Bagian 10

1528 Words
Rasanya ada kecanggungan di sini. Hana tak berhenti untuk tidak gugup. Saddam benar-benar membawa Hana ke acara itu. Dan yang paling tidak Hana sangka, pria itu juga mengirimkan wanita ini gaun dengan warna senada dengan pakaian yang Saddam kenakan. Ini terlihat seperti mereka adalah pasangan. Dan yang tak bisa Hana hindari adalah sorotan kamera wartawan. Seharusnya ia sadar jika hal ini pasti akan terjadi. Pesbinis besar seperti Saddam tidak mungkin hanya bekerja sama dengan perusahaan kecil. Hanya satu harapan Hana di sini. Semoga acara ini tidak terendus dan terlihat oleh keluarganya apalagi Fahri. Ya meskipun itu mustahil untuk terjadi. Saddam membawa Hana untuk menemui beberapa rekan kerja pria itu. Beberapa sudah tahu jika Hana adalah sekretaris Saddam. Dan beberapa juga ada yang mempertanyakan wanita tersebut. Dan dijawab jujur oleh Saddam jika Hana adalah sekretarisnya. Hingga tibalah Hana dan Saddam di depan pasangan suami istri. Dilihat dari wajahnya seperti mereka berasal dari Asia. “Siapa wanita di sampingmu, Pak Saddam?” tanya pria di depan mereka. “Sekretaris saya, Pak. Anda datang bersama istri, Anda?” Pria itu mengangguk. Hana ikut berkenalan dengan istri dari pria tersebut. Ada kernyitan yang terlihat jelas di dahi wanita itu, Hana juga tidak tahu mengapa. “Maaf sebelumnya. Apakah kita pernah bertemu?” tanya wanita itu. Hana mencoba mengingat, tetapi dia tak ingat apa pun. Dia pun menggeleng pelan. “Iya, kan, Pa. Aku seperti pernah melihatnya. Tunggu, coba aku ingat lagi,” imbuh wanita tersebut dengan pose yang mencoba berpikir keras. “Mungkin hanya kebetulan terlihat sama, Sayang.” “Tidak, Pa. Aku ingat. Dia tidak memakai riasan seperti ini karena itu tepat berada di pernikahannya. Apakah kamu sudah memiliki suami?” Hana tertegun. Apa mungkin yang dia hadapi sekarang adalah rekan kerja dari Fahri? Jika demikian, maka posisi Hana sedang tidak baik-baik saja. Dia ke sini untuk bisa menjauh dan tak bertemu pria itu. Tapi jika sekitarnya masih berkaitan dengan Fahri, maka itu cukup sulit untuk Hana. “Mungkin memang hanya mirip,” imbuh Saddam yang membantu Hana. Sang lawan bicara pun memilih mengalah dan tak kembali memperpanjang rasa ingin tahunya. Saddam dan hana menuju ke meja panjang berisi maknanan manis. Hana masih khawatir jika dua orang itu mengingatnya sebagai istri dari Fahri. “Kau masih kepikiran soal barusan?” tanya Saddam. Hana menoleh, mengembuskan napas beratnya. Tentu saja dia masih kepikiran. “Its oke. Mereka tidak akan mengingatnya karena pebisnis seperti kita banyak menghadiri acara kecuali acara itu terjadi beberapa bulan lalu. Kau … kau sudah menikah lama, kan?” Hana menatap Saddam. Apa pandangan pria lain jika mendengar seorang wanita diceraikan suaminya tepat sebulan pernikahan itu terjadi? Hana akan dicap sebagai wanita yang gagal. Hana mengangguk, tak berani membuka suaranya, dia mencoba terlihat sibuk memilih makanan. Berbeda dengan Saddam dan Hana, terlihat sekarang Harry sedang berada di rumah Karina. Ini adalah hari ulang tahun wanita itu. Dan Harry sudah berjanji akan menemani Karina merayakan hari kelahirannya. Karina juga memasak makanan untuk mereka berdua. Sedangkan Harry sudah menyiapkan kue ulang tahun. “Bukankah aku terlihat seperti anak kecil yang selalu merayakan ulang tahun?” ujar Karina sembari melihat angka yang tertera di kue tersebut. “Sudahlah. Tidak ada salahnya merayakan hari kelahiran sendiri. Ayo tiup lilin.” Karina mengangguk. Harry mulai menyalan lilinnya. Karina membuat permohonan di sana sembari menutup kedua mata. Setelah ditiup, wanita itu juga memotong kuenya dan memberikan kue pertama untuk Harry. Tentu saja itu perlu dilakukan karena hanya ada mereka berdua di rumah itu. “Ini hadiah ulang tahunmu,” kata pria tersebut yang memberikan sebuket bunga dan kotak berisi hadiah. Karina tersenyum senang. “Terima kasih, Harry.” “Sama-sama.” “Kamu makan dulu kuenya, aku akan siapkan makan malam di meja makan,” kata Karina yang diangguki oleh Harry. Pria itu pun menikmati kue ulang tahun yang dibelinya sendiri. Kemudian terdengar bel pintu. “Harry. Bisa minta tolong lihat siapa di depan?” pinta Karina yang diangguki cepat oleh pria itu. Harry berjalan menuju ke pintu. Setelah dibuka ternyata seorang pria yang membawa sebuket bunga. “Ada kiriman bunga, Mas. Mohon diterima,” kata pria tersebut yang ternyata seorang kurir. Harry pun menerima bunga itu. “Dari siapa ya, Mas?” tanyanya. “Tidak tahu, Mas. Saya hanya kurir. Dan alamatnya benar di sini. Bisa dicek dulu,” katanya sembari memberikan sebuah kertas. Benar, itu alamat rumah Karina. “Baiklah. Terima kasih.” “Sama-sama.” Kurir itu pergi, Harry kembali masuk ke dalam. Karina yang melihat Harry membawa sebuket bunga lagi pun segera menghampiri pria itu. “Siapa, Harry?” Pria itu memberikan bunganya kepada Karina. “Tidak tahu. Ada kurir yang mengirim bunga tapi tidak tau siapa pengirimnya,” jawab pria tersebut. Harry bergerak mengambil ponsel yang ada di atas meja. Karina menghirup aroma dari bunga tersebut. Harum. Harry yang melihatnya pun merasa tidak asing dengan bungany. Tunggu dulu. Itu bunga yang sama yang Hana beli tadi sore. Jika tidak salah, bunga itu berarti dari Saddam. Itu artinya pria tersebut masih mengingat hari ulang tahun Karina. Harry hanya bisa mengembuskan napas beratnya. “Ayo, Harry kita makan. Mungkin bunganya dari temanku,” ujar Karina yang tidak sadar bila bunga itu dari Saddam. Dengan langkah kurang bersemangat, Harry pun menuju ke meja makan. Saddam mengernyit ketika sepanjang jalan pulang Hana terlihat jadi banyak diam. Bukan hanya saat pulang, tetapi tepat ketika mereka berdua bertemu dengan rekan kerja pria itu tadi. Bahkan Hana tidak sadar jika mobil Alex sudah berhenti tepat di apartemennya. “Hana,” panggil Saddam yang menyadarkan Hana dari lamunannya. Wanita itu menoleh. “Iya, Pak?” “Sudah sampai,” kata Saddam. Hana pun kelabakan. “Maafkan saya, Pak. Saya akan segera turun. Terima kasih banyak sudah mengantar saya,” ucap Hana cepat. Saddam menghentikan pergerakan wanita itu dengan menyentuh tangan Hana sebentar dan langsung menariknya kembali. “Sepertinya kau masih memikirkan perkataan wanita tadi,” kata Saddam yang seakan peka dengan keadaan. Hana menggeleng. “Tidak, Pak. Sama sekali tidak. Saya hanya tidak terbiasa berada di tempat rami, jadi sedikit canggung. Jika tidak keberatan, saya akan masuk ke apartemen sekarang. Pak Saddam hati-hati di jalan.” Saddam akhirnya membiarkan wanita itu pergi. Kemudian dia langsung tancap gas pergi. Hana memasuki lift apartemen. Keadaan cukup sepi, dan dia bisa perkirakan jika Ava pasti sudah pergi bekerja. Hana memasuki unit apartemennya. Sekali lagi wanita itu mengembuskan napas beratnya. Hana segera menuju ke kamar untuk berganti pakaian. Setelah selesai beres-beres, wanita itu menuju ke tempat tidur. Saat dia melihat ponsel, ternyata ada panggilan tak terjawab dari sang ayah. Hana lupa menghidupkan notifikasi ponselnya, jadi dia tidak tau jika ada panggilan masuk. Hana pun mendial nomor sang ayah lebih dulu. Terdengar nada tersambung dari sana. Tak beberapa lama, sang ayah pun mengangkat panggilan tersebut. “Assalamualikum, Yah.” “Waalaikumsalam, Hana. Kamu sedang apa?” “Hana sedang santai, Yah. Kenapa?” “Tidak apa-apa. Tiba-tiba saja Ayah mengingatmu. Sudah lama kita tidak berbicara. Fahri bagaimana?” Hana terdiam. Dia merasa menjadi anak durhaka karena terus menerus membohongi keluarganya. “Mas Fahri baik-baik saja, Yah. Hari ini dia lembur, jadi belum pulang,” jawab Hana. “Oh. Baiklah. Ayah sangat ingin bertemu kalian, tetapi kakakmu baru melahirkan, jadi belum bisa pergi ke sana.” “Tidak apa-apa, Yah. Bisa komunikasi lewat ponsel seperti ini saja Hana sudah senang. Bagaimana kabar, Ibu, Yah? Dan kakak semua?” “Semuanya baik. Ibumu sibuk membantu kakakmu mengurus bayinya. Sekarang saja mereka masih sibuk,” jawab ayah dari Hana itu. Hana pun mengangguk. “Ayah … terima kasih. Terima kasih sudah mau bersabar kepada Hana. Dan maaf kalau selama ini Hana mungkin membuat hati Ayah terluka.” “Hei, Nak. Apa yang kamu bicarakan? Anak-anak Ayah sama sekali tidak membuat Ayah terluka. Kalian adalah permata bagi Ayah. Semenjak kamu sebagai anak terakhir Ayah sudah menikah, Ayah merasa lega. Tugas Ayah sudah terlaksana dengan sepenuhnya. Jaga diri baik-baik, Nak. Seorang wanita meskipun sudah menjadi seorang istri tetaplah seperti anak kecil bagi orang tua mereka. Kamu akan tetap menjadi anak Ayah dan Ibu.” Hana diam-diam menangis tanpa suara. Dia makin merasa bersalah. Hana tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi jika ayah dan ibunya tahu bila Hana dan Fahri telah bercerai. Keduanya mungkin akan sangat terluka. “Ayah … maafkan Hana,” ujar wanita ini yang sudah tak lagi membendung tangisnya. “Hei, Nak. Kenapa kamu menangis? Astaga. Apakah pembicaraan kita terlalu sensitif? Atau kamu sekarang sedang hamil? Iya? Soalnya Ayah mengingat jika kakakmu jadi lebih sensitif ketika sedang hamil. Jika memang benar, maka kamu harus jaga diri baik-baik.” Hana menutup mulutnya agar sang ayah tidak mendengar tangisan penuh kesedihan dari bibir wanita ini. “Ayah … aku tutup teleponnya ya.” “Hm. Sampai jumpa.” “Sampai jumpa.” Hana mematikan ponselnya secara sepihak. Dia pun melanjutkan tangisannya sendiri. Dia sendirian sekarang. Benar-benar sendirian di negara orang lain. Tidak ada pegangan yang bisa wanita itu gapai. Hana harus jauh lebih kuat untuk berdiri. Sekalipun dia terjatuh, Hana harus bisa berdiri sendiri juga. Itu cukup melelahkan, tapi wanita itu tak memiliki pilihan lain. Pada akhirnya Hana menghabiskan malamnya dengan tangisan sebagai pengantar tidur. Jauh lebih baik jika dikeluarkan dari pada dia terus menerus menahan diri. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD