5. Kebiasaan Bima

1903 Words
Satu Jam Setelahnya Di halaman belakang Akademi Bach, tiga orang pemuda sedang melakukan kebiasaan sehari-harinya yaitu bolos pelajaran. Mereka bertiga memang dikenal sebagai anak nakal di akademi. Saat bolos, biasanya mereka menghabiskan waktu untuk merokok di suatu tempat yang jauh dari jangkauan pembimbing. Mereka adalah Dion dan kedua temannya. Raut wajah Dion terlihat kesal, satu tangannya memegang rokok dan tangan lainnya terkepal kencang. Sorot matanya tidak bisa berbohong, saat ini ia terlihat sangat marah. "Kurang ajar sekali Anak Bodoh itu! Berani sekali dia mempermalukanku di depan kelas. Awas aja kau, Bodoh! Kau akan menyesali perbuatanmu! Aku tidak akan membiarkanmu hidup dengan tenang!" Dion terus mengoceh melampiaskan kekesalannya kepada Bima karena telah mempermalukannya di depan semua orang di kelasnya. "Agh! Bodoh! Bodoh! Bodoh!" umpat Dion berkali-kali bersamaan dengan tiga pukulannya yang didaratkan ke tanah. Kedua temannya hanya diam menatapnya. Mereka berdua terlihat menahan tawa saat mendengar ocehan Dion. Selang beberapa saat, satu teman Dion tidak mampu lagi menahannya dan akhirnya tawanya pecah. Dion melirik sinis kearahnya. "Hei, apa yang kau tertawakan, Sial*n?" Dia masih tertawa untuk beberapa saat sebelum membalas ucapan Dion. "Kudengar, kau yang berkuasa di kelasmu, kenapa kau masih kalah? Aneh sekali," ungkapnya. Tanpa pemuda itu disadari, satu pukulan telapak tangan menghantam kepala belakangnya. "Aku tidak kalah, Sial*n! Aku berniat menghajarnya saat itu, tapi Pembimbing itu datang dan memisahkan kami." "Lalu, kenapa kau tidak hajar sekalian Pembimbing itu? Kau kan berkuasa, masa kau takut kepada Pembimbing itu, dia kan sudah tua." Sekali lagi pukulan telapak tangan dari Dion menghantam kepala belakang pemuda itu sampai ia meringis kesakitan. "Ringan sekali kau berbicara! Kau pikir akademi ini milik ayahku? Kalau aku sampai berurusan dengan Pembimbing itu lalu terkena masalah, ayahku yang akan menghajarku, Sial*n," oceh Dion. "Lagipula, aku takut Pembimbing itu akan mati kalau aku menghajarnya, dia kan sudah tua," sambung Dion lalu tersenyum angkuh. Pemuda itu memutar bola matanya, mual melihat tingkah Dion. "Tapi ngomong-ngomong, siapa yang berani melawanmu? Bukannya tidak ada yang berani kepadamu sebelumnya?" tanyanya lagi. "Entahlah, aku tidak ingat namanya, tapi aku mengingat jelas tatapannya. Sorot matanya membuatku sangat muak, suatu saat akan kucongkel mata itu dari tempatnya!" ujar Dion geram. Setelah berkata demikian, Dion dan kedua temannya melanjutkan kegiatannya sampai tiba waktu istirahat. *** Sementara itu, dari sisi lain Gedung Akademi, Bima dan Arga sedang berjalan berdampingan menuju kantin. "Bim, kenapa kau melakukan itu?" tanya Arga memecah keheningan. Bima yang tengah fokus berjalan sambil membaca bukunya melirik singkat pada Arga. "Apa?" balas Bima dengan tatapan masih terpaku pada bukunya. "Kenapa kau berani melawan Dion?" "Memangnya kenapa?" "Astaga, kau tahu kan siapa dia?" "Aku tidak peduli. Aku hanya tidak suka melihat penindasan yang dilakukannya." "Hei, ayahnya itu anggota geng Can—" "Sudahlah, yang anggota geng itu ayahnya bukan dia. Tidak pantas kau takut kepada penindas seperti dia," balas Bima cepat memotong ucapan Arga. "Ta—Tapi kan, ayahnya adalah orang penting di Wilayah Timur, dia bisa saja bilang kepada ayahnya," tutur Arga lagi. "Itu artinya dia hanya seorang pengecut," balas Bima. Arga menghela nafas kasar mendengar ucapan Bima. "Kau ini ...." Bima melepaskan pandangannya dari buku lalu menatap lurus ke depan. "Kita ini manusia, membantu sesama manusia adalah tugas kita sebagai manusia." Arga mengerutkan dahinya. "Apa yang kau katakan, Bim? Aku bingung." "Maksudku, jika benar kau seorang manusia, kau tidak akan diam saat melihat manusia lain tersiksa," ucap Bima mantap. Arga terbungkam diam, ia tidak menyangka Bima adalah orang yang bijak. Dia tidak pernah tahu kalau Bima punya pemikiran seperti itu. Yang dia tahu, orang-orang terkadang hanya diam saat melihat orang lain tersiksa. Sedetik kemudian, Arga kembali menghela napas kasar. "Ya ... itu pilihanmu, Bim. Aku hanya tidak mau kau terkena masalah karena terlalu gegabah." Bima melirik tipis pada Arga. Ia kembali teringat awal mereka saling mengenal di akademi. Sejak awal mengenalnya, Bima mengetahui kalau Arga adalah pemuda yang tumbuh dari keluarga baik, terlihat dari cara dia memperlakukan orang lain. Akan tetapi, terkadang ketakutannya pada sesuatu membuat dia tidak punya pilihan lain selain diam. Tanpa mereka berdua sadari, seorang pria tengah memperhatikan mereka dari kejauhan. Sorot matanya menatap tajam dengan senyum terkembang dibibirnya. "Sorot mata itu, tidak salah lagi, harimau ...." desisnya. Beberapa saat kemudian, dari arah belakang, seorang perempuan terlihat berlari menuju Bima dan Arga. "Hei, kalian!" teriaknya saat sudah cukup dekat dengan mereka berdua. Bima dan Arga menghentikan langkah saat mendengar teriakan yang ditujukan kepada mereka. Mereka berdua melihat ke belakang untuk mengetahui pemilik suara itu. Arga cukup terkejut saat melihat sosok perempuan itu, sedangkan Bima hanya menatapnya dingin tanpa ekspresi. "Leona?" gumam Arga pelan saat melihat perempuan itu mulai memperlambat langkahnya lalu berjalan kearah mereka. Perempuan itu bernama Leona, teman-temannya sering memanggilnya Leo. Dia seorang perempuan cantik bermata coklat bening. Berambut coklat kemerahan sedikit bergelombang terurai. Leo merupakan anak dari keluarga kaya yang tinggal di Desa Yama. Desa itu berada di bagian tengah Wilayah Timur. Dia satu angkatan dengan Bima dan juga Arga. Dia mengikuti Bidang Keahlian Beladiri dan duduk di kelas (1-5). Ya, dia teman satu kelas Bima dan Arga, serta anak nakal bernama Dion. Ia mempercepat langkahnya dan berhenti tepat di hadapan mereka berdua. Leo terlihat masih terengah-engah setelah sedikit berlari tadi, ia kemudian mengatur nafasnya untuk sesaat. Arga dan Bima menatap satu sama lain karena sedikit kebingungan. "He ... Kali ... hah ...." Leona masih tidak dapat berbicara dengan lancar, nafasnya masih terasa berat. Merasa waktunya terbuang sia-sia, Bima membalikkan tubuhnya dan hendak kembali melangkah, namun langkahnya terhenti saat Arga menahan lengannya. "Kau mau kemana? Tunggu dia selesai berbicara dulu," ucap Arga menahan Bima. Bima menghela napas kasar lalu kembali membalikkan tubuhnya menghadap perempuan itu. Ia menatap dingin Leona, menunggunya berbicara setelah selesai mengatur nafasnya. Beberapa detik kemudian, Leona terlihat mengangkat kepalanya lalu menatap mereka bergantian, tatapannya kini terpaku pada Arga, "Kamu Arga ...." Pandangannya berpindah kepada Bima. "... Dan kamu pasti Bima, 'kan?" Bima hanya diam tak membalas ucapannya, sedangkan Arga hanya mengerutkan keningnya, tidak mengerti maksud Leona menyebut nama mereka. "Iya ... benar, itu memang nama kami," ucap Arga masih merasa bingung. Senyum lebar terkembang di bibir Leona, kemudian ia mengulurkan tangannya. "Hai, aku Leona." "Ha?" Arga semakin bingung dengan tingkah perempuan berwajah cantik di hadapannya. Dia mengajak mereka berkenalan, padahal mereka sudah mengetahui nama masing-masing. Tidak ingin mengecewakan Leona, Arga pun menerima tangan Leo. "Aku Arga." Leona pun membalas ucapan Arga dengan senyum manis kemudian kembali mengulurkan tangan kepada Bima. "Aku Le—" "Aku sudah tahu," ucap Bima cepat memotong perkenalan Leo kemudian membalikkan badan dan berlalu dari sana. "Hah?" Leona hanya diam menatap kepergian Bima yang terkesan angkuh. Arga menghela napas kasar sambil menggelengkan kepalanya saat melihat sikap dingin teman dekatnya itu. Ia menatap pada Leo. "Ah ... jangan dimasukkan ke hati, dia memang begitu orangnya. Bima sedikit pemalu," tutur Arga sambil tersenyum canggung. "O—Oh begitu ya ...." balas Leona diikuti senyum canggung juga. "Ah ... yasudah kalau begitu. Kami pergi dulu, senang berkenalan denganmu." Setelah berkata demikian, Arga mulai berlari menyusul Bima yang sudah berada jauh di depan. "Ba—Baiklah," ucapnya telat. Ia masih terdiam di tempat untuk beberapa saat sambil menatap kepergian mereka. Tatapannya terpaku pada punggung Bima. "Hmm ... padahal aku ingin berkenalan dengannya," ucap Leo sedikit kecewa. Leona menghela napas kasar sesaat sebelum berbicara. "Tidak apa, masih ada hari besok." Senyum lebar mulai kembali terkembang di bibirnya. Karena Leo dibesarkan dari keluarga kaya, ia menjadi sedikit manja, namun dia adalah perempuan yang selalu terlihat ceria. Lalu tanpa mereka sadari, sedari awal, seorang perempuan tengah memperhatikan mereka dari kejauhan. Ia berada di suatu tempat yang berada diluar jangkauan penglihatan mereka, di atas Gedung Akademi. Perempuan itu terlihat duduk di tepi Gedung Akademi sambil mengayunkan kedua kakinya. Tujuannya dari awal memang untuk mengawasi Bima. "Kenapa guru menyuruhku untuk mengawasi anak sombong itu? Merepotkan saja," ucapnya. *** Waktu berlalu dengan cepat dan siang telah berganti menjadi malam. Bima telah pulang ke rumahnya. BUGH!! BAKH!! BUGH!! Dari halaman belakang terdengar suara benturan benda keras. Itu adalah suara pukulan tangan Bima yang dihantamkan pada sebatang pohon besar. Dalam satu tarikan nafas, Bima menarik pukulannya lalu menahannya sesaat, bersamaan dengan hembusan napasnya, ia melayangkan pukulannya. BUGH!! Pukulan kerasnya menghantam pohon itu sampai terdapat bekas kepalan tangannya yang tercetak di sana. Beberapa saat kemudian, pohon itu terlihat semakin miring dan akhirnya roboh. Bima menarik napasnya dalam lalu menghembuskannya perlahan, ia beberapa kali mengulangi itu. Masa kecil Bima berbeda dari anak lainnya, saat masih berusia 10 tahun, ia selalu menghabiskan waktunya untuk berlatih beladiri di halaman belakang rumahnya. Ia memanfaatkan pohon-pohon besar di sekitar rumahnya untuk melatih kekuatan pukulan dan tendangannya. Maka tidak heran, jika di usia yang ke-20 tahun, Bima mampu merobohkan pohon besar yang tertancap kokoh dengan pukulannya. Selain itu, ia juga melatih tenaga dalamnya untuk menambah kekuatan tubuhnya. Keringat membasahi wajah dan tubuh Bima. Ia duduk di teras belakang untuk melemaskan otot-ototnya. Lalu beberapa saat kemudian, "THERAA!!" Terdengar teriakan dari dalam rumah yang mengejutkan Bima. Ia dengan cepat masuk ke dalam rumah untuk menjawab teriakan tersebut. Bima berjalan melewati ruang tengah dan menuju teras depan. Akhirnya ia menemukan pemilik suara teriakan tersebut yang merupakan teriakan dari neneknya. Sebut saja Ling, tidak ada yang tahu usia sebenarnya, namun dari fisiknya, ia terlihat berusia 60-an tahun. Bima melangkah perlahan menghampirinya kemudian mulai duduk di sebelahnya. "Nenek memanggilku?" tanya Bima. Tanpa menjawab, Ling menunjuk ke sebelah kanan tubuhnya. Bima mengikuti arah jari Ling dan melihat satu cangkir berisi cairan berwarna merah. "Minumlah Teh Merah itu," ucap Ling masih dengan mata terpejam. Ucapan Ling membuat Bima menelan ludahnya. "Cepatlah minum! Teh itu bagus untuk membentuk kundalini dalam tubuhmu," ucap Ling dengan nada tinggi. Mendengar itu, Bima langsung mengambil cangkir tersebut lalu meneguk teh itu sampai habis tidak bersisa. "HUEK!!" Setelah teh itu mengalir melewati lidah kemudian ke kerongkongannya, Bima merasakan mual yang teramat sangat. Namun, itu merupakan hal yang biasa terjadi setiap harinya. Bima hampir setiap hari meminum teh tersebut. Tapi, lidahnya masih belum mampu beradaptasi terhadap rasa pahitnya. Beberapa saat kemudian, Bima batuk beberapa kali karena rasa pahit teh itu mulai menjalar ke kerongkongannya, aroma menyengat teh itu juga tercium kedalam rongga hidungnya. Bima masih batuk beberapa kali sebelum membuka mulutnya. "Nek, kenapa selalu teh ini? Apa tidak ada yang rasanya manis?" Satu pukulan telapak tangan mendarat di kepala Bima. "Kau ini banyak maunya! Teh Merah memang sudah begitu rasanya sejak dulu." "Ta—Tapi kenapa harus Teh Merah?" Tanpa disadari, satu pukulan telapak tangan kembali mendarat di kepala Bima. "Teh Merah adalah ramuan khusus yang telah diturunkan oleh para leluhur. Mau tidak mau kau harus meminumnya!" tegas Ling. Dengan berat hati, Bima harus menerima kekecewaan karena tidak akan pernah berpisah dengan rasa pahit dari Teh Merah itu. Ia menghela napas kasar. "Baiklah, Nek, kalau begitu aku akan kembali berlatih sedikit lagi." "Ya, jangan tidur terlalu malam." "Iya, Nek." Bima bangkit lalu kembali ke halaman belakang untuk melanjutkan latihannya. Berlatih beladiri sebelum tidur memang sudah menjadi kebiasaan Bima sejak ia kecil. Setidaknya sebelum ia pergi tidur, ia berlatih selama beberapa jam. Latihan beladiri seakan menjadi makan malam untuknya karena ia tidak pernah terlepas dari itu. Sementara Bima kembali ke halaman belakang, Ling masih duduk di teras depan dengan mata yang mulai terbuka. Ia menghela napas dalam. "Kau harus semakin kuat, Thera, karena suatu saat kau harus menerima kenyataan pahit tentang kedua orangtuamu. Dan saat itu kau akan menanggung takdir yang lebih berat dari siapapun. Sejak Bima masih kecil, Ling selalu memanggilnya dengan nama belakangnya karena terdengar lebih kuat. Dan suatu saat, nama itu akan dikenal oleh seluruh dunia, THERA.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD