Pagi ini Hana sengaja membuatkan sarapan untuk bosnya meskipun sebenarnya dia tidak tahu apakah bosnya sudah sarapan atau belum. Yang jelas Hana akan tetap melakukannya sebagai bentuk tanda terima kasih karena semalam Saddam mengantar wanita ini. Bahkan tidak hanya sampai depan gedung apartemen, melainkan hingga tepat depan pintu apartemen Hana. Saddam juga menasihati Hana untuk tidak keluar malam-malam sendirian jika tidak memiliki teman.
Saat masuk kantor, Hana kembali bertemu dengan Harry. Seperti biasa, pria itu selalu menyapa Hana dengan semangat pagi. Tatapan Harry beralih kepada tas kecil yang Hana bawa, sepertinya sebuah bekal makanan.
“Bekal makanan untuk sarapan?” tanya Harry. Keduanya masuk ke dalam lift bersama dengan karyawan lain.
“Hm. Sebenarnya untuk Pak Saddam,” ungkap Hana bertepatan dengan pintu lift yang terbuka. Kedua orang ini pun keluar dari sana.
“Saddam?” kernyit Harry.
Hana mengangguk. “Semalam aku mendapat kejadian buruk di sekitar dekat apartemen. Untung saja ada Pak Saddam yang menolongku. Kalau saja dia tidak datang, pasti aku sudah dalam keadaan tidak baik-baik saja,” ujar Hana di sana.
Melihat Hana yang sudah mulai akrab dengan Saddam membuat Harry senang. “Oh iya. Aku lupa. Seharusnya aku membuatkan juga untukmu sebagai ucapan terima kasih. Maafkan aku, Harry. Besok atau kapan-kapan nanti akan aku bawakan,” ucap Hana yang baru menyadari hal tersebut.
Harry terkekeh melihat kepanikan wanita di depannya itu. “Tidak perlu melakukan sampai seperti itu, Hana. Dengan dirimu yang mau bekerja di sini saja aku sudah senang. Setidaknya tugasku tidak begitu berat mengurus Saddam.”
Hana tersenyum canggung. Kemudian dari jauh Hana melihat sosok Saddam yang baru saja keluar dari dalam lift. Bisa dikatakan lantai ini hanya berisi mereka tiga, jadi wajar akan terlihat sangat sepi. Saddam berjalan dengan santai menuju ke tempat kedua orang yang selalu ia lihat bersama di pahi hari seperti ini. Hal tersebut tentu membuat Saddam curiga jika mereka benar-benar memiliki hubungan.
“Kenapa kalian berada di sini dan tidak masuk ruangan masing-masing?” ucap pria tersebut.
Harry memutar bola matanya malas dengan sikap aneh Saddam ini. Jelas-jelas jam masuk kerja belum waktunya. “Masih terlalu pagi untuk bekerja Bapak Saddam,” sahut Harry. “Sepertinya Anda belum sarapan sehingga emosional meningkat di pagi hari seperti ini. Untungnya saja Hana membuatkan sarapan untuk Pak Saddam,” lanjut Harry yang malah keasyikan menggoda temannya itu.
Hana mengangguk. Dia memberikan bekal makanannya kepada Saddam. “Saya membuatkan Anda bekal pagi sebagai ucapan terima kasih karena semalam sudah membantu saya.”
Saddam tak langsung mengambil bekal tersebut. Dia nampak memperhatikan bekalnya, Hana, dan Harry secara bergantian. Sikap Saddam tersebut membuat Hana mengernyit bingung. Apakah ini pertanda jika dia tertolak.
“Kau tidak perlu melakukan hal seperti ini, Hana. Aku membantumu semalam sebagai bentuk kemanusiaan,” ujar Saddam dengan tangan yang mengambil bekal tersebut. “Harry. Kau pasti belum sarapan bukan? Makanlah, aku tidak ingin pekerjaku jatuh pingsan di dalam kantor,” katanya sembari memberikan bekal tersebut kepada Harry.
Harry yang mendapat makanan gratisan pun terlihat senang, tetapi tidak dengan Hana yang sedih dan kecewa. Semua orang pasti akan seperti Hana jika mendapat perlakuan seperti sekarang. “Jika tidak ada hal lain lagi, sebaiknya kembali bekerja,” ujar Sadam yang memasuki ruangannya.
“Hana. Terima kasih untuk makanannya. Aku akan kembali ke ruangan. Semangat untuk pagi ini,” ucap Harry sebelum akhirnya menjauhi Hana sembari membawa bekal yang wanita itu buatkan khusus untuk Saddam. Dengan berat hati dan kekecewaan, Hana pun masuk ke dalam ruangan Saddam.
Karena Saddam yang menolak pemberian Hana secara terang-terangan, wanita itu memutuskan untuk tidak menganggap istimewa perlakuan bosnya. Ia pikir Saddam adalah sosok yang bisa dia jadikan pegangan. Namun, itu terlalu dini bagi Hana untuk menyimpulkan demikian. Untuk itu Hana memberikan batasan interaksinya dalam beberapa hari ini jika bukan menyangkut perihal pekerjaan.
“Hana.”
Wanita ini yang tadinya sedang melamun di sore hari untuk mampir ke toko terdekat pun langsung menoleh. Sosok Ava berlari kecil ke tempatnya. Setelah sampai di depan Hana, tetangganya ini mencoba untuk mengatur napas.
“Kamu mau ke mana?” tanya Ava yang menggunakan baju santainya, begitu juga dengan Hana.
“Mau beli sesuatu buat makan malam, Va. Kamu mau ke mana?”
“Sama. Aku juga mau beli sesuatu. Ayo, kita sama-sama aja,” ajak wanita ini. Hana mengangguk dan melanjutkan jalannya bersama Ava. “Bagaimana, Han, beberapa tinggal di apartemen ini?” tanya Ava membuka topik dalam perjalanan mereka.
“Cukup nyaman. Hanya saja aku hampir mengalami hal buruk beberapa hari lalu. Untung saja ada bos ku yang datang.”
Ava mengernyit. “Apa yang kamu alami?”
Hana mengembuskan napas berat. Sebenarnya dia tak ingin mengingat kejadian tak mengenakkan itu. Tapi karena menghargai sosok Ava, terpaksa wanita ini menceritakan semuanya. Ava yang mendengarnya pun terdengar syok. Karena dia sering pulang menjelang pagi hari dan keadaan masih gelap, tetapi Ava belum pernah mengalami hal seperti Hana.
“Itu cukup menyeramkan, Hana. Cobalah untuk keluar di keadaan terang seperti sekarang jika memang kamu ingin membeli makanan. Aku bisa menemanimu jika sore begini,” nasihat Ava.
“Terima kasih, Ava. Aku juga sebenarnya tidak menyangka akan mendapat pengalaman seperti itu,” sahut Hana. Kalau saja dia tak harus menghemat, maka Hana sudah pindah dari apartemen itu.
Kedua wanita ini memasuki toko untuk membeli belanjaan mereka. Ava menuju ke rak kebutuhan wanita, sedangkan Hana ke rak makanan. Benar kata Ava, dia akan stok atau membeli makanan di jam seperti ini saja. Dari pada malam hari dia akan mendapat keburukan lagi.
Setelah berbelanja, mereka langsung kembali ke apartemen dengan berjalan kaki lagi. “Hana. Hari rabu nanti aku ambil cuti, kamu mau ikut jalan-jalan bersamaku?” tawar Ava.
“Tapi aku harus kerja,” balasnya.
“Tidak apa-apa. Kita bisa jalan-jalan malam hari. Lagi pula kita keluar berdua, jadi tidak akan ada yang mengganggu kita nanti ketika pulang ke apartemen,” tutur wanita tersebut. Hana pun mengangguk setuju. Dia juga perlu jalan-jalan untuk menjernihkan pikiran. Itulah tujuan dia ke negara ini bukan?
Lama mengobrol, tidak terasa mereka sudah sampai di lantai apartemen masing-masing. Hana dan Ava masih asyik mengobrol tanpa Hana sadari sudah ada seseorang yang menunggunya di pintu apartemen.
Ava lah yang pertama kali sadar tentang sosok itu. “Han. Sepertinya ada tamu untukmu,” ujar Ava yang membuat tetangganya itu menoleh. Bola mata Hana seketika membulat sempurna. Buru-buru dia berjalan dengan cepat menuju ke pintu apartemennya.
“Pak Saddam. Ke-kenapa Bapak bisa ada di sini?” tanyanya. Ava yang mendengar Hana memanggil pria itu dengan sebutan ‘bapak’ pun menyadari jika mungkin ini masih ada sangkut pautnya dengan pekerjaan baru Hana.
“Han. Aku masuk dulu ya,” pamit Ava. Hana mengangguk.
“Mari, Pak silakan masuk dulu,” ajak Hana. Sungguh tidak sopan mengajak seseorang mengobrol di depan pintu. Hana buru-buru membuka pintu apartemennya. Mempersilakan Saddam masuk dan tetap membuka pintu. Karena walau bagaimana pun mereka masih berbeda jenis.
“Silakan duduk dulu, Pak. Saya buatkan minum dulu,” ucap Hana yang masih nampak sedikit terkejut karena kedatangan pria tersebut.
“Tidak perlu, Hana,” tolak Saddam membuat langkah kaki Hana terhenti. “aku ke sini untuk mengambil baju-bajuku. Apakah kau menyimpannya?”
Hana baru ingat mengenai baju itu. Dia lupa memberitahu Harry. “Ada, Pak. Sebentar.” Hana dengan segera menuju ke kamarnya. Dia sudah memasukkan baju temuannya itu ke dalam kardus. Sedikit aneh memang, tetapi Hana tidak memiliki tas lain.
“Saya hanya menemukan baju-baju itu, Pak. Untuk barang-barang sepertinya saya belum menemukan. Atau mungkin ada yang tertinggal?” tutur Hana.
Saddam menggeleng. “Tidak ada.” Pria itu pun berdiri dari duduknya. “Tadi sebelum ke sini aku sempat mampir ke penjual makanan. Makanlah, setidaknya kau tidak perlu lagi makan mi instan,” ucap Saddam sembari menunjuk bungkusan yang dibawanya.
Hana buru-buru menyembunyikan belanjaan yang tadi dibelinya di toko. Isinya memang mi instan. Wajah Hana memerah menahan malu karena sang atasan memergokinya.
Hana ikut mengantar Saddam ke depan pintu. “Terima kasih untuk makanannya, Pak,” ucap wanita tersebut. Saddam mengangguk dan kemudian berbalik untuk pergi.
Hana kembali masuk dan melihat makanan yang dibelikan oleh atasannya itu. Sekali lagi Hana mencoba mengingatkan pada dirinya untuk tidak terlalu terbawa akan perasaan ketika mendapat perlakuan baik dari pria tersebut. Mungkin maksud Saddam melakukan ini adalah dia tidak ingin pekerjanya menjadi jatuh sakit karena pola makan yang tidak baik. Yang mana itu bisa mengganggu kualitas dari pekerjaan mereka. Ya, mungkin benar itu adalah alasan yang tepat.
***
Keesokan harinya Hana manfaatkan waktu libur untuk jogging di dekat area apartemen. Sebuah lapangan yang tidak terlalu besar, tapi cukup banyak orang yang datang untuk berolahraga di sana.
Banyak anak-anak dan remaja yang bermain bola. Ada juga yang bersepeda serta jogging seperti yang Hana lakukan. Sisanya hanya duduk-duduk menikmati suasana.
Beberapa kali Hana melihat pasangan keluarga harmonis dan bahagia yang selalu ia impikan sejak lama. Tapi itu hanya sebuah mimpi, yang bahkan ketika Hana bangun dari tidur pun semuanya tetap akan dalam dunia mimpi.
Setelah lelah melakukan jogging, Hana istirahat sebentar sembari menikmati air mineral miliknya. Wanita ini mulai menikmati suasana di tempat tinggal barunya. Meskipun ada sedikit kerinduan kepada keluarga, tetapi Hana tetap mencoba untuk tegar dan tak terlalu memikirkan mereka.
“Ternyata kamu di sini.”
Hana menoleh ke samping ketika mendengar suara dan menyadari ada seseorang yang baru duduk di sampingnya. Wanita ini terkejut mendapati Harry di sana.
“Harry? Kenapa kamu ada di sini?” tanya Hana.
Harry tertawa. “Aku ingat jika kamu masih baru di kota ini. Aku berpikir tidak ada salahnya mengajakmu jalan-jalan. Aku sudah menghubungimu tadi, tapi sepertinya kamu tidak membawa ponselmu.”
Hana mengangguk. “Aku meninggalkannya di apartemen. Kamu ingin mengajakku jalan-jalan?” Harry mengangguk. “Baiklah. Aku juga tidak memiliki kegiatan lagi hari ini. Tapi, bukankah ini terlalu pagi untuk dirimu keluar dan mengajakku jalan, Harry?”
Pria tersebut pun tertawa. “Kamu benar, Hana. Aku sungguh aneh, bukan? Its oke. Sebenarnya aku juga sama-sama tinggal di sebuah apartemen, dan tinggal sendirian terasa begitu sepi, jadi setiap weekend, aku akan pergi keliling sepagi ini,” ungkap pria tersebut. Kebiasaan yang menarik menurut Hana sendiri.
“Oh jadi begitu. Baiklah. Ayo ke apartemenku. Aku harus siap-siap.”
Keduanya pun berjalan bersisian sembari mengobrolkan beberapa hal. Seperti saat Saddam datang, Hana juga membuka pintu apartemennya. Harry menunggu di ruang tamu kecil apartemen tersebut, sedangkan Hana sedang bersiap-siap di dalam kamar. Tidak lupa juga wanita itu mandi lebih dulu.
Saat menunggu Hana, Harry mendapat panggilan dari Saddam. Dengan cepat pria ini mengangkat telepon itu.
“Halo.”
“Kau di mana? Aku sedang ada di rumah apartemenmu sekarang.”
Harry terkekeh. Ia lupa kebiasaan Saddam yang selalu mengunjunginya pagi-pagi begini ketika weekend selepas pria itu jogging.
“Sorry, Dam. Aku sekarang ada di apartemen Hana.”
Saddam mengernyit bingung. “Kenapa kau ada di sana?” tanyanya.
“Aku akan mengajak Hana jalan-jalan. Dia masih baru di kota ini, jadi aku putuskan tidak ada salahnya mengajak dia,” jawab Harry.
“Harry … jawab pertanyaanku dengan jujur,” ucap Saddam dengan nada serius. “apakah kalian benar-benar bukan pasangan kekasih?”
Harry langsung tertawa mendengar pertanyaan temannya itu. “Apa yang kau pikirkan Saddam?” sahut Harry yang masih saja tertawa.
“Jawab saja pertanyaanku sialan,” umpat Saddam kesal karena selalu berpikir jika dua orang itu memiliki hubungan, namun tidak ada yang mau mengaku.
“Jika aku mengatakan ya, apa yang akan kau lakukan?” balas Harry yang malah memancing Saddam.
“Tentu saja aku akan memecat salah satu dari kalian.”
Harry melotot di tempatnya. “kau terlalu kuno, Saddam. Masih saja membuat peraturan aneh itu. Fine. Aku dan Hana hanyalah berteman. Aku tadi hanya menggodamu,” tutur Harry.
“Baguslah. Ya sudah aku akan pulang. Berhati-hatilah di jalan.”
“Wait. Kenapa kau tidak gabung bersama kami saja?” usul Harry saat itu.
“Aku tak berminat,” jawab Saddam cuek.
“Ayolah, Saddam. Kau juga butuh hiburan dan tidak melulu tentang pekerjaan bukan? Bagaimana jika aku yang traktir hari ini?” tawar Harry yang malah membuat Saddam berhasil tertawa di seberang sana.
“Aku tidak percaya dengan perkataanmu. Ujung-ujungnya nanti aku yang bayar. Ya sudah datanglah ke rumahku. Aku akan ikut tapi tidak akan membawa mobil. Kita semua naik mobilmu saja,” putus Saddam di sana yang jadi ikut mereka berdua.
“Oke siap. Sampai jumpa.”