Two

2107 Words
{ Leo pov } Aku memilih kemeja berwarna putih yang melekat pas ditubuhku. Ditambah dengan dasi berwarna hitam. Juga celana kain berwarna senada dengan dasi yang aku pilih. Biasanya Fefe yang akan memilihkan baju yang akan aku kenakan. Tapi melihat jika dia baru kembali tadi pagi kemudian segera memasak sarapan untukku jelas saja tidak ada waktu untuk memilih baju yang akan aku kenakan. Terkadang aku merasa kasihan padanya, dia harus memasak dan menyiapkan keperluan kami, setelah itu dengan cekatan ia segera bersiap untuk pergi ke kantor. Ini terjadi karena aku yang tidak menyukai adanya orang asing yang tinggal bersama dalam satu apartemen ini. Lagipula Fefe terlihat tidak keberatan sama sekali. Beberapa kali Mama Bev menyarankan untuk memiliki asisten rumah tangga, tapi dengan lembut Fefe menolak. Lagi pula memang itu pekerjaan seorang istri kan? Aku mengacak rambutku yang masih basah agar anak airnya menghilang dan cepat kering. Kemudian merapikan dasiku. Aku melangkahkan kakiku keluar dari kamar kami. Disana Fefe sedang meminum secangkir teh hangat. Dia belum mandi. Dan aku melihat bahwa sarapan yang ia buat tadi sudah tertata rapi. Sepiring nasi goreng dengan omellete dan secangkir kopi. Dia tidak bergeming. Wanita itu seolah berusaha tidak memperdulikanku. Dia sibuk menyesap teh beraroma aprikot yang memang sangat ia sukai. Aku menarik kursiku kemudian mendudukan tubuhku disana. Kami tetap saling terdiam. Kemudian aku menyendokan nasi goreng itu ke dalam mulutku. Masakan Fefe memang enak. Dia terpaksa belajar karena aku. Ya, lagi-lagi Fefe berkorban untukku. Rela merubah dirinya untukku. Tapi ntah mengapa rasanya begitu sulit mencintainya. Aku tak melihat adanya piring disana. Hanya ada secangkir teh. Dia pasti memilih tidak sarapan. "Tidak sarapan lagi, Fe?" Tanyaku yang kali ini mulai jengkel dengan sifatnya. Dia hanya menggeleng lemah. Aku mencoba tidak menghiraukannya. Kembali berkutat dengan nasi goreng buatannya. Ponselku terasa bergetar. "Iya, benar. Saya Leonard Arkarna. Apa? Baik, saya segera kesana." Mentari.. ya Tuhan Mentariku. "Aku pergi, Mentari panasnya semakin tinggi. Dia tidak punya sanak keluarga." Ucapku kepada Fefe yang saat ini tengah menatapku. Kemudian dengan lemah ia mengangguk. Aku segera bangkit dan meninggalkan nasi goreng buatan Fefe yang baru aku makan beberapa suap. { Fefe pov } Mentari.. lagi dan lagi Mentari.. Gadis miskin yang merepotkan. Aku menarik piring berisi nasi goreng yang sengaja aku masak untuk Leo. Aku susah payah segera pulang agar dapat memasak sarapan untuknya. Tapi apa ini? Dia lebih memilih gadis miskin itu. Tak terasa mataku memanas. Ah.. aku menangis lagi. Dan ini sudah yang kesekian aku menangis karena Leo dan gadis miskin itu. Aku menyeka air mataku dengan kasar. Kemudian bangkit dan masuk ke dalam kamarku dan Leo kemudian masuk ke dalam kamar mandi. Aku melepaskan satu persatu kain yang melekat ditubuhku. Menyalakan shower air agar dapat menjatuhkan anakairnya ke atas kepalaku. Membuat kepalaku dingin karenanya. Ahhh.. aku lelah.. Aku rindu Mommy.. sangat merindukannya. Mama tidak bisa menggantikan Mommy. Hatiku memiliki sekatnya sendiri-sendiri. Mommy dan Mama membuat tempatnya sendiri-sendiri. Aku hanya ingin Leo mencintaiku seperti aku mencintainya. Tapi nyatanya dia malah mencintai gadis lain. Terbesit pikiran ingin menghancurkan hidupnya. Tapi lagi-lagi aku memikirkan Leo. Dia pasti akan sangat terpuruk nantinya. Leo adalah kelemahanku. Frustasi dengan semuanya. Mengapa dia yang menjadi kelemahanku. Dia adalah pusat hidupku. Dia adalah duniaku. Dan aku membenci itu. Aku luruh dilantai. Merasakan dinginnya lantai kamar mandi. Tubuhku menggigil kedinginan. Dan aku tidak perduli. Aku lelah.. { Leo pov } "Makan dulu, Tar." Ucapku pada Tari yang saat ini sedang terkulai lemas diatas kasur rumah sakit ini. Suhu tubuhnya sudah tidak sepanas tadi. Mentariku tersenyum. "Kamu udah sarapan?" Tanyanya lembut. Aku mengangguk pelan. "Sekarang kamu yang makan." Ucapku pada Tari. Aku meraih semangkuk bubur. Mentariku dengan tubuhnya yang lemah itu menganggukan kepalanya. Aku memberikan secangkir air putih terlebih dahulu, dan dia dengan ringan menerimanya kemudian meminumnya perlahan. Aku mengusap lembut rambutnya. Aku sangat mencintai mentariku. Sangat. Aku menyuapkan sendok bubur itu ke dalam mulut mungil Tari. Dengan segera Tari melahapnya. "Kamu harus cepet sehat, ya." Ucapku lembut. Tari mengangguk kecil. Tari menatapku dengan tatapan yang berbeda. Aku merasa ada keanehan. "Kenapa heum? Kamu memikirkan apa?" Tanyaku lembut. "Hmmm.. Fefe. Bagaimana jika dia tau kamu disini?" Benarkan. Dia memikirkan Fefe. "Dia tau." Jawabku singkat. Dia membulatkan kedua matanya, "Yang terpenting kita tidak memiliki hubungan spesial kan?" Tanyaku sengit. Sakit sekali mengatakan ini. Dia tersenyum miris. Kemudian terdiam. Kami saling terdiam beberapa saat. "Tapi dia istrimu." Ucapnya terluka. "Memang." Jawabku singkat. Dia mengangguk. Sebentar lagi Mentariku pasti menangis. "Tetapi aku mencintai Mentariku. Sangat." Ucapku sambil menatap manik matanya dalam-dalam. "Tapi kita salah, Leo. Kita salah. Aku salah." Ucapnya sambil menangis. Aku benci membuat Mentari menangis. Aku mengusap air matanya lembut. Kemudian mencium keningnya. "Kita sahabat, Tar." Ucapku menenangkannya. Aku tidak mau membuatnya sakit hati. Sahabat? Haha! Aku tertawa dalam hati. Sahabat? Ya, kami bersahabat. Aku berkata begitu hanya ingin membuatnya tenang dan tidak merasa bersalah dengan apa yang tengah kami jalani. Aku memeluk Tari. "Sekarang lanjutkan makanmu." Ucapku kemudian kembali menyendokan bubur itu ke dalam mulut Tari lagi. { Fefe pov } Aku membuka pintu ruangan Daddy. Kemudian masuk ke dalam sana. Disana Daddy sedang mengamati keadaan luar melalui dinding kaca. Sejak kecil ruangan Daddy tak pernah berubah. Hanya ditambah foto keluarga kami saja. "Dad.." panggilku. Daddy berbalik dan tersenyum menatapku, "Hallo, Princess." Sapanya. Aku tersenyum. "Dad, ini beberapa laporan yang Daddy minta kemarin." Ucapku. Daddy mengangguk. Daddy masih terlihat tampan walau usianya tak muda lagi. Terlihat sempurna. Dan masih jelas teringat dikepalaku Daddy muda yang direbutkan banyak wanita. Dan akhirnya Daddy melabuhkan hati untuk kedua kalinya kepada Mama. Aku menyerahkan laporan yang Daddy minta. "Ini, Dad." Ucapku. Daddy menatapku lama. "Kamu sakit, sayang?" Tanya Daddy. Aku menggeleng kecil. "Hanya kelelahan." Ucapku singkat. "Benarkah begitu? Daddy cukup mengetahui anak Daddy. Ada masalah?" Tanya Daddy tanpa menatapku dan kini tengah sibuk dengan laporan yang aku berikan. Aku memilih berjalan ke belakang Daddy untuk menatap keadaan luar. Cuaca cerah hari ini. Bahkan cahayanya mampu menyapu wajahku. "Silau." Ucapku. Daddy terkekeh, "Jika kamu tau itu silau untuk apa kamu mendekatinya. Seperti masalah, jika kamu tau akan timbul masalah untuk apa kamu malah berlari mendekatinya." Ucapan Daddy membuatku terdiam. "Tapi masalah tidak bisa kita hindari, Dad. Masalah selalu datang selama kita masih menampakan kaki dipermukaan bumi." Ucapku mengeyel. Daddy mengangguk, "Jika masalah belum menerpa dan masih jauh disana sebaiknya kita segera pergi dan berlari. Namun jika terlanjur sudah menyambar, siapapun tidak bisa menghindarinya apalagi berlari meninggalkan tanpa menyelesaikan." "Mama mencarimu, kamu sudah beberapa tidak mengabarinya. Mama khawatir." Aku mengangguk kecil. Memang setelah ini aku berniat pulang kerumah Mama. "Dad, aku merindukan Mommy." Ucapku lemah. Daddy terdiam. Aku tau Mommy tidak akan terganti dihatiku maupun hati Daddy. "Daddy lebih merindukannya." Ucap Daddy. Kini aku mengetahui apa yang terjadi. Aku adalah anak yang hadir diluar pernikahan. Mommy membawaku pergi dan menjauh dari Daddy. Kehidupanku dan Mommy memang sulit saat itu. Tetapi aku yang pada waktu itu masih kecil belum memahaminya. Yang aku pikirkan hanya satu, selama Mommy disisiku aku akan baik-baik saja. *cklek* Aku dan Daddy bersama membalikan tubuh kami. Disana berdiri seorang lelaki yang masih lengkap dengan seragam sekolah menengahnya.  Ferdylan Millano Leviando, Dylan. Dylan dengan wajah dinginnya khas milik Daddy memandangku dan Daddy bergantian. "Apa yang kamu lakukan disini?" Tanyaku dingin. "Memang tidak boleh? Ini perusahaan Daddyku." Ucap Dylan kemudian menghempaskan tubuhnya pada sofa empuk. Aku melirik jam yang melingkar dipergelangan tanganku. "Well, Kakak rasa ini belum waktumu pulang sekolah my baby boy" Sindirku. Lelaki yang menjadi adikku itu memutar bola matanya malas. "Aku dihukum lagi." Ucapnya tak perduli. "What?" Aku meninggikan suaraku. Daddy hanya menggeleng kepalanya. Ini sudah ketiga kalinya Dylan mengunjungi kantor Daddy karena dia dihukum. Ini pasti terjadi karena ulahnya. Coba kita tebak terlambat, tidak mengerjakan pekerjaan rumah atau yang lainnya. "Terlambat?" Tebakku. Dylan mengangguk kecil. "Mama kan sudah bangunkan kamu dari tadi. Kamu aja yang sulit dibangunkan." Ucap Daddy. "Daddy, kenapa sekolah harus masuk pada pukul tujuh? Kenapa bukan pukul sembilan atau pukul sepuluh?" Apa-apaan. Dia pikir itu sekolah milik nenek moyangnya? "Lantas? Harus masuk pukul berapa Prince Caspian?" Tanya Daddy sambil kembali duduk dikursi singgasananya. Dylan hanya menaikan bahunya. Dylan memang anak yang cuek. Dingin. Keras kepala. Arogan. Usil. Sombong. Memudahkan segala hal. Tetapi Dylan sangat takut dengan Mama. Apapun yang Mama katakan Dylan selalu lakukan. Kecuali untuk bangun pagi. "Apa yang kakak lakukan disini? Mentang-mentang ini kantor Daddy kakak harus profesional. Masak jam kerja malah disini sedangkan pegawai lain semuanya bekerja." Aku memutar bola mataku. Satu lagi sifat Dylan yang lainnya, sok menggurui. "Kamu saja telat. Coba hitung ini sudah keberapa kali? Mama harus tau." Ucapku kemudian mengeluarkam ponsel dari saku blazer yang aku kenakan. "Kakak.. atas nama Ferdylan Millano Leviando putra kedua Nico Bintang Leviando memohon dengan sangat kepada Ferdina Milly Leviando putri pertama Nico Bintang Leviando untuk tidak melaporkan kejadian ini kepada Nyonya Besar yang bernama Beverly Amarylis Alphabet. Dimohon dengan sangat." Mendengar ucapan panjang Dylan, aku dan Daddy hanya terbengong. "Halo Semua.." Terdengar suara yang sangat kami semua kenali. Suara ibu negara, suara nyonya besar. Dylan membeku. Mati kau Dylan! Boom! Kami semua memandang ke arah sumber suara. Disana berdiri dengan anggun dan khas seorang wanita berkelas. Mamaku. Beverly Amarylis. Dengan rambut yang menjuntai, dress selutut yang dipadukan dengan blazer sangat membuatnya terlihat anggun. Suara hak sepatu Mama bagaikan bel kematian untuk Dylan. Wajah Dylan memucat. Astaga! Lelaki kecilku ini ketakutan. "Halo, Ma." Sapaku. "Halo, my princess." Ucapnya. Mama mengedarkan pandangannya. Lebih tepatnya mengikuti arah pandang Daddy. Dan Boom!! Kena kau Dylan!! "Dylan?" Suara mama terdengar bingung. "Ha-halo, Ma.." jawabnya. Aku dan Daddy menahan tawa kami. Wajah Dylan semakin memucat. "Apa yang kamu lakukan disini? Mama rasa ini belum waktumu pulang sekolah." Ucap Mama dengan mata menyipit. "A-aku.. itu ma.. a-ku.." ucapnya terbata. "Dia terlambat, Ma. Dan gurunya menyuruhnya untuk pulang saja." Ucapku santai sambil memandang ke arah lain. Aku yakin saat ini Dylan tengah menatapku dengan tatapan membunuhnya. Aku tidak perduli. Dasar anak kencur! "Benar yang dikatakan Kakakmu? Bisa Mama mendengar penjelasan?" Desak Mama. Dylan membisu. Aku hanya menatapnya dengan tatapan iba. "Ma,Dad.. aku masih banyak pekerjaan. Aku permisi dulu. Oh iya Ma nanti sepulang kerja aku mampir kerumah Mama." Ucapku pada Mama. "Oke sayang.." Aku segera keluar dari ruangan tersebut. Aku masih mendengar suara Mama yang memarahi Dylan. HAHAHA "Princess.." Aku menoleh mendengar suara yang sangat aku kenal. "Uncle.." Jawabku ketika mendapati Uncle Marcel yang kini tengah jalan mendekatiku. "Kamu sudah lama tidak main ke Rumah Uncle, Aunty Ana sangat merindukanmu." (Marcel jadinya sama Ana temen Bev kuliah) Aku tersenyum tipis, "Nanti jika ada waktu aku mampir uncle.." Ucapku. Uncle Marcel mengangguk dan menepuk bahuku pelan kemudian berlalu. Aku tersenyum kemudian melanjutkan jalanku menuju ruanganku yang cukup jauh. "Selamat siang, Bu." Sapa para pegawai. Aku hanya membalasnya dengan senyuman formal. ~ Malam hari ~ {AUTHOR pov} Fefe masih dengan setia menanti kepulangan Leo. Jelas Fefe tau kemana perginya lelaki itu. Berulang kali wanita itu melirik ponselnya dan berharap salah satu notificationnya berasal dari Leonard. Tapi sayang tidak. Fefe menghela nafasnya. Tadi ia makan malam ke rumah Mamanya. Disana ia merasa tertekan dengan pertanyaam baru. Bayi. "Kenapa sudah lama menikah tapi belum isi juga?" Itu pertanyaan Mama-nya. Fefe juga ingin mengandung seperti wanita lainnya. Merasakan pernikahan pada umumnya. Merasakan bagaimana rasanya mengandung janin dari hasil percintaan panasnya bersama lelaki yang ia cintai. Tapi apakah bisa? Bahkan lelakinya mencintai gadis lain. Mengingatnya membuat Fefe geram. Air mata wanita itu mengalir. Dengan segera ia menghapusnya. Langit malam berbintang hari ini. Dulu ketika ia kecil, ia membayangkan jika bintang dilangit sana adalah Mommy-nya. Tapi itu dulu ketika dia kecil. Ketika dia masih merasa begitu beruntung hidup diantara keluarga kaya yang serba kecukupan. Bahkan semua kemauannya dituruti. Semenjak Daddy-nya menikah dengan Mama-nya, ia merasakan keutuhan keluarganya. Merasa menjadi gadis kecil terbahagia. Tetapi seiring berjalannya waktu, kebahagiaan sesungguhnya bukan itu. Fefe akan menginjak masa dimana ia akan jatuh cinta. Ia pikir cinta itu mudah seperti Daddy dan Mamanya yang saling mencintai. Namun ternyata ia salah. Dia pikir hidupnya sudah sempurna. Setelah mengenal Leonard Revangga, hidup sempurnanya perlahan memudar. Dia benci itu. Fefe berjalan menuju balkon apartemennya. Memandang langit malam berbintang. Dia hanya mengenakan lingerie berbahan satin berwarna hitam. Tubuhnya tercetak sempurna. Terlebih tak mengenakan bra didalamnya membuat payudaranya menyembul. Udara dingin menerpa tubuhnya. Dan dia tidak perduli. Lagipula udara malam itu menenangkan menurutnya. *grep* Fefe merasakan tangan kekar yang melingkar dipinggangnya. Dan aroma ini sangat ia kenali. Ini aroma Leo. Fefe berniat melepaskan pelukan itu. Tetapi Leo menahannya, "Biarkan seperti ini dulu, Fe. Aku lelah. Sangat." Ucap Leo diantara lekukan lehernya. Fefe membeku. Dengan ragu-ragu iya menggenggam jemari Leo. Meremas jemari itu. Rasanya sangat nyaman. Dan Fefe merasakan ribuan kupu-kupu berterbangan diperutnya. Tetapi kenyataan lain menghantamnya. Keadaan ini akan berlalu sebentar lagi seiring berjalannya waktu dan matahari yang menyembul dari ufuk timur. _To be Continue_    
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD