Chapter Dua Belas : Pemilihan Gaun Pengantin

1050 Words
Aku sudah bisa menerima perjodohan ini dengan William, karena mau bagaimana lagi. Aku tidak kuasa untuk menolak. Malam nanti aku dan juga keluarga akan menghadiri pesta pertunangan sahabatku yaitu Ariana dengan kak Harry, kakak sepupuku. Dunia ini memang terkesan sangat sempit, tidak pernah menduga jika mereka berdua akhirnya bersama. "Pokoknya nanti malam kamu datang di pesta pertunangan ku," seru Ariana menelpon pagi buta. Aku sendiri masih tertidur di hari libur. "Kamu tidak perlu memintanya, aku pasti datang. Calon suamimu itu adalah kakak sepupuku, mana mungkin aku tidak datang." Keluhku masih dengan mata setengah terpejam karena belum sepenuhnya sadar. "Ah, iya. Aku lupa. Baiklah, lanjutkan tidurnya." Telepon terputus, aku di buat kesal dengan tingkah wanita itu. Selimut kembali aku tarik sampai menutup seluruh tubuhku, menikmati indahnya buaian tidur di dalam gulungan selimut tebal, rasanya nyaman sekali. Tapi baru juga terpejam gedoran di pintu membangunkan aku lagi, terdengar suara ibu di depan kamar. "Irene, bangunlah. Bantu ibu untuk pergi ke pesta pertunangan Harry. Irene, bangunlah. Ini sudah siang, tidak baik anak gadis masih tidur. Hei..." Suara teriakan ibu bersamaan dengan gedoran kencang pada pintu kamar. "Iya, Bu. Aku bangun." Aku berjalan dengan gontai, membuka pintu lalu menguap dan tangan ibu melayang memukul kepalaku. "Aduh.. sakit. Bu." Aku mengelus kepala karena terkejut dengan tindakan ibu barusan. "Kalau mau menguap, tutup mulutmu. Bau, tidak sopan juga. Sebentar lagi kamu akan menjadi menantu orang lain, jaga sikap dan perilaku. Jangan membuat ibu malu. Cepat mandi, terus turun ke bawah bantu ibu." Ibu berkacak pinggang memberi aku banyak perintah, juga mengingatkan untuk aku agar bisa lebih rapih lagi sebagai wanita yang akan menikah sebentar lagi, begitulah kira-kira pesan yang ibu katakan padaku barusan. "Baiklah, Bu." Aku kembali menutup pintu kamar dan segera mandi, lalu turun membantu ibu. Dari ruang tengah, sudah ada banyak sekali barang yang nanti akan di bawa ke rumah kak Harry. Sebagai anak tertua tentu ibu kebagian banyak dalam penyelenggaraan pesta pertunangan keponakannya, kak Sai sendiri juga ikut sibuk membantu ibu. "Pagi kakak." Sapa ku pada kak Sai. "Pagi juga, bagaimana tidurnya nyenyak?" Seperti biasa jika dia sedang ada di rumah pasti yang ditanyakan adalah apakah aku tidur dengan nyenyak atau tidak. Sebab dia tahu aku selalu pulang kerja larut malam. "Agak sedikit terganggu, dengan suara teriakan ibu juga gedoran di pintu. Huh, aku jadi kesal." Sungutku mengeluh dengan suara pelan, khawatir didengar oleh ibu. "Maklumi saja, hari libur sekarang kita harus bangun lebih awal sebab ada acara besar dari keluarga besar kita, jadi kamu tidak perlu merasa kesal seperti itu." Nasihat kak Sai bisa sedikit menghilangkan kekesalan dalam hati. Memang yang dia katakan itu benar, jika hari Minggu ini sangat berbeda dengan sebelumnya. Biasanya ibu membiarkan aku tidur lebih lama karena semalam pulang kerja lembur. "Kamu benar, ah. Sudahlah tidak perlu membahas itu lagi, sekarang apa yang bisa aku bantu?" "Kemas kue-kue itu ke dalam dus yang warna merah. Susun dengan rapih, lalu lakban lagu. Biar nanti aku yang angkat ke mobil," Sai memberi tahu apa yang harus aku kerjakan, dengan gesit tangan ini langsung menyambar beraneka ragam kue kering yang nanti akan di bawa ke rumah kak Harry untuk suguhan acara nanti malam. Rumah Ariana terlihat indah dengan hasil dekorasi wedding organizer yang sudah di pesan oleh Ariana dan juga kak Harry sejak beberapa hari yang lalu, aku dibuat takjub oleh pemilihan dekorasinya. Keluarga besar dari kak Harry sudah tiba di kediaman Ariana tepat waktu. Di sambut hangat oleh orang tua dan keluarga besar Ariana. "Aku senang sekali karena akhirnya kamu dan kak Harry bisa sampai pada Proses ini. Selamat ya, sekarang kita bukan lagi hanya sekedar sahabat. Melainkan menjadi saudara," Aku memeluk Ariana yang sudah cantik memakai gaun indah berwarna merah muda, dengan rambut digelung serta masih ada sebagian rambut yang terurai. "Terima kasih, ini juga berkat kamu. Kalau tidak ada andil kamu mana mungkin hari bahagia ini bisa terwujud," Ariana balas memelukku, senangnya tiada terkira dan tidak bisa diungkapkan oleh kata-kata. Acara tukar cincin tengah berlangsung, aku mengabadikan momen itu dengan merekamnya. Untuk kenangan. Tepuk tangan meriah diberikan saat keduanya telah resmi bertunangan dan tanggal pernikahan juga sudah ditentukan dan si setujui oleh kedua belah pihak keluarga besar. "Omong-omong, aku dengar kabar kalau bibi telah menjodohkan mu dengan anak temannya. Benarkah itu?" Ariana sudah kembali duduk bersama dengan Irene. Dia sangat penasaran dengan kabar tersebut dan tidak sabar untuk segera menanyakannya langsung pada Irene. "Kamu sudah mendengar kabar itu rupanya, cepat sekali menyebar padahal baru tiga hari. Terjadi Pertemuan aku dengan pria pilihan ibu itu." Jawabku dengan santai dan terkesan biasa saja, sebab menurutku tidak ada yang istimewa dan tidak perlu di gembor-gemborkan. "Tentu saja aku tahu, kabar gembira itu sudah tersebar. Kalau boleh aku tahu siapa pria beruntung itu yang sudah berhasil meluluhkan wanita gila kerja ini?" Ariana terlihat sangat penasaran tentang siapa pria yang dijodohkan ibu denganku. Sebenarnya aku malas membahasnya, tapi tidak ada salahnya juga Ariana mengetahuinya. "Kamu juga kenal betul siapa pria ini, huh. Aku malas sekali membahasnya." "Ayolah, katakan padaku siapa pria itu? Jika aku mengenalnya. Apa dia salah satu teman kuliahmu? atau teman kerjamu di kantor? Ah, cepatlah katakan aku tidak mau hanya menduga-duga saja." Dengan nada gemas Ariana mendesak agar aku segera memberi tahunya, maka dengan malas dan suara pelan aku memberi tahu tentang siapa pria itu. "Dia adalah William, teman kita waktu sekolah menengah dulu. Musuhku itu adalah calon suamiku." Bisik aku di telinga Ariana. Seketika dia bereaksi dengan sangat terkejut. "Benarkah? Jangan bercanda, ini tidak lucu." Ariana tidak percaya jika pria itu adalah William, sebab yang dia ketahui kalau aku dan William bermusuhan sejak sekolah dulu. Mungkin dalam benak Ariana bagaimana mungkin aku bisa di jodohkan dengan orang yang aku benci. "Mana mungkin aku bercanda, ini serius. Kalau tidak percaya kamu tanyakan saja sama ibu atau juga kak Sai." Aku sangat kesal karena Ariana menganggap aku sedang bercanda, kenyataannya memang seperti itu. Pria yang dijodohkan ibu adalah William musuhku sejak dulu. "So sweet sekali, seorang musuh yang akhirnya menjadi suami istri. Tuhan itu tidak pernah salah mempersatukan antara pria dan wanita," Aku tidak menanggapi ocehan Ariana, ada pesan yang masuk ke ponselku. Dari William. "Besok sepulang kerja aku jemput kamu, untuk pergi ke butik yang sudah di pilih ibu. Pemilihan gaun pengantin." Pesan itu aku abaikan sebab ibu dan kak Sai hendak pulang, begitu juga dengan keluarga besar kak Harry.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD