My Hot Little Wife 4

1978 Words
0o0 Selepas memberikan sebuah tanda tangan di pipi suaminya, Virgi diseret ke kamar ibunya bersama dengan Jeff juga. Mama Ameera mencengkeram erat pergelangan tangan Virgi dan meminta anaknya tersebut untuk mengikuti beliau. "Braak!" Mama Ameera menendang pintu kamar hotel beliau yang terbuka dan menyisakan celah sepuluh centi meter saja. Spontan hal ini membuat Virgi kaget hingga bahunya melonjak kompak ke atas. Demi Tuhan! Dia tak pernah melihat ibunya semarah dan sekasar ini seumur hidupnya. "Duduk!" perintah Mama Ameera dengan galak seraya menunjuk sofa kosong yang ada di kamar beliau, Kamar Virgi dan kamar Mama Ameera letaknya berseberangan. Virgi menuruti perintah mamanya dan segera meletakkan pantatnya di sana meski dengan kepala yang sejak tadi tertunduk lesu. Dan ... piyama monokurobo hitam putih itu pun menjadi sasaran rasa takutnya. Virgi meremat-remat ujung bajunya hingga kusut. "Baru beberapa jam menjadi istri dan kamu sudah berani menampar suamimu, Virgi?" tanya Mama Ameera dengan nada tinggi hingga papa yang baru masuk ke dalam kamar pun heran kenapa istrinya sampai semarah ini dengan anak bungsu mereka. "Ada apa sie, Mah?" tanya Papah Husein yang kini berjalan mendekat ke arah anak, istri dan juga menantunya. "Virgi, Pah. Bisa-bisanya dia nampar Jeff di depan mama," adu Mama Ameera. "Astagfirullah, Bocil!" Papah Husein geleng-geleng kepala. "Jangan panggil dia bocil lagi, Pah! Dia sudah menikah sekarang, jadi dia bukan anak kecil lagi," tegur Mama Ameera. "Aku masih kecil, Mah. Usiaku masih dua puluh tahun dan itu pun belum genap, jadi aku memang masih kecil banget bangett," protes Virgi dengan mata berkaca-kaca. Dia tak rela kalau harus dipaksa menjadi orang dewasa sedangkan jiwanya masih ingin jenk-jenk ke mall bersama teman-temannya. "Sebentar lagi kamu itu akan menjadi seorang ibu juga, Vi!" "Nggak mau! Aku masih mau main!" tolak Virgi. "Jadi kenapa kamu tampar suami kamu?" tanya Papah Husein, mulai keluar sikap tegasnya. "Karena-" "Mama paling nggak suka ya kalau ada wanita yang nggak hormat sama suaminya," potong Mama Ameera membuat mulut Virgi terbungkam seketika itu juga. "Ma ... kasih Virgi kesempatan untuk ngomong dulu!" tegur Papa Husein. "Aku takutnya kalau dibiarin nanti Danish sama Sonia tahu kelakuan anak kita, Pah. Malu kan kalau mereka mikir kita nggak bisa didik anak. Mereka udah percaya banget lho kalau Virgi itu bisa jadi istri yang baik buat Jeff," cerocos Mama Ameera. Virgi selalu sedih setiap kali lihat orang tuanya berdebat ataupun membuat mamanya menjadi marah seperti sekarang. Buat Virgi Mama Ameera adalah idolanya. Mama terbaik dan sempurna yang Virgi punya. Tak pelak hal ini pun membuat Virgi menjadi menyesal. "Om, Tante, dengarkan saya dulu!" pinta Jeff menyela perdebatan antara kedua mertuanya. Melihat Virgi bersedih ia pun menjadi tak tega. Semenjak ia mengucapkan ijab kabul di depan penghulu, maka kebahagiaan Virgi adalah menjadi tanggung jawabnya. "Itu kita cuma bercandaan aja kok, Om ... M-maksud saya, Pah. Jadi kita lagi main game gitu yang menang boleh ngegampar yang kalah jadi kebetulan pas mama masuk tadi aku yang kalah dan bocil dapat kesempatan buat nampar aku," terang Jeff membantu istrinya untuk menjelaskan. Iya, meski ia harus menutupi keadaan yang sebenarnya dengan berbohong, tapi tak masalah ... Jeff yakin kalau Virgi yang polos itu pasti akan berkata yang sejujurnya kepada orang tuanya. Imbasnya dia sendiri yang akan terkena masalah. Mama Ameera dan Papa Husein pasti akan semakin marah sebab Virgi yang menolak untuk melayani suaminya hingga berani menampar Jeff seperti yang mama lihat. Virgi mengernyitkan keningnya menatap penuh haru suaminya yang berusaha untuk menyelamatkan dirinya. Tak menyangka kalau Jeff akan menutupi kebenaran demi membuatnya terhindar dari ocehan orang tuanya. Ia pikir Jeff akan mengadu kepada mama dan papa agar ia kena marah dan mau menuruti permintaan Jeff tanpa banyak cingcong. Baik banget dia ... makasih-makasih ... nggak akan aku lupain kebaikanmu semur hidupku, Bang. Ucap Virgi dalam batin. "Oalah ... jadi begitu," ucap Papa Husein sambil manggut-manggut. Papa Husein dengan mudahnya mempercayai perkataan Jeff karena beliau paham bagaimana sikap Jeff. "Mama yang salah paham berarti! Lain kali nggak usah pakai emosi dulu, Mah!" Akhirnya Mama pun yang menjadi pihak yang bersalah karena sudah salah menduga dan memarahi Virgi. "Aduh ... maaf, deh! Mama beneran nggak tahu," kata Mama Ameera merasa malu. "Mama sie main nuduh duluan dan nggak mau dengerin penjelasan aku dulu!" sungut Virgi lalu mencebikkan bibirnya kesal. Jiaaah, kalau bukan karena aku yang bantuin ngomong bakalan habis kamu dibuat bulan-bulanan emak sama bapakmu, Cil Bocil, gerutu Jeff melirik Virgi yang sok-sokkan menjadi pihak yang tersakiti. "Tapi biar pun cuma permainan, tapi istri itu nggak boleh gampar-gampar suaminya. Bercanda itu ada batasannya, Sayang. Apa kamu paham?" nasehat Mama Ameera yang kembali menjadi ibu yang lemah lembut dan baik hati. Galaknya sudah hilang. "Paham, Cik Gu," jawab Virgi layaknya film kartun upin-ipin kesukaannya. "Ya sudah kalian boleh kembali ke kamar dan .... " Mama Ameera senyam-senyum tidak jelas. Perasaan Virgi mendadak jadi nggak enak karena melihat senyuman mama. "... bikinin mama cucu yang lucu-lucu, ya," imbuh beliau berbisik di telinga Virgi. "Dih ... ogah!" balas Virgi lalu nyelonong pergi meninggalkan kamar hotel orang tuanya. "Bociil!" teriak Mama Ameera merasa kesal dengan ulah anak bungsunya. "Saya permisi dulu, Ma, Pa!" pamit Jeff sesegera mungkin berlari menyusul istrinya. "Jangan dipaksa, Ma! Virgi kan memang masih kekanak-kanakan dan memang belum sepantasnya buat menikah," tutur Papah Husein. "Ya kan ini juga karena papah! Papa yang kebelet banget pingin besanan sama Danish jadi anak kita dipaksa-paksa. Jadi, Papah itu yang suka memaksa kehendak!" sembur Mama Ameera gantian mengomeli suaminya. "Ini juga demi masa depan keluarga kita, Mah," debat Papa Husein. "Yang penting kita tahu kalau menantu kita itu lelaki yang baik," tutup beliau menyudahi ketidaksepamahaman antara beliau dan istrinya. 0o0 "Heh, Bocil! Bangun!" Jeff menggoyang-goyangkan tubuh istrinya yang sudah tergolek di atas ranjang dengan selimut yang menutupi seluruh tubuhnya. Seusai persidangan di kamar Mama Ameera, rasanya tak ada lagi yang harus dia lakukan selain tidur dan beristirahat. Jadilah, setelah Jeff kembali ke kamarnya selepas menemui Papa Danish dan Mama Sonia untuk membicarakan sesuatu hal, ia melihat istri kecilnya tersebut sudah meringkuk di bawah selimut. "Aku mau bobo, Bang. Besok aku harus kuliah," desah Virgi kesal. Matanya sudah lima watt dan susah untuk dibuka. Rambutnya yang basah pun sudah kering sendiri seiring berjalannya waktu dan ia tak butuh lagi hairdriyer. "Heh, memangnya kamu nggak cuti apa? Kan kita baru aja nikah, Cil." "Cuti kuliah? Nah ... ini yang perlu aku luruskan, Bang! Setempe aku-" "Setahu, Cil. Bukan setempe," ralat Jefrri. "Ck! Dengerin aku dulu!" sentak Virgi membelalakkan bola matanya. Mendadak kantuknya pun ilang. Virgi duduk bersandar di sandaran ranjang dengan selimut yang menutupi tubuhnya hingga sebatas perut. "Iya-iya." Jeffri menutup mulutnya bersiap untuk mendengarkan kanjeng ratu Virgi berbicara. "Setahu aku, aku tuh nggak pernah ngomong sama siapa pun lho kalau hari ini aku nikah dan papah mama juga udah setuju untuk ngerahasiain ini dulu dari teman-temanku, tapi ... kenapa teman-teman kampus pada chat aku dan ngucapin selamat menempuh hidup baru? Mereka tempe dari mana coba? Sheren juga bilang kalau berita ini tuh bikin heboh," cerita Virgi dengan sangat bersemangat dan Jeff menyimak tanpa menyela lagi. "Bahkan Si Bima yang naksir berat sama aku-" "Bima si bau badan maksudmu?" potong Jeff yang gatel banget pingin ngeledek setelah mendengar nama lelaki itu disebut oleh istrinya. "Iya ... dia juga patah hati gara-gara ini," jawab Virgi. "Abang tahu sendiri kan gimnana bucinnya Bima sama aku? Bahkan mati pun kayaknya dia rela demi aku." "Iya-iya-iya ... Bima anggota Badan Eksekutif Mahasiswa yang cinta banget sama kamu itu, tapi kamu tolak mulu itu kan? Anjiiir ... jangan-jangan habis ini dia bunuh diri lagi, Cil," tutur Jeff. "Mm ... " gumam Virgi. Ia pun buru-buru mengambil ponselnya dan membuka aplikasi w******p di mana sejak sore tadi hingga lima menit yang lalu, Bima membuat sepuluh status patah hati yang bisa dipastikan ini karena berita pernikahan Virgi. Virgi baru melihat status-status itu sekarang. Tak ada niat untuk memberikan komentar meski Bima berharap gadis pujaan hatinya tersebut mau merespon ungkapan dukanya. Dan kesepuluh status berisi video, lagu-lagu galau, meme patah hati, sukses Virgi abaikan begitu saja. Meski kasihan juga sie melihatnya. "Nyampah doang di status, Bang. Tapi orangnya masih hidup kok barusan aja online," ucap Virgi lalu meletakkan ponselnya kembali. "Syukur, deh!" sahut Jeff singkat. "Terus siapa yang ngebocorin pernikahan aku sama teman-teman dong, ya?!" Inilah yang masih menjadi tanda tanya besar untuk Virgi. "Beneran deh aku nggak ngomong ke siapa pun soal ini," imbuhnya. "Yakin kamu nggak bilang sama siapa pun tentang ini?" tanya Jeff dengan sorot mata yang seolah berkata kalau dia meragukan pengakuan Virgi. "Ya ... " Virgi garuk-garuk kepala. "Ya cuma ngomong sama Sheren dan Asila doang sie," cetusnya. "Heh, itu namanya kamu tetap bilang sama orang-orang, Cil!" "Heh, cuma mereka berdua bukan semua orang, Bang!" "Tetap aja biar cuma dua orang bakalan nyebar," debat Jeffri. "Tapi mereka itu sahabat aku banget lhoh ... mereka tuh nggak mungkin nyebarin berita pernikahan aku," ucap Virgi dengan yakin. "Ya kalau di kampus tembok aja bisa ngomong kali. Berita sekecil apapun itu bisa nyebar, apalagi kamu idola kampus yang banyak fansnya dan banyak musuhnya juga," terang Jeff. Dia sedikit banyak tahu tentang Virgi, karena Virgi kerap membagi cerita dengan Jeff. "Tapi pokoknya besok aku mau bilang sama teman-teman kalau berita pernikahan aku itu cuma hoax! Dan abang harus nurut sama aku!" paksa Virgi. Nggak mau tahu pokoknya Jeff harus menuruti semua yang dia katakan. "Heh, kebalik, dong! Harusnya kamu yang nurut aku, Cil!" omel Jefrri. Sebagai suami dia yang harus diikuti omongannya, kenapa jadi terbalik gini? "Bisa nggak sih kalau ngomong nggak usah hah-heh-hah-heh, Bang?" cibir Virgi. "Sekarang aku mau bobo. Jangan ganggu!" Virgi kembali membenamkan tubuhnya di dalam selimut dan tak memedulikan Jeffri yang masih ingin bicara dengannya. "Heh-" "Jangan hah-heh-hah-heh!" tegur Virgi seraya mengeluarkan kepalanya sedikit-hanya kelihatan rambut dan matanya doang, lalu kembali bersembunyi di dalam kain tebal yang membungkus tubuhnya. "Cil ... dirapiin dulu dong ini baju, bedak, sisir, minyak wangi, ealah ... bisa banget sie kamu tidur di tempat yang berantakan kayak gini?" tegur Jeffri yang notabene paling nggak bisa kalau ngelihat tempat berantakan. Jeffri sangat suka tempat yang rapi. "Bodo! Aku ngantuk banget, Bang!" sahut Virgi dengan suara yang tak terlalu jelas karena teredam dengan selimut yang menutupi tubuhnya. "Ck! Susah emang kalau punya bini yang masih balita," desah Jeffri sembari menjumputi barang-barang Virgi yang terhampar berserakan di atas ranjang. Mana kaki itu cewek nendang-nendang hingga ada satu dua benda yang jatuh ke lantai karenanya. Dengan sabar Jeffri menjumputi satu per satu dan membereskannya tanpa mengeluh. "Dasar anak kecil!" lirih Jeffri dengan senyum simpul yang tersungging di bibirnya. Sama sekali tak ada perasaan kesal di hatinya kepada Virgi. Dia sudah paham resikonya menikahi anak kecil yang masih manja dan tak mandiri seperti Virgi. Tak lupa handuk bekas istrinya mandi pun Jeffri ambil dan dia lipat dengan begitu rapi. Setelah semuanya rampung, Jeffri masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya dari keringat yang menempel. Rasanya benar-benar gerah sekali hingga ia ingin lama-lama merendam tubuhnya di bath up. Hanya sebentar saja Virgi bisa memejamkan mata dan tertidur di bawah alam sadarnya. Lima belas menit kemudian gadis itu terbangun. Istri nakal milik Tuan Jeff itu pun mengintip dari balik selimut untuk memastikan bahwa suaminya itu sudah tak ada lagi di kamar ini. Sepi! Tak ada suara apapun juga di dalam kamar mandi, maka Virgi yakin kalau Jeff sudah pergi meninggalkannya seorang diri di sini. Virgi membuka lebar selimut yang menutupi tubuhnya sejak tadi. Maka ... ia pun terhenyak ketika mendapati kamar ini sudah rapi begitu pun juga dengan barang-barangnya yang telah tertata pada tempatnya masing-masing. Skincare yang jarang ia gunakan dan peralatan kecantikan yang tak pernah ia sentuh, tapi sok-sokan ia bawa ke mana-mana tersusun rapi di atas meja rias. Baju-bajunya pun sudah berada di dalam lemari karena mereka akan menginap tujuh hari di hotel ini. Iya ... seperti permintaan mama dan papa mereka. "Apa dia yang membersihkan huru-hara yang aku buat?" gumam Virgi seraya mengulum senyum. Lalu siapa lagi memangnya kalau bukan Jeff yang membersihkan? Dasar Virgi!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD