “Sementara seminggu ke depan ayah yang akan menghandle kantor,” potong wanita itu dengan cepat. Harry menepuk pundak Saddam pelan. “Bagaimana? Jika kau ingin ikut, aku akan memesan dua tiket. Kita harus bergerak cepat sebelum tiket habis,” sela Harry. Saddam mengembuskan napas kesalnya. “Pesanlah dua tiket,” sahut pria itu yang memutuskan akan ikut pergi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD