Pagi ini dihiasi dengan mendung. Hana mengembuskan napas berat. Seharusnya harinya cerah, tapi ini jauh lebih buruk ditambah lagi hujan rintik-rintik membuat keadaan jadi dingin. Hana menggunakan jaketnya sebagai penghangat di sana. Wanita itu menunggu di depan apartemen karena Harry memberitahunya jika akan segera sampai.
Dari jauh terlihat mobil Harry mulai mendekat. Pria itu berhenti tepat di tempat Hana. Dan Hana pun segera masuk ke dalam mobil.
“Pagi kita sepertinya kurang baik,” ucap Harry memulai obrolan di tengah gerimis ini. Hana mengangguk setuju. “Oh iya, bagaimana dengan acara tadi malam?” tanyanya.
“Lancar.”
“Baguslah. Perlu kamu tau, Hana. Saddam jarang sekali datang ke undangan relasi perusahaan kita. Dia memang selalu begitu, tertutup. Entahlah, mungkin ini efek karena masa lalu.”
Hana mengernyit. “Masa lalu?”
“Iya. Dulu dia memiliki kekasih, tetapi mereka sudah pisah sekarang. Menurutku semenjak itu dia jadi tertutup dan bertindak sedikit kejam. Sepertinya itulah yang membuat sekretaris-sekretaris sebelumnya dipecat.”
“Terkadang kejadian dalam hidup yang menurut kita terasa menyakitkan menjadi momok yang menakutkan. Tak jarang untuk menekan rasa takut itu, kita menggunakan sifat atau cara lain untuk menutupi rasa takut tersebut. Aku tau apa yang Pak Saddam alami.”
“Wow. Kamu terdengar bijak hari ini, Hana.”
Keduanya pun sama-sama tertawa di sana.
Karena keadaan hujan, maka banyak orang yang menggunakan kendaraan pribadi untuk memulai aktivitas pagi ini. Dan itu membuat Hana dan Harry sedikit terjebak macet. Mungkin sekitar sepuluh menit.
Mereka berdua memasuki kantor bersamaan, dengan masih saling mengobrolkan banyak hal. Dan seperitnya Harry menjadi sangat tertarik dengan negara asal Hana itu.
Saddam yang baru juga datang sejak tadi menyadari jika keduanya berangkat ke kantor bersama. Saddam melihat Hana keluar dari mobil Harry.
Harry dan Hana berpisah di pintu ruangan Alex. Setelah itu Saddam ikut menyusul Hana yang sudah masuk tadi. Hana yang melihat atasannya baru datang itu pun langsung menyapa seperti biasa. “Selamat pagi, Pak.”
Saddam hanya mengangguk saja. Dia duduk di kursinya, begitu juga dengan Hana yang memiliki meja sendiri di ruangan pria tersebut.
“Aku melihatmu dan Harry berangkat bersama,” ujar Saddam memecah keheningan.
“Iya, Pak itu benar. Saya meminta bantuan Harry untuk berangkat dan pulang bersama karena kekhawatiran saya mengenai berita penculikan yang beredar beberapa hari terakhir. Ditambah lagi apartemen saya berada di lingkungan yang sepi,” jelas Hana yang tak ingin Saddam terus menerus mengira dia dan Harry memiliki hubungan spesial. Saddam pun mengangguk paham.
Saat makan siang, Hana menghabiskan waktunya sendiri di kantor. Sebenarnya ada banyak karyawan di kantor, tetapi dia sama sekali tidak mengenal mereka. Di negara ini yang dikenal oleh Hana hanya tiga orang yakni Ava, Saddam, dan Harry. Sungguh miris.
Harry terlihat menemui Saddam di ruangannya untuk menanyakan perihal bunga semalam. Saddam yang melihat temannya datang pun langsung menyambut Harry dengan hangat.
“Tidak perlu basa-basi lagi. Apakah kau masih berhubungan dengan Karina?” tanya Harry langsung.
Saddam menatap penuh temannya, dia menggeleng pelan. “Pembohong. Kemarin kau mengirim bunga untuk Karina bukan? Bunga mawar dan putih. Kau menyuruh Hana untuk membeli bunga itu. Katakan jika apa yang aku bilang ini adalah benar, Saddam,” sembur Harry kemudian.
Saddam mengembuskan napas lelah. “Maafkan aku, Harry.”
“Ck. Apa kau bodohh, Saddam? Jika kau memang masih berharap padanya, kenapa tidak kau saja yang mengantar bunga itu?”
Saddam menggeleng. “Aku tidak bisa. Aku sudah berjanji kepada ibuku,” kata pria tersebut.
“Cobalah untuk menjadi gantle, Saddam. Jika kau memang tidak mau, lebih baik lepaskan dan tidak melakukan hal-hal yang membuat dia mengingatmu, begitu juga dengan dirimu sendiri,” kata Harry kemudian.
Saddam mengembuskan napas berat di sana. “Baiklah, Harry. Maafkan aku.” Harry mengangguk, dia kemudian berjalan menuju ke pintu keluar. Saddam tak bertanya lebih kepada temannya itu karena dia sudah tahu bila diam-diam Harry melakukan pendekatan dengan mantan dari Saddam itu. Saddam sama sekali tak keberatan. Setidaknya Karina dan Harry adalah pasangan yang pas dibandingkan dengan dirinya. Perbedaan antara dia dan Karina terlihat jelas. Hal tersebutlah yang membuat Saddam menyerah pada hubungan ini.
“Boleh aku duduk di sini?”
Tiba-tiba saja ada pekerja pria yang menghampiri meja Hana. Hana pun mengangguk, pria itu mengambil duduk di kursi kosong setelah meletakkan makanannya.
“Aku Fred,” kata pria itu lagi sembari mengulurkan tangannya. Hana menerima uluran tangan itu sembari menyebutkan namanya juga.
“Kamu … sepertinya ini kali pertama aku melihatmu di sini. Di bagian apa kamu bekerja?” tanya Fred sambil menikmati makan siangnya, begitu juga dengan Hana.
“Aku sekretarisnya Pak Saddam.”
Fred mengernyit. “Sekretaris baru?” Hana mengangguk. “Pantas saja aku tidak melihat Ana. Ana adalah sekretaris sebelumnya,” kata Fred yang akhirnya dipahami oleh Hana. “Bagaimana bekerja dengan Pak Saddam?” tanya Fred.
“Emm, baik. Pak Saddam sangat baik menurutku. Bagaimana denganmu? Apa kesanmu bekerja di kantor ini? Oh iya, sudah berapa lama kamu bekerja di sini?”
“Tiga tahun. Kesanku juga baik, tapi tak semuanya baik. Pak Saddam adalah atasan yang sulit untuk kita tebak. Dia selalu menginginkan hal yang fresh dan sempurna, sama sekali tidak suka dengan kegagalan.”
“Sepertinya sifat pebisnisnya kuat,” sahut Hana yang diangguki oleh Fred.
“Oh iya, kamu pasti juga mengenal Pak Harry, bukan? Bagaimana dengan dia?”
“Harry? Emm, dia juga baiknya. Dibandingkan Pak Saddam, Harry jauh lebih mudah diajak mengobrol. Kalau Pak Saddam sedikit kaku menurutku dan aku juga cukup segan berbicara dengannya jika bukan mengenai pekerjaan,” jawab Hana.
“Kau benar. Pak Harry jauh lebih hamble dan dia juga disenangi banyak karyawan di sini. Beruntung Pak Saddam memiliki Pak Harry. Setidaknya meskipun beliau kaku dan sulit diajak becanda, masih ada Pak Harry yang bisa mengisi ruang itu.”
“Sepertinya ada yang terus membicarakanku hari ini.”
Fred dan Hana sama-sama menoleh ketika mendengar suara Harry di belakang mereka. Ketiga orang ini pun sama-sama tertawa, Harry mengambil satu kursi yang kosong. “Apa yang kalian bicarakan?” tanya pria itu.
“Ini. Fred bertanya mengenai kesanku terhadap Pak Saddam dan dirimu, Harry,” ungkap Hana.
Harry menatap Fred di sana. “Kau sudah seperti wanita saja, Fred. Jangan bilang jika kau menyukai. Oh my god, aku masih normal.”
Fred dan Hana pun tergelak dengan lelucon Harry itu. “Come on, Pak. Jangan membuatku malu di depan Hana. Oh iya, akhir bulan nanti ke mana kita akan pergi? Sepertinya Hana akan ikut dalam rombongan kali ini.”
Hana mengernyit ketika mendengar pertanyaan Fred kepada Harry itu. Terlihat Harry terdiam, seperti sedang berpikir. “Aku belum memikirkannya, Fred. Ini masih tengah bulan juga, kan. Nanti kita bicarakan di grup untuk menentukan tempat tujuan. Dan soal Hana … dia tentu boleh ikut.”
“Tunggu. Aku tidak paham dengan yang kalian bicarakan,” ujar Hana di sana.
“Begini, Han,” sahut Fred yang mengajukan diri untuk menjelaskan. “Setiap akhir bulan kami, lebih tepatnya beberapa karyawan akan mengadakan liburan bersama satu hari. Ide ini sudah berjalan setahun ini sepertinya. Iya kan, Pak?”
Harry mengangguk membenarkan. “dan Pak Harry adalah orang yang memberikan ide ini sejak awal.”
Hana nampak takjub dengan tindakan Harry itu. “Aku harus melakukan ini, Hana. Semata-mata agar karyawan tidak stress. Tapi, tentu saja tidak semua karyawan ikut. Hanya beberapa karena kebanyakan dari mereka memiliki keluarga. Biasanya yang ikut adalah mereka yang masih single,” jelas Harry kemudian. Hana pun paham. “Jadi … apakah kamu akan ikut bulan ini?”
“Tentu saja,” sahut Hana cepat. Hana hanya perlu banyak menjadi sibuk agar perlahan-lahan bisa melupakan perihal perceraian. Dan yang paling penting adalah melupakan perasaannya kepada Fahri.
***
“Pak Saddam?”
Pria itu menoleh ketika mendengar ada yang memanggilnya. Saat ini Saddam sedang berada di salah satu pusat perbelanjaan untuk membelikan hadiah ulang tahun. Sang ibu akan berulang tahun dalam waktu dekat. Saddam memutuskan akan membelikan perhiasan kalung.
“Oh Pak Jess.” Saddam menjabat tangan rekan kerjanya itu. “Sedang apa Bapak di sini?”
“Menemani istri. Pak Saddam sendiri sedang apa?”
“Saya sedang mencari hadiah untuk ibu saya.”
“Pa. Aku sudah menemukan cincinnya,” ucap seorang wanita yang baru saja datang. “Eh … ini Pak Saddam bukan?”
“Iya, Ma. Yang semalam kita temui di acara itu.”
“Senang bertemu dengan Anda, Pak.”
“Sepertinya kalian sedang sibuk,” ujar Saddam.
“Haha. Tidak juga, Pak. Istri saya sedang memilih hadiah untuk putri kami.”
“Itu benar. Oh iya, Pak Saddam saya baru mengingat sesuatu mengenai sekretaris Anda. Dia berasal dari Indonesia?” tanya wanita tersebut yang malah beralih membahas perihal Hana. Saddam mengangguk membenarkan karena itulah yang ia dengar dari Harry.
“Itu benar, Pa. Jadi benar dugaanku jika itu adalah istrinya Fahri. Rekan kerja kamu itu loh.”
Saddam mengernyit mendengar obrolan pasangan suami istri ini. “Apakah Pak Saddam sudah tahu mengenai hal ini?” tanya rekan bisnis Saddam itu.
“Tahu. Saya tahu jika dia sudah menikah.”
“Lalu, kenapa dia bisa berada di sini dan bekerja di perusahaan Anda? Setahu kami, Fahri berasal dari Indonesia dan hanya memiliki perusahaan di sana. Tidak mungkin jika istrinya berada di sini sedangkan dia di sana. Dan juga sepertinya Fahri tak akan tega membiarkan istrinya bekerja jauh sampai ke Kota Paris.”
Saddam tertawa kecil. “Untuk hal itu saya tidak tahu, Nyonya. Dia bekerja di sini sebagai sekretaris saya. Dan untuk hal pribadinya, perusahaan tidak terlalu ikut campur,” ucap Saddam dengan tenang.
“Itu benar,” sahut Pak Jess. “Sudahlah, Ma. Kenapa kamu malah membahas sekretarisnya Pak Saddam?”
“Ish. Aku kan hanya memberitahu biar Pak Saddam tidak salah merekrut orang.”
Saddam tersenyum. “Terima kasih untuk kekhawatiranmu itu, Nyonya. Saya akan mempertimbangkan ini.”
“Baiklah, Pak Saddam. Sepertinya kami harus segera pergi. Terima kasih untuk obrolan singkat ini.”
Saddam kembali menjabat tangan suami istri secara bergantian. Kemudian rekan bisnis Saddam ini pun pergi menuju ke kasir, sedangkan Saddam langsung mengambil telepon pintar miliknya dan mendial nomor Harry.
“Halo. Ada apa? Aku baru sampai di apartemen,” ujar pria di seberang sana.
“Kirimkan file mengenai data diri Hana ke emailku,” perintah Saddam dengan pandangan serius.
Harry mengembuskan napas berat. “Besok akan aku berikan.”
“Aku meminta malam ini, Harry,” kata Saddam tegas.
Harry memutar bola matanya malas. “Kenapa kau jadi buru-buru hanya karena data soal Hana? Lagi pula kau sudah tau siapa Hana, bukan? Kenapa harus dicek lagi? Aku sudah memastikan jika dia cocok untuk menjadi sekretarismu,” ujar Harry setengah kesal karena Saddam hanya akan menambah pekerjaannya.
“Jangan banyak berbicara, Harry. Kerjakan saja perintahku. Aku bosnya.”
“Ya. Ya. Kau bos nya. Nanti akan aku kirim.”
Harry menutup panggilan itu secara sepihak karena terlalu kesal. Saddam yang melihat tingkah temannya pun hanya bisa menggelengkan kepala. Saddam kembali berfokus ke etalase perhiasan, dia harus mendapatkan hadiah yang pas untuk sang ibu. Dan untuk mengenai Hana, sepertinya dia harus menyelidiki wanita itu.