Jeff hilang akal, entahlah dia tak tahu harus berbuat apa. Maka dari itu dia segera keluar untuk mengetuk pintu kamar mertuanya dan pintu kamar orang tuanya sendiri. Kebetulan kamar-kamar mereka dekat dengan kamarnya. Hanya meminta bantuanlah yang saat ini bisa dia lakukan.
"Ya Allah, kenapa bisa pingsan si, Jeff? Kamu apain memang?" tanya Mama Sonia yang berjalan mengekor di belakang Jeffri disusul oleh Papah Danish, Mama Ameera dan juga Papa Husein.
"Mungkin kamu mainnya kekencengan kali, Jeff!" tegur Papa Danish.
"Apaan yang kekencengan sih, Pah?" Jeff paham kalau pikiran orang tuanya pasti sudah aneh-aneh.
Mereka kini sudah berada di dalam kamar hotel Jeff di mana kelopak bunga mawar merah berserakan tak karuan. Virgi masih dalam keadaan pingsan.
"Cil, kamu kenapa? Nak ... bangun, dong!" Mama Ameera mengoleskan kayu putih di hidung anaknya.
"Kok bisa jatuh pingsan itu gimana ceritanya si, Jeff?" tanya Papa Husein ingin tahu kronologinya.
"Saya juga nggak tahu, Om. Eh, Pah maksudnya. Pokoknya tiba-tiba udah jatuh pingsan aja," jawab Jeffri. Dia belum bilang kalau ia mematikan lampu ketika tidur.
"Virgi, bangun, Sayang!" Mama Ameera menguru-urut tangan Virgi yang basah dan berkeringat dingin. Sedangkan Mama Sonia memijit-mijit kaki menantunya.
Virgi membuka mata perlahan-lahan, lalu ia menangis terisak-isak seraya merentangkan kedua tangannya pertanda bahwa dia minta dipeluk oleh mamanya.
"Kenapa nangis? Kenapa pingsan?" tanya Mama Ameera mewakili pertanyaan semua orang yang ada di sini.
Virgi menunjukkan jarinya ke arah Jeff yang berdiri di depan ranjang.
"Abang jahat!" adu Virgi membuat Jeff mengernyitkan keningnya dengan mata terbelalak lebar. Semua netra pun kini tertuju kepada Jeff yang menjadi tersangka utama.
"Heh, kok jadi aku?" tanya Jeff tak mengerti seraya menunjuk dirinya sendiri.
"Tuh kan! Kamu masukkinnya kekencangan, Jeff! Pelan-pelan! Namanya juga baru pertama jangan grusah-grusuh!" ucap Papa Danish yang menyangka Virgi pingsan karena malam pertama mereka yang terlalu liar.
"Bukaaan! Bukaaan ituuu! Apaan masuk-masuk?!" omel Virgi menangis histeris.
"Eh, terus apaan, Sayang?" tanya Mama Ameera sudah penasaran sekali pingin tahu kenapa Virgi menyalahkan suaminya perihal ini.
"Ya karena abang matiin lampu kamarnya, Mah," adu Virgi dengan air mata bercucuran. Dia benar-benar ketakutan, napasnya juga bisa sesak bila di keadaan yang gelap.
"Mama ... aku takut banget, Ma." Virgi terus mengadu kepada Mama Ameera seperti anak bayi yang kesal karena mainannya direbut oleh teman sebayanya.
"Cup ... cup ... Sayang!" Mama Ameera mengelus-elus rambut anaknya dengan sangat lembut.
"Astaga, Jeff! Kamu kan sudah tahu kalau Virgi takut gelap, kenapa malah kamu matiin lampunya? Jelaslah kalau dia sampai pingsan," omel Mama Sonia.
"Ya Allah, Jeff! Papa pikir karena kekencangan," timpal Papa Danish sambil menepuk keningnya.
"Harusnya jangan kamu matiin lampunya! Kasian! Orang kalau phobia itu tuh bisa sesak napas," tegur Mama Sonia terus menyalahkan anak lelakinya.
"Tapi kan mama juga tahu aku nggak bisa tidur dalam keadaan terang," balas Jeffri.
"Tapi kamu harus ngalah sama istri kamu, Jeff. Ya Allah .... " sambung Papa Danish ikut menyalahkan anaknya.
"Aku mau tidur sama mama papa aja, aku nggak mau tidur bareng abang. Abang berisik!" amuk Virgi.
"Ck! Virgi kamu itu udah gede! Udah dua puluh tahun jangan seperti anak-anak!" tegur Papa Husein.
"Dua puluh tahun belum genap, Ma!" protes Virgi. "Aku tuh nggak bisa tidur gelap, tapi abang maunya gelap. Terus gimana menurut, Papa?" tanya Virgi masih dengan air mata bercucuran.
"Aduh ... ini masalah yang kompleks sie." Mama Sonia memijit pelipisnya.
"Jeff, kamu yang harusnya ngalah sama istri kamu! Kamu yang harus belajar terbiasa buat tidur dengan keadaan lampu yang menyala," dalih Papa Danish kepada anak sulungnya.
"Pah ... kenapa nggak kita coba aja sembuhin phobianya Virgi? Kenapa mesti aku yang disuruh ngubah kebiasaan?" protes Jeffri.
"Ya karena kamu suami, jadi wajib mengutamakan kenyamanan istri," tegas Papa Danish.
Belum apa-apa pernikahan ini sudah harus ditimpa masalah yang membuat pusing kepala. Meski terlihatnya sepele, tapi cukup membuat riweh para anggota keluarga. Mana Jeffri dan Virgi pada nggak ada yang mau ngalah.
"Kalau phobia bisa disembuhin udah dari dulu aku sembuhin, Bang," desis Virgi seraya mengusap air matanya.
"Phobia itu bisa disembuhin asal ada niat," tegas Jeffri. "Kalau nggak sembuh-sembuh berarti kamu yang nggak ada niat buat melawan," imbuhnya.
"Kok abang ngomongnya gitu?" protes Virgi dengan nada tinggi.
"Mama rasa benar kata Jeffri, kamu harus sembuhin phobia kamu, Sayang," timpal Mama Ameera menyetujui ide menantunya.
"Tapi, Ma-"
"Heh, aku suami kamu sekarang, Ya!" potong Jeffri.
"Hah heh hah heh," desis Virgi sembari melengos kesal.
"Hish ... kamu harus nurut sama aku titik!" paksa Jefri lalu ia membusungkan dadanya dan melipat kedua tangannya. Berlagak sok berwibawa agar Virgi mau tunduk kepadanya.
"Iya, Cil. Kamu harus nurut sama Jeffri, ya! Dia kan suami kamu. Lagi pula kamu sendiri yang bersedia menikah sama dia kan?" kata Mama Ameera mengingatkan kepada anak bungsunya tersebut bahwa dia sendirilah yang dengan senang hati mau menjadi menantu dari Om Danish. Tak ada yang memaksa melainkan atas inisiatifnya untuk menyelamatkan kakak dan juga ibunya yang akan kena amuk papa kalau sampai kedua anaknya tak ada yang mau menjadi menantu dari sahabatnya tersebut.
Virgi tak bisa mengelak lagi kecuali menuruti permintaan Jeffri meskipun hanya di depan orang tua mereka saja. Setelah orang-orang pergi, Virgi akan menjadi sosok anak kecil yang harus Jeffri turuti apapun maunya.
"Lalu, kenapa cuma ada satu bantal di sini? Lalu di mana bantal satunya lagi?" tanya Mama Sonia merasa curiga ketika bantal di atas ranjang hanya satu buah saja.
"Ups!" Virgi menutup mulutnya. Jeff menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal lalu membuang muka sembarangan. Sudah pasti dia dan Virgi akan menjadi sasaran ocehan kedua orang tua mereka.
Keempat orang tua tersebut mengedarkan pandangan matanya, lalu Mama Ameera menemukan satu bantal lagi ternyata tergeletak dia tas sofa.
"Kok?" Mama Ameera mengerutkan keningnya.
"Kalian tidur terpisah?" tanya Mama Sonia dengan tatapan yang penuh selidik ke arah Virgi dan Jeff bergantian.
Sepasang suami aneh itu pun saling melempar pandangan.
"Kediaman kalian itu menandakan bahwa benar kalau kalian tidur terpisah malam ini!" tegas Mama Ameera benar-benar kecewa.
"Kalian benar-benar keterlaluan!" sentak Mama Sonia.
"Mah ... dengerin penjelasan kami dulu! Aku ... aku belum siap untuk itu-ituan sama Bang Jeff," sambar Virgi seraya menutup wajahnya karena sesungguhnya dia sangat malu karena harus membahas masalah ranjang dengan orang tuanya.
"Ck! Tapi seenggaknya tidurlah dalam satu ranjang. Biar apa?! Biar chemistry kalian itu dapat, Sayang," tutur Mama Sonia.
"Betul! Kalau kalian tidur sendiri-sendiri kapan kalian bisa menyatu?" timpal Mama Ameera. Duo mama ini memang paling kompak kalau dalam hal menghakimi anak-anak mereka.
"Iya-iya, kami akan berbagi ranjang malam ini," sahut Jeff dan Virgi bersamaan.
Beberapa menit setelah orang tua mereka pergi.
"Awas jangan sampai abang deket-deket aku!" Virgi mewanti-wanti Jeff. Dia menempatkan dirinya di sebelah kanan ranjang. Begitu mepet ke pinggir sampai-sampai Jeff takut kalau itu bocah ngeglinding ke bawah.
"Iya-iya! Ge-er banget!" sungut Jeff lalu berbalik badan, tidur dengan posisi membelakangi istrinya.
"Ye ... siapa yang nggak tertarik sama cewek secantik aku? Nggak usah munafik! Abang pasti udah ngiler juga sama aku, hahaha ... " cemooh Virgi lalu ikutan melakukan aksi membelakangi tubuh suaminya.
0o0
"Allahu Akbar!" Virgi berteriak dan segera meloncat dari atas tempat tidur. Ia tersadar kalau sudah tiga kali ia men-snooze alarm yang sejak tadi berdering nyaring untuk membangunkan dirinya. Namun, sayang alarm tersebut tak dapat melakukan tugasnya dengan baik.
"Ck! Kamu kenapa sie, Cil?" tanya Jeff yang baru bisa tertidur nyenyak sekitar jam lima subuhan, tapi baru dua jam terlelap ia harus terbangun lagi akibat suara berisik istrinya dan gerakan tubuh Virgi yang membuat springbed bergoyang. Virgi tak tahu bagaimana usahanya agar bisa tertidur dalam keadaan terang benderang hingga semudah itu ia membuat suaminya terbangun lagi. Ini benar-benar part adaptasi yang sangat sulit untuk Jeff lalui. Hm ... berdalih ingin menjadi suami yang baik, maka dia harus melakukan ini meskipun dalam hati terus mengomel sejak tadi.
"Aku terlambat ke kampus, Bang. Kenapa abang nggak ngebangunin aku, si?" omel Virgi yang bisa-bisanya malah menyalahkan suaminya.
"Lah aku aja baru bisa tidur subuh, gimana mau bangunin kamu? Ini aja masih ngantuk banget," decak Jeffri lalu mencoba untuk menutup matanya lagi. Yang dia ajak omong padahal sudah masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Cuma lima menit Virgi sudah selesai dengan aktifitasnya di dalam bathroom. Ia berjalan menuju ke lemari pakaian untuk mengambil jeans dan juga kemeja yang akan ia kenakan untuk ke kampus. Gerakannya terlihat terburu-buru dan grasah-grusuh.
"Aduuh ... kehadiran abang bikin aku susah gerak," decit Virgi mengomeli suaminya yang hanya memejamkan mata, tapi tak bisa tertidur juga. Pusing sekali kepala Jeff saat ini.
"Perasaan dari tadi udah gerak mulu ke sana kemari," sahut Jeff.
"Jiaah ... kirain tidur." Virgi masuk lagi ke dalam kamar mandi untuk berganti pakaian. Biasanya kalau di rumah dia berganti baju di dalam kamar. Masa bodoh meski ada Veli ia tak peduli, toh sama-sama perempuan. Kalau di sini kan dia nggak mungkin ganti baju di depan Jeff. Ya meskipun seharusnya itu bukanlah dosa karena Jeff adalah pasangan halalnya.
Buru-buru banget dia berganti baju karena ada kelas jam setengah sembilan nanti dan ini sudah jam setengah delapan. Untung saja Virgi tak suka memakai make up yang tebal, paling hanya pakai pelembab dan juga bedak seadanya. Lipglosh pun kalau ingat, kalau enggak ya dia biarkan bibirnya pink secara alami. Semua skincare juga Mama Ameera yang membelikannya, padahal Virgi jarang sekali menyentuh benda-benda tersebut. Virgi memang terkesan apa adanya dalam berbusana dan memoles wajahnya. Dasarnya sudah cantik alami ya biar polosan tetap saja terlihat cantik. So, dengan hal ini dia tidak perlu riweh untuk bersiap-siap karena tak perlu treatment serta dandan yang aneh-aneh seperti Veli, kakaknya.
"Abang, ayo!" Virgi mengguncangkan tubuh Jeff.
"Ayo ke mana, heh?" tanya Jeff dengan mata yang sayu menatap istrinya yang meski tak dandan tetap terlihat cantik natural.
"Anterin aku ke kampus! Aku udah mau telat ini," jawab Virgi.
"Ngantuk banget aku, Cil. Berangkat sendiri, ya!" tolak Jeff lalu menggulingkan badannya ke kanan menghindari istrinya yang akan terus merengek sampai keinginannya dipenuhi.
"Abaaang! Ayo! Anterin pokoknya! Kelamaan kalau naik ojek online. Abang!" Nah kan Virgi benar-benar merengek. Ia kembali mengguncang-guncangkan tubuh Jeff hingga mau tak mau lelaki itu pun harus membuka matanya, karena kalau tidak istri kecilnya ini akan terus merongrongnya.
"Hish ... iya-iya, aku ganti baju dan cuci muka dulu," ucap Jeff dengan malas-malasan.
"Oke, Deh. Itu baru suami yang bertanggung jawab, hehehe ...." balas Virgi lalu nyengir kuda.
"Bisa-bisanya dia nuntut aku tanggung jawab, dia sendiri juga nggak tanggung jawab," desis Jeff seraya berjalan meninggalkan tempat tidur nyamannya.
"Abang bilang apa?" tanya Virgi, lamat-lamat ia mendengar ocehan suaminya.
"Nggak ada!" jawab Jeff memilih untuk tidak menjelaskan apa yang dia keluhkan daripada ribut lagi ujungnya.
"Baru nikah beberapa jam udah perang mulu perasaan," omel Jeff.
Lima belas menit kemudian. Virgi mulai jengah menunggu suaminya yang tak juga keluar dari dalam kamar mandi.
"Abaaang! Lama amat sie? Keburu telat ini," teriak Virgi.
"Tunggu dulu!" teriak balik Jeff. "Memang istri yang nggak ada sopan santunnya," gerutu Jeff.
Lelaki itu keluar hanya mengenakan handuk yang melilit tubuh bagian bawahnya membuat Virgi seketika menutup matanya dengan kedua tangan.
"Aduuh ... abang ini memang nggak ada sopan santunnya sama sekali!" decak Virgi.
"Nggak puas apa semalam ngerjain aku di kamar mandi?" decit Virgi.
"Kenapa mesti ada sopan santun? Aku telanjang di depanmu aja itu bukan tindak pidana, Cil!" omel Jeff.
"Nyenyenyenye ... yang ingin sekali pamer roti sobek di depan anak kecil," ledek Virgi.
"Awas saja kamu nanti!" ancam Jeff seraya mengenakan bajunya.
"Dasar anak kecil! Masih suka ngompol," sindir Jeff membuat Virgi benar-benar malu. Padahal dia sudah lupa lho kalau semalam dia pipis di dalam bath up. Eh ... malah dibahas lagi. Ya, mau bagaimana lagi? Virgi sudah tidak tahan, malah Jeff menghalangi hasratnya.
"Abang diam, ya!" sungut Virgi.
"Sudah buka matamu! Aku sudah pakai baju," perintah Jeff menggoda Virgi.
"Ah yang benar?" tanya Virgi tak serta merta percaya.
"Buktiin aja kalau nggak percaya!" perintah Jeff.
Virgi pun mempercayai saja apa yang lelaki itu katakan hingga tanpa ada rasa curiga Virgi menurunkan kedua tangannya dari depan mata. Dan ....
"Abaaaaaang!" Virgi berteriak histeris. Ia yang sedang duduk di atas sofa lekas memalingkan wajahnya sambil menutup mata. Virgi memerosotkan dirinya ke bawah hingga ia terduduk di atas lantai dengan wajah yang ia telungkupkan di badan sofa.
"Hahahaha ..." Jefri terkekeh. Puas sekali ia bisa mengerjai istri kecilnya yang super menggemaskan.
"Mataku sungguh ternoda karena abang! Aaaarkkh!" Virgi benar-benar kesal karena bisa-bisanya Jeff belum memakai celana dalamnya. Masih dalam keadaan polosan dan memperlihatkan belalai gajahnya dengan dua telur di kiri kanannya.
"Aku nggak yakin kalau kamu nggak pernah lihat yang beginian, hahaha ... " ledek Jeff sembari memakai bajunya satu per satu. Dingin banget ac-nya lama-lama pisang dan telurnya bisa mengecil kalau kelamaan didiamkan tanpa ada penyerangan.
"Aku benar-benar nggak pernah lihat, Bang. Demi Allah!" Virgi menaikkan dua jarinya ke atas, bersumpah!
"Meski hanya di film dewasa?" tanya Jeff lalu ia berbaring lagi di tempat tidur.
"Huum ... aku benar-benar nggak tertarik lihat begituan. Aku lebih suka baca komik dari pada harus mengotori otak aku yang masih polos ini. Dasar Syeh Fuji!" umpat Virgi.
"Udah belum abang? Aku keburu terlambat ke kampus!" Virgi belum berani mengangkat kepalanya. Masih nyaman tertelungkup di atas sofa.
"Udah!" jawab Jeff singkat. Ia meraih handphonenya dan malah asyik membuka game bukannya bersiap untuk mengantarkan istrinya ke kampus.
"Awas kalau kamu bohong lagi aku babat habis belalaimu!" ancam Virgi.
"Mau dong dibabat, hahaha ...." Jeff semakin menjadi.
Jantung Virgi berdebar ketika ia menegakkan lehernya dan memutar menghadap ke arah suaminya. Gadis itu membuka matanya perlahan dan syukurlah karena Jeff sudah memakai pakaian dengan benar. Untuk kali ini dia tak harus melihat dua benda yang mengagumkan itu lagi di depan matanya.
Ya Allah, otakku benar-benar kotor! Kenapa aku terngiang-ngiang terus? Virgi memukul-mukul kepalanya dengan satu tangan. Belalai dan dua telur? Oh My God ... Virgi masih mengingat dengan jelas sekali bagaimana bentuknya.
"Wek!" Jeff menjulurkan lidahnya meledek Virgi yang terlihat kesal.
Gadis itu berjalan dengan langkah tegas mendekati suaminya yang masih sibuk dengan gadgetnya setelah tadi puas mempermainkan dirinya.
"Ayo berdiri!" Virgi menarik tangan Jeff meminta lelaki itu untuk bangkit.
"Ngapain? Aku mandi lalu mau tidur lagi, Cil," desis Jeff lalu menggulingkan tubuhnya.
"Hahaha ... suka banget ya abang guling-guling, udah macam anakan kucing," ledek Virgi.
"Anterin aku kuliah, Bang! Ini udah jam delapan," rengek Virgi. Ia tak berputus asa, ia tarik-tarik tubuh suaminya agar berbalik menghadap dirinya lagi.
"Kalau kamu mau aku nganterin kamu kuliah itu ada syaratnya," ucap Jeff sembari menyunggingkan senyum setannya.
"Hari gini itu nggak ada yang gratis, Cil!"
"Ck! Dasar pamrih! Memang apa syaratnya, Bang?" tanya Virgi dengan malas-malasan.
"Mintalah dengan sopan dan hormat, lalu cium pipiku!" jawab Jeff mendikte Virgi tentang apa yang harus gadis itu lakukan agar ia mau menuruti kemauannya. Lelaki itu juga menunjuk pipinya dengan jari memberi kode pada istrinya bahwa bagian itulah yang harus Virgi kecup.
"Apa harus kayak gitu?" tanya Virgi dengan kenig berkerut-kerut.
"Aku tanya sama kamu, istri kecilku. Apa kamu mau masuk neraka?" tanya Jeff.
"Oiya jelas tidak," jawab Virgi dengan cepat.
"Makanya kamu harus menuruti apa kataku karena kamu adalah is-tri-ku. Understand?" tegas Jeff.
"M-Menuruti? T-tapi ... "
"Mintalah yang sopan lalu cium pipiku! Bukannya itu bukan hal yang sulit untuk kamu lakuin?"
"I-iya baiklah ... a-aku ... aku akan menurutimu, Abang," gagap Virgi.
"Lakukan sekarang! Sudah jam delapan lebih," tegas Jeff.
"Ehem ..." Virgi berdeham untuk melegakkan tenggorokannya yang mendadak seperti kekeringan.
"Abang ... aku minta tolong, antarkan aku ke kampus, Ya!" ucap Virgi dengan lemah gemulai dan juga sangat sopan.
"Pakai senyum! Jangan tegang begitu!" Jeff meminta Virgi mengulanginya lagi.
Kampret banget! umpat Virgi dalam batin.
Virgi segera mengulas senyum termanisnya demi menuruti dalih dari sang baginda Jeff, suaminya.
"Abang, aku minta tolong! Antarkan aku ke kampus, ya! Abang baik dan tampan banget deh ...." ulang Virgi, tapi kali ini ditambahi dengan pujian agar lelaki itu menjadi senang.
Jeff manggut-manggut. "Ciumnya belum!" tagihnya sembari menunjuk-nunjuk pipinya dengan jari telunjuk.
Virgi terlihat sangat gugup. Ia memutar-mutar cincin pernikahan yang melingkar di jari manisnya.
"Ayo cepat! Keburu kamu telat," tegur Jeff.
Virgi tak memiliki pilihan lain selain menurut karena waktu pun sudah mepet sekali dan dia bisa saja terlambat. Dengan jantung berdebar-debar ia pun mendekatkan bibirnya pada pipi Jeff.
Hm .... harumnya maskulin banget, puji Virgi ketika parfum yang suaminya pakai berhasil memanjakan hidungnya. Berbeda sekali pada saat ia berdekatan dengan Bima kan, ya?
Pergerakan Virgi sangat lambat bak adegan slow motion di film-film. Maklum dia sangat nerves karena tak pernah mencium atau pun dicium lelaki mana pun sebelum ini. Virgi benar-benar polos yang buta akan hal begituan. Pacaran saja dia tidak pernah.
Bang Jeff tampan banget. Mana kulitnya putih dan mulus. Nggak ada satu pun jerawat yang mampir di wajahnya. Pori-pori kulitnya pun rapat banget juga glowing. Apalah aku yang jatah langganan burik tiap kali datang bulan, pikir Virgi yang lagi-lagi tanpa dia sadari dia mulai mengagumi paras tampan suaminya.
Diperhatikan seperti itu oleh istrinya, membuat Jeff menjadi tertarik untuk menatap balik netra Virgi yang begitu jernih hingga kini pandangan mata mereka pun bertemu dalam satu titik. Jantung Virgi berdebar kencang, begitu pun dengan Jeff yang sekujur urat-urat syaraf di tubuhnya menjadi menegang.
Jeff tersenyum, berusaha untuk menepiskan desiran darahnya yang tak tahu diuntung, lalu ia menggoda Virgi untuk mencairkan suasana yang mendadak canggung.
"Keburu telat, buruan cium!" Jeff memasang pipinya mendekat ke bibir Virgi hingga akhirnya kulitnya pun tersentuh oleh merahnya bibir gadis cantik itu dan membuatnya begitu sangat bahagia.
Hanya dicium di pipi saja bisa sebahagia ini?! gumam Jeff merasa aneh dengan dirinya sendiri.My