Bagian 9

1870 Words
Ini hari rabu. Hana sudah mengadakan janji dengan Ava. Tetangganya itu memutuskan untuk mengajak Hana ke tempat dia bekerja. Dan Hana pun sepertinya setuju dan mau ikut. Setidaknya dia tidak bosan berada di apartemen terus menerus. Keduanya menggunakan bus menuju ke sana, dan sedikit berjalan kaki juga untuk bisa sampai ke tempat kerja Ava. "Kamu sudah lama bekerja di sana?" tanya Hana saat di perjalanan. Sejujurnya ini adalah kali pertama Hana memasuki tempat seperti itu. "Mungkin hampir tiga tahun," jawab wanita dengan rambut pirang tersebut. Hana pun mengangguk saja, sudah cukup lama ternyata. Keduanya sampai di pintu klub yang dijaga oleh pria berbadan besar. Ava dan Hana dengan mudah masuk karena mereka mengenal Ava juga sebagai pekerja di sana. Saat sudah sampai di dalam, suara musik yang keras langsung terdengar. Hana yang belum terbiasa pun sedikit meringis. Ava pun memakluminya. Tetangganya itu mengajak Hana untuk duduk di area dekat bartender yang kebetulan saat itu yang berjaga adalah teman dari Ava. "Dua orange jus," kata Ava yang diangguki oleh temannya. "Dan kentang goreng juga tidak masalah," imbuhnya. Hana tak menyangka jika di tempat itu terdapat kentang goreng juga. Hana melihat orang-orang di sekitarnya yang asyik dengan dunia mereka dan menikmati suara musik yang bahkan memekakkan di telinga Hana sendiri. "Aku sudah terbiasa di sini jadi semuanya benar-benar seperti biasanya." Hana pun mengangguk paham. "Orang-orang yang berkunjung ke sini berasal dari banyak kalangan, kebanyakan adalah orang kaya. Hanya mereka yang memiliki kartu akses saja yang boleh masuk. Dan untuk menjadi member di sini ada beberapa persyaratan yang harus di penuhi," jelas Ava. Dari sini Hana mulai paham beberapa hal mengenai bar. Jus dan kentang goreng mereka pun datang. Kedua wanita ini mulai mengobrol berbagi banyak hal di sana. "Oh iya. Bosmu cukup tampan, Hana," kata Ava yang mengingat sosok Saddam saat di apartemen. "Eh, dia bosmu bukan?" tanyanya. Hana mengangguk. "apartemen yang aku tinggal sekarang adalah miliknya. Aku mengenal seseorang di kantor, dia membantuku dengan apartemen tersebut, kemudian dia juga yang menawarkan pekerjaan menjadi sekretaris pria itu." "Wow. Ini sungguh kebetulan yang menakjubkan, bukan?" tutur Ava yang diangguki oleh Hana. "Bagaimana dengan statusnya? Single?" tanya Ava lagi. "Mmm. Aku tidak tahu. Sepertinya masih sendiri," jawab Hana tak yakin juga dengan jawabannya itu. "Oh oke. Bagaimana dengan dirimu, Hana? Kita belum saling mengenal satu sama lain. Aku di kota ini hanya tinggal sendiri. Merantau lebih tepatnya untuk memenuhi kebutuhan keluarga yang berada jauh dari kota ini." Ternyata bukan hanya Hana yang sendirian di kota ini. Ada Harry dan Ava juga. "Oh ya, aku sarankan untukmu agar tidak keluar sendirian, Hana. Entah di keadaan terang ataupun gelap. Selalu pilih tempat ramai saja," kata Ava yang tiba-tiba aneh itu. "Kenapa?" "Aku mendengar rumor dari orang-orang di sini dan teman kerjaku jika akhir-akhir ini sering terjadi penculikan gadis dan wanita muda. Dan berakhir dengan ditemukannya gadis itu tanpa organ dalam. Sepertinya itu penculikan untuk menjual organ-organ secara ilegal." Hana yang mendengarnya pun merasa ngeri. Tapi, bagaimana bisa dia tidak berada di tempat sepi kalau tempat tinggalnya saja berada di kawasan sepi? Tidak mungkin Hana setiap hari berangkat dan pulang kerja memakai taksi. Itu akan membuat pengeluarannya membengkak. "Aku sarankan kamu mencari teman yang bisa kamu ajak berangkat bersama dan pulang juga. Selain bisa hemat, keselamatanmu bisa terjamin," saran dari Ava. "Aku tidak memiliki teman dekat di kantor, Ava. Kamu tau sendiri jika aku masih baru bekerja," balas Hana. "Sudahlah. Aku akan lebih waspada sekarang dan berusaha untuk berjalan berdekatan dengan orang-orang sekitar." "Baiklah. Yang paling penting adalah selalu waspada." Hana mengangguk paham. Kemudian tiba-tiba terdengar ada keributan di dalam bar tersebut. "Jangan terkejut, hal ini sudah biasa terjadi. Disebabkan oleh orang-orang yang tanpa sengaja saling bersenggolan," jelas Ava. Orang-orangnya sedikit bar-bar juga. "Kita jangan lama-lama keluarnya, kamu tau sendiri apartemen kita sedikit sepi." Hana mengangguk setuju. Dia juga tak berniat terlalu lama di luar karena besok juga harus kembali bekerja. Keesokan harinya seperti saran dari Ava, Hana terlihat berjalan menuju ke halte bus bersama beberapa pejalan kaki yang kebetulan lewat di daerah apartemen miliknya. "Kamu dengar berita pagi tadi? Ada mayat lagi yang ditemukan di belakang gedung apartemen itu. Makin ngeri aja ini kelompok hitam." "Semoga polisi segera menemukan kelompok-kelompok ini." Tanpa sengaja Hana mendengar obrolan beberapa orang. Sepertinya yang mereka bicarakan sama dengan yang Ava ceritakan kepada Hana. Hal tersebut benar-benar mengerikan. Sepertinya Hana harus segera mencari apartemen baru. Tapi, dia belum memiliki uang lagi. Wanita ini berada di posisi yang benar-benar sulit. Hana berjalan dengan kurang semangat memasuki kantor. Padahal semua orang terlihat begitu semangat di hari cerah ini. Bahkan Hana tidak menyadari sosok Harry yang ia lewati begitu saja. Harry yang melihat wanita tersebut melamun dan hampir saja menabrak alat pel milik OB pun langsung menarik Hana saat itu juga. Terlihat Hana terkejut di sana. "Masih terlalu pagi untuk melamun, Hana. Kamu hampir saja membuat semua lantai basah," tegur Harry. "Maafkan aku. Aku benar-benar tidak melihatnya tadi," kata Hana panik. "Its oke. Kamu sedang melamun dan sepertinya banyak pikiran. Ada apa?" tanya pria tersebut. Hana menggeleng. Tidak mungkin dia menceritakan keinginannya untuk pindah, padahal Harry lah yang membantu Hana menemukan apartemen murah itu. Wanita tersebut menggeleng. Mereka berdua berjalan bersama menuju ke lift. Keduanya berada di barisan belakang karena beberapa karyawan mulai memasuki lift juga. "Lihat. Ada berita seperti ini lagi," ucap salah satu karyawan sembari memperlihatkan ponselnya. Hana tanpa sengaja ikut melihat ponsel itu yang sepertinya berisi gambar aneh. "Ini yang aku takutkan jika lembur. Semoga Pak Saddam bisa mengurangi jam lembur kita," sahut sang lawan bicara. Pintu lift terbuka, sebagian dari mereka keluar lebih dulu. Lift pun kembali berjalan dan tak beberapa lama terbuka lagi. Hana dan Harry