0o0
Jeff mengantarkan Virgi menggunakan motor sport milik adiknya yang bernama Chiko. Karena kalau naik mobil apabila terjebak macet, akan susah untuk memangkas waktu karena kesusahan untuk menyalip di sela-sela kendaraan yang lain. Chiko, adik Jeff juga menginap di hotel ini meski kamarnya berada di lantai yang berbeda. Untung saja Jeff dan Virgi bertemu Chiko di lobi. Lelaki berumur tujuh belas tahun tersebut baru saja pulang sehabis membeli bubur ayam untuk sarapan, karena dia tak cocok dengan makanan yang ada di hotel ini.
"Abang yakin bisa naik motor?" tanya Virgi meragukan kemampuan suaminya.
"Ck! Tinggal naik sie?! Nggak usah protes!" decak Jeff seraya memakai helm.
"Terus aku pakai helm apa?" Virgi merengut. Mana mungkin dia pergi tanpa menggunakan pengaman di kepala? Bisa-bisa kena tilang polisi.
"Nanti aku pinjemin helm satpam hotel," jawab Jeff. Memang beneran Jeff meminjam helm milik petugas keamanan untuk dipakai oleh istrinya.
"Hati-hati, Bang Jeff!" kata satpam berpawakan hitam besar tersebut begitu akrab dengan Jeff. Jeff pun melambaikan tangannya kepada anak buah bapaknya tersebut dengan ramah.
Anak buah bapaknya? Iya ... hotel ini adalah milik keluarga Jeff. Jadi lumrah kalau kebanyakan karyawan di sini mengenal baik siapa itu Jeff karena dia pun salah satu orang yang ikut andil dalam mengatur bisnis hotel keluarganya ini. Akan tetapi, Virgi tak tahu kalau gedung penginapan berbintang lima yang dia tinggali untuk tujuh hari ke depan adalah milik keluarga mertuanya. Lagi pula Virgi juga tak peduli dengan hal tersebut. Apalah itu harta? Yang penting uang jajannya lancar dan bisa nodong sama emak bapaknya kapan saja dia minta.
Untung saja jarak kampus dan juga hotel sangatlah dekat hanya sepuluh menit saja, hingga Virgi bisa datang tepat pada waktunya.
"Virgi!" seru Asila dan Sharen ketika melihat Virgi turun dari kendaraan gagah milik Chiko. Mereka pun segera mendekat kepada sahabatnya tersebut.
"Aku pikir aku datang telat, lho," kata Virgi seraya melepas helmnya.
"Kelasnya diundur setengah jam. Pak Hendro lagi kejebak macet katanya," sahut Asila.
"Syukur!" Virgi lega sekali. Karena Pak Hendro itu dosen yang paling killer, bisa kena omel nggak berkesudahan kalau sampai dia telat.
Asila dan Sheren memperhatikan Jeff yang masih cool duduk di atas roda dua adiknya tanpa melepas helm. Lelaki itu terlihat cuek dan tak memperhatikan dua gadis-sahabat dari istrinya yang diam-diam terkagum-kagum dengan ketampanannya.
"Sil, itu lakinya Bocil, ya?" tanya Sheren berbisik di telinga Asila sambil menyenggol-nyenggol punggung Asila dengan sikunya.
"Maybe," jawab Asila singkat. Karena dia sendiri juga nggak tahu penampakan suaminya Virgi.
Saat Asila dengan Sheren asyik mengamati suaminya, Virgi sedang sibuk menodong uang jajan kepada Jeff.
"Segini cukup?" tanya Jeff sembari mengeluarkan uang lima puluh ribu dari dalam dompetnya yang ia simpan di saku belakang celananya.
"Diih ... pelit amat sie, Bang?" Virgi protes keras.
"Emang kamu mau beli apa sie? Palingan telur gulung sepuluh ribu," decit Jeffri, tapi meski begitu ia memberi uang tambahan kepada Virgi seratus ribu rupiah lagi.
"Hish ... ini juga masih kurang sebenarnya, tapi ya sudahlah!" cicit Virgi karena tak mau berdebat panjang di depan kedua sahabatnya. Mana sekarang banyak pasang mata yang memerhatikan ke arahnya.
Ini pasti gegara berita yang udah menyebar di kampus. Ck! Tengsin banget aku! Pokoknya aku harus ngomong sama temen-temen kalau aku masih single. Ogah banget ah dikata nikah muda, cerocos Virgi.
"Jangan boros!" Jeffri memperingatkan.
"Jangan lupa nanti jemput aku!" Virgi memerintah.
Jeffri pun pergi tanpa berpamitan atau berbasa-basi. Dia hanya mengulurkan tangannya ke arah Virgi sebelum ia pergi. Tanda kalau Virgi harus mencium tangannya sebagai tanda hormat. Untung Virgi paham dan segera membalas uluran tangan Jeff dan mencium punggung tangan lelaki itu.
"Cil, itu suami kamu?" tanya Asila dengan suara yang lumayan kencang. Virgi pun segera membungkam mulut kawannya itu seraya memperhatikan sekitarnya.
"Jangan bahas soal pernikahan aku kalau di kampus!" bisik Virgi.
"Kalau di kampus aku tetap single, you know?" imbuhnya masih dengan suara yang pelan.
"Tapi ... berita pernikahan kamu kan udah nyebar deh," sambung Sheren. "Dan semua orang juga udah tahu kali tentang ini, bahkan sampai ke dosen-dosen dan rektor-rektor lho ..."
"Jadi bukan kalian yang nyebar?" selidik Virgi.
"Ya bukanlah! Kita kan amanah nggak akan umbar rahasia kamu, Cil," jawab Sheren.
"Terus siapa?" Virgi mengernyitkan keningnya.
"Virgi!" Ketika Virgi sedang berpikir tentang tersangka yang telah menyebar berita pernikahannya, tetiba suara seorang lelaki mengagetkan Virgi. Lelaki itu berdiri tepat di belakangnya membuat bulu kuduk Virgi merinding seketika.
Entahlah kenapa Virgi begitu memuja suara empuk lelaki tersebut sejak awal-awal ia mengenalnya. Mungkin tak hanya suaranya, dia pun juga memuji attitude Bima yang begitu sopan dan juga ramah kepada siapa saja. Ya meskipun ada sie yang membuat Virgi tak nyaman ketika berdekatan dengan lelaki itu ...
Virgi berbalik badan dan berusaha untuk memamerkan sikap yang biasa saja. Jangan sampai terlihat gugup atau kelihatan menyimpan rahasia besar, karena hal itu akan dengan otomatis membenarkan gosip yang membuat para pemuja Virgi menjadi patah hati.
"Hai, Bima!" sapa Virgi seraya menggerak-gerakan ujung jarinya.
Bima terdiam, menatap Virgi lekat-lekat membuat gadis itu belingsatan tak tenang. Beberapa kali ia membetulkan rambutnya yang rapi-rapi saja. Setelah rambut giliran ia memutar-mutar cincin yang melingkar di jari manisnya.
"Oh itu cincin nikahan kamu sama suami kamu?" tanya Bima.
Gesture tubuh Virgi yang maksudnya untuk menghilangkan rasa gugup, justru malah membuat Bima menjadi terfokus dengan cincin yang dulunya tak pernah ada di jari manis cewek incarannya tersebut.
Virgi menelan ludah kasar dengan mata terbelalak.
"N-Nikah?" gagap Virgi. "Siapa yang nikah?" tanyanya memaksa untuk tersenyum santai, tapi jatuhnya tetap saja dipaksakan.
"Ini cincin hadiah dari mama aku, kok."
"Gosip yang menyebar mengatakan kalau kamu nikah kemarin," terang Bima.
"Oh ... kan cuma gosip. Kenyataannya aku masih single, kok, hehehe ..." sahut Virgi.
"Kenapa nggak balas chat aku kemarin?" tanya Bima.
Ya karena aku bingung mau jawab apa. Lagian nggak mood juga mau jawab pesan dari teman-teman. Badanku tuh capek banget mana masih harus ditambah ribut dulu pula sama Bang Jeff, batin Virgi menjawab pertanyaan Bima dalam hati. Gadis itu garuk-garuk kepala. Sepertinya setelah ini akan banyak pertanyaan yang susah untuk dia jawab.
"Lagi sibuk aja, Bim. Maklum di rumahku ada acara syukuran," jawab Virgi ngasal.
"Syukuran pernikahan kamu?" Pertanyaan Bima berputar-putar terus pada berita pernikahan Virgi membuat gadis itu semakin mati gaya karenanya.
Udah aku duga, cowok yang super kritis ini pasti bakalan bikin aku pusing dengan banyak pertanyaan darinya, gersah Virgi.
Virgi tersenyum sambil meggelengkan kepalanya, "Itu cuma gosip, Bim. Aku belum menikah, kok." Virgi masih mengatakan hal yang sama kepada Bima. Dia tak akan mau mengakui tentang status barunya.
"Serius?" tanya Bima memastikan, karena sejujurnya dia juga berharap kalau berita itu tidaklah benar karena dia akan sangat kecewa kalau sampai Virgi menikah dengan lelaki lain sedangkan selama ini cintanya selalu ditolak karena alasan ingin fokus kuliah.
"Iya serius, Bim. Ya udah aku masuk dulu, ya!" pamit Virgi karena ia tak mau Bima kembali bertanya tentang masalah pernikahannya lagi. Lama-lama Virgi bisa keceplosan kalau dicecar terus.
"Oke!" sahut Bima seraya mengulas senyum penuh kelegaan.
o0o
"Huuft!" Virgi bisa bernapas lega perihal masalah Bima. Dia berjalan cepat menuju ke kantin kampus diikuti oleh kedua sahabatnya.
"Aku lapar banget karena nggak sempet sarapan. Aku kesiangan anjiir," desis Virgi lalu memesan nasi soto untuk mengisi perutnya yang keroncongan.
"Kok bisa kesiangan? Kamu habis anu-anuan ya sama suami kamu?" tanya Sheren dengan suara yang pelan tentunya takut ada orang yang dengar.
"Diih ... kagak ada gitu-gituan. Aku masih kecil kali!" decak Virgi. Tak ada hasrat sedikit pun baginya untuk melakukan itu dengan Jeff.
Virgi, Asila, Sheren duduk di bangku yang paling sudut. Mereka sengaja memilih tempat yang jauh dari keramaian, supaya mereka bisa ngobrol dengan lebih santai tanpa takut kalau ada yang nguping pembicaraan mereka.
"Dan laki yang tadi nganterin kamu itu suami kamu, Cil?" tanya Sheren sangat penasaran.
"Huum!" jawab Virgi dengan anggukan kepalanya.
"Wow ... keren banget! Aku juga mau dijodohin sama cowok yang modelannya begitu." Asila terkagum-kagum dengan ketampanan dan juga tubuh Jeff yang kekar. "Nggak akan nolak deh pokoknya."
"Terus ... terus ... semalam kalian ngapain aja? Udah ehem-ehem belum?" tanya Asila yang otaknya paling dewasa di antara ketiganya.
"Udah dibilang nggak ada gitu-gituan. Kalau nggak ketahuan mama papa juga kita tidurnya terpisah anjiir!" jawab Virgi.
"Yakin kamu nggak greng lihat body suami kamu yang perfect banget itu, Cil?" Asila bertanya lagi. Ia bahkan sampai menelan ludah ketika membayangkan Jeff bertelanjang d**a di depannya.
"Dasar otak m***m!" Virgi menimpuk kepala Asila dengan buku yang dibawanya.
"Kalau aku langsung aku iyain pas dia ngajak tempur, hahahaha ...." Asila terkekeh. Gadis yang berani mengaku kepada kedua sahabatnya bahwa ia sudah tak gadis lagi sejak di bangku kelas dua SMA itu pun memang memiliki fantasi ehem-ehem yang luar biasa.
"Hiih ... geli pula aku ngebayanginnya, anjiir!" Mendadak bulu kuduk Sheren berdiri.
"Aku pun ... cuma Asila yang ketagihan," timpal Virgi.
"Heh, yang namanya hubungan biologis itu tuh setiap orang pasti suka. Kalian aja yang belum pernah ngerasain sensasinya, kalau udah pernah mah pasti nagih terus," jelas Asila.
"Memang iya?" tanya Virgi dan Sheren bersamaan. Mata mereka membelalak mengamati Asila dengan sangat serius.
"Nah kan! Kalian itu sebenarnya pingin, tapi gengsi! hahaha ..." ledek Asila.
"Tapi tadi pagi aku tuh lihat ... Aarrk!" Virgi menutup kedua matanya. Kebayang-bayang banget penampakan sosis sama telur kembar milik Jeff.
"Lihat apaan?" tanya Asila dan Sheren dengan kompak.
"Aku malu sumpah," jawab Virgi masih menutupi wajahnya.
"Kenapa mesti malu? Ini pasti kamu lihat itu, ya?" goda Sheren.
Virgi mengangguk lalu menyingkirkan tangannya.
"Anjiir seumur hidup aku baru lihat dengan mata dan kepalaku sendiri bentukan alat reproduksi laki-laki. Merinding sekujur tubuh gila! Nggak kebayang kalau sampai aku ... iyuuuh .... " cerita Virgi dengan jijik-jijik gimana.
"Tunggu! Diam dulu!" perintah Virgi ketika melihat lelaki paruh baya yang membawa nampan dan berjalan ke arah mereka. "Mang Uus mau nganterin soto pesenan kita, jadi jangan sampai dia denger obrolan jorok kita ini!"
"Hallo cewek-cewek cantik! Silahkan dinikmati sotonya, yak!" kata Mang Uus seraya menurunkan tiga mangkuk soto satu per satu. Beliaulah pedagang yang paling ramah di kampus ini.
"Makasih, Mamang!" sahut tiga cewek cantik idola kampus tersebut dengan kompak.
"Oh ya, Nenk Virgi seriusan udah meried?" tanya Mang Uus. Banyak yang ngerumpiin Virgi di kantin ini, jadi karena itulah Mang Uus bisa tahu tentang gosip itu.
"Kagak ada, Mang! Aku masih single, kok. Jangan dipercaya, ya!" jawab Virgi.
"Oh ya sudah atuh. Soalnya teh sayang banget masih muda kalau udah nikah, Nenk," kata Mang Uus kemudian lelaki itu pergi setelah tak ada yang ingin dia tanyakan lagi.
"Hm ... memang sayang banget masih muda, tapi udah nikah," gumam Virgi seraya melemaskan kedua bahunya dengan bibir yang mengerucut ke depan.
"Terusin obrolan kita tadi! Jadi kamu lihat itu?" tanya Asila yang paling semangat kalau suruh ngebahas beginian.
"Huum ... ! Anjiir sekujur badan aku gemetaran," jawab Virgi.
"Ck! Jadinya kamu beneran belum gituan, Cil?"Asila tak percaya.
"Serius belum!" Virgi menuangkan tiga sendok sambal ke dalam sotonya.
"Aku udah bilang sama Bang Jeff kalau aku belum siap," terang Virgi.
"Dan dia menerima gitu?" tanya Sheren sembari mencampur sotonya dengan kecap.
"Iyaa ... tapi semalam dia goda-goda gitu."
"Ya kan dia udah dewasa, Cil. Tetap pinginlah. Dosa lho nolak permintaan suami, mana nggak kamu anggap lagi di depan orang-orang. Kamu nggak mikir apa? Banyak cewek yang pingin punya pasangan kayak Bang Jeff. Ntar bisa aja dia selingkuh lho kalau kamu tolak-tolak mulu," tutur Sheren.
"Bodo amat!" sungut Virgi dengan cepat.
"Heh, jangan bilang gitu! Nanti kamu nyesel lho! Kita aja mau kali gantiin posisi kamu. Benar nggak, Sher?" timpal Asila.
"Iyalah, hari gini dijodohin sama lelaki kaya raya mana tajir melintir pula. It's my dream!" ucap Sheren.
"Ya emang sie Bang Jeff itu keren, ganteng, wangi, kaya, tapinya aku cuma nganggap dia tuh kayak abang aku aja. Karena dari kecil kita suka main bareng, jadi berasa aneh aja gitu kalau sekarang dia jadi pasangan aku. Hm ... kalau bukan karena nurutin keinginan papa aku dan nyelamatin Mbak Veli aku juga ogah," cetus Virgi dengan panjang lebar.
"Memang harus ya kamu ngorbanin diri kamu begini?" tanya Sheren, dalam hati dia juga kasihan lihat sahabatnya harus berkorban sebesar ini demi keluarganya.
"Harus banget, Sher! Selain karena Papa aku tuh orangnya pemaksa dan bisa ngamuk sama mama aku kalau keinginannya nggak dituruti, di sisi lain keluarga aku tuh berhutang budi sama keluarganya Om Danish alias papanya Bang Jeff. Kata papa dulu sebelum Papa sesukses sekarang, Om Danish-lah yang ngasih bantuan dana. Jadi, mereka berpikir persahabatan mereka akan lebih keren kalau anak-anak mereka ada yang menikah. Segitu eratnya persahabatan mereka," cerita Virgi. Dia sampai melupakan sotonya yang perlahan berangsur dingin karena dia abaikan.
"Maybe besok anak-anak kita, kita jodohin juga kali, ya ... " cetus Sheren yang jadi ikut terinspirasi dengan kisah persahabatan antara Danish dan Husein.
"Jangan iih! Dikata jaman Siti Nurbaya apa? Dijodohin itu nggak enak!" larang Virgi. "Biar anak-anak kita nyari jodohnya sendiri jangan kayak aku! Tapi ... ya mau gimana lagi? Mungkin memang nasibku begini kan? Demi mama dan mbak aku begini ... huwa .... " keluh Virgi sembari mengaduk-ngaduk sotonya yang telah diberi kecap dan juga jeruk nipis.
"Ya kalau itu udah keputusan kamu buat nurutin apa mau papah kamu, meski sebenarnya kan Mbak Veli yang mau dijodohin tuh ... ya harusnya kamu konsekuen untuk jadi istri yang baik buat Bang Jeff," nasehat Asila yang tumben-tumbenan bisa ngomong waras.
"Jadi istri yang baik? Entahlah! Aku sedih banget deh kalau mikirin ini. Di saat aku masih pingin haha-hihi dan hang out ke sana kemari sama kalian, tapi aku harus stay at home buat jadi wanita berlabel istri gitu? Sad banget nggak sie harus jadi ibu-ibu di usia yang belum genep dua puluh tahun?" Virgi mencurahkan isi hatinya dengan wajah muram.
"Kalau aku sie mikirnya kamu terlalu terburu-buru ngambil keputusan, Cil," ujar Sheren.
"Yach ... berlagak mau sok jadi pahlawan aslinya aku tuh," decit Virgi seraya mencebikkan bibirnya.
"Pahlawan kesiangan, hahaha ..." ledek Sheren dan Asila.
Obrolan pun terhenti sejenak karena mereka memilih untuk menghabiskan makanan pesenan mereka terlebih dulu. Sepuluh menit lagi jam kuliah akan segera dimulai.