Hana baru saja turun dari taksi. Dia terpaksa menggunakan taksi karena Harry tadi menghubunginya dan mengatakan jika pria itu tidak bisa menjemput Hana. Dan Harry juga mengatakan bila dia akan datang ke kantor sedikit lebih siang karena harus menyelesaikan sesuatu dulu.
Hana memasuki area kantor. Dari jauh dia melihat Fred yang asyik mengobrol dengan teman sekantornya. Rasanya sungguh menyenangkan jika memiliki teman-teman yang akrab. Hana menggelengkan kepala sejenak, dia langsung memasuki lift untuk menuju ke lantai atas.
Raut wajah Saddam terlihat masam ketika sang ibu jadi ikut dengannya ke kantor. Ini adalah hal yang tak biasa, apalagi di pagi hari seperti ini. Dan yang lebih parahnya lagi adalah alasan wanita paruh baya itu ikut ke kantor adalah ingin melihat sekretaris baru Saddam. Tentu saja Saddam merasa tak enak hati kepada Mia jika sang ibu bersikap aneh.
"Ibu makin curiga kalau kamu terus-terusan nggak bolehin Ibu ketemu dengan sekretarismu," ujar wanita tersebut.
Saddam memutar kemudinya menuju ke area parkir. "Bisa nanti siang kan, Bu. Atau kapan-kapan aku perkenalkan Ibu kepadanya. Ini terlalu pagi untuk bertamu," kata Saddam yang memiliki sejuta alasan di sana.
"Sudahlah jangan berdebat dengan Ibu. Anggap saja pertemuan ini sebagai hadiah ulang tahun," kata wanita tersebut yang kemudian berjalan untuk masuk ke dalam kantor. Tak ingin ketinggal, Saddam pun juga mengikuti sang ibu.
Karyawan kantor yang berpapasan dengan Saddam dan ibunya pun menyapa mereka. Semuanya masih mengenali sosok orang tua atasan mereka.
Setelah lift kembali terbuka, Saddam dan ibunya pun keluar dan menuju ke ruangan pria tersebut. Saat membuka pintu, Saddam bersyukur Hana tidak ada.
“Lihat. Sepertinya dia tidak masuk hari ini, Bu,” kata pria tersebut yang memberikan alasan agar sang ibu bisa segera pergi.
“Kalau begitu Ibu akan duduk dan menunggunya di sini,” kata wanita tersebut sembari duduk di salah satu sofa. Tepat setelah itu pintu ruanganmu terbuka. Hana baru kembali dari toilet dan terkejut menemukan sosok wanita paruh baya di dalam ruangan atasannya.
Ibu dari Saddam pun menghampiri Hana. Sedikit mengernyit karena tampak tak asing di pandangannya. Hana pun sama, dia seperti pernah mengingat wanita di depannya itu.
“Ibu. Tidak sopan melihat orang lain seperti itu,” tegur Saddam kepada ibunya yang langsung menyadarkan wanita tersebut.
“Kamu … apa sebelumnya kita pernah bertemu?” tanya wanita ini.
“Maaf, Tante. Memori ingatanku sepertinya kurang bagus. Dan nampaknya kita pernah bertemu sebelum ini,” jawab Hana dengan ragu.
“Aha! Ibu ingat, Saddam,” pekik wanita pauh baya tersebut yang mengejutkan keduanya. “Dia adalah wanita yang di pesawat itu. Kamu masih ingat, Tante kan?”
Hana mengernyit, mencoba mengingat. Setelah mencari memori itu, dia pun sudah ingat akan kejadian pertama kali ia berada di negara ini. “Ah, iya, Tante. Maaf tidak mengenali Tante sebelumnya.”
“Tidak apa-apa. Tante lupa saat itu kamu memberitahu namamu siapa?”
“Hana. Nama saya Hana, Tante,” jawab Hana singkat.
Terlihat wanita paruh baya itu mengangguk paham. “Jadi kamu adalah sekretaris Saddam yang baru?”
Hana mengangguk. “Tante … siapanya Pak Saddam ya?” tanya Hana ragu.
“Saya ibunya Saddam.”
Hana melotot. “Oh, maafkan saya, Tante. Saya baru tahu,” ucap Hana panik. “Maaf Pak Saddam,” ucapnya juga kepada sang atasan.
Ibu dari Saddam pun tertawa melihat tingkah panik Hana ini. “Aku senang akhirnya bisa bertemu denganmu lagi, Hana. Pertemuan terakhir kita saat itu adalah di pesawat bukan? Sekarang kamu tinggal di mana?”
“Saya tinggal di apartemennya Pak Saddam, Tante.”
Wanita itu langsung menoleh kepada putranya, seperti meminta penjelasan lebih. “Semua tidak direncanakan, Bu. Dia menyewa apartemen melalui Harry. Harry lah yang menyewakan apartemenku kepada Hana,” terang Saddam yang diangguki oleh Hana.
“Baiklah, Ibu paham. Hana, kapan-kapan kamu main ke rumah ya. Tante akan masakkan makanan yang enak untukmu,” kata ibu dari Saddam penuh perhatian. Hana pun jadi tak enak hati dan hanya mengangguk saja di sana. “Saddam. Lihat bukan? Hana sudah setuju untuk datang ke rumah. Kamu jangan coba-coba mengarang lagi perihal dia yang tak mau datang,” tegur sang ibu yang membuat Hana melirik atasannya yang tampak sedikit kesal. Sebenarnya ada apa antara ibu dan anak ini?
“Ibu. Sebaiknya berangkat arisan sekarang. Aku dan Hana harus kembali bekerja,” kata Saddam yang terdengar seperti pengusiran.
“Kamu ini, Saddam. Selalu saja tidak mau jika Ibu ke kantor,” omel wanita tersebut. Kemudian dia kembali beralih kepada Hana dengan ekspresi yang lebih hangat dari pada kepada putranya. “Hana … Tante beneran menunggu kamu di rumah, loh.”
Hana mengangguk. “Baik, Tante. Kalau saya tidak sibuk, nanti saya akan mampir.”
“Eh, eh, eh. Jangan panggil Tante, dong. Panggil ibu.” Saddam melotot, Hana mengernyit. “Ibu itu ingin sekali punya anak perempuan. Jadi panggil ibu saja ya biar terdengar lebih dekat,” jelas wanita itu.
Hana tentu tidak bisa menolak karena ini adalah orang tua atasannya. “Baiklah … Ibu.” Agak aneh memanggil orang lain dengan sebutan itu.
Ibu dari Saddam pun terlihat senang. Dia memeluk dan mencium pipi Hana sebelum akhirnya pergi. Lihat, bahkan dia sama sekali tak berpamitan kepada Saddam. Saddam jadi berpikir apakah keberadaan Hana akan menyingkirkan posisinya di dalam keluarga.
“Pak Saddam—”
“Kembali bekerja,” potong Saddam yang berbalik meninggalkan Hana menuju ke mejanya. Hana dengan berjalan gontai pun ikut menuju ke mejanya juga dan mulai kembali bekerja.
Saat jam istirahat makan siang, Hana bersama dengan Harry dan Fred kembali menikmati makan siang bersama. Namun kali ini Hana kembali berkenalan dengan dua karyawan lain yang merupakan teman dari Fred.
“Jadi mari kita bicarakan liburan nanti. Jika sudah menemukan tempat yang pas, kita bisa umumkan ke grup,” saran Fred.
Harry mengangguk setuju. “Aku mengusulkan kita ke area sedikit pedesaan, itu akan terlihat alami sekali, dan aku yakin di sana pasti akan sangat menyenangkan dan tenang tentu saja.”
“Sepertinya area pedesaan jauh dari sini, Pak. Tidak akan cukup waktu untuk ke sana. Bagaimana jika ke area rekreasi di dalam kota. Setidaknya waktu yang kita punya akan sangat banyak,” usul salah satu dari mereka.
“Bagaimana denganmu, Fred?”
“Sebenarnya aku ingin kita mencoba hal baru. Misal berkemah di pinggir sungai. Tapi sepertinya itu membutuhkan minimal dua hari jika liburan,” jawab pria tersebut.
“Wah, itu ide yang bagus,” pekik teman dari Fred yang agaknya setuju dengan pria ini.
Harry mengangguk. “Bagaimana denganmu, Hana?”
“Aku ikut saja, Harry.”
Harry terdiam, seperti memikirkan sesuatu. “Sebenarnya ini akan jadi hal baru bagi kita semua kan? Tapi sepertinya tidak salah mencoba. Aku mengingat sesuatu jika di tengah bulan depan akan ada libur tiga hari bersamaan. Jika tidak keberatan, kita bisa menggunakan waktu libur itu. Tapi jika tidak mau, maka akhir bulan ini kita harus cari tempat dan acara lain,” tutur Harry.
“Kita umumkan di grup dulu saja, Pak. Kalau banyak yang setuju dan ikut, kita jadi pergi. Jika tidak makan akhir bulan ini kita ke area sekitar kota saja,” sahut Fred di sana. Semua orang pun terlihat setuju.
Hana pun menikmati waktunya bersama teman-teman barunya ini. “Oh iya, kalian belum pernah mengajak Pak Saddam untuk ikut?” tanya Hana yang langsung mendapat tatapan penuh dari keempatnya. Kemudian tawa Harry pun menguar di sana.
“Apa yang kamu bicarakan, Hana? Jika Saddam ikut, ini bukan terasa seperti liburan bagi mereka, melainkan bekerja,” sahut Harry. Lagi pula Saddam tak akan mau ikut hal seperti ini.
“Bahkan di liburan reward setiap tahun untuk karyawan pun beliau tidak pernah terlihat ikut,” imbuh teman dari Fred.
“Oh iya aku lupa memberitahumu, Hana. Meskipun Saddam terlihat kaku dan terlalu disiplin, sebenarnya dia baik. Setiap tahun akan ada acara tahunan bagi karyawan yakni liburan bersama, semuanya harus ikut kecuali mereka yang memiliki alasan kuat untuk tidak ikut.”
“Wah. Pasti akan sangat seru sekali.”
Harry mengangguk membenarkan. “Tentu saja. Tahun ini kamu akan merasakan itu juga. Tunggu saja.”
“Aku tidak sabar menunggu,” balas Hana dengan senyum bahagianya.
***
Sudah empat hari berlalu sejak terakhir kali Fahri menghubunginya. Hana pikir pria itu akan kembali menghubunginya, namun hingga sekarang tidak. Hana bisa bernapas lega, mungkin Fahri tidak jadi memberitahu keluarga Hana.
Hana memoleskan lipstik berwarna nude di bibirnya. Dia kembali mengamati penampilan akhirnya sekarang. Malam ini dia akan ke rumah Saddam untuk mengikuti jamuan makan malam, undangan dari ibu dari Saddam.
Pintu apartemen diketuk, Hana buru-buru keluar, itu pasti Harry. Harry ternyata ikut diundang dan Saddam juga meminta keduanya untuk berangkat bersama untuk menghindari hal tak diinginkan di lingkungan apartemen Hana.
“Kamu sangat menakjubkan malam ini, Hana,” puji Harry. Hana tertawa mendengar perkataan pria itu. Hana mengunci pintu apartemen, keduanya segera menuju ke lift bersama-sama.
“Kamu sepertinya sangat dekat dengan keluarga Pak Saddam, Harry.”
“Ya begitulah. Kami sudah berteman sedari kecil. Hanya saja orang tuaku harus pindah, tetapi aku menetap di kota ini dengan menyewa apartemen. Aku sudah lahir dan tumbuh besar di sini bersama Saddam, jika aku pindah maka aku harus menyesuaikan lagi,” cerita pria itu.
Harry membantu Hana membuka pintu mobil, kemudian dia menuju ke kursi kemudi. “Lalu … kenapa kamu tiba-tiba diundang untuk makan malam juga? Keluarga Saddam tidak mungkin mengundang sembarangan orang tanpa tahu seluk beluknya lebih dulu,” tanya Harry.
“Aku sudah pernah bertemu dengan kedua orang tua Pak Saddam. Lebih tepatnya di pesawat yang aku tumpangi saat menuju ke Paris. Dan aku baru mengetahui jika mereka adalah orang tua Pak Saddam. Dunia memang cukup sempit ya.” Hana terkekeh mengingat takdir aneh ini.
“Mungkin memang itu takdirmu, Hana.”
Di rumah besar keluarga Saddam sendiri terlihat sang ibu nampak menunggu kedatangan Hana di depan pintu. “Ibu. Mereka masih di jalan. Lebih baik kita menunggu di dalam saja,” saran dari Saddam. Ia tak mengerti kenapa ibunya bersemangat sekali setiap bertemu dengan Hana. Entah apa yang wanita itu lakukan kepada ibu dari Saddam ini.
Tak lama mobil Harry pun memasuki area pekarangan rumah besar keluarga Saddam itu. Hana waktu itu sudah pernah ke sini bersama Harry untuk menjemput Saddam. Tapi dia hanya sebatas tau area luar saja, untuk area dalam Hana belum pernah memasukinya.
Ibu dari Saddam langsung menyambut Hana dengan senang. “Akhirnya putriku datang juga. Ayo kita masuk,” katanya sembari membawa wanita itu masuk ke dalam. Harry yang mendengar panggilan khusus untuk Hana pun mengernyit bingung dengan menatap Saddam. Saddam mengkode temannya untuk masuk lebih dulu.
“Halo, Hana,” sapa ayah dari Saddam yang masih mengingat wanita itu.
“Halo, o*******g bisa bertemu Anda lagi.”
“Ayo duduk semuanya. Kita makan malam dulu, nanti kita ngobrol di ruang tamu,” ucap ibu dari Saddam.
Semuanya pun mengambil nasi, sayur, lauk dan pauknya. Harry yang memang sudah akrab dengan keluarga Saddam pun mengambil sesuka hatinya. Berbeda dengan Hana yang hanya mengambil seadanya saja.
“Hana. Kamu makannya terlalu sedikit. Ayo tambah nggak apa-apa,” kata wanita paruh baya tersebut.
Hana tersenyum kaku. “Tidak usah, Tante. Ini sudah cukup, kok,” jawab Hana tak enak hati.
“Loh, loh. Kok tante lagi? Panggil ibu, dan ini ayah,” ralat ibu dari Saddam itu. Harry makin bingung melihat interaksi ini. Hana kembali memaksakan senyumnya di sana.
“Ibu. Berhentilah. Biarkan semuanya menikmati makan malam dulu,” tegur Saddam di sana. Sang ibu pun mengalah. Mereka kembali menikmati hidangan makan malam di rumah Saddam itu.