Chapter Empat Belas : Perjanjian Pra Nikah

1014 Words
Setelah acara makan malam sekaligus lamaran waktu itu hari-hari Irene dan William begitu sibuk, persiapan pesta pernikahan menyita waktu mereka dari beberapa aktivitas lainnya. Seperti pergi bersama teman-temannya, dan juga hanya sekedar meluangkan waktu berdua tidak bisa. Orang tua mereka masing-masing melarang untuk tidak dulu bertemu. "Diamlah di rumah, sampai pernikahan tiba. Tidak baik calon pengantin keluyuran di luar." Nyonya Alexia meminta Irene untuk tidak melakukan aktivitas dulu di luar rumah karena pernikahan sudah tinggal menghitung hari. "Tidak lama Bu, aku mau bertemu dengan teman-teman dulu. Dekat dari sini, hanya satu jam. Setelah itu aku pasti pulang." Irene meminta pengertian dari nyonya Alexia agar menginginkan pergi bertemu temannya. "Ya sudah, pergilah. Ingat jangan lama-lama. Pulang setelah selesai dan jangan mampir ka manapun." Meski di beri ijin tetap saja ada batasannya, nyonya Alexia tidak ingin jika sesuatu hal buruk terjadi pada putrinya yang akan menikah. Sementara di tempat lain, William juga melakukan hal yang sama. Yaitu pergi menemui teman-temannya, bedanya dia tudak mendapat larangan dari orang rumahnya seperti Irene. Jadi dia main pergi saja, lagi pula menurutnya tidak ada yang salah karena hanya pergi sebentar saja. Irene sudah sampai di tempat yang sudah di janjikan dengan teman-temannya, dia duduk menunggu kedatangan temannya. Sambil memesan minuman terlebih dulu karena rasanya sangat haus sekali. "Ini pesananmu, nona." Ucap pramusaji menaruh pesanan Irene, dia menganggukan kepalanya lalu menenggak hampir separuh minumannya. Rasa segar langsung dia rasakan pada tenggorokan hingga ke perutnya. "Ah, segar sekali rasanya. Mana mereka? Sudah jam segini belum juga datang." Irene menggerutu karena temannya belum ada yang datang, dia sampai menghabiskan minumannya barulah orang yang di tunggunya datang. "Maaf, kita terlambat. Dia nih lelet banget." Seru salah seorang teman Irene. "Kalian pesan minum dulu sana, biar tidak kaget saat aku cerita nanti." Dengan ekspresi biasa saja, Irene menyuruh temannya memesan minuman. Keduanya menuruti permintaan Irene,setelah pesanan mereka datang dan menimumnya setengah. Barulah Irene bercerita mengenai perjodohan juga perjanjian pra nikah yang dia ajukan pada William. "Jadi begini, beberapa hari yang lalu ibuku menjodokan aku dengan anak sahabtanya. Yang ternyata dia adalah teman satu sekolahku dulu. Bisa di katakan jika lelaki itu adalah musuh bebuyutan, aku tidak bisa menolak perjodohan ini dengan alasan yang aku gak mungkin ceritakan pada kalian berdua. Lalu aku juga mengajukan perjanjian pra nikah di antaranya dia tidak boleh menyentuhku sampai aku benar-benar jatuh cinta padanya, dan aku masih tetap kerja seperti bisanya. Jadi itulah yang ingin aku ceritakan pada kalian," Panjang lebar Irene bercerita dan tanggapan kedua temannya adalah, mereka sangat terkejut mendengar kabar tersebut. Bagaimana bisa seorang Irene yang cukup dinamis dan memegang kuat sebuah prinsip bersedia di jodohkan bahkan dengan pria yang menjadi musuh di sekolahnya. "Kamu tidak sedang bercanda, kan? Sepertinya cerita ini mengada-ada. Aku tidak percaya,bahwa seorang Irene mau menerima perjodohan ini. Kamu pasti tidak serius." Itulah respon dari temannya Irene, di tengah keterkejutannya mendengar kabar yang menurutnya adalah sebuah guyonan saja. "Mana mungkin aku bercanda, ini serius dan juga tidak mengada-ada." Irene meyakinkan temannya tapi sepertinya mereka berdua masih belum percaya dan begitu terkejut sampai-sampai menyemburkan minumannya. Di tempat lain, William sedang berhadapan dengan temannya. Dia seperti seoarang yang baru saja ketahuan mencuri, menunggu jawaban dari para petugas lapas. "Ayolah, katanya kamu mau cerita sama kita. Kenapa malah diam saja?" Seru salah satu dari teman Wiliam yang merasa kesal karena William hanya diam saja. "Aku bingung mau memulai cerita ini dari mana dulu, kalian yakin mau mendengarnya? Siapkan mental dan jangan menyela selama aku bercerita." William meyakinkan temannya untuk tetap melanjutkan ceritanya, dan meminta untuk diam mendengarkan sampai selesai. "Iya, cepatlah. Memangnya cerita seram seperti apa yang ingin kamu bagi sama kita?" Geram pria yang duduk di sebelah William,dia gemas karena seperti sedang dalam situasi yang salah dan menyebalkan. "Ibuku menjodohkan aku dengan putri dari sahabatnya. Dan kami berdua akhirnya menerima perjodohan tersebut tapi dengan syarat yaitu perjanjian pra nikah dan sudah kami setujui." William berhenti sejenak melihat respon dari teman-temannya, di luar dugaan. Dia kira kalau mereka akan biasa saja, tapi ternyata itu salah. Wajah-wajah mereka terlihat pucat dan bengong, menatap kosong ke arah William. "Kalian tidak apa-apa? Jangan membuatku takut. Ini bukan cerita seram," William menggerakan tangan teman-temannya satu persatu agar kembali sadar, dan membuatnya takut. "Ini pasti tidak benar, kalau mau bercanda jangan yang sepeti ini. Masih banyak cerita lucu, kenapa harus perjodohan dan perjanjian pra nikah yang terdengar sangat konyol ini sih," sergah salah satu teman William, dia sampai menggenakan kepalanya dan menganggap jika William sedang membual dan bercanda. Wajah dia menunjukan keterkejutan yang tidak bisa di jabarkan dengan kata-kata. Tidak percaya dengan apa yang di ceritakan oleh William. "Itu benar, kamu jangan bercanda kayak gini. Tidak lucu, lebih baik kita nonton film horor saja sakalian, sudah jelas itu menyeramkan ketimbang mendengar cerita konyolmu ini." Timpal yang lainnya. Mereka sangat tahu betul seperti apa William, pria yang sangat mengikuti perkembangan jaman pasti akan menolak jika benar di jodohkan okeh orang tuanya. Apalagi ini ada perjanjian pra nikahnya segala. "Kalian ini apa tidak mempercayaiku? Ini sungguhan dan tidak berbohong,bahkan dalam perjanjian pra nikah tersebut kita sepakat untuk tidak saling menyentuh sampai kita berdua sama-sama saling mencintai, aku tidak bisa memberi tahu alasan kenapa sampai menerima perjodohan. Tolong, percayalah." Sekali lagi William meyakinkan teman-temannya yang dia ceritakan memang benar. Respon mereka benar-benar terkejut, merasa tidak percaya dengan perjodohan yang di lakukan oleh ibunya William dan pria itu menerimanya. Bahkan sampai ada perjanjian pra nikah segala. Yang di mana isinya sangat konyol sekali. "Apa kamu sudah memutuskan dan memikirkan ini dengan baik? Maksud aku, tentang perjanjian pra nikah yang sudah kamu dan wanita itu setujui. Kamu ini pria dewasa yang tidak mungkin bisa menahan gejolak rasa kedewasaan layaknya pura normal pada umumnya, yang namanya gejolak itu bisa saja terjadi baik adanya cinta maupun tidak. Jadi aku meragukan jika kamu sanggup berada di dalam satu kamar dengan seorang wanita dan kalian berdua tidak akan melakukan apa-apa." Keterkejutan teman-teman William dan juga Irene memang sangat beralaskan, sebab mereka semua tahu seperti apa kedua orang itu. Jadi sulit dipercaya jika kedua temannya benar-benar menerima begitu saja perjodohan itu hingga ada perjanjian pra nikah yang mereka sudah sepakati bersama.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD