My Hot Little Wife 3

1927 Words
Virgi mengabaikan pesan-pesan yang begitu banyak masuk di dalam ponselnya. "Karena setahu Bima aku udah punya pacar jadinya dia ganti photo profinya pakai photo dia sendiri," gumam Virgi. Sebab biasanya photo Virgi-lah yang lelaki itu gunakan sebagai profil w******p atau pun media sosialnya. Akan tetapi, Virgi membiarkannya dan tak berniat untuk membalas pesan lelaki itu ... Virgi tak peduli hanya karena sebuah foto. Virgi menscroll satu per satu pesan dari atas ke bawah. Akan tetapi, tak ada satu pun chat yang ia balas termasuk pesan dari Asila yang sibuk banget menggodanya perihal urusan ranjang. "Huuft! Apa itu seks? Apa pentingnya?" decak Virgi sembari memutar bola matanya. Tak terpikir olehnya untuk melakukan hubungan suami istri seperti yang Asila katakan. Iya ... meski 'kerap kali' sikapnya terkesan kekanak-kanakan, tapi Virgi tahulah kalau selepas pernikahan pasti ada ritual malam pertama. Kamar hotel presidential suite yang sudah orang tua mereka siapkan jauh-jauh hari memang memiliki fasilitas yang keren dan juga kenyamanan yang bisa dijamin seratus persen. Virgi menyetujui akan hal itu. Kamar ini menjanjikan sebuah pemandangan yang begitu indah. Berada di pusat kota dan di kelilingi oleh gedung-gedung pencakar langit lainnya yang apabila malam lampu-lampu jalanan berkelipan-bersaingan dengan sinar rembulan dan gemerlapnya lampu alam, bintang. Layaknya sebuah kamar pengantin pada umumnya. Tak afdol apabila tak dihiasi dengan bunga-bunga yang kerap kali dijadikan simbol keromantisan. Maka dengan adanya ciptaan Tuhan nan indah itu (bunga) di dalam kamar sepasang anak manusia setelah mengikrarkan janji sehidup semati di hadapan Tuhan, disinyalir akan menambah gairah dan juga keintiman di kala bercinta. "Ini apaan juga?" decit Virgi seraya menowel-nowel sebuah handuk putih yang dibentuk menjadi angsa berhadap-hadapan yang membentuk siluet love. Di sekitar angsa tersebut terdapat kelopak mawar merah yang berhamburan. Ah abaikan saja! Virgi tak memiliki hasrat untuk merespon segala detil dan pernak-pernik yang ada di kamar ini. Kembali kepada pesan yang masuk dalam ponsel Virgi. Satu pesan yang menarik perhatiannya adalah dari Sheren, sahabatnya dan juga sahabat Asila. Gadis berumur sembilan belas tahun itu bertanya, kenapa hari ini kampus bisa gempar dengan berita pernikahan Virgi sedangkan ia dan Asila sama sekali tak buka suara pada siapa pun. Sebab mereka tahu bahwa kerahasiaan tentang pernikahan ini amatlah penting untuk Virgi. Mereka tak mungkin berkhianat kepada sahabat mereka tersebut. "Eh iya-ya ini gawat! Kenapa anak-anak bisa tahu kalau hari ini aku menikah? Jadi Bima juga udah tahu dong, ya? Nggak mungkin kan kalau dia nggak tahu?! Tapi chat dia tadi hanya bilang tentang pacarku bukan pernikahan aku. Duh ... Bukannya mama dan papa juga udah janji untuk merahasiakan hal ini pada siapa pun selain keluarga? Aku percaya kalau Asila sama Sheren nggak mungkin bocorin ini ke orang-orang." Virgi berpikir dengan kening yang berkerut-kerut. Perasaan dia sudah meng-keep masalah ini dengan serapat-rapatnya, tapi kenapa tetap kecolongan? "Kamu nggak tahu siapa yang nyebar berita tentang aku?" tanya Virgi yang memutuskan untuk menelpon Sheren. "Aku nggak tahu, Cil!" jawab Sheren. "Bima juga kirim pesan ke aku dia bilang aku nolak dia karena aku udah ada cowok, tapi ... aku nggak nyangka kalau berita udah seheboh ini," terang Virgi. Padahal dalam pernikahan ini hanya anggota keluarga inti dan juga bebeberapa kolega bisnis orang tua mereka yang hadir. Tak ada pesta besar-besaran yang mengundang ribuan tamu karena atas permintaan Jeff dan juga Virgi. Apabila orang tua melanggar maka mereka mengancam akan membatalkan pernikahan ini. "Ya udah pikirin nanti dulu, Cil! Yang penting sekarang kamu malam pertamaan dulu dah! Nggak usah mikir yang aneh-aneh!" terang Sheren. "Malam pertama kepalamu itu!" sungut Virgi lalu mematikan panggilannya. "Auk ah bodo amat! Besok aku bakal jelasin ke teman-teman kalau itu berita hoax!" gumam Virgi. Virgi melamun sembari menyandarkan tubuhnya di headbord ranjang. Tubuhnya benar-benar lelah hingga rasa kantuk pun datang menyerang. Akan tetapi, Virgi tak pernah bisa tidur dengan rambut yang basah seperti sekarang, jadilah ia harus mengeringkannya terlebih dulu dengan bantuan hairdryer. Tetesan air di ujung-ujung rambutnya membuat ia benar-benar risih dan tak jarang membuatnya menjadi geli. Virgi meninggalkan ranjang bersprei putih bersih yang sejak tadi dia duduki. Lantas ia menggeret koper yang dia bawa dari rumah untuk menginap di hotel ini dan meletakkannya di atas ranjang hingga membuat tempat itu pun berantakan. Burung angsa romantis yang sedang bermersraan pun menjadi tercerai berai karena ulah Virgi ditambah dengan berhamburnya kelopak mawar ke mana-mana membuat ranjang ini semakin aut-awutan. Namun, Virgi tak peduli. Dia pun segera membuka tas besar tersebut untuk mencari benda yang dia inginkan. "Aduuh ... di mana pengering rambutku? Jangan-jangan aku kelupaan masukin ke koper?!" Virgi mengobrak-abrik dua koper yang dia bawa dari rumah, tapi ia tak mendapatkan benda yang ia cari-cari. "Seingatku ... udah aku masukin ke dalam, deh." Virgi mengingat-ingat kembali hingga keningnya nampak berkerut-kerut karenanya. "Coba aku cari sekali lagi," desisnya seraya mengobrak-abrik kembali barang-barang yang dia bawa dari rumah ke hotel ini. "Aarkh! Tetap nggak ada!" pekik Virgi histeris efek kesal karena tak menemukan barang penting yang harusnya dia bawa. "Airnya terus netes kena bajuku. Iiih ... risih banget sumpah!" Alhasil karena ulah Virgi yang mengacak-acak isi kopernya, tak hanya handuk putih berbentuk angsa yang ia buat berantakan, kamar pengantin yang sudah diseting seindah mungkin dengan kelopak bunga mawar berbentuk hati di tengah ranjangnya pun menjadi acak-acakan. Bentuknya sudah tak seperti heart melainkan amburadel tak jelas. Lagi-lagi mana Virgi peduli akan hal itu? Belum lagi handuk basah yang tadi dia lempar sembarangan, cukup menambah kesan awut-awutan pada kamar ini. "Hish! Mana pakai lupa segala!" geram Virgi dengan dirinya sendiri. Sedang asyik-asyiknya menikmati moodnya yang kacau balau, tetiba pintu kamarnya terbuka-membuat Virgi menoleh ke arah lelaki yang kini masuk dengan masih mengenakan jas formal yang sejak lima jam tadi dia kenakan. Virgi melirik sinis ke arah Jeff, suami sahnya yang baru beberapa jam menikahinya. "Hahaha ... ngapain abang berdiri di situ? Bengong? Iya-iya terima kasih karena abang sekarang aku jadi cewek tajir. Lima ratus juta lebih uang yang ada di saldo rekeningku. Cukup fantastis buat bocil yang imut-imut macam aku ini. Maybe besok aku mau beli es cream coklat sepabriknya," cerocos Virgi diawali dengan tawanya yang terdengar dipaksakan. Jeff tersenyum simpul seraya menggelengkan kepalanya pelan melihat tingkah istri kecilnya yang jauh dari kata dewasa. "Ini kan malam pertama kita, terus kenapa kamarnya acak-acakan? Ck! Jadi nggak romantis, dech," decak Jeffri ketika menyadari kalau ranjang pengantinnya sudah awut-awutan tak jelas-penuh dengan baju dan barang-barang Virgi lainnya yang berserakan. "Apa? Serius abang mau malam pertama sama aku?" tanya Virgi dengan mata membelalak. Ia berdiri dan berkacak pinggang menghadap suaminya yang tubuhnya tinggi dan gagah. Virgi bahkan harus mendongak ketika bicara dengan Jeff. "Tapi kan abang udah janji nggak akan ngapa-ngapain aku. Hayo?!" Virgi menagih janji Jeff yang Jeff ucapkan sebelum mereka menikah. "Janji?! Kapan, ya? Mm .... " Jeff mengernyitkan keningnya. Satu tangan ia lipat di depan d**a satu tangan lagi terulur ke atas dengan jari telunjuk yang mengetuk-ngetuk pipinya. Jeff pura-pura amnesia. "Nggak usah drama deh, Bang!" sentak Virgi, kesal. "Memangnya kenapa sie, Cil? Perjanjian itu hangus! Kan nggak ada buktinya hitam di atas putih. Wekk!" Jeff meledek Virgi dengan menjulurkan lidahnya. "Abang ngeselin ah! Aku ngambeeek! Ngambek! Ngambek! Ngambek!" Virgi memukul-mukul lengan Jeff bertubi-tubi. "Ye ... bodo amat mau kamu ngambek juga, hahaha ... " "Dasar abaang ngeselin!" sungut Virgi. Ia menarik tangan Jeff dan menggigitnya dengan sangat kencang dan tanpa aba-aba. "Atttah! Sakiiit, Cil! Sumpah!" jerit Jeff seraya mendorong-dorong jidat Virgi agar menyingkir. Padahal tangan Jeff masih kebungkus sama jasnya yang panjang, tapi tetap aja berasa sakit. "Makanya abang nggak usah macam-macam sama aku!" ancam Virgi dengan garang. "Eh dengerin dulu deh, Cil! Lima ratus juta yang aku kasihin ke kamu itu kan nggak cuma-cuma. Makna dari rekening kamu yang sekarang gendut adalah .... " Jeff membungkukkan badannya lalu mendekatkan bibirnya di telinga Virgi. Spontan harum shampo yang menguar dari rambut Virgi membuat hidung Jeff dimanjakan. Aku suka bau shamponya, ucap Jeff dalam batin. Anjiiir ... bulu kudukku berdiri macam ditempeli setan, pekik Virgi hingga dua bahunya berkedi. Virgi melirik ke arah wajah Jeff yang berdekatan pada wajahnya. Ia menunggu apa yang akan suaminya katakan. "... kamu harus mengabdi seumur hidupmu untuk melayani aku. Dan ...." Jeff berbicara dengan nada lambat tanpa dia sadari bahwa helaan napasnya sukses membuat sekujur tubuh Virgi merinding untuk kedua kalinya. "... nanti nggak hanya rekening kamu yang gendut, tapi juga perut kamu yang aku bikin gendut," imbuh Jeff menjadikan darah Virgi berdesir karenanya. Perurtku juga dibuat gendut? Oh my ghost! Hamil dong aku! Pekik Virgi dengan mata terbelalak. Virgi mendorong tubuh Jeff agar menjauh darinya. "Rasanya aku pingin banget ngegampar wajah abang yang kurang ajar itu! Dasar p*****l!" sungut Virgi sambil meremat-remat ujung piyama monokurobo yang ia kenakan. Gadis itu belingsatan tak tenang dengan gemuruh jantung yang membuatnya semakin panik saja. Takut banget kan kalau beneran di unboxing malam ini sama Jeff, sedangkan dia belum siap untuk melakukan hubungan intim seperti itu. "Minggir! Jangan dekat-dekat! Mau aku tampar kamu p*****l?!" ancam Virgi dengan wajah masam dan bibir yang merengut sebal. Jiaah, disangka aku penyuka anak kecil apa? Jeff geli mendengar cibiran istrinya. Senyum setan tersungging di bibirnya. Mana dia takut dengan ancaman istrinya? Sama sekali nggak ada takut-takutnya. "Tampar aja kalau mau kamu tampar!" tantang lelaki itu sembari menyodorkan pipinya ke arah Virgi. "Bagaimana bisa aku nampar abang? Abang tinggi banget," decak Virgi. Matanya melirak-melirik Jeff terus sejak tadi. "Hahaha ... kasian! Tangan kamu pendek, ya?!" ledek Jeff begitu puas bisa membuat Virgi menjadi kesal kepadanya. Lelaki itu memegang ujung jari telunjuk (kiri) Virgi lalu berkata, "Si tangan pendek, hahaha ... " ledek Jeff. "Plak!" Karena saking kesalnya akhirnya tangan kanan Virgi melayang juga dan bisa menggapai pipi Jeff meskipun tak terlalu kencang ia menamparnya. "Ini ngegampar apa ngebelai sih? Lembut banget sumpah," cibir Jeff. Ia tak merasakan sakit sama sekali. Orang tangan Virgi kecil begini. "Abang nantangin aku?" tanya Virgi sambil meletakkan kedua tangannya di pinggang. Makin diledek, gadis itu makin keluar galaknya. "Iya!" jawab Jeff dengan santainya. "Lihat aja! Tamparan aku kali ini pasti dijamin sakit! Dasar keturunan Syeh Fuji kau ini!" omel Virgi. Ia naik ke atas ranjang agar tinggi badannya bisa menyusul tinggi badan suaminya. "Hahaha ... heh curang itu namanya, Cil!" Jeff terkekeh. Pintar banget akalnya Si Bocil. "Bodo amat!" "Ini pukul aja kalau mau pukul! Aku mah suami sholeh yang nurut mau diapa-apain juga sama istrinya," kata Jeff. Ia mengarahkan pipi kanannya ke arah Virgi. "Ayo buruan gampar! Kan Yang kiri udah sekarang gantian kanan," cetus Jeff tanpa berkeberatan seolah ini adalah sebuah hiburan yang menarik untuknya. Hanya ditampar pakai tangan kan? Bukan pakai golok? Bukan hal serius itu mah. "Siap-siap aja ya, Bang!" perintah Virgi seraya menggulung lengan piyamanya yang sudah pendek. "Ini udah siap dari tadi, Cil. Banyak omong lu mah!" decit Jeff sembari menarik sudut bibirnya simetris ke kanan dan kiri. Virgi mengambil ancang-ancang untuk memberikan tamparan yang super pedas di pipi suaminya. Dia benar-benar kesal ketika Jeff berpikir akan bermalam pertama dengan dirinya yang ia anggap masih kanak-kanak. Padahal sudah jelas-jelas Jeff sendiri yang menyetujui syaratnya untuk nggak ada kontak fisik apapun di antara mereka. "Siap-siap ya, Bang! Satuu ... dua ... ti ..." Virgi memberi aba-aba. Dan ... "Plaaak!" Tamparan kali ini benar-benar kencang, bahkan telapak tangan Virgi sampai terasa kebas dan panas setelahnya. "Virgiiii!" Suara teriakan seorang wanita tepat setelah aksi gampar yang Virgi lakukan-terdengar sangat lantang dan membuat sepasang suami istri tersebut kompak menoleh ke arah sumber suara berasal. "Oh my ghost!" Sekujur tubuh Virgi mendadak mematung tak bisa bergerak. Bola matanya membulat menatap sosok wanita yang berdiri di ambang pintu kamarnya "Upss!" Jeff tak menyangka akan ada orang yang melihat aksi Virgi ketika menggamparnya. Lelaki itu pun menutup mulutnya seperti anak abege yang tertangkap basah tengah melakukan kesalahan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD