"Siapa yang wanita sialan?" Leo yang terkejut dengan suara yang cukup ia kenali itu segera membuatnya bungkam.
"Bukan siapa-siapa, Ma." Ucap Leo segera.
Bev hanya mengangguk kemudian tersenyum.
"Mama disini," Ucap Leo.
"Daddy bilang jika Fefe sakit, Mama khawatir. Jadi Mama langsung kesini untuk melihat keadaan Fefe. Tapi saat ini Fefe sedang tidur." Ucap Bev.
"Fefe sakit?" Tanya Leo dengan kaget.
Bev terheran, "Astaga, lelaki seperti ini yang kamu minta untuk menikah dengannya, Fe. Bahkan dia tidak tau jika kamu sakit." Batin Bev berbicara.
"Mama bisa bicara sama kamu?" Tanya Bev kepada Leo yang saat ini menjadi terdiam kebingungan.
"Bisa, Ma. Silahkan." Ucap Leo sopan.
Saat ini mereka sedang duduk santai di sofa. Bev sebisa mungkin membuat keadaannya menjadi tidak tegang walaupun kenyataannya Leo terlihat sangat tegang.
"Mama titip Fefe ya selama dia sakit. Suhu badannya panas. Mama minta tolong." Ucap Bev tenang.
"I-iya, Ma." Ucap Leo seadanya.
"Tolong jaga hati Fefe, jaga perasaannya. Fefe adalah mutiara di keluarga kami. Walaupun dia terkesan dingin dan arogan. Dia adalah mutiara hitam keluarga kami. Walaupun berwarna hitam, dia tetaplah mutiara yang terlihat sangat cantik dan anggun." Ucap Bev.
Leo mengetahui hal itu. "Iya, Ma. Leo akan menjaga Fefe." Kali ini suara Leo terdengar lemah
"Mama pulang ya, sudah malam." Ucap Bev sambil mengambil tas tangannya yang berada dimeja tepat didepannya.
"Iya, ma. Hati-hati." Jawab Leo. Bev hanya tersenyum. Kemudian wanita setengah baya itu berjalan dengan anggunnya meninggalkan Leo yang masih berwajah tegang.
~~~~~~
Tak ada yang Leo lakukan saat ini. Bahkan dia belum mengganti kemeja kerjanya. Hanya dua kancing kemeja yang terbuka dengan lengan kemeja yang diangkat hingga siku pula. Kini ia mengamati Fefe yang saat ini tertidur dengan meringkuk seperti janin. Dahinya berkerut. Membuat Leo ingin mengusap lembut. Tetapi karena harga diri, ia mengurungkan niatnya tersebut.
Ntah mengapa ada perasaan ingin memeluk wanita itu. Memberikan kehangatan tubuhnya kepada wanita itu. Tetapi ntah mengapa dia merasa sangat sulit dan keberatan.
"Uhhhh.." Lenguhan Fefe langsung membuat Leo berdiri.
Mata wanita itu terbuka perlahan. Kemudian menatap Leo dengan tatapan bingungnya.
"Kamu sudah pulang?" Tanya Fefe yang saat ini sudah mulai sadar.
Leo hanya mengangguk ringan sambil menatap Fefe dengan tatapan tajamnya.
"Mama kemana?" Tanya Fefe sambil mencari Mamanya.
"Sudah pulang." Jawab Leo ketus. Fefe hanya mengangguk sambil bergumam.
"Kamu sudah makan malam? Mau aku masakan sesuatu? di Dapur tidak ada makanan apapun." Ucap Fefe.
Leo membulatkan kedua matanya. Bagaimana bisa wanita arogan yang sedang sakit ini memikirkan dirinya.
"Tidak perlu, aku kenyang." Ucap Leo kemudian pergi dan segera masuk ke dalam kmar mandi. Membiarkan Fefe terbengong.
Dan sayangnya Fefe tau jika lelaki itu kelaparan. Karena tadi Ia mendengar suara perut dari lelaki itu.
Fefe hanya tersenyum geli. Dan sudah dapat memprediksi apa yang akan terjadi setelah ini.
~~~
Fefe merasa terganggu karena lelaki disampingnya ini belum tidur nyenyak. Dan prediksinya benar, lelaki ini hanya akan membolak-balikan tubuhnya karena lapar.
Fefe menarik nafasnya dalam kemudian membuangnya perlahan. "Kamu mau makan apa?" Tanya Fefe akhirnya.
Lelaki itu menatap wanita yang saat ini berada disebelahnya dengan tatapan bingung. Jemari Fefe menyentuh pipi kanan Leo. "Kamu mau makan apa, Sayang? Aku masakin ya?" Tanya Fefe lembut.
Lelaki itu mengerjapkan matanya berkali-kali. Matanya sudah terlihat mengantuk. Bahkan sangat mengantuk. Namun perutnya yang kelaparan membuatnya tak bisa segera pergi ke alam mimpi
"Ada ramen instant?" Tanya Leo pelan.
"Ada. Kamu mau?" Tanya Fefe lembut. Leo mengangguk. Wanita itu tersenyum.
"Aku masak dulu." Wanita itu sudah hampir bangkit, tetapi tangan Leo mencekalnya.
"Kamu sakit." Kini suara Leo terdengar khawatir.
Fefe tersenyum lembut kemudian mengusap pipi Leo lembut. "Sakitku bukan apa-apa jika dibandingkan kamu yang kelaparan." Leo terbengong.
Kemudian Fefe segera berlalu. Membuat leleki itu terbengong.
"Aneh," Ucap Leo pelan.
~~~
Jika bukan karena suami yang ia cintai setengah mati itu, dia tidak akan mau repot-repot bangun untuk memasakan masakan ditengah malam begini. Terlebih dengan kepala pening yang mendera tubuhnya.
"Biarkan seperti ini sampai masakanmu masak." Ucap Leo sambil memeluk Fefe.
Fefe terkejut bukan main. Akhirnya dia tersenyum lembut. Dia memang butuh pelukan saat ini. Dan Leo ada untuknya.
Fefe melepaskan pelukannya untuk mengambil sebungkus ramen instant yang berada cukup jauh dari mereka berdiri. Tetapi justru Leo semakin mengeratkan pelukannya.
"Kenapa dilepas?" Tanya Leo dingin.
"Ramennya ada disana." Ucap Fefe sambil menunjuk salah satu laci yang berada di kitchen set apartemen mereka.
"Oh.." Leo berjalan kemudian membuka laci tersebut dan mengambil dua bungkus ramen.
"Kenapa dua? Satu saja." Ucap Fefe.
"Aku kelaparan." Ucap Leo ketus kemudian kembali memeluk Fefe.
Fefe tersenyum geli kemudian jemarinya mengusap jemari Leo lembut. Leo hanya memejamkan matanya.
Fefe membuka kedua bungkus ramen tersebut kemudian memasukan kedalam panci kecil.
Leo kini sibuk menyembunyikan wajahnya diceruk leher Fefe. Rasanya nyaman. Dan ini termasuk posisi ternyamannya.
Duapuluh menit berlalu. Dan ramen itu benar-benar sudah masak. Kini Fefe tersenyum melihat Leo yang makan dengan sangat lahapnya.
"Kamu gak makan berapa hari sih?" Tanya Fefe heran.
Leo memasang wajah datarnya,"Aku jadi kenyang." Ucap Leo dingin.
Fefe hanya tersenyum geli. Jemari lentiknya meraih sendok dan garpu. Kemudian wanita itu ikut bergabung memakan semangkuk ramen bersama Leo.
"Kamu lagi sakit." Ucap Leo acuh.
"Ada larangan orang sakit gak boleh makan ramen?" Tanya Fefe.
Leo lagi-lagi memutar bola matanya. Kemudian mereka melanjutkan makan tengah malam mereka.
~Sunday Morning~
Fefe pov
Aku lupa jika Leo tidak mencintaiku. Aku lupa jika di Dunia ini ada seorang gadis bernama Mentari Wulandari. Seorang gadis miskin yang bahagia karena dicintai Leo.
Ah! Persetan!
Aku tidak perduli. Aku hanya perduli ikatan kami saat ini. Aku yang berhak atas diri Leo sepenuhnya. Bukan siapapun, termasuk Tari.
Aku hanya menatapnya yang kini tengah merapikan penampilannya didepan cermin setinggi tubuhnya. Dia mengacak rambutnya asal. Menambah kesan maskulin.
Author pov
"Sudah selesai menatapku Mrs.Arkarna" Ucap Leo kemudian membalikan tubuhnya sambil menatap Fefe yang hanya dibalut bra dan cd keluaran victoria secret terbaru.
Saat ini Fefe sedang duduk ditepi ranjang. Dia masih masa pemulihan, itu katanya.
Karena kenyataannya dia sudah sembuh total. Dan mandi kemudian membuatkan sarapan untuk Leo bukan ide yang bagus. Karena melewatkan pemandangan dihadapannya saat ini, semacam melewatkan fenomena langit Aurora yang hadir di Indonesia.
"Kamu tidak ke kantor?" Tanya Leo.
Fefe menggeleng kecil kemudian berjalan mendekati Leo dan melanjutkan pekerjaan Leo membuat simpul dasi.
"Aku ada urusan." Ucap Fefe lembut.
"Urusan?" Ulang Leo sambil menaikan sebelah alisnya.
Fefe mengangguk lemah.
"Jangan karena itu perusahaan Daddy justru membuatmu seenaknya. Seharusnya kamu membuktikan kepada pegawai Daddymu bahwa kamu dapat bekerja dengan baik. Kamu itu menjabat sebagai.." Ucapan Leo terhenti karena Fefe sudah lebih dulu menyumpal bibir Leo dengan bibirnya.
Leo yang tadinya terkejut kini sudah menekan kepala Fefe semakin dalam. Semakin menyesap bibir Fefe.
"Kamu terlalu panjang berbicara, Sayang. Aku sudah tau untuk hal itu." Ucap Fefe kemudian memeluk leher Leo.
Leo memutar matanya malas.
Leo melepaskan pergelangan tangan Fefe dari lehernya.
"Cukup. Aku berangkat." Ucap Leo kemudian segera pergi meninggalkan Fefe yang terbengong.
Tanpa terasa hatinya sakit. Dan air mata meluncur dengan mudah mengalir dipipinya.
Dengan kasar wanita itu menghapus air matanya. Kemudian segera masuk ke dalam kamar mandi. Membiarkan tubuhnya diguyur dibawah air shower yang mengalir.
~ Hospital ~
Tari sedang merapikan beberapa keperluannya selama berada di Rumah Sakit. Memasukannya ke dalam tas yang tak terlihat sama sekali mewahnya. Hanya tas murahan tetapi masih layak untuk digunakannya.
"Leo, harusnya kita tidak usah bertemu saja." Gumam Tari pelan ketika mengingat bahwa selama ini Leo yang mengurusnya selama ia sakit.
"Kebaikanmu sama saja membunuhku." Kini air mata gadis itu luruh.
"Kau sudah seharusnya pergi saja. Meninggalkan aku. Aku lelah, Leo.." Kini Tari sudah jatuh terduduk karena saking lemasnya kaki gadis itu untuk menopang tubuhnya.
*cklek*
Terdengar suara pintu yang dibuka. Tari tak lantas menghiraukan dengan berdiri. Gadis itu masih dengan posisinya yang duduk dilantai seperti sudah kehilangan semangat hidupnya. Karena mengira itu adalah suster yang akan mengeceknya setiap pagi seperti biasanya.
"Jadi, kamu sudah lelah dengan hidupmu." Suara wanita yang terdengar seperti lonceng hukuman untuknya. Tari diam, tubuhnya menegang.
"Fefe.." Ucapnya lirih.
"Hai, Mentari!" Ucap wanita tersebut.
Dan sayangnya Tari sedang tidak ingin diganggu apalagi dengan wanita dihadapannya ini. Dia sedang tidak ingin mendengar hujatan yang akan dikeluarkan oleh bibir berlapis lipstick mahal milik wanita itu.
"Apa aku mengganggumu?" Tanya Fefe sambil melipat kedua tangannya didepan d**a khas wanita berkelas.
"Aku berharap bahwa aku tidak akan mengganggumu. Ingat satu hal Tari, aku sudah ikhlas berbagi suamiku untukmu selama kamu sakit." Ucap Fefe.
Tari meremas ujung selimutnya. Dia bukan merasa takut, tapi dia bingung harus berbuat apa.
"A-aku d-dan L-leo tidak memiliki hubungan apapun." Ucap Tari lemah.
"Kalian memang sudah tidak memiliki hubungan. Tapi sayangnya kalian masih saling mencintai." Ucap Fefe yang sedih tapi dengan mudah mampu menutupinya.
Ini adalah urusan yang dimaksud Fefe ketika tadi pagi berdialog dengan Leo.
"Butuh bantuan?" Tanya Fefe ketika melihat Tari yang seperti tak memiliki semangat hidup tersebut.
Tari tak mampu memandang kedua mata Fefe yang bersorot tajam tersebut. Walaupun bibir wanita itu tersenyum, Tari tak bodoh bahwa wanita itu membencinya.
"Jika kamu takut aku akan membunuhmu, tenang saja, aku tidak akan membunuhmu, Tari."
"Uhmm.. Kak Tari, mungkin itu lebih cocok. Karena Kak Tari berumur lebih tua dari aku." Ucap Fefe sambil berjalan mendekati Tari kemudian membantu Tari yang lemah tersebut berdiri.
Fefe membantu Tari untuk berbaring kembali ke ranjang pasien. Kamar inap Tari ini cukup bagus dan nyaman menurut Fefe.
"Cukup nyaman dan bagus juga kamar ini." Ucap Fefe sambil memandang sekeliling kamar itu.
"Kemarin aku hanya masuk ke kamar ini dan fokus dengan adegan berkasih kalian yang romantisnya melebihi drama korea." Ucap Fefe kemudian tertawa.
Tari tak mampu tertawa. Dia hanya terdiam dan memasang wajah datarnya. Sebenarnya ada rasa ketakutan. Tetapi dia harus melupakannya.
"Siapa yang membayar rumah sakit ini?" Tanya Fefe.
"Benarkah Leo?" Gumam Fefe namun dapat didengar Tari.
"Leo tidak datang kesini?" Fefe terlalu banyak bertanya, menurut Tari. Dan Tari sedang malas menjawab.
Gadis itu menarik nafasnya, kemudian memberanikan diri menjawab, "Jika kamu tidak melihat Leo disini, bukankah berarti dia tidak datang kemari?" Tanya balik Tari.
Fefe tersenyum, "Kamu terlihat tegang, Kak. Santai saja, aku tidak akan menyakiti fisikmu. Tapi aku tidak janji dengan hatimu" Fefe menarik ujung bibirnya.
"Apa salahku?" Kini Tari berteriak, bersamaan dengan air mata yang luruh.
"Salahmu? Kamu tidak tahu dimana salahmu? Wah.." Fefe menyeringai.
"Aku akan menjelaskan salahmu dan aku berharap kamu mendengarkannya dengan baik-baik."
"Mentari Wulandari, kamu adalah gadis yang dicintai setengah mati oleh Leo. Kamu adalah pusat kehidupan Leo. Dan karena kehadiranmu ditengah kehidupan kami membuat Leo yang belum bisa melupakanmu semakin tidak bisa melupakanmu. Aku tau Leo tidak pernah menganggapku sebagai istrinya. Dia hanya menganggap pernikahan kami tak lebih dari dia yang membayar hutang kepada perusahaan keluargaku. Aku lelah, Kak." Ucap Fefe yang kali ini juga mulai menangis.
Mereka berdua adalah wanita dan gadis yang mencintai Leo. Terlihat sama disisi itu. Akan berbeda jauh jika dilihat dari sisi lainnya.
Fefe adalah istri sah Leo. Dia berhak atas hidup Leo. Tetapi lelaki itu sama sekali tidak mencintainya.
Mentari adalah mantan kekasih Leo. Dia tidak berhak atas hidup Leo. Tetapi lelaki itu sangat mencintainya.
"Aku benci dengan hidupku, Kak. Aku benci karena aku tidak bisa membuat Leo barang sedikit melihat ke arahku. Leo menutup mata dan hatinya untukku. Dan itu karena Kak Tari." Ucap Fefe dengan suara bergetar.
"Aaku?" Ucap Tari tergagap.
"Kamu tidak bodoh kan?" Ucap Fefe.
Sebelum air mata jatuh lebih deras lagi, Fefe segera meninggalkan Tari yang juga sedang menangis.
~~~
"Selamat pagi, semuanya. Disini saya akan mempresentasikan mengenai pembangunan resort baru yang akan dibangun disalah satu pulau. Disana kita akan membangun resort dengan bangunan yang sama juga fasilitas yang sama seperti pada pulau yang sebelumnya," Leo menjelaskan kepada para bawahannya.
"Disana tamu akan mendapatkan suasana yang sama walaupun dengan pemandangan yang sedikit berbeda." Jelas Leo lagi.
Lelaki itu menerangkan dengan panjang dan lebar. Tak jarang para pegawai wanita bukan memahami dan mendengarkan isi dari yang dijelaskan, justru malah mengamati wajah tampan Leo.
Satu jam sudah rapat tersebut selesai. Setelah menutup, Leo segera kembali ke ruangannya yang berada di Lantai paling atas.
Leo berjalan dibelakangnya diikuti oleh sekretarisnya. Lelaki itu berhenti mendadak membuat yang berada dibelakangnya terkejut.
"Saya ada urusan. Jika ada yang mencari saya suruh datang lain kali." Ucap Leo kemudian segera pergi.
~~~
Leo membuka pintu kamar rawat inap. Dimana sang pujaan hati dirawat. Hari ini, Tari sudah diperbolehkan pulang karena kondisinya yang sudah lebih baik. Dan dia berniat menjemput Tari.
Membayangkan wajah Tari yang segar dan tersenyum membuat hatinya berbunga.
"Tari.." Panggil Leo lembut.
Gadis itu disana. Tidur meringkuk seperti janin. Terdengar isakan kecil. Bahu gadis itu bergetar. Dan tanpa menunggu lama Leo sudah dapat menyimpulkan bahwa Tari sedang menangis.
Kaki lelaki itu segera melangkah mendekati gadis tersebut. Mendengar derap langkah membuat sang gadis semakin menangis.
"Leo, Stop! Cukup! Aku lelah!" Ucap Tari parau.
"Kamu kenapa? Ada yang sakit? Atau terjadi sesuatu?" Tanya Leo kebingungan.
Tari menarik nafasnya dalam. Kemudian tubuhnya yang terasa lemas itu segera duduk dari tidurnya.
"Cukup Leo. Mari bersama kita mengakhirinya." Ucap Tari dengan suara bergetar.
"Apa maksudmu?" Tanya Leo dingin.
"Jangan menemui aku lagi. Mari kita sama-sama melupakan. Kita tak seharusnya begini. Ntah bersahabat atau apapun itu aku tidak perduli. Yang pasti aku tidak mau bertemu denganmu lagi. Silahkan kamu pergi dari sini." Hati Leo seperti disayat menggunakan pedang paling tajam sedunia.
"Siapa yang membuatmu begini?" Teriak Leo sambil mengguncang bahu Tari.
"Pergi Leo. Aku lelah" Tari tak mampu menatap mata elang Leo.
"Tari, tatap mataku!" Ucap Leo dengan nada tingginya.
"Katakan kepadaku siapa yang membuatmu berani mengatakan hal itu kepadaku. Katakan!" Ucap Leo sambil menatap mata Tari dalam.
Tari masih bungkam. Dengan kasar Leo mencium bibir Tari hingga gadis itu mau mengatakan siapa yang membuatnya begitu.
~~~
Langit telah berubah menjadi hitam. Senja sudah lama pergi. Matahari sudah berganti tugas dengan bulan. Bersama dengan bintang ia menemani malam hari ini.
Walaupun langit hitam, Fefe tau mereka cerah. Hitam mereka belum tentu gelap. Hitam mereka cerah.
Fefe meneguk sekali lagi tetes terakhir dalam gelas kristal berisi cairan merah. Otaknya benar-benar buntu. Lelah. Fefe lelah dengan segalanya.
"Apa gunanya bergelimang harta jika Leo tidak mencintaiku?" Bisik Fefe sambil menatap salah satu bintang yang paling terang. Bintang dengan kerlip berkali-kali lebih cepat dari bintang yang lainnya.
"Mom, apa kabarmu? I miss you, Mom." Ucap Fefe terdengar lelah.
"Mom, bolehkah aku menyusulmu?" Tanya Fefe kepada bintang tersebut seperti menganggap bintang tersebut adalah Mommynya.
*Braaaaak*
Dobrakan pintu yang kasar membuat kepala cantiknya menoleh ke asal suara. Disana Leo dengan kemeja berantakannya serta wajah merah padam berjalan dengan langkah cepatnya menghampiri Fefe.
Fefe hanya memasang wajah datar. Sebab ia sudah tau Leo akan memarahinya.
*plaaak*
Satu tamparan yang berasal dari jemari Leo menampar pipi Fefe dengan keras. Sudut bibir Fefe berdarah. Wanita itu tersenyum ditengah air matanya yang mengalir deras.
"Apa gadis itu sudah menceritakan kejadian tadi pagi?" Tanya Fefe.
"Jika aku melihat ekspresi dan perlakuanmu padaku ini dapat aku simpulkan bahwa dia sudah bercerita. Wuaaah.. gadis tak tau malu." Ucap Fefe sambil bertepuk tangan ringan.
"Kau wanita jalang! Berhenti menghina dan menyakiti Mentari." Ucap Leo dengan nada tinggi.
"Apa? Wanita jalang? Siapa disini yang wanita jalang? Aku yang notabenenya adalah istrimu atau gadis miskin itu yang selingkuhanmu?" Ucap Fefe santai.
"Jelaskan disini siapa yang wanita jalang?" Fefe sudah lelah bersabar. Air matanya benar-benar luruh.
"Kamu sudah benar-benar merasa menjadi istriku, Fe?" Tanya Leo dengan sebelah alis yang terangkat.
"Aku tak pernah menganggapmu lebih dari sekedar wanita kaya penghasil uang. Dan wanita untuk memuaskan hasratku. Jika kamu berfikir sudah menjadi istriku. Kamu salah!" Ucap Leo.
Fefe mengerjapkan matanya berkali-kali. Hatinya serasa diremas. Dia lelah.
*plaaak*
Satu tamparan mendarat dipipi Leo.
"Kamu b*****t, Leo!" Teriak Fefe.
"Kamu berani menampar aku." Ucap Leo yang semakin emosi.
Dengan kasar Leo menarik rambut Fefe. Kemudian menghempaskan wanita itu hingga jatuh tersungkur.
Darah mengalir diujung bibirnya. Air matanya mengalir deras. Kepalanya seperti mati rasa akibat tarikan Leo yang sangat keras.
"Wanita jalang sialan!" Umpat Leo kemudian masuk ke dalam kamar mereka.
Meninggalkan Fefe yang sedang menangis dengan luka lebam dibeberapa bagian kakinya karena dihempaskan Leo cukup keras.
~ to be continue ~