Hana baru saja turun dari bus dan sedang berjalan kaki untuk ke apartemen dia tinggal. Saat menunggu lift, dering ponselnya berbunyi, Hana pun langsung mengambil benda persegi panjang itu dan mulai masuk ke dalam lift serta menekan tombol lantai di mana apartemennya berada.
Di ponselnya tertera nama sang ayah. Hana pun tertegun, dia gugup karena ini adalah kali pertama sang ayah menghubunginya setelah perceraian yang Hana lakukan. Ada sedikit rasa takut apabila mengangkat panggilan itu. Hana takut jika sang ayah bertanya mengenai pernikahan, atau malah Fahri sudah mengatakan jika keduanya telah bercerai.
Hana juga tidak mungkin mengabaikan panggilan dari sang ayah, mau tidak mau dia harus mengangkat panggilan itu dan mengambil ancang-ancang bersiap untuk mendengarkan petuah dari ayahnya.
“Halo, Yah,” sapa Hana lebih dulu.
“Halo, Nak. Kamu apa kabar?”
“Baik, Yah. Ayah dan Ibu apa kabar? Semuanya baik, kan?”
Hana baru saja keluar dari lift dan berjalan menuju ke pintu miliknya. Dia sedikit kesusahan merogoh kunci yang ada di dalam tasnya ditambah lagi dia harus memegang ponsel di sana.
“Semuanya baik. Kamu dan Fahri baik-baik saja, kan?”
Timbul kernyitan bingung di dahi wanita ini. Apakah Fahri belum mengatakan kebenaran kepada keluarga Hana sendiri? Hana pun sudah masuk ke dalam apartemen miliknya.
“Baik, Yah,” jawab Hana. Dan pada akhirnya Hana pun memilih untuk tutup mulut sekarang.
“Syukurlah. Ayah dan Ibu sebenarnya ingin menjenguk kalian, tetapi keadaan di sini sedang repot. Kakakmu baru saja melahirkan.”
“Alhamdulillah jika semuanya lancar, Yah. Maaf karena Hana belum bisa menjenguk kakak,” kata wanita ini. Tentu saja dia tak bisa menjenguk karena Hana berada jauh dari tanah kelahirannya.
“Tidak apa-apa, Nak. Kamu harus mengurus suamimu dengan baik di sana.”
Rasa-rasanya Hana tak sanggup untuk memberitahu sang ayah jika pernikahan putrinya telah berakhir. Hana pasti akan mendapat kemarahan besar dari keluarganya terutama sang ayah karena perceraian di keluarga mereka belum pernah terjadi dan akan menjadi hal yang memalukan tentunya. Dan Hana sedang menghindari ini.
“Yah. Kalau begitu Hana akan tutup teleponnya. Ada hal yang harus Hana urus,” pamit wanita ini yang tak ingin terlibat obrolan lebih dengan sang ayah yang mungkin saja bisa mendapat kecurigaan oleh orang tuanya itu.
“Baiklah. Salam buat Fahri ya. Kalian baik-baik di sana.”
“Iya, Yah.”
Hana pun mematikan ponselnya dan mengembuskan napas berat. Terselip rasa bersalah karena tidak mau jujur kepada sang ayah. Tetapi, Hana mengingat jika sejauh dan sekuat apa pun dia berusaha untuk menyembunyikan perceraiannya, pada akhrinya keluarganya nanti akan tau. Entah mereka akan tau dari Fahri sendiri atau Hana, atau malah mungkin orang lain.
Karena menyadari jika sang ayah belum tau mengenai perceraiannya, Hana malah ingin mengkonfirmasi kepada Fahri. Atau dia harus meminta sedikit waktu agar Fahri tak membeberkan mengenai perceraian ini.
Hana pun langsung mencari kontak nomor mantan suaminya itu yang ternyata masih ia simpan. Sempat ragu untuk mendial nomor ini, takut jika Fahri akan marah atau malah tak mengangkat panggilannya. Dengan keberaniannya, Hana pun mendial nomor pria itu. Ketika dering ke enam, barulah panggilan Hana dijawab.
“Halo, Mas,” sapa Hana seperti biasa dan masih nampak memanggil Fahri dengan panggilan ‘mas’. Hana pun menyadari jika dia seharusnya tidak begini. Toh beberapa hari tinggal di Paris membuatnya untuk tetap berusaha melupakan kenangannya bersama mantan suami.
“Kenapa kamu masih menghubungiku?”
Suara Fahri terdengar semakin dingin, Hana menahan kesedihannya. Dia tak ingin terlihat seperti wanita lemah. Jika Fahri baik-baik saja dengan perceraian mereka, maka Hana pun juga sama bisanya.
“Aku ingin bertanya satu hal, Mas.”
“Berhenti memanggilku dengan sebutan itu.”
Bahkan Fahri menolak panggilan yang Hana sering serukan. Semuanya memang terasa benar-benar berbeda sekarang. Dan keinginan Hana untuk melupakan masa lalu pun menjadi kuat.
“Maafkan aku, Fah-ri.” Rasanya aneh ketika menyebut nama pria itu tanpa embel-embel seperti biasa. “Aku hanya ingin memastikan apakah kamu tidak memberitahu orang tuaku mengenai perceraian kita,” kata Hana yang langsung pada inti karena dia tak ingin terlibat dalam percakapan lebih.
Fahri tak langsung mejawab, ada jeda di sana. “Untuk apa aku memberitahu mereka? Bukankah itu sudah menjadi tugasmu?”
Nada suara Fahri masih saja terasa ketus dan dingin di indra pendengaran Hana sekarang, beda sekali dengan Fahri yang Hana kenal pertama kali. “Ya, kamu benar. Aku yang akan memberitahu mereka langsung. Tapi, bisakah kamu untuk tetap diam dan tidak memberitahu mereka tentang perceraian kita? Aku masih butuh waktu untuk memberitahu mereka yang sebenarnya,” pinta Hana.
“Baiklah. Aku akan usahakan.”
“Terima kasih. Kalau begitu aku tutup teleponnya.”
Hana menyudahi panggilan tersebut. Terlihat wanita ini menutup matanya sejenak, mengatur napasnya dengan baik. “Jangan goyah, Hana. Kamu adalah wanita yang kuat. Aku yakin kamu bisa,” ucap Hana kepada dirinya sendiri.
Hana pun memilih untuk memulai ritualnya membersihkan diri. Dia juga butuh amunisi. Sepertinya memasak untuk makan malam adalah ide bagus.
Terlihat Saddam juga baru sampai di rumah mewah keluarganya. Sang ibu seperti biasa menyambut putranya itu.
“Anak Ibu yang ganteng udah pulang,” ucap wanita paruh baya yang selalu memanjakan sang putra meskipun sudah sebesar ini. Saddam juga tak menolak karena itu adalah bentu kasih sayang sang ibu kepadanya.
“Ayah belum pulang, Bu?” tanya pria ini sembari mengikuti langkah kaki ibunya menuju ke dapur.
“Belum. Katanya sih ada hal yang harus diurus. Oh iya, kamu bersih-bersih dulu sana. Malam ini ada tamu yang akan datang.”
Perkataan sang ibu membuat gerakan Saddam yang sedang menuangkan air pun menjadi lambat. Jika sang ibu mengatakan ada tamu, maka itu bukan hal baik bagi Saddam di mana pasti ini masih ada sangkut pautnya dengan dirinya.
“Perjodohan lagi, Bu?”
Wanita itu pun tersenyum karena sang putra sudah peka dengan keadaan. “Benar, Sayang. Wanita ini masih muda. Baru lulus kuliah.”
“Saddam tidak mau, Bu. Sudah Saddam katakan akan mencari istri sendiri,” tolak pria ini mentah-mentah.
Sang ibu pun menghampiri Saddam dan menampilkan wajah melasnya. Ibunya tau jika sang putra tidak tega menolak permintaan sang ibu. “Kali ini saja, Nak. Kamu coba dulu ya. Siapa tau kalian cocok. Bagaimana kamu bisa menikah jika bertemu dengan wanita yang kami ajukan saja tidak mau. Sekali saja kamu coba, kalau tidak cocok maka kita tidak akan memaksa.”
Terlihat pria ini yang mengembuskan napas beratnya. “Baiklah, baiklah. Hanya kali ini. Kalau aku merasa tidak cocok, aku tidak akan menikah dengannya. Dan aku minta ayah serta ibu tidak lagi menjodohkanku. Ini sungguh memalukan,” tutur Saddam dengan omelannya.
Pria ini pun memilih untuk ke kamarnya, sedangkan sang ibu tersenyum senang di sana karena Saddam pada akhirnya mau untuk bertemu dengan wanita pilihan mereka.
Malam semakin larut. Hana menatap makan malamnya yang masih ada sisa. Dia jadi kepikiran dengan Ava, wanita di seberang apartemennya. Tidak salahnya jika dia memberikan makanan ini kepada wanita itu.
Hana pun segera meletakkan makananya di kotak makanan, dan membawanya keluar. Dia langsung mengetuk pintu apartemen Ava di mana bertepatan dengan pintu tersebut yang terbuka dan tampaklah Ava yang sudah rapi di sana.
“Eh? Hana.”
“Hai, Ava. Kamu mau pergi bekerja ya?” tanya Hana karena melihat Ava yang sudah rapi seperti hendak pergi. Dia mengingat jika Ava akan bekerja di malam hari.
Ava mengangguk. “Aku tadi masak, tetapi terlalu banyak jadi aku bagi denganmu boleh? Aku lupa jika kamu malam hari pergi bekerja, tetapi makanan ini bisa kamu jadikan bekal,” terang Hana kala itu.
Ava pun menerima makanan dari Hana itu. “Terima kasih, Hana. Maaf karena sudah merepotkanmu.”
“Its oke, Ava. Aku senang bisa berbagi dengan tetangga. Oh iya aku ingin memberitahu bila aku sudah diterima kerja hari ini.”
“Wah, benarkah? Selamat ya, aku turut senang mendengarnya,” sahut Ava yang ikut bahagia di sana.
“Oh iya, kamu bekerja di mana, Ava? Kamu selalu dapat shift malam ya?” tanya Hana.
Ava pun terkekeh. “Tempatku bekerja memang hanya buka di malam hari, Hana. Jika mau, kamu bisa mampir kapan-kapan,” kata Ava. Dia pun merogoh tasnya dan memberikan secarik kertas di sana. Hana menerima kertas itu dan membaca nama yang tertera di sana.
“Club?” gumam Hana.
“Ya. Aku bekerja di sana sebagai bartender. Kamu bisa mampir ke sana kapan-kapan. Kamu tenang saja, di sana ada minuman yang aman. Kamu pesan jus pun nanti akan aku buatkan,” kata Ava dengan kekehannya.
Hana pun tertawa. “Terima kasih, Ava. Kapan-kapan aku akan mampir kalau ada waktu luang.”
“Aku akan menunggu. Sepertinya aku harus berangkat sekarang. Tidak apa-apa kan aku tinggal, Hana?” kata Ava. Hana mengangguk dan membiarkan tetangganya itu pergi.
Hana kembali masuk ke dalam apartemennya sembari menenteng kertas yang Ava berikan. Dia tak menyangka jika Ava bekerja di sebuah club di mana tempat itu menjadi hiburan malam bagi orang-orang. Tapi, Hana tentu tidak akan mengintimidasi atau mengolok pekerjaan Ava, toh semua adalah pilihan wanita itu. Dan lagi pula Ava bekerja sebagai bartender dan bukannya hal negatif.
***
“Hai, Hana,” sapa Harry ketika dia tanpa sengaja melihat sosok Hana yang baru saja masuk ke kantor.
“Hai, Harry. Dan selamat pagi.”
“Selamat pagi juga untukmu.”
Keduanya tak langsung masuk ke lift dan memilih untuk duduk di sofa yang ada di lobi kantor. “Bagaimana pekerjaanmu kemarin? Semuanya berjalan lancar?” tanya Harry.
Hana mengangguk. “Semuanya lancar, Harry.”
“Syukurlah. Tapi jika memang Saddam melakukan hal buruk padamu, segera laporkan padaku. Aku akan menegurnya,” kata Harry yang diangguki oleh Hana saja di sana. “Aku harap kamu akan jadi sekretaris terakhir di sini, Hana. Aku sudah lelah mencarikan dia sekretaris. Semoga kamu betah dan tidak berpikiran untuk berhenti, ya.”
Hana terkekeh dan merasa kasihan melihat Harry. “Kamu tenang saja, Harry. Aku akan berusaha untuk bertahan. Lagi pula mencari pekerjaan sekarang susah, jadi aku akan tetap pada pekerjaan ini.”
“Baguslah.”
Keduanya saling tersenyum satu sama lain. “Ekhem!”
Dehaman berat membuat kedua orang ini reflek menoleh. Terlihat sosok Saddam yang ternyata sudah datang dan nampak mendatangi kedua orang ini. Dia melihat Hana dan Harry saling melempar senyum. Dan itu membuat Saddam menjadi curiga bila keduanya memiliki hubungan. Dan seperti peraturan, tidak ada hubungan di dalam kantor ini antar pekerja. Peraturan aneh memang, tetapi Saddam melarang keras hal tersebut. Semua dilakukan agar para pekerjanya fokus dengan pekerjaan masing-masing.
Hana dan Harry pun berdiri. “Selamat pagi, Pak,” sapa Hana lebih dulu.
“Apa kalian tidak mau ke ruangan masing-masing?” tegur Saddam. Harry mengernyit, tidak biasanya Saddam menegur dirinya. Oh atau mungkin teguran itu ditujukan untuk Hana.
“Kau tidak mendengarku, Harry?” imbuh Saddam lagi membuat Harry mengangguk. “Dan kau juga, Hana,” lanjutnya kepada Hana. Hana pun mengangguk dan langsung pergi dari sana bersama dengan Harry.
“Tunggu,” panggil Saddam lagi membuat langkah Hana dan Harry terhenti dan kembali berbalik kepada atasannya. “Belikan aku minuman dulu,” perintah Saddam pada Harry. Harry tentu tidak bisa menolak, lantas dia pun pergi berlainan arah dengan Hana. “Dan kau, kembali ke ruangan. Jam kerja akan dimulai sebentar lagi,” ucap Saddam kepada Hana di mana pria itu memimpin perjalanan ke lift dan Hana hanya mengekor di belakang dengan diam.