keluar dari sana, kembali berjalan bersisian menuju ke ruangan mereka masing-masing. "Harry," panggil Hana tiba-tiba membuat pria itu berhenti. "Ya?" "Kamu biasanya kerja naik apa?" tanya Hana. "Aku punya mobil sendiri. Ada apa?" Hana malu untuk mengatakannya, tapi dia tidak memiliki pilihan. Harry yang melihat gerak-gerik aneh wanita ini pun jadi curiga. "Ada apa, Hana?" tanyanya kembali. "Aku ... bolehkah jika aku menumpang padamu untuk pulang kerja? Aku akan membayar uang bensin, dan hanya pulang kerja saja, Harry," tutur wanita tersebut. Harry yang mendapat permintaan aneh itu pun jadi mengernyit. "Boleh. Tapi, kenapa tiba-tiba?" Hana mengembuskan napas berat. "Akhir-akhir ini sering terjadi penculikan wanita-wanita muda untuk diambil organ dalamnya. Tadi ada berita ditemukan mayat wanita muda di belakang apartemenku. Tetanggaku menyarankan jika sebisa mungkin aku harus bersama orang lain bila keluar. Untuk berjaga-jaga hal yang tak diinginkan terjadi," terang Hana. Harry pun mengangguk paham. "Baiklah. Kamu bisa bersamaku ketika berangkat dan pulang kerja. Tidak usah membayar uang bensin, jalan kita searah." "Eh? Apakah tidak apa-apa jika begitu? Pulang kerja saja Harry gak apa-apa. Aku tadi pagi kebetulan banyak orang yang ke halte, jadi suasananya cukup ramai." Pria itu malah tertawa dan membuat Hana bingung. "Kebetulan yang kamu maksud bisa saja jadi hal lain," celetuk pria tersebut yang membuat Hana terdiam. "Baiklah. Terima kasih sudah membantuku," kata Hana. "Sama-sama. Kalau begitu aku akan pergi sekarang." Hana mengangguk dan membiarkan Harry pergi. Hana tak langsung masuk ke dalam ruangan Saddam melainkan menatap kepergian Harry dengan rasa bersalah. Bersalah karena terlalu banyak merepotkan pria tersebut. "Kenapa kau masih ada di sini?" sembur Saddam yang tiba-tiba saja sudah berada di belakang tubuh wanita itu. Hana pun mengelus dadanya pelan saking terkejutnya. "Selamat pagi, Pak," sapa Hana mengabaikan pertanyaan atasannya itu. "Pagi. Ya sudah masuk ke dalam," perintah Saddam. Kedua orang itu pun masuk dan memulai aktivitas pekerjaan masing-masing. "Pak, nanti malam Anda ada undangan untuk pembukaan hotel partner kerja perusahaan," ungkap Hana yang mulai membacakan jadwal-jadwal tersebut. "Skip saja. Aku malas pergi ke pesta," sahut Saddam enteng. Hana mengembuskan napas berat. "Bagaimana jika Harry saja yang datang, Pak? Rasanya tidak baik mengabaikan undangan, apalagi itu dari seseorang yang bekerja sama dengan perusahaan kita," ujar Hana memberi ide. "Baiklah. Kau katakan saja pada Harry untuk datang mewakiliku," setujui pria tersebut. "Baik, Pak." "Hana. Bisakah ketika pulang kerja nanti kau mampir ke toko bunga?" ujar Saddam. Hana mengangguk setuju, dia bisa meminta tolong kepada Harry untuk mampir sebentar mungkin. "Belikan bunga mawar dan melati, kemudian suruh kurir mengantar ke alamat ini," kata Saddam sembari memberikan secarik kertas. Hana pun mengangguk paham dan mengantongi kertas tersebut. "Apa ada lagi, Pak?" tanya Hana. Saddam terdiam, kemudian dia menggeleng. *** "Tidak bisa, Hana. Aku sudah ada janji dengan seseorang malam ini," kata Harry yang menolak perintah dari Saddam untuk menghadiri pesta. Ketika jam makan siang, Hana langsung menemui temannya itu dan keduanya menghabiskan waktu makan siang bersama di kantin kantor. "Lalu siapa yang akan datang ke undangannya?" tanya Hana. "Kamu sudah selesai makan?" tanya Harry yang malah menanyakan hal lain kepada wanita ini. "Sudah. Kenapa?" jawab Hana. Terlihat jelas memang jika isi dari piring di depan Hana sudah berpindah ke perut. "Ayo. Kita temui Saddam. Biar aku yang berbicara dengannya," ajak Harry. Hana pun setuju, dari pada dia kena omel. Saddam ternyata masih saja fokus bekerja di jam makan siang begini. Pintu yang terbuka nyatanya tak membuat fokus pria itu terbelah. "Aku tidak bisa pergi nanti malam," ujar Harry langsung tanpa basa-basi. Hana hanya jadi penonton di sana. "Ya sudah tidak usah ada yang datang. Sejak awal aku sudah mengatakannya kepada Hana, tapi dia menginginkan kau untuk pergi," sahut Saddam yang membuat Hana meringis tak enak hati kepada Harry. "Yang dikatakan Hana benar. Kau tidak boleh mengabaikan undangan dari orang lain, Saddam. Coba kau ingat, sudah berapa kali kau tidak datang dan malah mengirim orang lain. Rasanya sungguh tidak sopan melakukan hal seperti itu secara terus menerus," kata Harry yang malah menceramahi temannya itu. "Lebih baik kau datang saja. Datanglah bersama Hana. Setidaknya kau tidak terlihat menyedihkan di antara pasangan lain," imbuh Harry yang menahan tawa. Hana yang mendengar usulan itu pun terkejut. "Harry. Apa yang kamu katakan? Aku tidak--" "Nanti malam kau akan menemaniku ke pembukaan itu, Hana," putus Saddam yang membuat wanita ini nampak lesu, namun tidak bagi Harry. Setidaknya janjinya dengan Karina nanti malam tidak batal. Ini malam ulang tahun wanita itu, tentu saja Harry sudah menyiapkan kejutan kecil. "Kamu tenang saja, Hana. Saddam bukanlah tipe orang yang suka dengan pesta. Dia tidak akan lama di acara itu," ungkap Harry ketika dia sedang mengantar Hana untuk pulang. Hana mengangguk pasrah. "Harry. Aku lupa sesuatu. Pak Saddam memintaku untuk membeli bunga. Bisakah kamu mampir sebentar?" Harry mengangguk, dia langsung membelokkan mobilnya di penjual bunga terdekat. Harry ikut turun bersama Hana. Dia juga perlu membeli bunga untuk Karina nanti. "Untuk siapa kamu membeli bunga?" tanya Hana basa-basi. Harry tersenyum. "Untuk seseorang. Dia ulang tahun hari ini." "Dilihat dari wajahmu, sepertinya itu orang spesial," sahut Hana yang hanya dijawab tawa renyah oleh Harry. "Sudah selesai, Mbak, Mas." Hana dan Harry sama-sama memberikan uang mereka. Hana terlihat takjub dengan bunga yang Harry pilih. "Oh iya, Mbak. Tolong antarkan bunganya ke alamat ini bisa?" "Bisa, Mbak. Tapi ada tambahan biayanya ya." "Baiklah tidak apa-apa," jawab Hana yang langsung memberikan uang tambahan tersebut. Setelah selesai dengan pembeilan bunga, mereka berdua segera masuk ke mobil lagi. "Kepada siapa Saddam mengirim bunga itu?" tanya Harry. "Aku tidak tau. Dia hanya memberiku sebuah kertas. Mungkin sama sepertimu ... orang spesial," ujar Hana di sana. Harry terdiam. Orang spesial? Harry bahkan tidak tahu orang spesial yang Hana maksud siapa.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD