Saddam hanya bisa tertawa melihat apa yang ia dapatkan. Memang Hana tak menyantumkan dengan benar bahwa dia sudah berpisah dengan suaminya, dan hanya mencantumkan pernah menikah. Saddam harus rela tidak tidur untuk menggali informasi dan mencari tahu perihal sosok Fahri yang katanya adalah suami dari Hana ini. Dan usaha Saddam membuahkan hasil, meskipun dia harus mencarinya hingga pagi menjelang, sekarang sudah jam tiga pagi lebih tepatnya.
Dan temuan Saddam ini akan menentukan nasib Hana esok pagi. Tentu saja Saddam akan merasa dikhianati karena dalam percakapan sebelumnya pun wanita itu tak memberitahu dengan jelas bahwa dia telah bercerai. Apalagi Saddam melihat jika Hana terlihat dekat dengan Harry yang merupakan teman baik pria ini.
“Bagaimana tidurmu, Han?” tanya Harry memulai obrolan. Mereka berdua kembali berangkat kerja bersama.
“Cukup baik. Bagaimana denganmu, Harry?”
“Aku juga. Bahkan aku tidur lebih sore kemarin karena terlalu lelah,” jawab pria tersebut.
“Kamu benar. Sepertinya karyawan memang butuh liburan.”
Harry terkekeh. “Tentu saja. Kita bukan robot, oke. Btw, apakah kamu ada usulan sebaiknya kita berlibur ke mana bulan ini?”
“Aku orang baru dan sama sekali tidak tahu dengan negara ini, Harry. Aku serahkan saja semuanya kepada kalian,” sahut Hana yang diangguki oleh pria itu.
“Oh iya, semalam Saddam meminta data dirimu kepadaku.” Hana refleks menoleh. “Mungkin hanya untuk pengecekan,” imbuhnya. Hana berharap semoga ini bukan pertanda buruk.
Sesampainya di kantor, Harry dan Hana mampir sebentar ke kantin bawah untuk membeli minuman. Keduanya berjalan memasuki lift bersama, dan tepat saat itu Saddam juga datang. Melihat kedua orang itu yang saling bersenda gurau membuat Saddam tak enak hati kepada temannya.
“Kalian berdua ikut ke ruangan,” perintah Saddam langsung kepada mereka. Hani dan Harry pun saling tatap, namun tetap mengikuti langkah atasannya tersebut.
Setelah sudah sampai di ruangan, Hani dan Harry duduk tepat di depan Saddam. Kemudian Saddam melemparkan beberapa berkas mengenai Hana berikut dengan fakta yang ia dapat. Hani dan Harry pun membacanya. Keduanya sama-sama terkejut, namun Harry langsung menatap Saddam di sana.
“Apa maksudnya ini, Saddam?” tanyanya.
“Dia,” tunjuk pria ini kepada Hana. “Dia sudah membohongimu. Dia membohongi kita semua,” ujarnya.
Hana menggeleng. “Apa yang kau maksud ini, Saddam? Membohongi perihal perceraiannya? Memang apa salahnya dengan bercerai? Apakah itu sebuah dosa?” sembur Harry yang tak habis pikir dengan Saddam yang terlalu membesarkan masalah.
“Pernikahan itu hanya berjalan sebulan. Apakah kau pikir itu wajar, Harry? Pernikahan akan berakhir jika salah satunya sudah menyimpang atau tak menemukan kesepakatan,” tutur Saddam. Hana hanya menunduk di sana. Dia yakin pasti dirinya akan segera dipecat.
“Lalu kau mau menyalahkan Hana? Bagaimana jika kesalahan ada pada suaminya?” sahut Harry yang masih membela wanita ini.
“Bagaimana jika sebaliknya?” balas Saddam dengan tangan yang bersidekap menatap Hana yang tak mengeluarkan suaranya. “bagaimana, Hana? Apa ada yang ingin kau katakan sekarang?”
Hana mendongak. Dia mencoba untuk terlihat tegar, meskipun luka yang Fahri torehkan belum sembuh. “Itu benar. Saya sudah bercerai tepat setelah sebulan pernikahan berlangsung. Suami saya memberikan talak kepada saya. Dan karena kami tidak memiliki kesepakatan lagi, jadi perpisahan adalah jalan yang tepat. Jika memang status saya menjadi bahan pertimbangan untuk bekerja di sini, saya siap untuk berhenti,” tutur Hana dengan profesional.
“Tidak. Tidak ada yang diberhentikan di sini. Kamu akan tetap menjadi sekretaris Saddam,” ujar Harry tak terima.
“Jika kau sudah tau statusnya, seharusnya kau bisa memilih Harry. Kau harus bisa memilih antara Karina atau Hana. Jangan mempermainkan mereka berdua,” sembur Saddam dengan nada kesal.
Harry dan Hana pun saling pandang, kemudian mereka menatap Saddam bingung. “Dan kau juga, Hana. Seharusnya kau jujur kepada Harry. Dalam sebuah hubungan, kejujuran itu adalah hal yang benar, tapi aku sarankan untuk lebih mempertimbangkan lagi hubungan di antara kalian karena perbedaan itu terlihat jelas.”
Harry memijit pelipisnya pelan. Jadi Saddam masih mengira Harry dan Hana sedang melakukan pendekatan, tetapi dia juga tau bila Harry dekat dengan Karina. “Saddam. Kau benar-benar membuatku malu di depan Hana. Haish, sudahlah, kau menyebalkan,” ucap Harry yang bergegas pergi dari sana agar tak terlalu emosi kepada temannya itu. Saddam pun dibuat bingung dengan sikap Harry ini. Sedangkan Hana malah menahan tawanya.
“Kenapa dia? Apa aku salah berucap?” tanya Saddam kepada Hana. Mau tidak mau Hana pun mengangguk membenarkan.
“Pak Saddam sudah salah paham. Saya dan Harry sudah menjelaskan perihal hubungan kami yang hanya sebatas teman. Kenapa Pak Saddam terus berpikiran jika kami memiliki hubungan?”
Saddam terdiam. Dia hanya mencoba menyadarkan Harry untuk tidak mempermainkan dua hati wanita sekaligus. “Aku hanya melihat dari sisi penglihatanku karena kalian sepertinya dekat.”
Hana menggeleng sambil tetap menahan tawanya. “Kedekatan seorang pria dan wanita tak seharusnya diartikan sebagai hubungan kekasih, Pak. Kita sudah dewasa, kita sudah satu batasan itu. Dan alasan saya akrab dengan Harry adalah karena di negara ini hanya dia yang saya kenal.”
Saddam pun mengangguk paham, dia akan meminta maaf kepada Harry nanti. Kemudian pandangan pria ini tertuju penuh kepada Hana. “Jadi … benar jika kau sudah bercerai?” Hana mengangguk membenarkan. “Lalu … apakah tujuanmu ke negara ini merupakan sebuah pelarian?”
“Ya mungkin bisa dibilang begitu, Pak,” jawab Hana dengan senyumnya.
“Aku turut prihatin mengetahui hal ini. Keputusan menikah bukanlah keputusan yang main-main. Kita harus mempertimbangkan betul. Dan jika suatu hari nanti kau berencana memiliki perasaan kepada Harry, lebih baik pertimbangkan dulu. Dilihat dari perbedaan keyakinan membuatku kurang yakin jika hubungan itu akan berjalan lancar, Hana. Ini saranku.”
“Terima kasih, Pak. Dari dulu saya memiliki prinsip akan menjalani hubungan dengan seseorang yang bisa menjadi imam yang baik untuk saya dan keluarga. Pria yang mengerti akan tanggungjawabnya kepada dunia dan keluarganya sendiri.”
Saddam mengangguk paham. “baiklah, Hana. Sekarang kau bisa kembali bekerja.”
“Saya tidak jadi dipecat, Pak?” tanya wanita itu.
“Apa saya pernah memecatmu?” tanya Saddam. Hana menggeleng. “Kau bisa kembali bekerja,” kata pria ini lagi yang diangguki oleh Hana di sana.
***
Hana baru saja akan memasuki mobil Harry, namun tiba-tiba ponselnya berbunyi. Di layar berisi nomor yang tidak dia simpan, namun Hana hapal jika itu adalah nomor Fahri. Untuk apa Fahri menghubungi Hana? Hana melirik Harry yang sudah masuk mobil. Tidak enak juga mengangkat panggilan itu di dalam mobil.
“Harry. Bisakah kamu menunggu sebentar? Aku harus mengangkat telepon dulu,” pinta Hana. Harry pun mengangguk setuju dan kembali mematikan mesin mobilnya.
Hana sedikit berjalan menjauh dari mobil Harry itu. Kemudian dia menggeser gagang telepon berwarna hijau di layar.
“Halo,” ucap Hana lebih dulu.
“Halo. Aku hanya ingin memastikan apakah kau sudah memberitahu keluargamu atau tidak mengenai perceraian kita,” kata Fahri langsung tanpa adanya basa-basi.
Hana mengembuskan napas berat. “Aku masih butuh waktu, Fahri.”
“Berapa lama? Aku harus segera menikahi kekasihku. Bagaimana bisa aku menikah jika kau tidak memberitahu perihal perceraian itu?”
Hana tersenyum miris. Lihat, bahkan pria ini sudah akan menikah lagi, lalu kenapa Hana terus-terusan masih memikirkan Fahri?
“Baiklah. Nanti aku akan bicara dengan keluargaku.”
“Oke. Aku tunggu. Aku beri waktu dua hari. Jika kau tidak memberitahu mereka, terpaksa aku yang akan turun tangan,” kata Fahri yang kemudian mematikan panggilan tersebut secara sepihak. Hana menatap miris layar ponselnya. Kemudian dia pun memasuki mobil Harry.
“Sudah?” tanya pria itu. Hana mengangguk, Harry mulai menjalankan mobilnya. Perjalanan hanya diisi oleh kekosongan di mana Harry tak berani mengajak wanita itu mengobrol karena dilihat dari ekpresi wajah, sepertinya Hana tidak sedang baik-baik saja.
Sesampainya di apartemen, Hana membuka galeri foto di ponselnya. Yang menampilkan foto pernikahan dirinya dan Fahri saat itu, serta foto seluruh keluarganya yang hadir. Hana tidak sanggup membuat senyum itu berubah menjadi kesedihan dan kekecewaan. Jika Hana memberitahu perihal perceraian, mungkin dia akan dicap buruk oleh keluarganya, dan Hana belum siap untuk itu. Tapi, Hana hanya memiliki waktu dua hari. Akan jauh lebih baik sang ayah tahu mengenai perceraian ini dari Hana, dibandingkan dari Fahri. Apalagi perceraian sudah dilakukan lama.
Tapi … Hana belum sanggup untuk mengatakan sekarang. Kepada siapa dia harus meminta solusi mengenai ini?
Ketukan di pintu menyadarkan Hana. Sambil mengusap area pipinya yang sedikit basah, Hana berjalan menuju ke arah pintu. Dilihatnya ada Ava yang membawa mangkuk berisi makanan.
“Hana. Aku tadi masak dan sedikit banyak, jadi aku bagi kepadamu ya?”
Hana mengangguk. “Ayo masuk dulu,” ucap Hana memberi jalan untuk wanita itu. Keduanya pun menuju ke dapur. Hana memberikan mangkuk miliknya untuk dipindah. “kamu tidak bekerja, Va?”
Wanita itu menggeleng. “Tidak jadi. Katanya ada pengawas bulanan yang akan melihat klub, jadi klub akan tutup satu hari,” ungkap wanita tersebut.
Hana mencuci bekas mangkok milik Ava itu. “Apa rencanamu malam ini?” tanya Hana. Dia mengingat jika dirinya harus mencari seseorang untuk dimintai solusi mengenai permasalahnnya.
“Tidak ada. Mungkin akan tidur dan menonton film. Kenapa?”
Hana memberikan mangkok Ava yang sudah ia cuci bersih dan keringkan. Kemudian dia ikut duduk di kursi meja makan bersama tetangganya itu. “Ava … bisakah aku meminta saran kepadamu?” ucap Hana ragu.
“Boleh. Apa yang bisa aku bantu?” balas wanita tersebut.
Hana mengembuskan napas kasar. “Ini mengenai perceraianku.”
“Perceraian? Kamu sudah menikah, Han?” pekik Ava langsung karen baru mengetahui fakta tersebut.
Hana mengangguk membenarkan. “Ceritanya panjang, Ava. Tapi singkatnya adalah kami sudah bercerai sekitar sebulan yang lalu dan aku datang ke negara ini adalah untuk melupakan perihal perceraian itu dan kenangan kami juga.”
Ava menyentuh tangan Hana, mencoba untuk saling menguatkan. “Kamu yang sabar ya, Han. Aku tau kamu adalah wanita yang kuat. Kamu pasti bisa.”
Hana memaksakan senyumnya. “Ya. Aku pasti bisa, Va. Tapi permasalahannya adalah aku belum memberitahukan hal ini kepada keluarga besarku.”
“APA?!” pekik Ava dengan mata yang melotot.
“Aku tau aku salah, tapi aku belum siap memberitahu mereka. Aku takut mengecewakan keluargaku,” lanjut Hana.
“Astaga, Hana. Sebenarnya pria apa yang kamu nikahi? Itu seharusnya menjadi tanggungjawab dia. Apa dia sama sekali tak menemui keluargamu lebih dulu? Mengutarakan perihal perceraian kalian,” tanya Ava lebih lanjut.
Hana menggeleng. Dialah yang melarang Fahri memberitahu keluarganya. “Lalu sekarang masalah apa lagi yang kamu hadapi?”
“Mantan suamiku memintaku untuk segera memberitahu keluargaku agar dia bisa menikahi kekasihnya.”
“Double s**t!!” umpatt Ava karena terlalu terbawa emosi di sana.
“Its oke, Va. I’m fine, oke,” ucap Hana.
“Tidak ada wanita yang baik-baik saja ketika perceraian terjadi, Hana. Apalagi akibat orang ketiga. Jika dugaanku benar, ini pasti gara-gara orang ketiga bukan?” tebak Ava di sana.
Hana menunduk, tak tahu harus menjawab apa. Hana pun menggeleng. “Dia tidak mencintaiku, Va.”
“Seharusnya dia sadar bahwa pernikahan tidak untuk main-main. Seluruh wanita di dunia ini pasti hanya ingin menikah sekali dalam hidupnya, bukannya berkali-kali. Sungguh menyebalkan. Jika aku berada di posisimu, pasti aku sudah maki-maki suamiku dan selingkuhannya,” kata Ava dengan emosional.
“Ava, tenanglah. Aku baik-baik saja. Sudah aku katakan di awal jika kedatanganku ke sini untuk melupakan semuanya. Dan syukurlah perlahan aku sedang mencoba untuk ikhlas dan menata hidupku lagi. Tapi, yang aku khawatirkan sekarang adalah keluargaku. Apakah kamu ada saran untuk ini?”
Ava terdiam, seperti sedang berpikir. “Saranku adalah kamu abaikan saja pria itu. Katanya jika kamu tidak memberitahu keluargamu maka dia akan memberitahu mereka secara langsung bukan? Itu memang tanggungjawab dia. Dia yang harus mengatakan langsung kepada keluargamu. Sudahlah, kamu hanya perlu diam saja. Jika nanti keluargamu menghubungimu, katakan saja sejujurnya dan duduk permasalahan kalian di mana.”
Hana mengangguk paham. Dia lega setelah bercerita kepada Ava. Ini adalah kali pertama dia bercerita kepada orang lain mengenai permasalahan keluarganya.
“Terima kasih, Ava karena sudah memberikan saran dan mendengarkan ceritaku.”
Ava tersenyum hangat. “sama-sama. Itulah gunanya teman. Kamu bisa cerita kepadaku apa pun, Hana. Aku akan mendengarkan dan memberikan solusi jika dibutuhkan.” Hana mengangguk.