**
Sampai di rumah.
"Pokoknya aku nggak mau nikah sama Jefri! Titik!" tolak Veli mentah-mentah.
"Sayang, Jefri kurang apa si? Dia udah cakep, badannya oke, dia juga udah kerja bantu-bantu Om Danish di kantornya lho. Kurang mapan apa coba?" tanya Mama mencoba membujuk anak wanitanya itu agar menurut.
"Aku bisa nentuin pilihan aku sendiri, Ma. Aku bukan anak kecil. Lagian Si Jefri pasti juga udah punya cewek kan? Mama sama Papa hish .... " omel Veli masih bersikeras menolak.
Sedangkan Virgi hanya bisa diam saja melihat percekcokkan antara kakak dan juga orang tuanya.
"Tapi Mama sama Papa udah mantab sama Jefri, Ve," tegas Papa.
"Ya sudah, Papa saja yang nikah sama Jefri," serang Veli kemudian berlari naik ke kamarnya dengan membawa sepasang sepatu heelsnya di tangan kanan, sedangkan tangan yang kiri ia gunakan untuk menjinjing dress-nya yang panjang.
"Ma, Pa, Vi masuk ke kamar, ya," pamit Virgi sambil menundukkan kepalanya, tidak mau melihat ke dua mata ke dua orang tuanya yang pastinya menyiratkan kekecewaan.
"Aduuuh ... bagaimana ini, Pa?" Mama memijit pelipisnya.
"Itu urusan Mama untuk membujuk Veli! Pokoknya pernikahan ini harus tetap dilaksanakan," tegas Papa yang keras kepala. Sifat Veli memang menurun dari papa dan kini Mama yang kelimpungan menghadapi anak dan suaminya yang tidak mungkin bisa saling mengalah.
**
"Mbak .... " Virgi memeluk kakaknya yang sedang menangis terisak-isak. Gaun merah itu masih dia biarkan menempel di tubuhnya. Wanita itu duduk di atas ranjang sambil menekuk ke dua kakinya.
"Lu kan tau, Cil. Gue masih pingin bebas. Punya pacar dua itu enak banget, Cil. Yang perhatiin sana sini," lirih Virgi dengan lelehan air matanya yang menganak sungai.
"Tapi Papa kan keras kepala banget dan nggak bisa ditentang, Mbak," kata Virgi sambil mengelus-elus rambut merah kakaknya.
"Lagian kenapa Jefri itu menurut aja sie diapa-apain sama emak bapaknya? Lu liat kan tadi dia cuma ngejawab, aku nurut sama papa mama aja, gila! Nggak ada pendiriannya banget jadi lelaki!" geram Veli mencemooh sikap Jefri yang terlalu penurut.
**
Pagi harinya.
"Maaaamaaaa! Papaaa!" teriak Virgi dengan cukup kencang. Tangan gadis itu gemetaran seraya memegang kertas yang bertuliskan coretan tangan kakak semata wayangnya.
"Kenapa, Vi?" tanya Mama dan Papa kompak begitu mereka sampai di dalam kamar anak gadisnya.
"B-Baca sendiri, dech!" Virgi menyerahkan kertas putih bergaris itu kepada kedua orang tuanya.
Mereka membaca surat dari Veli yang ditujukan untuk Mama dan Papanya.
"Astagfirullaah! Ini bagaimana, Pah?" Mama kalut mendapati anak sulungnya nekad kabur dari rumah karena nggak mau dijodohkan.
"Bener-bener keterlaluan anak itu! Awas nanti kalau papa berhasil nemuin dia, Papa bakal hajar dia habis-habisan," ancam Papa marah besar kemudian berlari pergi meninggalkan kamar anaknya.
"Deeer!" Papa menutup pintu kamar dengan kencang hingga ke dua bahu Mama dan Virgi melonjak.
Mama menangis tersedu-sedu. Bingung tidak tahu harus bagaimana.
"Om Danish memberi waktu kita sampai besok untuk memberi keputusan. Papa pasti bakal marah besar kalau perjodohan ini batal. Mama harus gimana, Cil?" Mama meminta pendapat Virgi membuat anak itu menjadi tidak tega melihat kegelisahan mama.
**
Keluarga Danish sudah tiba di rumah, sedangkan Veli belum juga ditemukan keberadaannya.
"Mbak, Mbak di mana? Kasian Mama sama Papa, Mbak. Ini Om Danish dan keluarga sudah sampai di rumah lho, terus Mama sama Papa kudu jawab apa? Jangan bikin malu lah, Mbak!" omel Virgi melalui sambungan suara. Dia tahu di mana keberadaan kakaknya, di rumah sahabatnya Chika, tapi dia sudah janji buat nggak ngomong sama Mama dan Papa.
"Kalau lu kasian, lu aja yang nikah sama Jefri!" jawab Veli sedikit naik nada bicaranya.
"Pokoknya aku nggak bakalan pulang sebelum mama sama papa batalin rencana pernikahan kita!" tegas Veli membuat Virgi menjadi gamang.
"Ya Allah, Mbak," keluh Virgi, tapi Veli malah memutus panggilan suara mereka.
Pintu kamar dibuka, ternyata Mbak Poni yang datang untuk meminta Virgi turun karena makan malam akan segera dimulai.
"Mbak, aku mesti gimana si?" tanya Virgi dengan mata berkaca-kaca. Siapa tahu Mbak Poni bisa memberinya saran.
"Mbak Veli tetap nggak mau pulang ya, Cil?" tanya balik Mbak Poni.
Virgi menggeleng lesu.
"Kasihan Ibu Ameera, Cil. Bisa-bisa beliau yang kena amuk Papa kamu kalau nggak ada satu anaknya pun yang mau dinikahkan sama Mas Jefri. Lagian Mas Jefri kan ya ganteng, baik, penurut, kurang apa sie, Cil? Kalau aku jadi Mbak Veli aku mau banget," tutur Mbak Poni.
"Jalan satu-satunya ada di kamu, Cil. Kamu kan anak penurut," imbuh Mbak Poni membuat hati Virgi bergetar hebat.
"Ayo cepat turun! Jangan sampai mama diamuk papa lagi!" tegas Mbak Poni membuat lamunan Virgi menjadi bubar.
**
Makan malam pun dimulai, meski pastinya ada keganjilan karena Veli tidak terlihat bersama mereka. Veli dan Mama Ameera pun terlihat lesu tidak seperti biasanya.
"Cil, Veli ke mana?" tanya Jefri berbisik di telinga Virgi.
"Bang, nanti kita ngomong di taman belakang rumah yuk! Nanti aku jelasin!" bisik Virgi.
Jefri hanya mengangguk.
Selepas makan malam selesai. Virgi pun menunggu Jefri datang di taman belakang. Mumpung ke dua orang tua mereka lagi asyik ngobrol dan belum menyinggung tentang perjodohan.
Suasana taman sedikit gelap hanya di terangi oleh tiga buah lampou taman berwarna orange. Ada gemericik air dari kolam yang isinya beberapa ekor ikan koi warna-warni peliharaan Papa.
Virgi, si bocil menunggu Jefri dengan gelisah sambil melempari ikan-ikan itu dengan pelet berbentuk bulat-bulat kecil berwarna hijau dan merah kesukaan mereka.
"Cil, lu mau ngomong?" tanya Jefri sambil berjalan mendekat pada Virgi.
"Abang .... " Wajah Virgi nampak tegang.
Harus ya aku korbanin diri aku demi Mama? Virgi gamang dengan keputusan yang akan dia ambil.
"Kenapa lu? Mau permen lolipop lagi yang kemarin aku kasih? Ntar gue beliin nggak usah mellow gitu wajah lu! Wkwkwkw .... " ledek Jefri membuat Virgi sedikit melebarkan senyumnya.
"Bukan masalah lolipop, Bang. Ini mah serius banget!" Virgi menggandeng tangan Jefri dan menuntun lelaki itu untuk duduk bersamanya di kursi taman.
"Jadi .... "
**
Jefri dan Virgi kembali berkumpul bersama anggota keluarga setelah perbincangan yang cukup lama dan serius antara mereka berdua saja.
"Ke mana aja kalian ini?" tanya Sonia, ibu kandung Jefri setelah melihat anaknya datang.
"Tante, Om, Mama, Papa, Vi sama Bang Jef mau ngomong." Virgi tidak menjawab pertanyaan Tante Sonia, tapi buru-buru ingin menyampaikan hasil obrolan mereka tadi di taman.
Ke empat orang dewasa itu memerhatikan anak-anak mereka dengan seksama.
Jantung Mama Ameera dan Papa Husein berdegup kencang, mana Veli juga belum ada kabar hingga sekarang.
"Abang atau aku yang ngomong?" Virgi bertanya pada Jefri.
"Lu aja nggak apa, Cil," jawab Jefri.
Njiiir ... malah aku yang suruh ngomong. Gerutu Virgi. Tapi mau bagaimana lagi?
Virgi nerves berat. Dia mengamati wajah Papanya terlebih dulu, berganti memperhatikan wajah Mama, demi mama pikirnya. Kemudian dia melihat ke arah orang tua Jefri bergantian. Sementara itu orang tua mereka sudah tidak sabar ingin mendengar apa yang akan dikatakan oleh Virgi, si bocil yang belum bisa dewasa meski usianya sudah menginjak kepala dua.
"V-Vi .... " Virgi nampak gugup.
Gadis itu menghela napas kasar di udara.
"Vi ... yang akan .... " Virgi melirik ke Jefri. Jefri hanya menaikkan ke dua alisnya.
"Akan apa?" tanya orang tua bersamaan.
"Akan me-ni-kah dengan Bang Jef." Akhirnya kalimat itu lolos juga dari bibir mungilnya.
"Apa?" Ke empat orang dewasa itu pun kaget bukan main.
"Lhoh, bukannya Veli yang-"
"Ma, Veli nggak mau nikah sama Jef," potong Jefri.
"Dan, Son, maafin anakku, ya. Jefri benar, Veli kabur dari rumah karena nggak mau dinikahkan," terang Papa Husein.
"Astagfirullah."
"Cil, serius kamu mau nikah? Kamu kan masih kuliah, kamu masih dua puluh tahun, Cil," tegur Mama. Dia tidak mau anaknya salah mengambil keputusan dan berimbas pada masa depannya.
"Bang Jefri ngijinin aku tetap kuliah kok, Ma," jawab Virgi. Padahal mereka belum membahas soal itu sama sekali.
"Iya kan, Bang?" tanya Virgi sambil menendang kaki Jefri.
"Iya, Tante," jawab Jefri.
**
Dua bulan kemudian pernikahan pun dilaksanakan. Pernikahan dadakan yang dipersiapkan dengan baik oleh banyak orang.
"Kamu yakin, Cil?" Entah sudah berapa kali mama bertanya seperti ini pada Virgi.
"Iya, Ma. Mama nggak usah nangis gitu! Aku nggak apa kok, Ma. Dari pada nanti Mama yang diamuk Papa dan Mbak Veli nggak pulang-pulang. Mbak Veli udah janji mau pulang kalau aku udah sah nikah sama Bang Jef," tutur Virgi yang kini sedang dirias oleh make up artist langganan Mama Ameera.
Gadis berusia dua puluh tahun yang belum bisa berpikir dewasa itu pun tidak bisa menghindar lagi dari kenyataan ini. Toh dia yang mau tanpa ada paksaan dari siapa pun.
Nggak nyangka, aku bakalan nikah secepat ini. Dan itu pun sama Bang Jef, orang yang udah aku anggap kaya abang aku sendiri.
"Saya terima nikah dan kawinnya Virginia Aljash binti Husein Aljash dengan mas kawin seperangkat alat salat dan uang tunai sebesar lima ratus tujuh puluh dua juta rupiah dibayar tunai." Jefri lancar mengucapkan ijab kabul dengan satu helaan napas.
"Saaah!" Semua orang dengan kompak berseru yang artinya kini Jefri dan Virgi sudah sah menjadi sepasang suami dan juga istri.
Virgi dan Jef saling menyematkan cincin di jari mereka masing-masing, sebelum akhirnya Virgi mencium tangan Jefri sebagai tanda baktinya sebagai istri.
"Alhamdulilah, akhirnya kita sah besanan, Sein," kata Papa Danish yang sangat bahagia dengan pernikahan anak-anak mereka.
**
Di kamar pengantin. Virgi sudah selesai mengganti baju kebayanya dengan piyama bergambar monokurubo kesayangannya. Dengan rambut basah dia keluar dari dalam kamar mandi sambil mengusap-usap rambutnya dengan handuk putih yang ada di tangannya. Seharian menjadi ratu dan dipajang di depan banyak tamu undangan ternyata melelahkan.
Notifikasi pesan, masuk ke dalam ponsel Virgi. Gadis itu segera mengambil benda pipih yang tergeletak di naki untuk melihat siapa yang mengiriminya pesan.
"Busyet ... lima puluh pesan masuk, banyak amat!" gumam Virgi. Gadis itu melempar handuk yang dibawanya asal-asalan.
Rata-rata pesan yang masuk dari teman-teman kuliahnya dan juga ... Bima ... lelaki satu mata kuliah dengan Virgi yang diam-diam naksir berat sama dia. Nggak cuma Bima sie, mengingat Virgi sangat terkenal di kampusnya karena kecantikan dan keramahannya, maka banyak pula lelaki yang mengincarnya. Alhasil, pernikahan Virgi ini menjadi hari patah hati nasional seluruh cowok sekampus yang mengharap banget pingin jadi pacar gadis cantik dan menyenangkan tersebut.
"Gue gak nyangka, ternyata lu nolak gue selama ini karena lu udah punya cowok, Vi. Hancur banget hati gue," gumam Virgi membacakan pesan yang dikirim oleh Bima.
"Yach ... kok aku jadi sedih gini, ya? Aku nolak kamu karena pingin fokus kuliah dulu, Bim. Kalau udah wisuda baru deh mikir pacar-pacaran. Aku juga nggak ngerti kenapa Allah ngijinin aku nikah secepat ini," resah Virgi sambil memerhatikan foto tampan Bima yang lelaki itu gunakan sebagai foto profil di kontaknya.