Hana benar-benar menikmati perjalanan liburannya bersama kedua pria itu. Harry benar-benar membantu Hana untuk mengingat tempat-tempat dan jalan di Kota Paris. Berbeda dengan Saddam yang lebih banyak diam. Tetapi sebenarnya pria tersebut sedang memperhatikan interaksi kedua orang ini, diam-diam menyelediki apakah mereka tidak menipunya.
Setelah puas berkeliling, mereka juga mampir ke restoran untuk makan siang. Dan seperti kesepakatan, Harry lah yang akan mentraktir mereka. Hal tersebut digunakan oleh Saddam untuk memesan banyak makanan. Hitung-hitung memberi temannya pelajaran karena Harry seringkali melakukan hal tersebut kepada Saddam juga.
“Yak. Yak! Hei! Kau akan gemuk memakan makanan sebanyak itu,” protes Harry karena mendengar Saddam yang sudah memesan sekitar empat makanan. Hana sendiri tidak menyangka jika selera makan atasannya begitu banyak.
“Bukankah kau sendiri yang berjanji akan traktir?” sahut Saddam dengan santai yang masih melihat buku menunya.
Harry dengan cepat merampas buku menu tersebut sembari menatap Saddam sebal. “Pelayan. Untuk dua pesanan dia tolong batalkan, untuk minumannya … kau mau minum apa?” tanya Harry kepada Saddam.
Mendengar jika pesanannya dibatalkan pun membuat Saddam mendengkus kesal. “Latte dan air mineral seperti biasa.”
Harry mengangguk. “Kau memang harus jaga tubuhmu, kawan,” sindir Harry. “Kalau kamu mau makan apa, Hana?” tanya pria ini.
“Samakan saja denganmu, Harry,” jawab Hana ragu.
Harry mengangguk. “Samakan dengan pesananku tadi,” ucap Harry kepada si pelayan. Setelahnya pelayan tersebut pergi.
Saddam makin curiga karena makanan kedua orang ini sama. Jangan-jangan mereka benar-benar adalah pasangan kekasih. Dugaan Saddam makin kuat sekarang.
“Hana. Bukankah kamu pernah cerita jika kamu berasal dari Indonesia? Bagaimana negara itu?” tanya Harry membuka topik pembicaraan, dimulai dari asal usul Hana.
Hana melirik Saddam sebentar karena pria itu sepertinya juga ingin mendengarkan. “Indonesia … sedikit panas, tapi dingin juga jika musim hujan,” kata Hana yang langsung mengundang tawa dari Harry.
“Lihatlah dirimu, Hana. Kamu benar-benar lucu. Musim hujan memanglah dingin, apakah kamu baru mengetahui hal itu?” sahut Harry yang berhasil membuat Hana sedikit malu di sana. “Its oke. Lanjutkan.”
“Di sana banyak kota-kota yang padat penduduk dan terkenal juga. Banyak tempat wisata. Orang-orangnya juga ramah dan murah senyum. Terus … aku tidak tau lagi. Kalau ingin tau lebih, datanglah ke sana kapan-kapan,” kata Hana mengakhiri ceritanya.
“Datang ke sana? Baiklah. Aku akan datang ke rumahmu,” balas Harry membuat wanita itu mengernyit. “ya. Ke rumahmu. Untuk berkenalan dengan keluargamu,” lanjut Harry yang malah menggoda wanita itu. Saddam reflek menendang pelan kaki temannya untuk tidak terus membual.
“Aku bercanda, Hana. Tapi tidak apa-apa bukan jika suatu hari nanti aku main ke rumahmu?”
Hana mengangguk ragu, bahkan keluarganya saja tidak tahu bila Hana berada di Paris. “Lalu, coba ceritakan kenapa kamu tiba-tiba berada di Kota Paris ini. Aku rasa jika mengenai pekerjaan sepertinya negaramu tidak akan kekurangan akan hal itu,” lanjut Harry yang bertanya lagi di sana.
Hana terdiam. Dia baru mengenal Harry, jadi tidak mungkin menceritakan perihal masalah pribadinya. Dan juga di sana ada Saddam yang menjadi atasan mereka, jadi Hana cukup tau diri untuk tetap tutup mulut.
“Hanya ingin mencari suasana baru saja, mencari pengalaman dan membangun hubungan baik dengan orang banyak,” jawab Hana singkat. Saddam yang mendengar jawaban aneh dari Hana pun diam-diam tersenyum tipis.
Harry mengangguk paham. “Pasti di sini kamu akan sangat merindukan keluargamu bukan? Its oke, aku pun sama. Aku juga jauh dari keluarga, maka dari itu sering-seringlah komunikasi dengan mereka,” nasihat Harry yang diangguki oleh Hana. “Oh iya, aku menemukan satu info lagi, Hana. Bolehkah aku bertanya? Ini sedikit pribadi dan aku takut menyinggungmu,” tutur Harry ragu.
“Jika aku bisa menjawabnya, maka aku akan jawab. Silakan,” jawab Hana.
“Aku melihat di berkasmu jika kamu pernah menikah.”
Deg. Hana lupa jika di berkas lamaran kerja mengenai identitasnya tertulis jelas di sana. Saddam yang baru mengetahui fakta tersebut pun terlihat terkejut. Maklum, Saddam sama sekali tidak pernah membaca berkas para pekerjanya. Dia sangat percaya dengan pilihan Harry.
Akibat dari pertanyaan itu suasana menjadi sedikit sunyi dan canggung di sana. “Maafkan aku. Sepertinya aku salah bertanya. Kamu tidak perlu menjawabnya Hana,” kata Harry dengan cepat dan sedikit panik.
Hana memaksakan senyumnya di sana. “Kamu benar, Harry. Aku sudah pernah menikah,” jawab Hana dengan tegar. Tapi, Saddam yang begitu peka dengan keadaan pun jika mungkin saja kedatangan wanita itu ke kota ini karena memiliki sedikit masalah dengan suaminya. Jika begini bisa Saddam konfirmasi jika Harry dan Hana tidak memiliki hubungan spesial.
Harry tertawa mencoba untuk mencairkan suasana. “Keadaanya jadi sedikit canggung hehe. Makanan juga belum datang, laper banget,” katanya mengalihkan pembicaraan.
Hana memaksakan senyum di sana. Tiba-tiba Hana berdiri dari duduknya. “Aku permisi mau ke toilet sebentar,” pamit wanita tersebut yang berbalik dan berjalan menjauh. Saddam tau jika Hana pasti sedang tidak baik-baik saja karena pertanyaan Harry.
“Dasar bodohh,” cibir Saddam kepada Harry saat itu.
Harry yang tahu kesalahannya pun merasa menyesal. “Aku tadi sudah minta maaf juga, haish,” balasnya.
“Pertanyaanmu itu membuat suasana hatinya menjadi berubah. Cobalah untuk sedikit menahan dirimu, Harry,” omel Saddam di sana.
“Iya. Iya. Maaf.”
Obrolan itu terhenti ketika Harry tiba-tiba mendapat panggilan. Pria tersebut mengecek nama si penelepon, sedikit melirik sosok Saddam yang sibuk dengan ponsel miliknya sendiri. “Saddam. Aku angkat telepon dulu. Kau tunggulah di sini,” pamit Harry yang berjalan keluar.
Saddam mencoba untuk tak mempedulikan temannya dan kembali fokus dengan ponselnya. Namun, fokusnya teralih kepada benda persegi panjang yang tergeletak di atas meja tempat Hana tadi. Wanita itu meninggalkan ponselnya. Ada sebuah panggilan di sana, Saddam melirik nama si penelepon dan tertera nomor tanpa nama. Saddam pun mengabaikan panggilan itu.
Tak beberapa lama Harry pun kembali ke dalam. “Saddam. Aku harus pergi sekarang.”
Saddam melotot. “Kau—”
“Aku buru-buru. Sorry. Aku akan bayar makanan kita. Kau temani Hana makan oke. Untuk makananku lebih baik bungkus saja dan bawakan kepada Hana untuk dijadikan makan malam nanti,” kata Harry yang bergegas dengan cepat meninggalkan meja dan beralih ke kasir. Saddam nampak sedikit kesal karena dia bahkan belum membuka suaranya.
Sekitar lima menit kemudian Hana pun sudah kembali. Makanan mereka sudah tersedia di meja. Namun wanita itu mengernyit karena tak menemukan sosok Harry.
“Harry memiliki kepentingan mendadak, jadi dia buru-buru pergi,” ungkap Saddam di sana. Hana pun menjadi tak enak sendiri karena harus makan berdua dengan Saddam di luar jam kerja. “Mari kita mulai makan,” kata Saddam di sana. Hana pun mengangguk, keduanya makan dalam diam.
Ternyata Harry tadi mendapatkan telepon dari Karina yang mengatakan jika wanita itu sedang berada di bandara dan menunggu Harry untuk menjemput. Harry tentu tidak bisa mengatakan tidak, dan berakhir dengan dia yang meninggalkan Saddam bersama Hana di restoran.
“Aku sengaja tidak memberitahumu mengenai kepulanganku,” ucap Karina yang duduk tepat di samping pria tersebut.
“Lain kali kabari aku dulu, Karina. Kamu tidak tahu bukan jika mungkin saja aku sedang sibuk,” nasihat Harry.
“Ini weekend, memang kesibukan apa yang kamu miliki, Harry? Aku tau kamu pasti akan menjemputku meskipun sedang bekerja sekalipun,” sahut Karina dengan percaya diri. Itulah Harry. Dia menempatkan sosok Karina berada di urutan paling atas hidupnya. Menjadikan wanita ini menjadi istimewa baginya. Hingga Harry lupa jika tindakan tersebut akan menyakiti hati pria itu sendiri.
“Aku tadi sedang berada di luar. Makan siang bersama teman kantor dan Saddam.”
Karian relfek menoleh ketika nama Saddam disebut. “Saddam? Dia ada bersamamu tadi?” Harry mengangguk. “Dia tidak curiga padamu kan?” Harry menggeleng. Terlihat Karina yang bernapa lega.
“Sampai kapan kamu akan terus hidup seperti ini, Karina?” tanya Harry random.
Wanita itu menyandarkan punggungnya di kursi. “Sampai Saddam bahagia, Harry. Sampai dia bisa melupakanku. Sampai dia memiliki kebahagiaannya sendiri.”
Harry terkekeh membuat wanita itu mengernyit. “Bagaimana kamu tau jika Saddam tidak melupakanmu dan selalu mengingatmu? Bagaimana caramu tau jika Saddam tidak bahagia?”
Karina terdiam mendapat serangan tersebut. Dia lupa. Karina terlalu percaya diri jika Saddam masih mengingat masa lalu mereka. “Cobalah untuk berdamai dengan keadaan, hati, dan pikiranmu sendiri. Yang aku lihat bukanlah Saddam yang terus menerus mengingat sosok Karina, melainkan sebaliknya,” ujar Harry yang benar-benar membuat wanita itu membisu.
Karena mereka tadi hanya memakai satu mobil, yakni mobil Harry, jadi baik Saddam dan Mia terpaksa menggunakan taksi untuk pulang. Saddam mengantar Hana dulu ke apartemen dan memastikan wanita itu masuk. Setelahnya dia pun pulang ke rumah yang mana langsung disambut omelan dari sang ibu.
“Kamu ini. Ibu sudah menghubungimu beberapa kali tapi tidak kamu angkat. Sebenarnya kamu ke mana?” sembur wanita paruh baya tersebut. Memang tadi pagi ketika Saddam pergi bersama Harry dan Hana sosok kedua orang tuanya sedang tidak berada di rumah, jadi mereka tidak tau sang putra ke mana.
“Aku jalan-jalan sama Harry dan teman kerja, Bu. Memangnya ada apa?” jelas Saddam sembari menuju ke dapur untuk mengambil minum.
“Ayah dan Ibu akan ke Singapura sore ini.”
Saddam mengernyit. “Mendadak?”
“Nenek terpaksa harus dirawat di sana,” ungkap wanita tersebut dengan nada sedih. Sudah beberapa hari ini memang kesehatan nenek Saddam tidak baik. Kedua orang tuanya bahkan harus bolak-balik ke rumah sakit untuk bergantian menjaga.
“Baiklah. Semoga Nenek cepat sembuh.”
Wanita itu mengangguk. “Selama Ayah dan Ibu pergi, jaga rumah baik-baik. Perusahaan juga. Awas aja kalau kamu tiba-tiba buat ulah,” kata wanita tersebut. Saddam pun terkekeh, ibunya masih menganggap pria ini seperti putra kecilnya.
“Oh ya. Tadi Ibu mendapat laporan jika Harry datang bersama wanita dan kalian bertiga pergi bersama. Siapa wanita itu? Kekasih Harry? Wah, kamu bahkan kalah jauh dari temanmu itu, Saddam,” ucap sang ibu.
“Dia bukan kekasih Harry, Bu. Dia sekretaris baruku,” ungkap Saddam.
“Sekretaris baru? Kamu ganti sekretaris lagi? Tapi … sepanjang yang Ibu tau, kamu tidak pernah dekat apalagi keluar bersama dengan karyawanmu selain dengan Harry saja,” tutur wanita tersebut.
Saddam yang baru saja menyelesaikan minumnya pun seketika terdiam. Itu benar, pria ini baru menyadari kebiasaannya itu. “Itu karena Harry yang mengajak dia, bukannya aku.” Baiklah, itu adalah jawaban yang masuk akal.
“Oh begitu. Tapi … mungkin saja kamu memiliki ikatan dengan sekretarismu. Ibu dan Ayah sudah lelah mencarikan istri untukmu. Cepatlah mencari wanitamu. Sekretarismu juga tidak apa-apa,” celetuk ibunya yang membuat Saddam tertawa di tempat.
“Ibu. Kenapa Ibu selalu menyuruhku menikahi wanita sembarangan? Sekretarisku sudah menikah, dan itu artinya dia memiliki suami. Sudah, Bu. Aku malas membicarakan perihal pernikahan lagi. Aku ke kamar dulu ya.”
Melihat kepergian putranya membuat wanita itu nampak kesal. “Lihat. Jangan-jangan dia trauma dengan masa lalunya. Putraku yang malang,” lirih wanita ini yang prihatin dengan putranya.