Chapter Tiga Belas : Makan Malam Romantis

1014 Words
Seharian ini aku tidak bisa fokus kerja, semuanya berantakan. Dan itu karena ulah dari si pria menyebalkan William. Padahal dia sendiri yang mengatakan kalau akan menjemput ku sepulang kerja untuk sesi pemilihan gaun pengantin. Tapi justru dia sendiri yang beralasan sibuk jadi aku harus pergi sendiri. "Menyebalkan sekali, dasar pria plin-plan. Huh." Aku menghempaskan tubuh ke sofa di ruang kerja, rasanya hari ini kacau sekali. William sudah menghancurkan mood ku. Sebotol air dingin langsung aku minum habis dan sedikit menghilangkan panas pada kepalaku. "Aku pulang duluan," Aku pamit pada teman kantor, dia hanya melambaikan tangan karena sedang sibuk di depan laptopnya. Dengan mengendarai mobil sendirian, aku menuju ke butik yang semalam di beri tahu William melalui chat. Meski sebenarnya ada perasaan kesal sebab dia membuat alasan sehingga tidak pergi bareng untuk pemilihan gaun pernikahan. Dering ponsel memecah konsentrasi ku yang sedang menyetir, mobil menepi sebentar lalu aku menerima telepon. "Iya Bu, ini aku lagi di jalan mau ke butik." "Ya sudah, ibu kira kamu masih di kantor. Hati-hati di jalan, pulang jangan terlalu malam sebab keluarga William mau datang ke rumah." Ibu mengingatkan untuk yang kesekian kalinya, aku memang hampir saja lupa kalau nanti malam ada acara pertemuan dua keluarga di rumahku. "Baiklah, aku ingat itu. Ya sudah, aku mau lanjut perjalanan lagi agar bisa pulang cepat." Aku menutup sambungan telepon, setelah memastikan kalau aku sudah tenang. Barulah mobil kembali melaju dengan pelan yang penting sampai di tempat tujuan dengan selamat. "Selamat datang, nona. Ada yang bisa kami bantu?" Sambut pemilik butik saat aku baru saja sampai. Wanita itu sangat ramah sekali, tersenyum. "Aku ke sini atas permintaan William, dia tidak bisa datang karena sedang sibuk dengan pekerjaannya." Saat aku mengatakan itu, wanita tersebut langsung membawaku ke dalam. Lebih tepatnya ke salah satu ruangan, di sana banyak sekali gaun-gaun indah dengan hiasan Swarovski serta kain sutra yang lembut. Aku dibuat takjub melihatnya. "Maafkan kami, nona. Sebab kami tidak tahu kalau anda adalah orang yang tengah kami tunggu, ada beberapa gaun dari koleksi yang ada di butik ini. Silahkan anda lihat-lihat dulu." Ucap si wanita, membiarkan aku melihat satu persatu gaun-gaun yang terpasang pada boneka Maneken. Aku sempat terpana oleh satu gaun berwarna biru tosca, ada Payet di bagian pinggangnya. Bagian depan berbentuk V. Sepertinya jika aku mengenakan gaun tersebut akan terlihat cantik. "Boleh aku mencoba gaun itu?" Aku menunjuk gaun yang sejak tadi menghipnotis. "Tentu saja boleh, nona." Dengan cepat wanita itu melepaskan gaun tersebut dari boneka Maneken, kemudian mengajak aku ke ruang ganti. Di depan cermin aku berputar sambil tersenyum, benar-benar seperti princess. Aku keluar dari ruang ganti dan begitu terkejut karena sosok pria yang sejak tadi membuat aku kesal ternyata sudah datang ke butik. William tengah duduk di sofa single yang ada di ruang ganti. Dia melihat ke arahku yang sedang mencoba gaun pilihanku. "Cantik, sempurna." Ucap William sembari mengacungkan kedua jempol nya. Aku mendadak tersipu malu, rasanya kedua pipiku bersemu merah seperti tomat. Lupa kalau pria itu telah membuat mood ku berantakan seharian ini, ah sudahlah lupakan rasa kesal itu dan sekarang aku akan mencoba satu gaun lagi. "Bagaimana menurutmu? Apakah aku cocok memakainya?" Tanyaku sambil berjalan lebih dekat lagi ke arah William. William memperhatikanku dari atas hingga ke bawah, seolah tengah menilai apakah aku pantas mengenakan gaun ini atau tidak. "Cocok sekali, kamu menjadi bertambah cantik. Bisa coba beberapa gaun lagi, untuk perbandingan. Siapa tahu saja ada yang lebih bagus dari ini." Pinta William dan aku menganggukkan kepala tanda setuju. Setelah mencoba beberapa gaun, barulah kami berdua menentukan dan memilih gaun mana saja yang akan William beli. Satu gaun akan di pakai nanti malam saat keluarga nyonya Victoria datang ke rumah. "Yang ini aku minta kamu pakai untuk acara nanti malam, calon istriku harus terlihat lebih cantik dari wanita lainnya." William memberikan satu gaun yang dia pilih sendiri untuk aku Pakai nanti malam. "Baiklah, terima kasih. Lalu mobilku bagaimana?" Aku sudah sampai di rumah dan William yang mengantar, sementara mobilku ditinggal di butik. "Biar nanti orang kantor yang mengambilnya, dan mengantarkan ke rumahmu. Sekarang turunlah, lalu bersiaplah untuk menyambut kedatanganku malam ini." William keluar lebih dulu, dia berjalan memutar lalu membukakan pintu untukku. Keluarga William sudah tiba di rumah lalu aku di minta untuk pergi berdua dengan William, katanya mau mengajak aku ke sebuah restoran dan memberi kejutan. "Kenapa tidak di rumah saja, lagi pula tidak enak sama yang lainnya." Aku sempat menolak permintaan William. Tapi nyonya Victoria justru mendukung putranya. "Pergilah, kalian harus lebih banyak meluangkan waktu berdua." Sampai di sebuah restoran mewah yang ternyata, sudah di booking oleh William untuk makan malam ini bersama denganku. "Kamu suka?" William tersenyum ke arahku, jantungku berdebar kencang. Rasanya pipimu merah jika saja keadaan restoran dengan pencahayaan yang terang, beruntung karena lampunya berwarna kuning sehingga menyamarkan warna merah pada pipiku. "Suka sekali, kamu yang menyiapkan ini semua?" Aku terpukau dengan dekorasinya. Banyak bunga juga lilin di sepanjang bentangan karpet. Dan dua orang tengah memainkan biola dan juga piano, satu nada mengalun begitu romantis William berjongkok lalu mengeluarkan sebuah kotak berwarna merah berbentuk hati dari kantong celananya. "Wahai wanita terkasih, Irene. Bersediakah kau menikah denganku? menghabiskan waktu hingga menua bersama pria sepertiku? Berbagi suka duka, saling memberikan cinta kasih hingga tutup usia." Kata-kata yang diucapkan William membuatku terpesona, terharu dan juga bahagia. Dia sedang melamarku secara pribadi, sedangkan keluarganya di rumah melamar secara resmi. Sambil Ditemani oleh alunan musik yang semakin menambah suasana menjadi lebih romantis lagi. Berbagai hidangan tersaji di meja bundar lengkap dengan minuman serta desert yang menjadi andalan dari restoran ini. "Iya, aku bersedia menjadi istrimu. Menua bersama hingga tutup usia." Dengan yakin aku menjawab lamaran William, dia pun memasangkan cincin berlian di jari manis sebelah kiri. Aku tersenyum tulus, seolah melupakan masa lalu di antara kami berdua. Permusuhan sejak sekolah dulu, rasa benci yang mendalam menguap begitu saja beriringan dengan alunan music yang terus saja menemani makan malam kami berdua. "Apakah kamu senang malam ini? Maaf jika semuanya terkesan memaksa dan tidak sesuai dengan keinginanmu." "Aku senang sekali, terima kasih untuk malam yang spesial ini." Kami pun pulang setelah menghabiskan makan malam romantis yang untuk pertama kalinya aku rasakan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD