Virgi turun dari tempat tidur. Niat hati ingin minum, tapi malah mendadak panggilan alam ingin buang air kecil menghampirinya. Terpaksa ia pun mengurungkan niatnya untuk menenggak air putih dingin yang ada di dalam lemari es yang tersedia di hotel bintang lima ini. Bergegas Virgi menuju ke kamar mandi karena hasratnya ingin pipis sudah tak terbendung lagi.
Virgi berjalan cepat menuju ke toilet. Lekas ia mendorong pintu kamar mandi yang terbuat dari kaca tebal untuk masuk ke dalamnya. Namun naas, matanya membelalak lebar ketika melihat ada lelaki yang sedang berendam asyik di dalam bath up dengan banyaknya busa yang mengelilingi tubuhnya.
"Astaga! Abaaang!" teriak Virgi.
"Heh, kenapa kamu nggak ketuk pintu dulu?!" tegur Jeffri seraya menyilangkan kedua tangannya di depan d**a. Seperti perempuan aja kamu, Jeff!
Busyet dah ... d**a bidangnya montok banget mana banyak bulu-bulunya, batin Virgi seraya menelan ludahnya sendiri. Tak bisa dipungkiri ia mengagumi bagian tubuh suaminya tersebut.
"A-aku ... aku pikir abang udah keluar dari kamar," gagap Virgi yang lantas memalingkan wajahnya karena malu.
"Lagian abang nggak kunci pintunya dulu, sie," decit Virgi yang malah diam mematung di tempatnya bukannya keluar. Ia mencuri-curi pandang menatap ke arah Jeff dengan malu-malu. Mungkin ini yang di namakan mulut dan perbuatan yang tak sinkron. Mulutnya bilang nggak suka lihat suaminya, tapi tubuhnya tak mau pergi dan seolah sayang kalau tontonan ini dilewatkan.
"Hancur sudah keperjakaanku!" sungut Jeffri.
"Cih ... memang abang masih perjaka? Dih ... nggak percaya," cibir Virgi seraya mencebikkan bibirnya. Tak ada yang tahu bahkan Jeff sendiri kalau sekujur tubuh Virgi merinding saat ini.
"Kamu mau coba?!" tantang Jeffri. Ia berdiri dari bak berisi air sabun yang sejak tadi menjadi tempatnya untuk healing melepas penat. Spontan Virgi pun berteriak seraya menutup kedua matanya. Jangan sampai dia melihat belalai gajah Jeff yang bisa saja membuatnya tak bisa tidur tujuh hari tujuh malam.
"Jangan ditutupi matamu! Ayo lihat betapa perkasanya diriku ini!" perintah Jeffri, tapi tetap saja Virgi tak sudi untuk membuka kelopak matanya. Dia akan tetap menjaga matanya yang masih suci dari noda ini dari hal-hal yang membuat imannya goyah.
Lihat dadanya aja udah bikin lututku gemeteran apalagi lihat itunya, pikir Virgi.
"Pusakaku ini nggak pernah sembarangan masuk kandang asal kamu tahu!" ucap Jeff membuat Virgi mengedikan kedua bahunya karena geli.
"Jangan mengangguku, Abang! Ayo masuklah lagi ke bath up! Aku nggak minat lihat belalai gajahmu! Oh Ya Allah, memang belum saatnya aku menikah!" rengek Virgi seraya menghentak-hentakkan kakinya dengan tangan yang masih setia berada di depan kedua matanya.
"Ck! Ayo lihat aja. Cil! Aku yakin kamu pasti suka dan ketagihan kalau ngerasainnya," goda Jeff. Ia melangkahkan kakinya melewati bath up dan mendekat pada istrinya.
"Lagian ini bukan salahku, ya! Kalau kamu nggak mau lihat aku mandi ya sok aja pergi! Kenapa masih berdiri di sini?!" tegur Jeff membuat Virgi menyadari akan kebodohannya.
"Oke-oke! Aku bakalan segera pergi dari sini," ucap Virgi seraya berbalik badan dan melangkahkan kakinya. Namun usaha Virgi ini terlambat ...
"Ayo kita berendam bersama, Sayangku! Istri kecilku! Hahaha .... " Jeff semakin usil. Dengan cepat ia memegang kedua pergelangan tangan Virgi sebelum gadis itu pergi. Dingin sekali tangan Jeff membuat Virgi bergidik.
"Lepasin aku, Bang! Aku mau keluar!" Virgi meronta-ronta.
"Kalau mau keluar itu dari tadi! Jangan setelah ditegur baru mau keluar," cibir Jeff.
Lelaki itu menyingkirkan telapak tangan istrinya dari kedua bola matanya.
"Abang sudah gila! Lepasin aku!" Virgi memberontak, tapi dia tak habis akal meski kedua telapak tangannya sudah berhasil Jeff singkirkan, tapi dia masih bisa menghalau pandangannya dengan memejamkan matanya kuat-kuat dan mendongakkan kepalanya ke atas.
"Kita mandi bersama, ya!" ajak Jeffri lalu menggendong tubuh Virgi ala-ala bridal style.
"Abaaaang! Turunin aku! Nanti aku jatuh, Bang!" Virgi berteriak seraya menggoyang-goyangkan kakinya.
Jeff tak peduli dengan rengekkan Virgi. Karena tingkah Virgi sendiri yang membuat sifat usil Jeff semakin menjadi-jadi. Jeff memasukkan tubuh istrinya ke dalam bath up hingga gadis itu basah kuyub. Bahkan rambut Virgi pun terkena busa-busa sabun yang terhampar di dalam air rendaman tersebut.
"Abaaang! Aku udah mandi kenapa kamu mandiin lagi?! Duuh ... basah lagi rambutku! Mana aku nggak bawa hairdriyer!" amuk Virgi seraya mengusap-usap wajahnya yang ikut terkena buih putih dan membuatnya risih.
"Byuur!" Jeff ikutan masuk hingga bak mandi mewah dan luas itu pun menjadi penuh karena mereka berdua.
"Ini yang biasanya dilakuin sama pasangan pengantin baru, Cil. Mandi bersama terus tidur bersama," ucap Jeffri membuat Virgi menjadi merinding.
"Aku masih kecil, jadi jangan sentuh aku, Syeh Puji!" umpat Virgi. Ia terpaksa membuka matanya dan mendapati wajah Jeff yang begitu tampan dan dewasa kini berada tepat di depan matanya. Tubuh mereka berdekatan, sangat dekat sekali.
"Abang aku mau-"
"Jangan ke mana-mana!" larang Jeff dan menarik tangan Virgi ketika wanita itu berdiri dan hendak pergi, hingga mau tak mau tubuh Virgi pun kembali terendam ke bath up.
"Abang ... aku udah nggak tahan!" rengek Virgi seraya menepuk-nepukkan tanganya di atas air. Wajah Jeffri pun terkena busa yang melompat karena hentakan tangan istrinya.
"Iya, aku tahu kamu udah kebelet malam pertama sama aku kan? Hayoo ... " Jeffri terus saja menggoda Virgi.
"Bukan itu! Bukan ituuu! Aaarkh!" geram Virgi.
"Kalau abang nggak ngijinin aku keluar dari bath up ini maka aku mau lakuin sekarang juga di sini! Masa bodo mau abang suka apa enggak!" sentak Virgi. Sampai kapan ia harus menahan hasrat ingin vivis yang sejak tadi mendera.
"Oke-oke kita lakuin di sini biar romantis, Ya. Aku copot dulu celanaku," ucap Jeff yang masih berpikir kalau yang Virgi inginkan adalah hasrat untuk beranu-anuan ria. Padahal ...
"Aah lega ...." Virgi tersenyum setelah berhasil mengeluarkan air panas yang sejak tadi menekan kandung kemihnya.
"Lega?" tanya Jeff dengan kening berkerut.
"Huum ... aku pipis, hehehe ..." jawab Virgi dengan entengnya lalu berdiri dan keluar dari bak tersebut. Sama sekali tak ada rasa bersalah pada diri gadis itu meski dia telah membuat Jeff menjadi jijik setengah mati.
Jeff meringis dan melompat dari dalam bak.
"Iyuuuh ... malam pertama bukannya enak-enak malah diompolin. Keterlaluan banget kamu, Cil!" omel Jeffri seraya memandangi istrinya yang kini sibuk membilas tubuhnya di bawah guyuran shower dengan baju yang masih menempel seluruhnya.
0o0
Malam pertama? Suara desahan? Dan pekikkan kata 'Enak'?! Jangan harap akan terdengar di dalam kamar pengantin mereka! Yang ada hanya keributan dan pertengkaran di antara keduanya. Meski pada akhirnya Jeff-lah yang harus mengalah dan terus mengalah.
"Belum sehari aku jadi suami kamu, aku udah kamu buat darah tinggi!" sungut Jeff seraya mengambil bantal untuk menemaninya tidur di atas sofa. Karena Virgi menolak untuk tidur bersama maka mau tak mau dia juga yang harus rela untuk tidur di tempat yang tak seharusnya untuk ia melepas penat. Sial banget nasibmu, Jeff!
"Ya kan kalau abang nggak mau nikah sama aku, akunya juga nggak maksa," decit Virgi.
"Nyenyenyenyenye ...." ledek Jeffri melebarkan bibir bawahnya dengan ekspresi yang sangat lucu hingga Virgi terkekeh karenanya.
"Dasar anak kecil!" cemooh Jeff. Ia melempar bantal ke atas sofa lalu gantian badannya yang ia jatuhkan di atas tempat empuk tersebut. Ternyata panjang sofa lebih pendek dari tinggi tubuh Jeff, sehingga Jeff harus rela tidur dalam posisi kaki yang sedikit menggantung.
"Dasar Syeh Fuji!" cemooh balik Virgi. Ia pun berusaha untuk memejamkan matanya meski beberapa kali ia tertarik untuk melihat lelaki yang kini tertidur gelisah di bawahnya sana.
Jeff terlihat gelebak kanan gelebak kiri tak jelas. Terkadang ia menutup matanya dengan tangan, lalu ia buka lagi, begitu seterusnya.
Dasar orang aneh! Pekik Virgi dalam hati. Kali ini ia harus benar-benar tertidur dan abaikan tentang suami yang terus menyita perhatiannya sejak tadi.
Satu, dua, tiga ... Virgi menghitung domba-domba yang ada dalam imajinasinya dalam batin, mata gadis itu terpejam. Teori yang dulu sempat diajarkan oleh Mama Ameera ketika ia masih balita masih juga ia gunakan hingga sekarang. Terkesan konyol, tapi inilah Virgi yang 'sometimes' memang masih amat sangat kekanak-kanakan.
Sementara itu Jeff tak berhasil memerintahkan otaknya agar segera masuk ke alam bawah sadar. Rasanya mengantuk, tapi hanya bisa terpejam tanpa bisa menikmati nyenyaknya tidur di kala lelah.
"Aku nggak bisa tidur di ruang yang lampunya terang benderang begini," desis Jeff lalu merubah posisinya yang tadi berbaring menjadi duduk. Rambut lelaki itu sudah awut-awutan tak jelas akibat ia yang bergerak dengan gelisah sejak tadi.
"Aku matiin dah lampunya. Bodo amat!" Jeff tahu kalau Virgi phobia dengan gelap, tapi karena lihat istrinya itu sudah tertidur lelap maka dia nekat untuk mematikan lampunya.
"Nah aman! Dengan begini kan aku bisa tidur dengan nyenyak," kata Jeff lalu menempatkan dirinya kembali di atas sofa. Tak lama setelah itu terdengar suara dengkuran yang cukup keras. Itu pertanda Jeff sudah masuk ke alam mimpinya.
Dua jam kemudian.
Virgi menggeliat. Ia meregangkan tubuhnya ke kanan dan kiri. Tak lupa mulutnya menguap dengan cukup lebar. Tubuhnya yang benar-benarlah membuat ia bisa tertidur dengan sangat pulas.
"Groooook ... groook ... !" Suara dengkuran seorang lelaki sampai juga ke gendang telinga Virgi membuat gadis itu ingin segera membuka matanya. Rasanya susah sekali kelopak matanya ini untuk dilebarkan akibat rasa kantuk yang begitu dahsyat. Lamat-lamat Virgi menyadari bahwa kamar yang tadinya terang berubah menjadi gelap. Kantuknya pun hilang seketika. Virgi berteriak cukup kencang.
"Aaarkh! Aku nggak suka gelap! Aku takut gelap!" pekiknya seraya membuka selimut yang membungkus tubuhnya.
Virgi meraba-raba pinggiran ranjang dengan sekujur tubuh yang gemetaran. Peluh pun bercucuran dengan jantung yang berdebar kencang. Rasanya untuk berjalan pun kesusahan karena getaran di sekujur tubuhnya.
"Bang! Abang!" Virgi memanggil-manggil suaminya yang masih terus mengeluarkan dengkuran-dengkuran yang memekakkan telinga. Virgi berusaha untuk mencari-cari saklar lampu tak ketemu juga.
"Abaang! Aku takut, Bang!" keluh Virgi dengan suara yang lebih kencang dari sebelumnya berharap Jeff akan segera bangun dan menolongnya.
"Saklarnya di mana Ya Allah?" Virgi menangis terisak-isak sementara perlahan tubuhnya pun melemas.
"Atau handphone ... di mana aku taruh handphoneku?" Virgi meraba-raba tempat tidur, tapi usahanya pun nihil. Ia tak menemukan benda apapun setelah lama mencari. Air matanya sudah jatuh bercucuran akibat ketakutannya yang semakin lama semakin memuncak.
"Ya Allah, dadaku sesak! Aku rasanya nggak bisa bertahan lebih lama di kegelapan. Aku takut bangeet! Abaang!" Virgi merintih dan memegang dadanya.
Virgi meraba-raba sekitarnya dengan begitu panik hingga akhirnya gadis itu terjatuh di lantai tak berdaya. Tangan Virgi menyentuh sebuah benda ketika proses ia terjatuh dan menimbulkan kegaduhan sehingga itulah yang membuat Jeff menjadi terbangun.
"Apaan sie?" tanya Jeff. Ia mengerjap-ngerjapkan matanya. Seperti ia melihat ada seseorang tertidur di lantai, entah itu benar atau tidak tapi keadaan yang gelap membuatnya tak yakin kalau yang dia lihat itu benar-benar manusia.
"Jangan-jangan?!" Jeff segera menurunkan ke dua kakinya dan berlari menuju ke arah saklar lampu. Ia teringat dengan Virgi seketika itu juga.
Begitu lampu menyala ia pun terkejut melihat istrinya sudah tak berdaya di sebelah hiasan lampu berdiri yang tak sengaja jatuh tersenggol tangan Virgi.
"Cil, Bocil!" Jeff panik bukan main. Ia meraih kepala Virgi lalu ia taruh di atas pangkuannya dan ia tepuk-tepuk pipi gadis itu beberapa kali untuk membuat kesadarannya kembali.
"Aduuh ... mana nggak bangun-bangun!" Jeff ketakutan. Ia pun membopong tubuh Virgi lantas ia pindahkan di atas ranjang.
"Lalu aku harus gimana sekarang?" Jeff kebingungan. Tak pernah ia menangani orang yang terjatuh pingsan sebelumnya apalagi dengan basic karena phobia gelap seperti yang Virgi alami.
"Cil, bangun dong! Jangan bikin aku binging, heh!" Jeff menepuk-nepuk pipi bocil sekali lagi. Ia juga memegang tangan istrinya dan