Three

2317 Words
{Leo pov} Hening. Aku maupun Fefe tak ada yang membuka percakapan. Kami sibuk dengan semilir angin malam yang menerpa tubuh kami. Nyaman. Walaupun aku membenci wanita yang saat ini berada dipelukanku tapi aku tak mau berdusta bahwa aku sangat nyaman dengan keadaan memeluk pinggangnya seperti ini. Aku menghirup anak rambutnya. Aroma stroberi menusuk indra penciumanku. Ntah mengapa aroma stroberi milik Fefe menjadi kesukaanku. Mulai hari ini aku mengakui bahwa aku menyukai aroma rambutnya. "Bagaimana keadaan gadis itu?" Fefe membuka suaranya. Gadis itu? Siapa yang dia maksud. Mentari? Fefe mendongakan kepalanya. Manik matanya menatap mataku. Kami saling berpandangan. Dia menuntut jawabanku atas pertanyaannya barusan. "Tadi pagi panasnya sangat tinggi. Tapi saat ini dia sudah lebih baik. Nafsu makannya juga sudah lebih baik." Ucapku menjawab pertanyaannya. Fefe bergumam pelan. Sepertinya dia tak berniat menjawab atau bertanya lagi. "Tadi Mama menanyakanmu. Katanya sudah lama kita tidak kesana." Ucap Fefe. "Kamu pergi kesana hari ini?" Tanyaku. Fefe mengangguk mantap. "Sudah lama aku tidak berkunjung kesana. Dylan membuat masalah lagi." Ucapnya. Dan aku yakin dia sedang tersenyum sambil membayangkan adik laki-lakinya itu. Dylan. Adik iparku itu memang memiliki otak yang cerdas serta wajah tampan. Sikapnya dingin ketika bersama orang lain. Sama seperti Daddy Nico. Namun ia tetaplah anak remaja yang baru mencari jati diri. Beberapa kali aku mendengar cerita dari Fefe bahwa anak itu berbuat ulah. Misalnya terlambat pergi ke Sekolah, tidak mengerjakan pekerjaan rumah dan lain-lain. Dia selalu punya cara sendiri. Ntahlah sifat kedua orang tuanya yang mana itu hingga menurun padanya seperti itu. "Kali ini apa?" Tanyaku sambil mengeratkan pelukan kami. "Terlambat." Ucapnya singkat. "Bukankah sudah ada penemu jam ber-alarm sekarang? Adikmu itu hidup dijaman batu?" Candaku. Fefe terkekeh, "Dylan memang begitu. Dia tidur larut dan selalu bangun kesiangan." Aku terkekeh kecil. Fefe melepaskan pelukan kami. Hampa, rasanya hampa. "Mau aku siapkan air hangat?" Tanyanya lembut. Aku mengangguk perlahan. Fefe segera berjalan meninggalkanku seorang diri. Langkahnya terkesan dingin dan angkuh. Tapi begitulah Fefe. Wajahnya terlihat dingin. Tetapi aku akui ia memiliki kecantikan yang luar biasa. Lingerie yang ia gunakan terlihat sangat pas ditubuhnya. Lingerie itu juga cocok berada dikulit putihnya. Astaga!!! Aku bisa gila.. Pusat tubuhku menegang. Sialan! Dengan segera aku berlari mendekati Fefe yang hampir meraih handle pintu kamar mandi. Aku membalikan tubuhnya. Mencium bibirnya ganas. Fefe kaget terbukti dengan tubuhnya yang langsung membeku seketika. Aku tidak perduli. Aku menjilat serta mengigit bibir atas dan bawahnya. Menikmati manis bibir yang menjadi kesukaanku. Tanpa menunggu lama kedua tangannya berada dileherku. Menekan leherku agar pagutan kami tak terlepas. Aku merindukannya. Aku merindukan wanita yang aku benci. Hahaha Jemariku mengelus pinggangnya. Dengan hati hati aku membuka knop pintu kamar mandi. Masih dengan pagutan kami. Bibir kami saling berpagut satu sama lain. Sialan! Fefe sialan! Aku benci wanita ini. Wanita ini memiliki aura yang begitu membuatku tertarik. Aura yang membuat libidoku meningkat. "Ahhh" Desahnya ketika tanganku meremas dadanya lembut. Tanpa sadar tubuh kami sudah basah berada dibawah guyuran shower. Ntah sejak kapan tangan Fefe bergerak menyalakan shower air. Kemejaku basah begitu juga dengan lingerie yang melekat ditubuhnya. Walaupun aku tidak mencintainya, begitu juga dengannya. Lagipula hubungan intim kami ini tidak berdosa. Sebab kami sudah sah dimata Tuhan juga dimata hukum. Bibirku menjelajahi lehernya. Menjilatnya dengan penuh kelembutan. Tubuhnya menegang. Dengan sangat kuat dia meremas kemejaku. Kini jemariku bermain dipunggungnya. Mengelusnya dengan penuh kelembutan. Kini bibir kami sudah tidak saling berpagut. Aku yang sengaja. Aku ingin mendengar desahan serta rintihan tertahannya. {Fefe pov} Tuhan.. tolong buat aku lupa sesaat dengan tidak adanya perasaan yang Leo miliki untukku. Buatlah aku lupa bahwa hubungan ini semata mata hanya untuk memuaskan nafsunya semata. Bukan karena dia mencintaiku. "Mendesahlah sebisamu, baby." Ucap Leo. "Ah.." Desahku untuk yang kesekian kali. Jemari sialan! Aku benci mengakui ini. Tetapi aku tidak mau menjadi manusia yang munafik. Aku sangat menyukai sentuhan Leo. Sentuhan yang selalu membuatku ketagihan. Sentuhan yang membuatku mendesahkan namanya berkali-kali. "Leo..." Pekikku terkejut ketika jemari sialan itu kini menjadi lebih sialan lagi. Ia menarik lingerie seharga ratusan ribu seperti menyobek kertas berisi coretan. Sialan! Ini lingerie keluaran Victoria Secret terbaru. Dan aku baru membelinya seminggu yang lalu. Dan yang membuatku semakin jengkel, lingerie ini limited edition. "Sorry.. Kamu tau aku tidak suka menunggu. Aku juga tidak mau repot repot menunggumu membuka ini." Ucapnya dengan mata tajamnya. "Tapi, kamu menyobek lingerie seharga ratusan ribu ini seperti menyobek kertas tak berguna seharga seribu rupiah." Ucapku dengan nada dingin. "Aku mampu membelikanmu selusin yang seperti ini." Ucapnya dengan kedua tangan yang memegang pipiku. Aku hanya memutar bola mataku jengah. "Mungkin memang kamu adalah anak pemilik dua perusahaan raksasa, Fe. Tapi diluar itu kamu tetaplah seorang pegawai, sedangkan aku seorang CEO. Aku tidak mendapat gaji, tapi aku yang memberi gaji. See? Aku bebas semauku." Ucapnya arogan. Memang benar apa katanya. Aku hanya seorang pegawai di kantor Daddy. Ah Sialan! "Le... hmmmptttr" Belum selesai memarahinya, bibirku sudah disumpal dengan bibirnya. Begitu juga dengan tangannya yang kini semakin liar. Terlebih tubuhku yang kini tak mengenakan apapun. Aku mendorong tubuhnya sekuat tenagaku, "Leo, kamu pikir ini adil? Aku sudah begini, sedangkan kamu masih lengkap?" Tanyaku dengan menaikan sebelah alisku. Leo tertawa kecil kemudian dengan bantuanku kemeja beserta celananya sudah tanggal. Kini tubuh polos kamu seling bersatu. Leo milikku! Dan sampai kapanpun Leo adalah milikku! ~ Pagi hari ~ Author pov Leo merasa terganggu dengan cahaya matahari yang mengganggu tidurnya. Dia sudah membuka matanya dengan sempurna. Tetapi sebelah sisinya kosong. Dan Leo tak tau kemana perginya penghuni sisi ranjangnya yang lain. Ini memang lebih siang dari jam bangunnya. Mungkin wanita itu sudah berangkat ke kantor. Dan tolong ingatkan Leo bahwa istrinya adalah seorang pegawai. Bukan pemimpin perusahaan yang akan semaunya sendiri untuk datang ke kantornya. Leo bangkit dari kasurnya. Tak mau ambil pusing kemana pergi istrinya cantiknya itu. Dia masuk ke dalam kamar mandinya. Sebelum masuk kantor, dia harus mengunjungi rumah sakit. Dia tidak mungkin melupakan gadis yang setengah mati ia cintai. Setelah mandi ia berjalan dengan langkah santainya. Tak perlu memilih baju yang akan ia kenakan hari ini, sebab istrinya itu sudah menyiapkannya. Kemeja berwarna biru dongker, celana, dasi, dan jas yang berwarna senada. Setelah selesai dengan berpakaiannya ia berjalan menuju kaca rias yang ada diujung kamarnya. Melihat penampilannya. Menyisir dengan asal yang membuat rambutnya berantakan, justru malah membuat dirinya terlihat lebih tampan. Fefe sudah menyiapkan sepiring omellete dan nasi goreng seafood. Sungguh istri yang baik. Lelaki mana yang tidak mau memiliki istri seperti itu? Tak perlu jauh berfikir. Dan jawabannya jatuh pada Leo. Leo tidak menginginkan Fefe. Sungguh bodohnya lelaki itu. ~ Rumah Sakit ~ Leo mengusap lembut rambut Tari yang sangat lembut. Mata tajam lelaki itu mengamati Tari yang saat ini sedang memakan sarapannya. Kemudian suapan yang kelima Tari sudah menyerah. "Lidahku terasa pahit. Aku tidak mau makan lagi." Ucap Tari sambil menjauhkan semangkuk buburnya tadi. "Kamu bilang ingin cepat sembuh kan? Habiskan kalau begitu." Ucap Leo pada Tari yang saat ini sedang memajukan bibirnya. "Tapi lidahku pahit.." Ucap Tari manja. Leo hanya tersenyum lembut sambil mengusap rambut Tari dengan sayang. *cklek* Seorang wanita yang sangat Leo kenal masuk ke dalam kamar inap Tari. Wajah Leo dan Tari tegang melihat wanita itu. "Aku dengar kamu sakit." Ucap wanita itu dengan nada dinginnya. Walaupun bibirnya tersenyum, tetapi siapapun tau bahwa senyumnya adalah senyum palsu. "I-iya.." Ucap Tari gugup. Leo meremas tangan Tari menenangkannya. "Jadi, kamu pulang malam karena gadis ini, suamiku sayang?" Ucap wanita itu sambil menatap Leo. Leo semakin meremas tangan Tari kuat-kuat. Tak perduli dengan gadis itu yang saat ini merintih sakit. "Untuk apa kamu datang kesini?" Tanya Leo dingin tanpa menatap wajah Fefe. Ya, wanita itu adalah Fefe. "Aku dengar kekasih suamiku sakit. Jadi bukankah aku harus datang menengok?" Tanya Fefe dengan nada santainya. Leo memejamkan matanya. Tangannya yang lain terkepal kuat hingga buku kukunya memutih. "A-aku bukan kekasih Leo." Ucap Mentari tergagap. "Wow, bagaimana kamu menjelaskan seorang lelaki yang saat ini menggenggam tanganmu erat seperti melindungimu? Kamu bisa jelaskan apa itu?" Ucap Fefe dengan mata yang menyipit. Mentari terdiam. Bibirnya kelu untuk sekedar menjawab. Dan dengan hati-hati ia melepaskan genggaman tangan Leo. Dan semakin pula eratannya. Tari terdiam. "Kalian seperti kepergok berselingkuh." Ucap Fefe sambil tertawa kecil. Leo memutar bola matanya malas. Sedang Tari hanya terdiam menatap Fefe dengan tatapan takut. Umur Fefe memang lebih muda dari Tari. Tapi apa artinya sebuah umur? Tari tak begitu mengenal Fefe dekat, dia hanya tau bahwa wanita itu yang membuat hubungannya dengan Leo berakhir. Tari juga tau bahwa Fefe adalah wanita arogan. Jelas dia arogan, Fefe adalah putri pertama pengusaha kaya raya. Tak heran jika dia terkesan dingin dan arogan. Ini yang ketiga kalinya mereka bertemu. Dan pertemuan pertama dan kedua mereka tidak begitu baik. Begitu juga dengan pertemuan ketiga mereka ini. "Aku harap kamu masih punya malu dengan tidak mengganggu lelaki yang sayangnya sudah beristri." Ucap Fefe sinis. "Sepertinya aku harus pergi. Pekerjaanku masih banyak." Ucap Fefe kemudian pergi dari ruang inap Tari. Tari menangis. Hatinya sakit. Memang yang mereka lakukan ini salah. Dan Tari menyadari itu. Tetapi saat ini mereka bersahabat. Hubungan mereka sudah lama berakhir. Walaupun tidak ada kata-kata berakhir yang keluar dari mulut keduanya, tetapi setelah pernikahan Leo dan Fefe, Tari sudah menganggap hubungan mereka berakhir. "Wanita sialan!" Ucap Leo dengan geram. Tepat ketika pintu tertutup, bahkan Fefe masih dapat mendengar ucapan Leo, air mata wanita itu tumpah. Hatinya juga terluka. Ia benci melihat Leo bersama gadis itu. Ingin rasanya Fefe menghancurkan gadis itu. Namun ia tetaplah memiliki hati nurani. Dengan kasar ia menghapus air matanya. Tubuhnya benar-benar lemas. Hatinya terasa perih. Dan nafasnya sesak. ~ Apartement ~ "Dad, aku tidak kembali ke kantor." Ucap Fefe pada seseorang diseberang sana. "Kenapa, Princess? Are you okay?" Jawab seseorang diseberang sana. Fefe hanya mengangguk. Sadar bahwa orang disana tidak mampu mengetahuinya, akhirnya ia bersuara, "Aku hanya sedikit tidak enak badan saja, Dad." "Baiklah. Istirahatlah kalau begitu." Ucap Nico diseberang sana. Sambungan telepon itu terputus. Fefe melempar ponselnya ke sofa. Kemudian setelah itu dirinyalah yang terhempas ke sofa empuk itu. Cuaca mendung hari ini. Bahkan sudah beberapa kali terdengar petir. "Ini belum masuk bulan musim hujan. Tetapi setiap hari menuju sore pasti mendung." Heran Fefe. Sakit hatinya sudah sedikit terlupa. Tapi ntah mengapa tubuhnya terasa lelah. Jika kalian berfikir Fefe hamil, itu tidak terjadi. Fefe masih rutin meminum obat pencegah kehamilannya. Namun sebenarnya ia tak begitu percaya dengan obat pemberian dokter tersebut. Obat pencegah tersebut buatan manusia. Tak ada satupun manusia di dunia ini yang mampu mencegah atau merubah takdirnya. Dan Fefe percaya itu. Sepasang mata indahnya mengaduk coklat hangat yang ia buat. Matanya menatap langit gelap yang sebentar lagi akan runtuh. Fefe hanya duduk dalam diam kursi makan apartemennya. Tak memikirkan apapun. Rasanya lelah hanya untuk sekedar berfikir. *ting tong* Belnya berbunyi. "Siapa yang datang kemari?" Tanyanya dalam hati. Kemudian ia menaruh cangkir berisi coklat hangat itu diatas meja. Kaki jenjangnya melangkah menuju pintu. Tak biasanya ada tamu ke apartemennya. "Mama.." Ucapnya sedikit terkejut setelah membuka dan melihat siapa yang bertamu ke rumahnya. "Kata Daddy kamu sakit. Mama khawatir, karena jarang sekali Princess sakit. Ini Mama bawa bubur buat kamu." Ucap Bev. "Masuk dulu, Ma." Ucap Fefe. Bev masuk ke dalam apartemen Fefe. "Apartemen kamu rapi, Sayang. Pasti kamu kesusahan ya kerja sambil ngurus rumah tangga." Ucap Bev kemudian menaruh bungkusan bubur ke dapur. "Aku cuma ikutin Leo aja, Ma. Leo tidak begitu menyukai ada orang asing yang tinggal bersama kami. Jadilah aku yang harus membersihkan apartemen." Ucap Fefe. "Kamu pasti kelelahan. Sekarang kamu istirahat, ya. Sudah lama Mama tidak mengurus kamu. Sekarang Mama mau urus kamu lagi seperti dulu." Ucap Bev sambil mengusap lembut rambut putri pertamanya. "Mama.." Dengan segera Fefe memeluk Mamanya. "Oke, sekarang biar Mama suapin kamu. Liat wajah kamu sudah pucat begitu." Ucap Bev. Bev menaruh bubur tersebut ke dalam mangkuk yang berada di rak piring. "Ayo, kita tidur di kamar kamu, ya. Sekalian Mama suapi." "Mau minum?" Tawar Bev. Fefe mengangguk. Kemudian Bev menyodorkan segelas air putih hangat kepada putrinya. "Sudah lama ya Mama tidak merawatmu seperti ini." Ucap Bev sambil menciduk sendok bubur yang akan ia suapkan kepada Fefe lagi. "Iya, Ma. Semenjak aku menikah lebih tepatnya." Ucap Fefe sambil menaruh kepalanya dipangkuan Mamanya. "Ma, sudah. Aku kenyang." Ucap Fefe. Bev mengangguk pasrah. Kemudian ditaruhnya mangkuk tersebut diatas nakas. "Sekarang istirahat, ya. Biar Mama temani kamu disini." Ucap Bev. Fefe mengangguk. Dia memang harus kehilangan Mommy-nya ketika mendapat Daddy-nya. Bukan ia mensyukuri perginya Mommy, ia sedih dan kehilangan. Namun seiring berjalannya waktu memang Tuhan sangat menyayangi Mommy-nya. Sebab Tuhan tak mau melihat Mommy-nya kesakitan lebih parah lagi. "Ma, Fefe lelah." Ucap Fefe. Bev tersenyum getir. Ia seorang ibu. Walaupun tidak melahirkan Fefe, tetapi ialah yang membesarkan dan mendidik Fefe sejak kecil hingga saat ini. Bahkan waktu kebersamaannya lebih lama dari waktu kebersamaan Fefe dengan Mommy-nya. Ia tahu bahwa lelah yang dimaksud Fefe bukan lelah dalam arti tubuhnya yang lelah. Namun batinnya yang lelah. Gadis kecilnya lelah dengan kehidupan yang saat ini tengah ia jalani. Tetapi Bev tidak mau ikut campur. Bev tahu apa yang terjadi dalam rumah tangga putrinya. Sangat mengetahui. Termasuk perselingkuhan menantunya dengan gadis miskin itu. Tetapi prinsip Bev selagi Fefe tidak tersakiti fisiknya, Bev tidak akan turun tangan. Ia yakin bahwa putrinya itu mampu mengatasi masalahnya sendiri. Yang terpenting Leo tidak menyakiti anaknya fisik dan batin. Cukup batinnya saja. Sebab ia yakin masalah Fefe kali ini juga untuk mendewasakan Fefe. Bukan berarti Bev ibu yang jahat. "Mama ada disini, Sayang. Ketika dunia menyerangmu, Mama yang akan sigap memelukmu. Tak perduli walau dunia juga menyerang Mama." Ucap Bev pada Fefe. "Mama yakin, kamu mampu mengatasi ini." Ucap Bev. "Sekarang tidur, ya." Ucap Bev. Dan tak perlu menunggu lama Fefe sudah terlelap dipelukan Mamanya. Mama tirinya. Leo membuka pintu apartemennya yang memang terlihat sepi. Dan tak mau ambil pusing. Sebab tangisan Tari yang masih menggema ditelinganya membuat kepalanya pecah. Begitu juga hatinya. Fefe yang dengan angkuhnya menghina Tari. "Sial! Wanita sialan!." Umpat Leo. "Siapa yang wanita sialan?" Leo yang terkejut dengan suara yang cukup ia kenali itu segera membuatnya bungkam. ~ To be Continue ~  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD